
"Alex, Fabio, aku tidak menyangka kau begitu tega padaku, aku tidak akan memaafkanmu untuk selamanya. andaikan aku mati aku juga tidak akan melepaskanmu," batin Michelle.
Bruk.
"Aarghh...," rintihan pria itu yang ingin melepaskan celana Michelle, ia dihantam kepalanya dari belakang dan tidak sadarkan diri.
"Kau siapa?" bentak temannya yang tadi menahan kedua tangan Michelle. pria itu berdiri dan melihat temannya dipukul oleh seorang pria asing.
"Sampah seperti kalian tidak layak bertanya," bentak pria itu lalu memukul wajah suruhan Alice.
Bruk..
"Aarggrh...," jeritannya yang tersungkur dan bengkak pada wajahnya.
"Kalau kalian masih ingin hidup maka segera pergi dari sini," bentak pria asing yang menyelamatkan Michelle itu dengan sambil menendang pelaku yang tergeletak tidak berdaya.
"Aarrggh...," jeritannya yang kesakitan.
"Dasar sampah," ketus pria itu yang kemudian melepaskan jas luarnya dan menghamipiri Michelle yang berbaring tidak bergerak, ia merasa hancur sehingga terdiam dan putus asa. rasa takut, cemas, trauma dan sakit hati bercampur menjadi satu.
Pria itu menutupi tubuh Michelle dan kemudian membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Flashback of.
Malam itu Michelle menitik air matanya saat mengingat kejadian masa lalu, kesuciannya nyaris hilang akibat pengkhianatan mantan pacarnya itu. hubungan antara dirinya dan pria itu meninggalkan luka yang sangat mendalam. sebaik apapun dia terhadap seorang pria yang dia cintai tetap saja tidak dihargai dan bahkan dikhianati sehingga hampir menjadi korban pemerk*saan.
Atas kejadian tersebut tentu saja membuat Jhones dan Johan marah besar sehingga menjebloskan Alice ke dalam penjara. dan pada saat yang sama Alex pun menghilang hingga kini masih belum tahu keberadaannya.
Michelle membuka laci meja sampingnya dan mengambil kalung tersebut. seuntai kalung liontin giok berwarna hijau yang dia pegang.
"Kalung ini milik pria yang menyelamatkan ku saat itu, saat itu aku belum sempat berterima kasih padanya. karena sedang dalam kondisi trauma. tidak tahu apakah aku masih memiliki kesempatan untuk berterima kasih padanya," batin Michelle.
"Liontinnya adalah giok, apakah kalung milik keluarga pria penyelamat itu? sudah dua tahun berlalu, aku tidak melihat wajahnya dan dia juga tidak datang mencariku. padahal aku sudah menitipkan alamat dan nomor handphoneku pada pihak rumah sakit," gumam Michelle.
__ADS_1
Michelle lalu memakai kalung tersebut agar bisa menemukan penyelamat hidupnya di saat dua tahun yang lalu.
Keesokan harinya.
Michelle mengantar set pakaian pria untuk Leonardo, lalu ia berjalan menuju ke kamar tamunya itu.
Tuk...tuk...
Ketukan pintu yang dilakukan oleh Michelle.
Tidak lama kemudian pintu kamar dibuka oleh Leonardo dari dalam.
Klek
"Selamat pagi, ini adalah pakaian yang ku sediakan untukmu," ucap Michelle yang menyerahkan set pakaian dengan kedua tangannya.
"Selamat pagi, sebentar lagi aku harus pulang. aku rasa tidak perlu lagi," jawab Leonardo yang menolak karena merasa sungkan.
"Sekarang sudah pukul 06.30, dan hanya sisa satu jam lebih kamu harus ke perusahaan, oleh karena itu kamu harus mandi dan ganti pakaian di sini saja. setelah itu sarapan dan kemudian kamu bisa langsung berangkat kerja dan tidak perlu pulang ke rumah lagi. karena tidak akan sempat kalau kamu pulang," ujar Michelle dengan senyum.
"Kenapa kamu tersenyum? apakah aku salah bicara?"
"Tidak, hanya saja...kamu cukup teliti," jawab Leonardo.
"Aku juga berangkat pukul 07.30 agar tidak terlambat," kata Michelle.
"Perusahaan Unique adalah milik keluargamu, kenapa kau harus cepat pergi? bukankah biasanya sebagai atasan akan masuk kerja pukul 09.00?"
"Ketika kita tidak disiplin mana mungkin kita bisa mengatur karyawan yang bekerja dengan kita. walaupun aku adalah manajer tapi tetap harus patuh pada peraturan," jawab Michelle.
"Ganti pakaian ini! tidak mungkin kamu sebagai atasan memakai pakaian yang sama dengan kemarin. ini adalah pakaian baru yang aku pesan," ujar Michelle.
"Baiklah, terima kasih," ucap Leonardo yang menerima dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Setelah selesai kita sarapan bersama!"
"Sebentar lagi aku keluar," jawab Leonardo dengan senyum.
Sesaat kemudian Michelle melangkah pergi dan Leonardo menutup kembali pintunya.
"Set pakaian, handuk, baju tidur dan air hangat serta makan malam dan sarapan. walau berada di rumah orang lain tapi merasa seperti di rumah sendiri. sedangkan tinggal dengan istri sendiri seperti tinggal dengan orang asing," gumamnya.
"Gadis ini...membuatku merasa seperti keluarga sendiri, siapa yang menikahi dia adalah pria yang paling beruntung," batin Leonardo.
Michelle telah menyiapkan sarapan berupa kue-kue khas makanan itali dari Pasticciptto, Torta paradisso, Torta barozi, Rustico dan Brioche con gelato.
"Michelle, apakah Leonardo sudah bangun?"
"Sudah, Pa. sebentar dia akan keluar sarapan bersama kita setelah mengganti pakaian," jawab Michelle yang sedang menuang moca ketiga cangkir.
"Michelle, mulai hari ini kalian akan bekerja sama, belajarlah dari dia. Leonardo seorang pebisnis yang telah berpengalaman!"
"Papa, tenang saja! aku sudah mengerti!" jawab Michelle yang meletakkan cangkir ke hadapan ayahnya.
Setelah beberapa menit kemudian Leonardo sarapan bersama mereka.
"Bagaimana dengan tidurmu? apakah nyenyak?" tanya Jhones pada Leonardo.
"Sangat nyenyak, dari malam aku tidur hingga pagi," jawab Leonardo dengan senyum.
"Baguslah, makanlah yang banyak. ini khusus dipesan oleh putriku!"
"Terima kasih, sarapannya adalah makanan khusus itali," ucap Leonardo.
"Tentu saja, karena kita tinggal di itali oleh karena itu kita harus makan makanan khusus itali," kata Michelle dengan senyum.
"Putriku ini serba bisa, tiga kali dalam sehari semua makanan yang dia sediakan sangat istimewa, dia bahkan lebih jago dari mendiang ibunya," ujar Jhones dengan bercanda.
__ADS_1
"Pa, jangan bandingkan mama dengan aku! mama adalah wanita yang paling hebat karena sudah melahirkanku," ucap Michelle.
"Ha-ha-ha-ha....iya...iya...papa hanya bercanda," ujar Jhones dengan tertawa.