
Jhones menekan nomor seseorang di handphonenya.
Sesaat kemudian seseorang menjawab panggilan Jhones.
"Hallo, Tuan besar."
"Cold, selidiki keberadaan Alex Murfis!" perintah Jhones.
"Baik, Tuan besar."
Sesaat kemudian Jhones memutuskan panggilannya.
Flashback On.
"Pa, jangan melakukan apapun terhadap dia! karena tidak ada gunanya lagi, biarkan saja dia pergi!" tangisan Michelle yang di saat itu sedang terluka. ia berlutut di depan ayahnya.
"Putriku, kamu masih ada papa dan kakakmu yang begitu melindungimu, jangan sakit hati ketika pria itu mengkhianatimu! karena masih ada papa dan kakakmu yang sangat menyayangimu," ucap Jhones yang menjongkok dan memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
Saat itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Michelle sehingga dirinya menangis begitu histeris di dalam pelukan ayahnya.
Flashback of
Kamar Michelle.
Malam itu Michelle sedang duduk dengan menyandarkan diri sambil melamun.
Ia mengingat pesanan seorang wanita yang tak lain adalah ibunya sendiri saat belum menghembuskan nafas terakhir.
"{Michelle, sebagai seorang wanita kamu harus bisa menjadi seorang istri yang baik, belajarlah semua tugas kita sebagai wanita. dari memasak, menyuci, mengosok dan membersihkan rumah serta menjaga anak. setelah menikah kau tidak perlu lagi belajar. dan layanilah pasanganmu agar dia betah denganmu. seperti papamu. setiap hari mama menyediakan semua kebutuhannya dan ini demi menjaga hubungan juga. kamu adalah anak gadis yang akan menikah suatu saat. jadi harus belajar menjaga hati pasanganmu,"}
"Aku sudah melakukan semua pesan mama, tapi dia malah merasa risih. bahkan saat aku bertanya saja dia sudah tidak gembira," gumam Michelle.
Michelle mengeluarkan air mata saat mengingat rasa sakit yang dia alami saat bersama pacarnya di dua tahun yang lalu.
Flashback on.
Dua tahun yang lalu Michelle yang masih berkencan dengan Alex yang adalah karyawan biasa di salah satu perusahaan di kota Milan.
Karena keuangan Alex terbatas, Michelle selalu menyediakan sarapan, makan siang dan malam untuk pacarnya itu. saat itu Michelle sama sekali tidak ingin Alex mengetahui identitasnya demi ingin mendapatkan cinta sejati.
Awal hubungan mereka baik-baik saja dan berjalan dengan lancar, setiap hari Michelle mengantar makanan ke tempat tinggal dan tempat kerja pacarnya karena ingin membantu pria itu untuk berhemat uang. dan bukan hanya itu saja, semua kebutuhan rumah Michelle yang menyediakan untuknya.
Hubungan mereka berjalan selama satu tahun lamanya, setiap malam Alex pulang di jemput oleh Michelle dengan mengunakan bus ataupun taksi. walau dirinya adalah putri orang kaya akan tetapi kehidupan yang dia jalani seperti orang dari kalangan biasa saat ia masih tinggal di apartemen.
__ADS_1
Dia rela bekerja di perusahaan luar dan membantu pria itu karena cintanya yang sangat besar. akan tetapi di suatu hari Michelle menunggu kepulangan pria itu hingga larut malam, pacarnya tidak kunjung kembali membuatnya cemas dan tak karuan.
"Kenapa sudah pukul 12 malam dia masih belum pulang?" gumamnya yang merasa cemas dan langsung berjalan ke jalan besar dan memanggil taksi.
Karena merasa khawatir Michelle pun menuju ke tempat kerja Alex dengan mengunakan taksi, ia tidak memikirkan keselamatan sendiri dan keluar pada pukul 12 tengah malam. setelah tidak lama kemudian Michelle tiba di depan perusahaan tempat Alex bekerja.
Perusahaan itu telah tutup pintu utamanya.
"Kemana dia pergi? perusahaan ini sudah tidak ada orang, dan nomornya juga tidak aktif. apakah Alex dalam bahaya?" ucap Michelle yang merasa cemas.
"Nona, kenapa kamu ada di sini?" tanya security perusahaan itu yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Saya sedang mencari Alex, nomornya tidak bisa dihubungi," jawab Michelle yang bibirnya sedang gemetar.
"Nona, tuan Fabio tadi sudah pergi bersama atasannya."
"Pergi bersama atasannya?"
"Iya, saya mendengar mereka pergi ke hotel, nona Alice menjemput tuan Fabio."
"Alice adalah atasannya? dia adalah wanita?"
"Benar, Nona. sebenarnya saya tidak ingin campur. tapi kali ini saya harus katakan terus terang, selama ini tuan Alex Fabio dan Nona Alice setiap malam pulang bersama. saya pernah bertanya tuan Fabio apakah nona tidak datang jemput. dia menjawab kalian sudah berpisah dan kemudian dia pergi lagi bersama nona Alice."
"Sudah tiga bulan."
"Tidak mungkin dia membohongiku, selama tiga bulan dia mengatakan lembur dan menyuruhku tidak perlu datang menjemputnya," ucap Michelle yang mengeluarkan air mata.
"Itu hanya alasan saja, karena tidak ingin nona tahu kalau dia bersama dengan nona Alice. Nona, pria itu bukanlah pria yang baik. setiap hari Anda mengantar makan siang untuknya, demi apa? dia tidak akan ingat niat baikmu padanya," ujar security itu yang merasa iba pada Michelle yang telah dibohongi selama ini.
"Paman, beritahu aku dimana hotel itu?" tanya Michelle merasa sakit hati dan tidak bisa menerima kenyataan.
Setelah security itu memberitahu alamat hotel, Michelle langsung menuju ke alamat yang ditunjukan tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian.
Michelle akhirnya tiba di hotel itu, dengan merasa cemas dan takut apa yang di katakan oleh pria tadi adalah benar, ia pun memberanikan dirinya melangkah masuk ke hotel itu dan mencari kamar yang digunakan oleh pacarnya.
Setelah mengetahui dari staf hotel, Michelle menuju ke kamar tersebut, langkahnya sangat berat dan perasaannya yang telah hancur ia memaksakan diri untuk menuju ke kamar itu.
Saat ia tiba di depan pintu ia merasa ragu ingin mengetuk pintu tersebut. dan tidak lama kemudian ia mendengar suara tawaan pria dan wanita dari dalam kamar.
"Alex, kau sangat luar biasa bisa melakukannya setiap malam," suara seorang wanita yang dari dalam sana.
Michelle yang mendengar suara itu ia memundurkan langkahnya dan merasa semakin hancur.
__ADS_1
"Ha-ha-ha-ha, Alice, kau bukan hanya cantik, tapi juga hebat dalam segala hal," puji pria itu yang tak lain adalah Alex.
"Apakah pacarmu tidak tahu jika setiap malam kita bersama?"
"Gadis bodoh itu sangat mudah dibohongi, aku mengatakan aku lembur dan menyuruhnya tidak usah menjemputku, karena aku tidak mau dia dalam bahaya. dan dia percaya saja dengan omong kosongku."
"Kau sangat tega, bukankah selama ini dia sudah banyak membantumu? semua kebutuhanmu dia yang menyediakan untukmu, bahkan dia juga mengantar makanan untukmu setiap hari."
"Dia merasa dia adalah istriku sehingga melakukan itu padaku, pada hal aku sangat bosan, walau dia banyak membantuku, lantas apa gunanya? selama setahun kami bersama aku tidak bisa melakukan apapun terhadapnya. dia takut saat aku baru ingin menyentuhnya. dia adalah gadis kampung yang hanya memiliki wajah cantik tapi bodoh dan selalu aku pergunakan," ujar Alex.
Tuk...tuk...tuk...
Ketukan keras yang dilakukan oleh Michelle yang sedang emosi karena ucapan pria itu. ia merasa sangat sakit hati.
Tidak lama kemudian Alex membuka pintu kamarnya. ia melihat pacarnya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Alex yang menarik kasar lengan Michelle dan menjauh dari kamar itu.
Michelle menepis tangan pria itu dan langsung menampar wajah pacarnya yang telah mengkhianatinya.
Plak..
"Tidak tahu malu dan tidak punya harga diri," ketus Michelle yang merasa sakit hati.
"Kau sudah mengetahui semuanya dan tidak perlu lagi aku menjelaskannya," ujar Alex yang merasa tanpa bersalah.
"Kau mencintainya? kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Kenapa melakukan ini padamu? karena dia lebih pintar dan hebat darimu, dia adalah anak orang kaya yang akan menjamin hidupku, sedangkan dirimu apa? selain bisa memasak dan mengantar makanan untuk ku, apa lagi yang kau bisa?"
"Bagimu semua yang ku lakukan sama sekali tidak berarti?"
"Iya, karena tidak bisa menjamin hidupku, aku merasa sangat risih. setiap malam kau datang menjemputku, aku merasa malu. setiap hari kau mengantar makanan, aku merasa malu. dan setiap kali rekan ku bertanya siapa dirimu? aku malu menjawab kau hanya pekerja biasa di sebuah perusahaan," bentak Alex.
Plak.
Tamparan yang dilakukan oleh Michelle yang merasa semakin hancur, hatinya serasa di cabik habis-habisan oleh pria itu.
"Selama ini apa aku sangat memalukanmu hanya karena aku pekerja biasa?"
"Benar."
"Kau akan menyesal," bentak Michelle.
"Serahkan saja dia kepada anggotaku untuk mengobati lukanya!" ujar Alice yang keluar dari kamar.
__ADS_1