
Di sebuah tempat, tepatnya di restoran cepat saji Ms.Zee tampak ramai di datangi oleh pengunjung sehingga membuat Asta dan Loid sangat sibuk bekerja.
“Pelayan itu tampan sekali !” Ucap salah satu pengunjung wanita sembari menyaksikan Asta yang sedang melayani pelanggan.
“Yang itu juga tampan !” Ucap seorang teman dari pengunjung wanita tersebut ketika melihat wajah Loid.
Tampaknya Asta dan Loid sangat popular di mata para pengunjung restoran Ms. Zee.
Beberapa diantara mereka datang hanya untuk menyaksikan ketampanan Asta dan Loid. Sebagian besar para pengunjung wanita rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli menu dari restoran ini demi menyaksikan ketampanan Asta dan Loid yang begitu mempesona.
“Hm ! Sepertinya wajah tampan Asta dan Loid sangat memikat para pengunjung di restoran ini !” Gumam Tante Maya yang sedari tadi telah mengawasi restorannya melalui CCTV yang berada di ruangannya.
“Dasar perempuan gatal !” Kesalnya kemudian sesaat setelah menyaksikan beberapa pengunjung wanita yang mencoba menggoda Asta.
“Hah ! Seandainya saja aku belum menikah, sudah kulamar dirimu ! Oh tampan !” Ucap tante Maya sembari membayangkan dirinya dan Asta berada di altar pernikahan.
“Eh tapi kalau aku menikah dengan Asta, aku tidak akan memiliki hidup seperti ini ! Kehidupan Asta sangat miskin, otomatis keluarga kami juga miskin ! Eh tapi gak apa-apa juga, hidup bersama lelaki yang dicintai meski hanya menikmati sepotong tempe goreng bersama buah hati seperti yang di film-film” Ucapnya lagi sembari membayangkan dirinya hidup miskin bersama Asta dan buah hati mereka.
“Ah romantis sekali ! Hidup susah tetapi penuh cinta” Kata tante Maya yang sedang dimabuk cinta.
“Tidak-tidak ! Menurutku hidup begini juga sudah benar ! Aku menikah dengan lelaki kaya yang tidak perhatian sama sekali, lalu hartanya akan aku nikmati bersama Asta yang selalu ada untukku !” Ucapnya kemudian.
“Hm ?!” Asta merasa ada seseorang yang sedang berbicara mengenai dirinya.
“Ada apa Tuan ?” Tanya Loid.
“Sepertinya ada yang sedang bercerita tentangku !” Ucap Asta menduga-duga.
Sementara itu di tempat kediaman Alice, tampak Qhien Guan sedang memasak menu makanan yang akan dihidangkan untuk makan malam bersama, sedangkan Alice dan Mika hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang ada.
“Mungkin sebentar lagi aku akan mati !” Ucap Mika dengan wajah datarnya sembari menyaksikan Qhien Guan menyediakan hidangan makan malam.
“Sama ! Disinilah akhir hidupku !” Sahut Alice pasrah dan tidak berdaya.
Sedangkan Albert tampak bahagia menyaksikan Qhien Guan yang sedang memasak, wajahnya juga tampak berseri-seri seperti orang yang sedang jatuh cinta.
“Manis sekali !” Gumam Albert.
“Hoi ! Ada apa? Tidak usah lemas begitu, sebentar lagi juga sudah selesai !” Kata Qhien Guan dengan penuh percaya diri.
Qhien Guan menduga perut Alice dan Mika sudah terlalu lapar dan tidak sabar lagi ingin menyantap makanan yang dibuat olehnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, makanan telah siap untuk disajikan. Dengan penuh semangat Qhien Guan menyajikan makanan tersebut keatas meja makan.
Jlep !
Seketika mereka terkejut melihat tampilan menu yang serba berwarna merah, bahkan nasi yang di hidangkan pun juga berwarna merah menyeramkan.
"Tenang ! Yang ini sudah pasti enak, tidak seperti masakanku kemarin !” Ucap Qhien Guan.
Sesaat Mika dan Alice saling melempar pandangan satu sama lain.
“Dia menyadari masakan kemarin tidak enak, tapi kenapa makanan sekarang serba merah ? Pasti ini pedas sekali ! Tapi lebih bagus rasa pedas daripada rasa kecap dan pahit kan ?” Gumam Alice sambil menatap menu makan malam itu dalam-dalam.
“Mungkin saja rasanya juga lebih baik ! Tidak ada salahnya mencoba dulu !” Gumamnya kemudian.
“Merah semua ? Apa makanan ini bisa dimakan ?” Batin Albert tampak cemas memandang menu hidangan yang begitu menyeramkan.
“Sepertinya kali ini rasanya berbeda dari kemarin, mungkin aku tidak jadi mati hari ini” Gumam Mika.
“Menu kali ini aku namakan nasi neraka, telur neraka, sosis neraka, daging ayam neraka !” Kata Qhien Guan lantang sambil memperkenalkan menu hidangan satu persatu.
“Neraka ?” Batin Albert, Alice dan Mika secara bersamaan.
“Nama yang menyeramkan ! Apa aku beneran akan ke neraka setelah memakan ini ?” Batin Albert kemudian.
Mereka pun mencoba menyantap hidangan tersebut secara perlahan.
Tiba-tiba
“Huueekk !” Alice tidak sengaja memuntahkan makanannya ke dalam tissue yang telah dipegangnya sedari tadi.
Ia berlari menuju wastafel dan mencuci mulutnya. Sedangkan Mika dan Albert tampak sedang membendung makanan di dalam mulut masing-masing.
“Tidak ada rasa garam sedikitpun !” Batin Albert.
“Ternyata aku jadi mati hari ini” Gumam Mika sembari tetap membendung makanan yang baru saja disantapnya.
“Hoi ! Duduklah ! Habiskan makananmu !” Perintah Qhien Guan kepada Alice.
“Apa kau tidak mencicipi masakanmu sendiri ?” Tanya Alice dengan suara nyaring.
Melihat Qhien Guan sedang berbicara dengan Alice, dengan sigap Mika dan Albert membuang makanan yang telah mereka bendung sedari tadi ke dalam sebuah tissue yang ada di atas meja makan.
__ADS_1
“Aku sudah bilang kan, kalian dulu yang menikmati makanan itu !” Jawab Qhien Guan.
“Jadi kau beneran tidak mencicipinya sama sekali ?” Tanya Alice lagi.
“Tentu saja tidak ! Juru koki tidak boleh menyantap makanan duluan !” Jawab Qhien Guan tegas.
“Teori darimana itu ?” Kesal Alice.
“Fiiuuh !” Alice menghela nafas.
“Coba kau rasakan dulu masakanmu itu ! Kami sudah menyatapnya, sekarang giliranmu !” Perintah Alice kepada Qhien Guan.
“Oh baiklah ! Dengan senang hati aku akan menghabiskan semuanya !” Ucap Qhien Guan kegirangan.
Qhien Guan pun mulai menyantap makanan itu.
“Glek !”
Seketika Qhien Guan terdiam mematung sesaat setelah menyantap sesuap nasi yang telah dibuat oleh dirinya sendiri.
“Tidak enak sama sekali !" Gumamnya sambil menelan makanan yang baru saja disantapnya tanpa mengunyahnya terlebih dahulu.
“Sini aku masak ulang !” Alice mencoba memperbaiki rasa dari makanan tersebut.
“Baru kali ini aku melihat nasi berwarna merah seperti ini !” Ucap Alice.
“Nasi tidak perlu diberi warna seperti ini, karena nasi berwarna putih alami itu yang lebih nikmat” Ucap Alice lagi sembari menyiapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan.
“Tidak apa-apa ! Masakanmu sudah enak, hanya kurang satu bahan saja !” Albert berusaha menghibur Qhien Guan yang masih mematung.
“Hoi ! Lidahmu akan putus jika kau mengucapkan kebohongan !” Ucap Mika kepada Albert dengan wajah dinginnya.
“Tuan Putri ! Meskipun makanan yang Tuan Putri buat sangat merusak lidah dan tubuh hamba, tetapi hamba akan tetap menghabiskannya ! Tuan Putri tidak usah khawatir, masakan Tuan Putri hanya merusak sedikit organ-organ di dalam tubuh hamba !” Ucap Mika mencoba menghibur Qhien Guan.
Jlep !
Seketika Alice dan Albert terdiam sesaat setelah mendengarkan kata-kata hiburan yang telah di sampaikan oleh Mika.
“Perempuan ini sama sekali tidak normal !” Gumam Albert sembari menatap Mika dengan tatapan aneh.
“Apa kata-kata penghiburan para Penyihir seperti itu ?” Batin Alice.
__ADS_1
“Mika ! Kau tidak perlu memakannya ! Aku juga hampir mati setelah memakan ini !” Jawab Qhien Guan dengan tenang namun masih dalam keadaan mematung.
Bersambung..