
"adikmu tidak berubah Aliya dia pesikopat" ucap dewa "sudahlah Aliya lebih baik kita cari tau kemana adikmu itu pergi" dewa keluar dari ruangan itu pikirannya kini benar benar pusing
Aliya mengikuti langkah kaki dewa keluar ruangan cctv "bos ini orangnya" salah satu anak buah dewa membawa pria yang ada di cctv
"bawa dia" dewa terus berjalan melewati setiap koridor rumah sakit, seluruh orang pandangannya teralihkan ke dewa
mereka membawa pria itu pulang ke rumah Aliya saat sampai pria itu di kurung dalam kamar kosong di bawah tanah.
ruangan itu sebelumnya di gunakan oleh sofia untuk menghilangkan barang bukti kejahatannya "jaga dia jangan sampai lolos"
dewa naik ke atas menunjuk kamar sofia saat ada di rumah Aliya kamar sofia lah yang selalu dewa tempati
Jihan yang berada di ruangan tamu melihat dewa ingin masuk kamar
"kak dewa mau kemana ?" tanya Jihan yang melihat dewa enggan untuk duduk bersamanya
dewa hanya menoleh dan tersenyum ke arah Jihan lalu melanjutkan lagi langkah kakinya
__ADS_1
Aliya yang melihat adiknya duduk sendirian di depan tv sendirian "ji mana nani?" tanyanya pada adiknya yang sedang memakan cemilan
"kakak Nauni tudaak ada keluaarr" ucapnya susah karena mulutnya penuh makanan
"hei ji kau bicara apa? telan dulu makanan itu"
Jihan menelan makanan di mulutnya "Nani lagi keluar dulu" jawabnya
Aliya duduk dan memakan cemilan Jihan "kalo kak de......."
"kak dewa ke kamar kak sofi " ucap Jihan memotong ucapan Aliya
Aliya menemani Jihan hingga nani pulang dari luar membeli beberapa barang untuk di masak, setelah ada Nani yang menemani Jihan Aliya pergi ke ruangan pribadinya dimana tempat itu penuh dengan alat alat canggih
"aku harus mengamati lagi cctv di rumah sakit" Aliya mulai memutar ulang videonya untung lah dia tadi menyalin rekaman itu
Aliya mulai mengamati setiap sudut rumah sakit beberapa hari namun tidak ada yang mencurigakan semuanya seperti tidak ada apa apa "tidak ada bukti sedikitpun" Aliya mulai putus asa namun dia teringat sesuatu. "aku harus melacak ponsel Sofia untungnya aku punya nomornya"
__ADS_1
sementara dewa setelah selesai mandi dewa langsung pergi ke ruangan bawa tanah di situ sudah ada Fano yang menunggu "apa sudah kau tanyakan pada pria itu fano?"
"sudah tuan tapi dia sepertinya tidak menyayangi nyawanya" jawab Fano
dewa masuk ke melihat pria itu sudah dalam keadaan mengenaskan "apa kau tidak sayang dengan nyawamu?" tanya dewa
mendengar suara dewa pria itu mengangkat wajahnya "tuan tolong lepaskan aku, apa salahku?"
dewa mendekati pria itu dan memegangi kerah bajunya "apa kau pura pura bodoh jelaskan apa tujuanmu"
"apa yang harus aku jelaskan tuan aku tidak tau apapun. nona itu mengajakku berbincang dan aku hanya di suruh untuk memotong kabel itu" pria itu mencoba memberi alasan yang meyakinkan
dewa melempar tubuh pria itu hingga membentur tembok "Fano biarkan pria itu mati perlahan rupanya dia sudah tidak menyayangi nyawanya"
sedangkan Aliya masih berkutat dengan layar laptopnya dia mencoba mencari titik terakhir sofia namun sayangnya titik terakhir itu hanya di rumah sakit "heh sial" umpatnya
"sebentar sofia menelpon siapa? aku harus melacak panggilan terakhir yang Sofia lakukan" Aliya mulai melacak siapa yang menelepon sofia terakhir kali
__ADS_1
"ini dia nomornya" Aliya menemukan nomor terakhir yang menelepon sofia dan alangkah terkejutnya dia melihat nama yang terdaftar adalah nama James