
"Michelle, makan yang ini. aku tahu kau suka makan makanan yang sudah dipotong kecil-kecil karena lebih gampang di makan," ujar Johan yang menukar piring makanan dengan adiknya.
"Terima kasih, karena sudah membantuku memotong dagingnya," ucap Michelle.
"Selagi adik kakak belum menikah, kakak masih akan membantumu. tapi kalau sudah menikah maka suamimu lah yang akan memotong makanan untukmu," kata Johan dengan seraya bercanda.
"Kakak, jangan berharap aku akan menikah. karena setiap makan kakak akan membantuku. dan ini membuatku terbiasa," ujar Michelle yang sambil menyantap makanannya.
Johan yang melihat sudut bibir adiknya ada sisa makanan ia pun mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap sisa makanan itu, aksinya dilihat oleh Leonardo yang duduk di sana.
"Aneh, kenapa aku malah hilang fokus melihat kemesraan mereka," batin Leonardo.
Malam hari.
Mansion Leonardo.
Leonardo sedang menulis sesuatu di meja kerjanya yang ada di ruang baca kediamannya itu, ia adalah pria pekerja keras dan rajin mencari uang selama ini. selalu bekerja hingga larut malam di kediamannya sendiri. sebelum menikah hingga sesudah menikah ia tidak pernah meluangkan waktunya untuk liburan atau mencari kesenangan lainnya. seumur hidupnya hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja.
__ADS_1
Di saat menulis ia tiba-tiba terbayang adegan mesra Michelle dengan pria yang ia tidak kenal. sehingga dirinya berhenti untuk menulis. ia meletakkan penanya dan menyandarkan diri sambil memijit keningnya.
"Kenapa aku bisa terbayang kejadian di restoran itu, Michelle juga bukan siapa-siapaku, kenapa aku bisa merasa tidak nyaman?" ucap Leonardo yang mengeluh.
"Leonardo, Leonardo, sejak kapan dirimu begitu mudah tertarik pada seorang yang baru kau kenal. walau dia sangat perhatian dan baik bukan berarti dirimu bisa memilikinya. dirimu dan Zanana saja belum menyelesaikan urusan penceraian mana mungkin kau menjalin hubungan dengan wanita lain," batin Leonardo.
"Michelle dan pria itu sangat serasi, tentu saja baik untuknya. dan aku juga tidak perlu ikut campur atau harus peduli dengan hubungan mereka. andaikan tanpa kehadiran pria itu. aku dan dia juga tidak mungkin. cukup sekali gagal dalam pernikahan," gumam Leonardo.
Leonardo lalu bangkit dan mengambil botol wine perancis dan menuangkan ke gelas bening.
Ia meneguk minuman itu sehingga habis tak tersisa di gelasnya, kemudian ia melihat gelas itu dan terdiam sejenak.
Keesokan harinya.
Leonardo dan Michelle sedang berada di lokasi tempat project mereka dijalankan, bangunan tinggi yang dikerjakan oleh sejumlah pekerja di sana. ia bersama Michelle berbincang dengan arsitek terkenal yang membantu dalam pembangunan project mereka.
Selama beberapa jam Leonardo dan Michelle berada di lapangan untuk pemantauan kerja, setelah siang cuaca yang dingin dan tiba-tiba diterpa angin kencang Michelle dan Leonardo kembali masuk ke dalam mobil. tidak lama kemudian hujan mulai turun dengan deras.
__ADS_1
"Tiba-tiba hujan deras," ucap Michelle yang mengeluarkan termos dari tas bekalnya yang di isi dengan berbagai barang perlengkapan untuk makan.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Leonardo yang merasa heran dengan bawaan Michelle.
"Beberapa hari ini cuaca sangat dingin, aku membawakan kopi dan kue. kita bisa makan di sini," jawab Michelle sambil memberikan gelas kepada Leonardo.
Ia menuangkan kopi panas ke dalam gelas tersebut.
"Apakah kamu selalu membawa peralatan makan saat bekerja di luar?"
"Iya, setiap di lapangan aku membawa makanan dari rumah, dari pada kita terus membeli di luar hanya membazir uang saja," jawab Michelle yang sedang meniup kopi panas.
"Kamu tidak kekurangan uang, kenapa seperti takut kehabisan uang saja," ujar Leornardo dengan bercanda.
"Walau ada uang bukan berarti harus boros, karena setiap orang itu tidak selamanya kaya. mungkin saja suatu saat akan kehilangan segalanya. karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan. jadi tidak salahnya kita berhemat. lagi pula aku bisa masak dan buat kue. oleh sebab itu aku lebih sering membawa makanan dari rumah," jawab Michelle.
"Habiskan kuenya! ini khusus untukmu dan ini untukku, aku sengaja membuat banyak agar bisa makan dengan sepuasnya," kata Michelle yang memberi box berwarna biru yang berisi berbagai jenis kue.
__ADS_1
Di saat Leonardo membuka penutup box itu ia melihat beberapa jenis kue yang ada di dalam box itu. makanan tersebut berbagai rasa dengan model yang unik dan lucu. ia tersenyum karena untuk pertama kalinya ia mendapatkan makanan istimewa dari buatan seseorang.