
Aliya yang mendapat info tentang Sofia segera mencari dewa "dewa..... dewa...." panggilnya
"ada apa sih kak?.." tanya Jihan yang Heran melihat kakaknya
" ada apa sih Aliya" tanya dewa dari arah belakang
"dimana James?" tanyanya lagi kepada dewa
"tunggu ini ada apa aliya" tanya Fano
Aliya berjalan menuju ke lantai atas dan dewa dengan Fano mengikuti langkah Aliya "Cepat..!! kalian harus melihat ini" Aliya menunjuk data data yang dia temukan dari nomor sofia yang sudah dia lacak sebelumnya
"ini tidak mungkin Aliya James itu saudaraku mana mungkin dia menghianati aku" ucap dewa tidak percaya dengan hal yang ditunjukkan Aliya
"tapi lihatlah dewa... nomor itu atas nama James" tegas Aliya
"aku harus memastikan sendiri" dewa mengambil handphonenya dari sakunya "halo James" sapanya pada seseorang di balik telpon
"nak James belum sadar nak" ucap seorang wanita dari sebrang telpon
"ada apa dengan James mom?" tanya kepada wanita itu karena dewa tau itu lah suara mommy Rubby
__ADS_1
Rubby menceritakan semuanya yang terjadi pada James membuat dewa mengepalkan tangannya erat erat
praaankkkk sebuah meja kaca menjadi sasaran emosi dari Dewa
Fano yang melihat dewa marah menghentikan Aliya yang ingin menegur dewa karena telah membuat kekacauan di ruangan pribadinya
"keterlaluan kau Alan" dewa terlihat begitu marah setelah mendapat informasi dari Rubby dendamnya kepada Alan semakin memuncak
sementara sofia saat ini telah sampai ke tempat yang di tuju "kenapa kita kesini?" tanya kepada orang kepercayaan Alan
"maaf nona rumah anda dan tuan dylan telah di ketahui oleh dewa sangat berisiko jika kita kesana"
di rumah itu telah di siapkan perlengkapan medis dan dokter yang siap menangani dylan selama dia koma
waktu berjalan begitu cepat namun dylan belum menunjukkan tanda-tanda kesadarannya berbagai upaya sudah sofia lakukan namun dylan belum sadarkan diri
"nona... nona...." panggil salah satu suster yang menjaga Dylan.
Sofia yang sedang menanam bunga segar menghentikan aktivitasnya "ada apa sus apa Dylan baik baik saja"
"nona tuan dylan telah sadar nona" Jawab sang suster.
__ADS_1
mendapat kabar bahwa Dylan telah sadar sofia seperti sebuah bunga yang mendapat sinar matahari pagi, hatinya begitu bahagia orang yang selalu dia rindu candanya kini telah sadar dari komanya
Sofia segera mencuci tangannya dan berlari ke dalam kamar yang khusus di buat untuk Dylan
saat sofia membuka pintu dia melihat Dylan menatapnya dengan penuh kesedihan entahlah apa yang di rasakan oleh Dylan namun tergambar jelas dalam tatapan matanya "sayang kau sudah sadar"
"kenapa kau disini?" ucapnya lemah "seharusnya kau berada disana bersama saudaramu dan pria yang kau cintai fia" tambah Dylan
"apa yang kau tanyakan bang?" Sofia mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi "siapa yang aku cintai maksudmu? hmm ... siapa?"
"dewa" jawabnya lirih "fia aku tau aku salah aku merebutmu dari dewa dan itu tidak benar"
"Abang salah!! aku mencintaimu bang bukan dewa" sofia mencoba meyakinkan dylan bahwa hanya dia yang ada di dalam hatinya "dan Abang tidak merebutku dari siapapun ini takdir"
"fia...!! banyak hal yang belum kau ketahui tentang aku dan apa setelah kau tau cinta itu masih ada fia?" ucap lemah
"cinta itu akan selalu ada meskipun kebenaran pasti akan menyakitkan"
Dylan terharu mendengar ucapan sofia tak terasa air matanya jatuh dari pelupuk matanya "jangan pergi fia" Dylan mencoba bangun dari tidurnya namun karena tubuhnya lemah dia tidak bisa
Sofia naik ke atas tempat tidur Dylan membaringkan tubuhnya memeluk dylan dengan rasa rindu yang sudah memuncak "istirahat lah bang aku akan disini, di sampingmu selamanya"
__ADS_1