Siapa Yang Dicintai Suamiku?

Siapa Yang Dicintai Suamiku?
Alex Bertemu Jhones


__ADS_3

"Aku dan dia sudah bercerai, aku tidak tahu apakah dia tanda tangan atau tidak, yang jelas aku tidak peduli lagi," ucap Leonardo yang duduk dengan bersandar.


"Akhirnya kau bisa melakukannya," ujar Niko yang merasa gembira.


"Sudah seharusnya kau melakukan itu dari awal, kalau aku di posisimu dari tiga tahun lalu aku sudah gugat cerai," ujar Aaron.


"Selamat, hidupmu sudah bebas dari banana itu," ucap Niko yang mengajak bersulang dengan sahabatnya itu.


"Dirimu adalah pria yang sukses tidak usah khawatir jika mengenai jodoh!" ujar Aaron.


"Aku tidak akan memikirkan masalah jodoh lagi, dari awal aku yang salah terlalu percaya pada diri sendiri, tidak percaya kata orang tua memang salahku," kata Leonardo.


"Aku tidak mengerti maksudmu," ujar Niko yang merasa heran.


"Orang tuamu saja sudah meninggal dari dulu, mana mungkin mereka mengenal Zanana," ucap Aaron.


"Apa kalian masih ingat kalung giok milik keluargaku?" tanya Leonardo.


"Iya, bukankah kalung itu sudah hilang?" tanya Niko.


"Benar, papaku pernah memberitahuku dulu, bagi yang bisa menemukan kalung giok itu maka dia adalah jodohku. giok itu bukanlah giok biasa. papa dan mamaku juga karena giok itu bisa bersama," jelas Leonardo.


"Bagaimana bisa ditemukan oleh wanita lain, sedangkan saat itu kau memakainya?" tanya Niko.


"Aku juga sependapat denganmu, itu yang aku pikirkan. selama kita memakainya tidak mungkin bisa ditemukan orang lain. oleh karena itu aku tidak pernah percaya dengan mitos itu," jawab Leonardo.


"Lalu, ke mana hilangnya kalung giok itu?" tanya Niko.


"Aku juga tidak tahu kapan dan di mana hilangnya," jawab Leonardo.


"Kalau saja wanita yang menemukan bukankah dia adalah jodohmu?" tanya Aaron.


"Sudah hilang dua tahun, saat itu aku sudah menikah dengan Zanana, oleh sebab itu aku tidak memikirkan masalah jodoh dengan yang lain. yang ku sayangkan hanya kalung peninggalkan orang tuaku yang tidak tahu hilang ke mana," ujar Leonardo.

__ADS_1


"Andaikan mitos itu adalah benar, mungkin saja suatu saat kau bisa menemukan kalung itu. kalau saja pria yang menemukannya jadikan saja dia sebagai saudaramu. dan jika wanita jadikan saja sebagai istrimu!" ucap Niko seraya bercanda.


"Siapapun yang menemukannya aku akan tetap menganggapnya sebagai saudaraku, pria ataupun wanita aku tetap akan berterima kasih pada mereka. apapun yang mereka minta aku akan memberikan pada mereka karena kalung itu sangat penting bagiku," ujar Leonardo.


"Aku mengerti perasaanmu, kamu masih merasa kecewa dengan kegagalan pernikahanmu," kata Aaron.


"Jangan dipikirkan lagi! mari kita bersulang dan lupakan masa lalu," ucap Niko yang bersulang dengan dua temannya.


Keesokan harinya.


Perusahaan Unique


Alex Fabio mendatangi Perusahaan Unique untuk menawarkan kerja sama, ia datang dengan berpenampilan rapi sambil membawa tas kerjanya.


Ia melangkah masuk dengan penuh keyakinan bahwa dirinya akan berhasil untuk mendapatkan tanda tangan perusahaan besar itu.


Ruangan kantor Jhones.


"Alex Fabio? untuk apa dia ke sini?" tanya Jhones dengan penasaran karena dirinya juga sedang mengincar pria itu.


"Dia wakil dari sebuah perusahaan, dan ingin menawarkan kerja sama dengan kita."


"Breng.sek ini...berani sekali dia datang menemuiku, aku juga sedang mencarinya. bagus sekali. dia datang sendiri tanpa kita harus bersusah payah mencarinya," ujar Jhones.


"Suruh dia masuk! dan di mana Michelle?"


"Manajer sedang bersama dengan tuan Valentino di kantornya."


"Hm...biarkan saja! persilahkan bajin.gan itu menemuiku!"


"Baik, Tuan Direktur," jawab asistennya yang kemudian melangkah keluar.


"Bocah breng.sek, apa yang kau lakukan untuk putriku akan ku balas," ketus Jhones.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian Alex melangkah masuk ke ruangan besar itu, ia melihat seorang pria tua yang berambut putih sedang duduk di kursi besarnya. pria itu menatap tajam ke arahnya sehingga membuat Alex merasa merinding.


"Tuan, saya adalah...Alex Fabio," ucap Alex yang sedang merasa cemas.


"Aku mendengar kau ingin menawarkan kerja sama, atas dasar apa kau ingin kerja sama dengan perusahaan besar kami?" tanya Jhones dengan dingin.


"Tuan, saya membawa proposal untuk Anda, silakan dibaca!" ujar Alex yang memberikan proposal itu kepada Jhones.


Jhones dengan bersikap cuek membaca proposal pemberian dari mantan pacar putrinya itu.


Setelah selesai membaca Jhones langsung melempar proposal itu ke arah Alex dengan wajah tidak gembira.


"Apa kau mengira perusahaan ini adalah tong sampah untukmu? kau membawa proposal murahan ke sini, apa kau ingin menghinaku," bentak Jhones.


"Tuan, ini...."


"Kenapa, apa kau merasa kau pintar dam sudah layak melangkah masuk ke perusahaan kami? Alex Fabio, orang sepertmu sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna. lantas untuk apa kau menginjak kaki ke perusahaan ku," bentak Jhones.


"Ukur baju sendiri sebelum melakukan sesuatu, jangan mengira dirimu sangat penting sehingga melukai orang lain," ketus Jhones dengan kesal.


"Saya tidak mengerti maksud Anda."


"Kau tidak perlu mengerti. tapi kau harus menanggung segala perbuatan di masa lalu," ujar Jhones dengan tegas.


Tidak lama kemudian Michelle dan Leonardo melangkah masuk ke ruangan kantor Jhones.


"Tuan Unique," sapa Leonardo.


"Leonardo, Michelle, kalian sudah datang," balas Jhones


"Kami ada ide baru yang ingin meminta pendapat papa," jawab Michelle yang belum memperhatikan pria yang berdiri di sana.


Mendengar suara seorang gadis tentu bagi Alex sudah tidak asing, lalu dia menoleh ke belakang dan melihat gadis itu dengan rasa tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2