
Dengan sangat kecewa, Asta terpaksa kembali ke rumah sewa. Ia tidak mungkin selalu mengawasi tempat kediaman Alice bagaikan seorang pencuri yang sedang mengawasi targetnya.
Meski jarak rumah sewa dengan rumah Alice begitu jauh, namun Asta tetap berjalan kaki untuk pulang dan pergi.
Di sepanjang jalan, seluruh wanita terpesona dengan ketampanan yang di miliki oleh Asta namun Asta sama sekali tidak menyadari akan hal itu.
“Halo ! Boleh saya meminta nomor handphone anda ?” Ucap seorang wanita paruh baya dengan centilnya kepada Asta.
“Nomor ? Handphone ?” Tanya Asta penuh kebingungan.
“Iya, boleh kan minta nomor handphone kamu ?” Tanya wanita itu lagi.
“Dih !! Centil banget sih !” Ucap wanita lainnya.
“Udah tua juga tidak tahu diri ya !”
“Si tante itu apaan sih ? Centil amat !”
Tampaknya seluruh wanita yang berada disana tidak senang melihat Asta di goda oleh wanita itu.
“Apa itu handphone ?” Tanya Asta kepada wanita paruh baya itu.
“Kamu tidak tahu handphone ?” Jawab wanita paruh baya itu.
“Tidak !”
“Handphone itu seperti ini” wanita paruh baya itu menunjukkan telepon genggamnya kepada Asta.
“Eemm kalau kamu tidak punya, saya bisa belikan kamu satu sekalian sama nomornya” Ucapnya kemudian.
“Kamu mau kan ? Dengan handphone ini kamu bisa menemukan apa saja dengan mudah” Ucapnya lagi.
“Bisa menemukan apa saja ?” Tanya Asta dengan polosnya.
“Iya benar ! Mau kan ? Yuk !” Wanita paruh baya itu pun menarik tangan Asta dan membawanya ke toko handphone terdekat.
“Oh iya kamu kerja apa ?” Tanya wanita paruh baya itu.
“Memburu penyihir !!” Jawab Asta dengan lugunya.
“Hahaha ! Selain tampan, kamu juga lucu ya” Goda wanita itu.
“Penyihir seperti apa yang kamu cari ?” Tanyanya kemudian.
Seketika Asta membayangkan Qhien Guan di dalam pikirannya.
“Tinggi, rambut panjang, putih, cantik..” Ucap Asta menyebutkan ciri-ciri Qhien Guan.
Seketika wanita paruh baya itu tersipu malu, ia merasa bahwa semua ciri-ciri itu ada pada dirinya.
“Dan juga kuat” Asta melanjutkkan perkataannya.
“Ha ? Kuat ?” Gumam wanita itu.
“Memangnya kamu tahan berapa jam kalau berkelahi ?” Tanya wanita itu sambil tersipu malu.
“Aku tahan ber jam-jam, bahkan berhari-haripun aku masih sanggup ! Untuk menaklukkan wanita kuat, aku harus lebih kuat, dan aku tidak akan memberi ampun kepadanya !! Akan aku selesaikan dengan cepat sampai dia terkapar” Jawab Asta menjelaskan.
“Ha ? Sepertinya kamu ganas sekali, aww” Sepertinya wanita paruh baya itu salah mengartikan ucapan Asta.
__ADS_1
Ia menganggap bahwa Asta sedang mencari wanita yang kuat untuk hal begituan.
“Saya ini Penyihir seperti yang kau ceritakan loh” Ucap wanita itu.
“Tidak ! Penyihir itu masih muda, dia tidak setua dirimu !” Ucap Asta tegas.
“Haaa ?? Kamu ini kasar sekali ! Apa aku setua itu ? Sepertinya aku harus perawatan rutin di luar negeri” Seketika rasa percaya diri dari wanita tersebut hilang, ia mulai menutupi wajahnya dan tertunduk malu.
“Ah itu toko handphonenya ! Kita beli handphone kamu dulu ya ! Agar bisa lansung pulang” Ucap wanita itu seakan ingin mengakhiri pertemuannya dengan Asta.
Tak butuh waktu lama, handphone telah dibeli dan diberikan kepada Asta. Sebelum itu, ia telah mengajari cara menggunakan handphone tersebut kepada Asta.
Wanita itu juga telah menyimpan nomor handphonenya ke dalam handphone milik Asta.
“Itu saya Maya ! Nanti kalau saya nelfon, kamu harus angkat ya !" Ucap wanita itu.
“Saya pergi dulu, kamu bisa pulang sendiri kan ?”
“Ya !”
“Ohh iya kamu belum ada pekerjaan ya ? Besok saya beri kamu pekerjaan ! Okey, kalau begitu saya pulang dulu ! Kamu hati-hati di jalan ya tampan !” Dengan cepat wanita itu pergi meninggalkan Asta sambil menutupi wajahnya.
“Aduh aku harus ke klinik kecantikan !!” Ucap wanita itu seraya meninggalkan Asta dengan terburu-buru.
Sementara itu di suatu tempat tampak Alice dan Qhien Guan sedang menuju kantin kantor untuk menghabiskan jam istirahat kerja.
Tak lama, muncullah Albert yang juga ingin menikmati makan siang di kantin kantor.
“Saya boleh duduk disini ?” Tanya Albert kepada Alice.
“Oh boleh pak, silahkan !” Jawab Alice dengan sopan.
“Mm, Kii..Kii..” Tampak Albert sedang berusaha mengingat nama Qhien Guan.
“Ah iya Guan, kamu berasal darimana ?” Tanya Albert kepada Qhien Guan.
“Aku dari keraja..” Belum selesai Qhien Guan berbicara.
Tiba-tiba
Bug
Alice menendang kaki Qhien Guan seakan memberikan sebuah kode.
Qhien Guan yang polos tidak mengerti sama sekali apa maksud dari tindakan Alice tersebut.
“HOI KENAPA KAU MENENDANG KAKI KU ?” Teriak Qhien Guan.
“Aduh !!” Gumam Alice sambil tertunduk malu.
Albert yang menyaksikan itu hanya terdiam penuh kebingungan.
Alice kembali menendang kaki Qhien Guan untuk memberi kode jangan berteriak.
Namun
“ADA APA DENGANMU ? DARI TADI KAU MENENDANG KAKIKU” Teriak Qhien Guan dengan kesalnya.
“Ya ampun bego banget !” Gumam Alice lagi sambil tertunduk malu.
__ADS_1
“KENAPA KAU TUNDUKKAN KEPALA BEGITU ? HA ?? SEBENARNYA ADA APA DENGANMU ?” Kesal Qhien Guan.
“HOI JAWABLAH ! KAU INGIN CARI GARA-GARA RUPANYA YA” Lanjutnya.
“BODOH ! DUDUKLAH !! KAU BUAT MALU SEKALI !!” Akhirnya kesabaran Alice pun hilang, ia bahkan berteriak lebih kencang dari pada Qhien Guan.
“KENAPA KAU MENENDANG KAKI KU ?” Tanya Qhien Guan lagi dengan suara nyaring.
“KAU BENAR-BENAR GAK TAU KODE YA ?! AKU ITU NGASIH KODE AGAR KAU TIDAK BERKATA SEBENARNYA KE PAK ALBERT BODOH !!” Jawab Alice, ia lupa bahwa saat ini Albert sedang duduk bersama dengan mereka.
“Oh begitu ! Maaf saya tidak tahu” Ucap Qhien Guan.
“Oi Pak Albert ! Aku tidak berasal dari Kerajaan Penyihir ! Aku berasal dari dunia ini” Kata Qhien Guan kemudian kepada Albert yang membuat Albert penuh kebingungan.
Seketika Alice tersadar bahwa Albert ada diantara mereka.
“Em pak, Maa..Maafkan kami, Tat..Tadi maksud perkataan saya bukan begitu” Ucap Alice gugup.
“Tidak apa-apa ! Tidak usah di fikirkan !” Jawab Albert.
“Lebih baik kita pesan menu dulu !” Ucap Albert kemudian sambil meberikan buku menu yang terletak di atas meja.
“Oh iya pak” Jawab Alice.
“Oh iya ! Nanti pulang kerja, saya yang antar kalian ya” Ucap Albert.
Deg !
Mendengar itu, seketika Alice terkejut. Pak Albert tidak seperti biasanya yang selalu diam, dingin dan cuek.
“Em.. Pak maaf ! Bukannya kita menolak, tapiii.. saya bawa mobil tadi ke kantor pak. Hehehe !” Jawab Alice.
“Oh begitu, yasudah tidak apa-apa ! Udah dapat menu yang mau di pesan ? Biar saya panggil pelayannya !” Jawab Albert yang tampak malu.
Ini adalah kali pertama Albert menawarkan diri untuk mengantarkan orang lain pulang.
“Eh iya pak, kami menunya sama saja ! Dua orange jus dan dua nasi goreng, itu saja pak !” Jawab Alice.
“Okey, tunggu sebentar ya ! Saya kesana saja pesannya” Albert pun pergi mendatangi kasir untuk memesan menu makanan.
Tak butuh waktu lama, hidangan pun datang.
Tampak pelayan menurunkan hidangan satu persatu dari dalam wadah yang dibawanya.
Dua orange jus, satu es lemon tea, dua nasi goreng, dan satu beef steak.
Qhien Guan yang sedari tadi menyaksikan pelayan menurunkan makanan tampak terpancing dengan menu makanan yang di pesan oleh Albert.
Tanpa rasa malu sedikitpun, ia mengambil hidangan Albert dan menciumi aromanya.
“Sssttt, Hei !” Bisik Alice sambil menendang kaki Qhien Guan.
“Kamu suka yang itu ya ? Makan saja ! Tidak apa-apa !” Kata Albert kepada Qhien Guan.
“Hehehe ! Maafkan teman saya ya pak” Ucap Alice yang menanggung malu.
“Tidak apa-apa !” Jawab Albert singkat.
“Oh iya, saya boleh kan main ke rumah kamu kapan-kapan ?” Tanya Albert.
__ADS_1
“Tentu saja boleh pak, datang saja !” Jawab Alice.
Bersambung..