
jam menunjuk angka dua belas siang Sofia merasa lapar karena tadi pagi dia hanya memakan roti yang ada di dapur dewa. Sofia turun kebawah menuju dapur dia membuat spaghetti karena praktis..
''kak Sofi buat apa'' tanya Jihan yang baru memasuki dapur dan melihat kakak keduanya sedang berkutat dengan alat masak
'' spaghetti mau biar nanti kakak bikini sekalian?''
''hmm boleh aku juga lapal"jawab nya cadel
sekitar dua puluh menitan dua piring spaghetti telah siap di hidangkan "makanlah adik'' ujarnya seraya meletakkan Piring yang berisi spaghetti
mereka makan bersama sambil bicara do selingi tawa kecil di antara kedua nya
'' kakak bisakah kita melihat senja aku penasalan senja itu seperti apa'' ujarnya Jihan dengan mengetuk ngetuk kan telunjuk nya di dagunya
melihat tingkah adiknya yang menggemaskan Sofia Dengan gemas nya menggigit pipi gembul sang adik itu
''auww sakit kakak pipiku bukan bakpao" Jihan mengerucut bibirnya menandakan bahwa gadis kecil itu sedang mara
'' pipimu memang seperti bakpao adik kakak sampai bingung bedainnya mana bakpao mana pipimu'' ledek Sofia
gadis kecil itu semakin kesal dengan penuturan kakaknya itu dia berdiri dengan menyilang kan kedua tangannya di dada
'' aku tidak mau makan baleng kak sofi lagi takut pipiku di makan'' seraya memegang kedua pipinya itu
Sofia tergelak dengan tingkah adik kecilnya '' hey adik pipimu tetap gembul meski kau tutupi seperti itu membuat aku ingin memakannya saja'' goda Sofia
mata Jihan membulat ''kakak jahat ingin memakan pipiku hiks hiks hiks'' Jihan menangis sesenggukan
''jihan kakak hanya bercanda kenapa kau cengeng begitu ''
__ADS_1
'' kenapa kakak hiks ingin makan pipiku khis khis'' tanyanya
''berhenti menangis atau kakak akan makan pipimu saat ini juga'' tegasnya
bagai di remot tangis itu langsung berhenti. Jihan mendongak melihat kakaknya meski sudah tidak sesegukan lagi namun air mata itu tetap tidak mau berhenti
''usap air mata mu kita akan melihat senjata ''
'' benarkah kita akan melihat seja Kakak''
''iyah tapi berhenti dulu menangis'' bujuknya
'' tapi kakak tidak akan memakan pipiku kan'' tanyanya lagi. Sofia tersenyum dan menggeleng pelan
'' ayo kita bersiap katanya mau lihat senja''
*********
''lihat tuan apakah mirip jika belum saya minta maaf tuan saya belum terlalu mahir'' pelayanan itu memberikan hasil lukisannya kepada dewa
melihat lukisan itu dewa tersenyum "tidak ini sama persis seperti wanitaku'' jawab dewa
lukisan yang di lukisan adalah di dalam kamar mandi di mana keduanya basah oleh air
'' bara berikan bonus untuk nya'' perintahnya kepada bara
''baik bos''
di pantai
__ADS_1
adik kakak itu bermain dengan girang membuat istana pasir dan bermain air bersama
" kakak apakah ini yang di maksud senja'' tanya Jihan polos
"bukan adik senja itu adalah pertemuan antara siang dan malam hingga Langit barat akan berwarna jingga"
"jadi senja itu bisa bukan main pasir"
''bukan sayang'' jawab sofia sambil tersenyum manis
mereka membuat istana pasir hingga sore hari ''lihat lah ke arah barat adik sebentar lagi akan senja''
Jihan berhenti bermain pasir dan memandangi langit barat dengan begitu kagum ''waahh langitnya indah kakak'' matanya berbinar kagum
''senja memang indah namun tidak akan bertahan lama karena ke indahan senja itu hanya sementara jadi nikmatilah''
'' kakak apakah besok kita akan kesini lagi sekalian ajak kak liya'' tanyanya
Sofia tersenyum mendengar pertanyaan dari Jihan ''lainn kali yah kalo kakak tidak sibuk''
mendengar jawaban kak sofi membuat Jihan lemas '' yah padahal aku ingin setiap hari ke sini'' ucapnya lemas.
Sofia tersenyum melihat adik kecilnya itu '' bagai mana klo kita nikmati senja di sana'' tawar Sofia
''makasut kakak sambil belenang''
'' iya pasti seru kamu mau''
'' mau kak ayok'' Jihan menggandeng tangan Sofia menunju laut
__ADS_1
saat di rasa air laut sebetis sofia duduk sambil memangku adik kecilnya itu mereka menikmati senja bersama dengan berbincang bincang kecil namun sofia tidak sadar bahwa gerak geriknya saat di amati oleh seorang pria
''sungguh cantik'' gumamnya lirih