
“Aduuhh !!” Tampak Alice telah tersadar dari pingsan, ia memegang kepalanya yang telah terbentur pada pintu mobil saat ia pingsan tadi.
“Haloo !!" Sapa Qhien Guan sambil melambaikan tangannya kepada Alice.
“Haa ??” Seketika Alice terkejut melihat wajah Qhien Guan berada sangat dekat dengan wajahnya. Ia pun kembali pingsan.
“Ya ampun !! Baru saja bangun, sudah tidur lagi” Gerutu Qhien Guan.
“Dasar wanita pemalas !!” Ucapnya kemudian.
“Baiklah aku akan membangunkanmu dengan sihirku” Qhien Guan mengeluarkan sedikit sihirnya lalu mengarahkannya kepada Alice.
Efek sihir yang di keluarkan oleh Qhien Guan ternyata mampu membuat Alice bangun dari pingsannya.
Namun, sesaat setelah Alice kembali sadar “Haaaa ??” Lagi-lagi Alice terkejut dan kembali pingsan ketika melihat wajah Qhien Guan benar-benar nyata berada di dalam mobilnya.
“Hoi !! Mau berapa lama lagi kau tidur ?” Kesal Qhien Guan seraya menyadarkan Alice kembali dengan menggunakan sihirnya.
Seperti sediakala, sihir Qhien Guan kembali berhasil menyadarkan Alice.
Namun ketika Alice kembali tersadar “UWAAAH !!!!” Ia berteriak sesaat dan mencoba menjauhi Qhien Guan yang berada sangat dekat dengannya.
“Apa ? Mau tidur lagi ? Dasar wanita pemalas !” Kesal Qhien Guan yang telah membangunkan Alice berulang kali.
Ia tidak menyadari bahwa yang membuat Alice pingsan berulang kali adalah dirinya. Penampilan yang terlihat kuno serta perilakunya yang tidak normal sangat berbeda dengan manusia pada umumnya.
“SIAPA YANG KAU SEBUT PEMALAS ?” Tiba-tiba saja Alice menjadi kesal setelah mendengar ucapan Qhien Guan.
Sejak usia enam tahun Alice telah hidup sebatang kara. Ia tidak memiliki orangtua untuk merawat dan membesarkannya, bahkan sanak saudarapun ia tak punya. Hal itu yang memaksa dirinya untuk menjadi wanita yang rajin dan pekerja keras demi bertahan hidup.
Beruntungnya warga-warga di desanya sangat empati terhadapnya, ia mendapatkan bantuan dari penduduk desa untuk dapat bersekolah secara gratis. Alice pun memanfaatkan kebaikan dari para warga sebaik mungkin, ia belajar dengan giat agar mendapat prestasi di Sekolah. Kerja keras dan Kegigihannya telah membuat ia menjadi seperti sekarang ini. Hal itu membuat ia sangat tidak terima jika ada orang lain memanggilnya dengan sebutan wanita pemalas.
“SIAPA SEBENARNYA KAU INI ? DAN APA TUJUANMU ?” Tanya Alice dengan suara lantang.
“Aku ? Ohh, aku seorang Penyihir” Qhien Guan memamerkan sihir kecil yang ada di tangannya kepada Alice.
“Pe..Pee.. Penyihiiirr ?” Melihat itu, Alice kembali pingsan.
“Ya ampuunnn !! Sebentar-sebentar tidur” Keluh Qhien Guan.
Dengan terpaksa Qhien Guan lagi-lagi mengeluarkan sihirnya untuk menyadarkan Alice.
“Jika kau tidur lagi, lebih baik kau mati saja !!” Ucap Qhien Guan kesal.
“Membuatku repot saja !!” Lanjutnya sambil mengarahkan sihirnya kembali kepada Alice yang telah berulang kali pingsan.
Tak butuh waktu lama Alice pun telah sadar kembali.
__ADS_1
“Ha ?” Alice yang baru saja membuka mata mendapati wajah Qhien Guan menatap dirinya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Lagi-lagi Qhien Guan membuatnya terkejut, namun kali ini ia tidak dapat pingsan lagi dikarenakan ia telah pingsan berkali-kali.
Alice yang tidak tahu harus berbuat apa lansung membuka pintu mobilnya dan berlari keluar.
Melihat itu, Qhien Guan sedikit kebingungan. Ia pun meyusul Alice keluar dari mobil melalui pintu yang telah dibuka oleh Alice.
“Jangan mendekat !! Aku akan lapor polisi” Kata Alice dengan suara lantang namun kakinya terlihat gemetar karena rasa takut yang dirasakannya lebih besar daripada keberanian yang ia miliki saat ini karena sedang berhadapan dengan seorang Penyihir.
“Polisi ? Apa itu ? Apa sebuah makanan ?” Qhien Guan bertanya-tanya di dalam hatinya.
“Aduuh !! Batre handphoneku lowbet lagi” Batin Alice yang hendak meminta bantuan melalui ponselnya.
Alice yang telah dilanda ketakutan merasa cemas melihat baterai ponselnya hanya tersisa dua persen lagi.
“Siapa kau sebenarnya ?” Alice kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepada Qhien Guan dengan suara cukup lantang.
“Aku ? Namaku Qhien Guan dari Kerajaan Penyihir, salam kenal !!” Qhien Guan memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badannya.
Perkenalan seperti itu sudah menjadi sebuah tradisi di Kerajaannya sebagai rasa hormat kepada seseorang yang ditemui atau bisa disebut juga sebagai tanda sopan santun.
“Qhien Guan ?” Gumam Alice.
Yang ada dipikiran Alice ketika mendengar nama Qhien Guan adalah sebuah roti kaleng berwarna merah dimana terdapat sebuah gambar keluarga sedang duduk dan makan bersama pada kaleng tersebut.
“Jangan membodohiku !!” Ucap Alice kemudian masih dengan nada suara lantang.
“Kau pasti asal mengarang nama kan ??" Ucapnya lagi dengan tegas.
“Huh !! Kau ini masih saja keras kepala ya !! Aku Qhien Guan, orangtuaku biasa memanggilku Guan” Qhien Guan berusaha meyakinkan Alice.
“Guan ??” Tampaknya Alice masih tidak percaya sedikitpun dengan apa yang telah dikatakan Qhien Guan.
Justru ia menganggap bahwa Qhien Guan adalah perempuan yang tidak waras.
“Kenapa kau terlihat bodoh begitu ?” Tanya Qhien Guan mulai sedikit kesal.
“Sekarang masuklah dan jalankan kuda ini kembali !” Perintahnya kemudian.
“Kuda ?” Spontan Alice melihat kearah mobilnya seakan paham dengan apa yang dikatakan oleh Qhien Guan.
“Tadi dia juga sempat berteriak tentang kuda, apa kuda yang dimaksud itu mobilku ?” Gumam Alice dengan raut wajah penuh kebingungan.
“Hooiii...Masuklah !!” Perintah Qhien Guan yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam mobil.
“ITU MOBILKU !! JANGAN SEENAKNYA MASUK !!” Teriak Alice yang merasa jengkel.
__ADS_1
“Ya..Ya.. Sama saja ! Cepatlah masuk !! Aku sudah tidak sabar ingin jalan-jalan dengan kuda ini” Ucap Qhien Guan penuh kegirangan.
“Cih !!" Kesal Alice.
“Itu mobilku !! Kenapa jadi seenakmu masuk dan mengaturku ?!” Gumamya kemudian masih dengan perasaan jengkel bercampur kesal dan emosi.
“Sebenarnya apa tujuanmu ??!!” Tanya Alice kemudian.
“Huh !! Sepertinya kepalamu itu perlu diperbaiki, dari tadi keras kepala sekali !!” Ucap Qhien Guan dengan nada suara pelan namun masih tetap terdengar oleh telinga Alice.
Seketika emosi Alice memuncak sampai ke ubun-ubun.
“Jalankan saja dulu kuda ini ! Nanti aku akan jelaskan semuanya !!” Kata Qhien Guan kemudian.
“Kau ini memang benar-benar susah di beritahu ya !” Lanjutnya.
“KAU INI SIAPA ??!!!!” Bentak Alice yang sedari tadi telah menahan emosi.
“DATANG-DATANG MASUK KE DALAM MOBILKU SEENAKNYA DAN MENGATURKU ??!!” Teriak Alice kemudian dengan kobaran emosi yang membara.
“Fiiuuuhh !!” Qhien Guan menghela nafas sebagai bentuk rasa kesalnya terhadap Alice.
Melihat sikap Qhien Guan, emosi Alice naik ke level maksimal. Saat ini yang ada di dalam benaknya ingin rasanya ia menendang Qhien Guan sampai terbang menembus ruang angkasa dan tidak pernah kembali ke bumi.
Namun hal seperti itu tidak mungkin terjadi maka dari itu ia memilih untuk menahan amarahnya.
“Selain keras kepala, kau juga tidak punya etika !!” Kata Qhien Guan dengan penuh percaya diri.
“Huh !! Ternyata manusia di dunia ini tidak punya rasa sopan santun sedikitpun” Celoteh Qhien Guan.
“HARUSNYA AKU YANG BERKATA SEPERTI ITU CEWEK ANEH !!!” Bentak Alice dengan suara nyaring bagaikan sebuah speaker dengan volume maksimal.
“Manusia disini berbeda sekali dengan penduduk yang ada di Kerajaanku” Keluh Qhien Guan lagi.
Qhien Guan membandingkan sikap Alice dengan sikap para penduduk yang ada di Kerajaannya. Penduduk di Kerajaan para Penyihir sangat menghormati Qhien Guan, tidak ada seorangpun yang berani berteriak ataupun membentak dirinya saat sedang berbicara dengannya seperti yang baru saja dilakukan oleh Alice.
Secara perlahan, Alice akhirnya mencoba menurunkan emosinya dan memberanikan diri untuk mendekati mobilnya.
“Masuklah !” Perintah Qhien Guan.
“Padahal ini mobilku, kenapa jadi kau yang menyuruhku masuk ?!” Gumam Alice masih dengan emosi yang meledak-ledak.
“Hoi !! Mau berapa lama lagi kau berdiri disitu ?” Tanya Qhien Guan dengan lantang ketika melihat Alice berdiri di samping pintu mobil yang telah terbuka sedari tadi.
“Cih !” Sinis Alice.
Masih dengan perasaan jengkel bercampur emosi, ia pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Mobil pun melaju kembali.
Bersambung..