Siapa Yang Dicintai Suamiku?

Siapa Yang Dicintai Suamiku?
Kerja sama


__ADS_3

Leonardo yang telah mengusir istrinya ia kembali ke ruangan dan duduk bersama dengan Michelle dan Aaron, mereka sedang membicarakan urusan bisnis mereka.


"Tuan, maaf...karena kakak saya tidak bisa datang, dia tiba-tiba ada urusan penting dan berangkat ke jepang. oleh karena itu kakak menyuruh saya datang untuk mengantar proposal yang sudah kami siapkan," ucap Michelle dengan sopan.


"Tidak masalah! sama saja kalau nona yang datang, proposal ini tetap dari perusahaan kalian juga," jawab Leonardo yang sambil fokus dengan isi proposal yang tercantum.


"Michelle, suatu kebanggaan bagiku bisa bekerja sama denganmu, ini adalah impianku selama ini," ujar Aaron.


"L.V Group adalah perusahaan besar, kami sangat beruntung jika bisa bekerja sama dengan kalian," ucap Michelle dengan senyum.


"Nona Unique, saya setuju kita bekerja sama," ujar Leonardo.


"Terima kasih, Tuan. ini adalah berita baik bagi kami, saya yakin papa dan kakak saya pasti sangat gembira mendengar kabar ini," ucap Michelle.


"Kita akan segera tanda tangan kontrak kerja sama, suatu kabanggaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan Unique," kata Leonardo.


Michelle bangkit dan bersalaman dengan Leonardo atas kerja sama mereka. selama ini dua perusahaan itu terkenal sangat sukses dan telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan dari negara lainnya.


Malam hari..


Club Malam.


Leonardo dan Aaron sedang minum bersama, mereka saling bersulang dan menghabiskam beberapa gelas minuman keras.


"Apa kamu akan pulang malam ini?"


"Tidak, aku bosan bertengkar terus," jawab Leonardo yang merasa kecewa.


"Kau kelihatan sangat lesu, bagaimana kalau aku panggil gadis cantik bermain denganmu?"


"Kita sudah lama kenal, apa kau pernah melihatku bermain dengan gadis-gadis penghibur?"


"Tidak pernah, akan tetapi hari ini berbeda dengan dulu. dulu di saat hubunganmu dengan Zanana masih mesra, dan sekarang kalian sering bertengkar sehingga hampir bercerai. jadi tidak salahnya kau mencari pelampiasan."


"Mencari pelampiasan tidak bisa mengurangi tekanan ku," jawab Leonardo sambil meneguk minuman.


"Tapi setidaknya untuk menghibur."


"Bermain dengan wanita penghibur tidak bisa menyelesaikan masalah yang ku hadapi sekarang."


"Leonardo, kau adalah pria yang sukses, tapi sayang pernikahanmu tidak sesukses kariermu."


"Aku sudah terbiasa dan bahkan sudah bosan, aku juga tidak ingin pikirkan masalah ini lagi."


"Hanya saja usiamu juga tidak muda lagi, dirimu yang begitu kaya hingga saat ini masih belum memiliki keturunan. aku malah mencemaskanmu."


"Aku juga tidak ingin lagi memiliki anak yang dilahirkan dari dia," ucap Leonardo.

__ADS_1


"Kenapa? bukankah saat itu kau berharap dia melahirkan untukmu?"


"Dulu dan sekarang sudah berbeda, hubungan kami tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi. di saat kita mencintai seseorang kita berharap wanita yang kita cintai bisa melahirkan seorang anak untuk kita, sangat membahagiakan jika bisa merawat dan melindungi buah hati dari hasil cinta kita. tapi...ketika perasaan sudah terlanjur kecewa maka tidak ada keinginan lagi untuk memiliki anak dengan dia."


"Lalu, apa rencanamu? tidak mungkin kamu ingin pertahankan dia," ujar Aaron.


"Satu-satunya jalan adalah bercerai," jawab Leonardo.


"Ini adalah jalan terbaik untukmu, usiamu sudah tiga puluh lima tahun, dan kau masih bisa kejar kebahagiaan lainnya," kata Aaron yang bersulang dengan sahabatnya itu.


"Di mana Niko?" tanya Leonardo sambil meneguk minumannya.


"Dia sedang berkumpul dengan keluarganya sehingga tidak bisa keluar."


"Sudah malam, seharusnya kamu pulang saja! paman dan bibi sedang menunggumu."


"Apa kamu baik-baik saja kalau aku meninggalkan kamu sendiri di sini?"


"Aku baik-baik saja, aku ingin menenangkan pikiran."


"Baiklah, dan jangan terlalu malam atau sampai mabuk!"


"Iya, aku tahu!"


"Aku pergi dulu!" pamit Aaron yang beranja dari tempat duduknya.


"Iya, sampai jumpa besok," balas Aaron.


Leonardo menuang Vodka ke gelas beningnya, kemudian ia mengeluarkan handphone dari saku bajunya dan menekan nomor tujuan dan menunggu seseorang yang menjawab panggilannya.


"Hallo, ada apa?" sahut seorang pria yang di seberang sana.


"Besok ke perusahaanku! aku ingin kamu mengurus surat cerai!"


"Cerai? siapa yang ingin bercerai?"


"Aku."


"Kenapa tiba-tiba saja? tidak ada angin tidak ada hujan kau meminta cerai?"


"Untuk apa ada angin dan hujan jika setiap hari ada angin pu.ting beliung."


"Apa sebegitu parah sehingga setiap hari angin pu.ting beliung meniupmu?"


"Jangan banyak bertanya! datang besok dan jangan lupa siapkan berkasnya!"


"Baiklah, aku tahu. besok kita jumpa."

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka memutuskan panggilannya.


"Selamat tinggal masa lalu! Zanana Olivia, kesabaranku juga ada batasnya. kau bersedia atau tidak aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi selagi kau masih di sana. rasa kecewaku sudah terlalu dalam sehingga tidak bisa bertahan lagi," ucap Leonardo yang menghabiskan minumannya.


"Tuan, apa perlu aku menemanimu?" tanya seorang wanita cantik yang menghampirinya.


"Tidak perlu!" jawab Leonardo tanpa menoleh ke wanita itu.


"Kelihatannya Anda seperti ada masalah, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat yang tenang dan untuk kita berdua!" ajak wanita itu yang mengoda Leonardo yang sedang putus asa.


"Pergi dari sini sebelum aku menendangmu!" ketus Leonardo yang merasa kesal.


"Sombong sekali," ocehan wanita itu kemudian pergi meninggalkan Leonardo.


"Tuan Valentino...," suara panggilan seorang gadis yang berdiri di sampingnya.


"Sudah ku katakan jangan dekati aku, aku tidak akan tertarik," ketus Leonardo dengan tanpa menoleh.


"Tuan, saya adalah Michelle, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya yang melihat beberapa botol minuman yang telah kosong.


Mendengar nama itu Leonardo memandang ke arah gadis itu yang sedang berdiri di sampingnya.


"Nona Unique?"


"Panggil saja namaku!" ucap Michelle yang duduk di sampingnya.


"Pesan lemon drinks!" pinta Michelle pada pelayan bar.


"Sudah malam begini kenapa kamu berada di sini?" tanya Leonardo.


"Papaku ingin aku bertemu dengan klien, dan bagaimana dengan, Tuan?"


"Hanya ingin minum beberapa gelas saja," jawab Leonardo yang sambil meneguk minuman.


"Tuan, Anda sudah menghabiskan banyak Vodka, minuman ini alkoholnya sangat tinggi."


"Aku masih bisa bertahan."


"Lebih baik minum ini saja!" ujar Michelle yang memberikan minumannya kepada Leonardo.


"Lemon drinks tidak akan membuatmu mabuk, sedangkan vodka akan membuatmu mabuk dan sakit kepala," kata Michelle yang mengambil gelas vodka dari tangan Leonardo.


Leonardo menatap ke arah Michelle karena gadis itu adalah orang yang pertama melarang dirinya minum minuman keras.


"Maaf, kalau aku terlalu menyibuk. karena saat itu aku melihatmu agak mabuk dan tidak bisa membuka pintu mobil. kamu juga sendirian kalau minum lagi maka sangat bahaya ketika kamu menyetir," kata Michelle.


"Tidak apa-apa, benar katamu. aku harus menyetir lagi," ujar Leonardo.

__ADS_1


__ADS_2