
"jadi kita akan rawat dia bersama?" Sofia mengelus perut Ratanya itu
Aliya mengangguk ikut mengelus perut sofia namun tiba-tiba kepikiran sesuatu "sofia bagaimana kalo kita pindah dari negara ini?"
"kenapa harus pindah kak," Sofia Bing kenapa tiba-tiba kakak nya mengajak dia pindah
"kemarin ada seseorang yang mencari mu dia begitu mencurigakan" Aliya mengingat beberapa hari yang lalu dimana dua orang berbadan kekar mencari sofia
"mencari ku! terus kakak tidak tanya kenapa mereka mencariku"
"kakak sudah tanya tapi mereka bilang mereka teman mu kakak yakin itu hanya alasan saja lebih baik kita pergi dari negara ini Sofi apalagi kau hamil" ucap Aliya
"aku terserah kakak saja" sofia akhirnya mengikuti anjuran Aliya untuk pergi dari negara ini
sementara saat ini dewa sedang berada di sebuah bar ternama di negaranya dia sedang ingin melakukan transaksi ilegal
"bagaimana James" tanya dewa saat menerima uang satu koper
"semua aman bos" Jawab James yang memeriksa uang uang itu
Lian yang baru sampai membisikkan sesuatu di telinga dewa "kurang ajar mereka menjebak ku" guman dewa dalam hati
dengan gerakan cepat dewa mengambil senjatanya yang dia sembunyikan di betisnya
__ADS_1
dor dor dor
baku tembak di ruangan VVIP itu terjadi ruangan yang tadinya bersih kini sudah kotor oleh darah "cepat kita harus segera pergi dari sini" dewa dan James Lian segera pergi dari tempat itu mereka melewati jalan darurat untuk kabur karena sudah di kepung
"sial… siapa yang membocorkan rencana malam ini" dewa begitu marah "kita hampir saja mati"
"mungkin ini ulah Fiona tuan" lian memegang lengannya yang tadi sempat terkena tembakan
"rupanya dia ingin balas dendam kepada mu" ucap James
semenjak pertunangannya di batalkan membuat Fiona dan Cleo marah mereka merasa terhina karena dewa membatalkan pertunangan dengan Fiona di depan para undangan sebenarnya saat kembali dewa langsung ada tugas ke bagian timur jadi dia tidak sempat membatalkan pertunangannya dengan Fiona hingga hari pertunangan tiba
"sebenarnya dia bersekutu dengan siapa?" dewa tau Fiona tidak mungkin memiliki kekuatan untuk menyerang
saat sampai ke rumah dewa segera mengobati lukanya setelah selesai mengobati lukanya dewa duduk di sofa besar yang ada di kamarnya
"sofia aku merindukanmu" dewa terus memandangi lukisan sofia "aku akan segera menjemput mu dan menjadikanmu pendamping ku"
...*****...
pagi telah menyapa cahaya masuk melalui celah celah jendela mengusik tidur Sofia "sudah pagi" Sofia merentangkan kedua tangannya
"Sofia kau sudah bangun?" Aliya sudah berada di depan kamar sofia seperti biasa dia akan membangunkan adik adiknya
__ADS_1
"masuklah kak" sofia menyuruh Aliya masuk
"Sofia cepat mandi ini sudah jam berapa? kau masih saja betah dengan selimut mu"
"ihss kau ini kak kau pikir aku ini anak kecil selalu saja kau memperlakukan aku seperti bocah"
"kau memang adik kecil ku sofia" Aliya mengacak rambut sofia "adik kecil yang nakal"
Sofia segera mandi karena hari ini ada kelas pagi setelah bersiap siap sofia turun untuk makan bersama
"kak sofi sudah tidak masuk angin lagi" tanya Jihan heran karena pagi ini sofia tidak mual Mual seperti biasanya
"tidak kakak sudah sembuh" jawab sofia yang menyuap makanan ke dalam mulutnya
"kak sofi mu ini tidak sakit tapi ada dedek bayi di sini" Aliya mengelus perut sofia
"wah Dede bayi" Jihan segera turun dari kursinya dan mendekati sofia "tapi Dede bayi nya dimana?"
"Dede bayi nya masih di dalam perut kakak" ucap sofia. mereka sarapan pagi dengan hangat namun Aliya melihat wajah khawatir sofia
"ada apa sofia?" tanya Aliya yang dari tadi melihat kegelisahan di wajah sofia
..."entahlah kak dari semalam perasaan ku tidak enak" sofia mencoba menenangkan hatinya menatap kedua saudaranya itu "aku harap ini bukan kebersamaan terakhir kita" ...
__ADS_1