SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN

SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN
ALICE TELAH BERTEMU DENGAN LELAKI BERJANGGUT YANG SELAMA INI DICARI


__ADS_3

Beberapa lama kemudian, telah sampailah mereka semua di tempat kediaman Alice.


Secara perlahan, mereka semua turun dari mobil itu kecuali Qhien Guan.


"Guan, tunggu apa lagi? Turunlah!" teriak Alice yang sudah turun dari mobil.


"KALIAN SEMUA MENYINGKIR DARI SITU" Seketika Qhien Guan berdiri tegap di atap mobil seakan ingin terjun bebas kebawah.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alice penasaran.


Brak!


Qhien Guan pun melompat dari atap tersebut, membuat Alice dan yang lainnya sedikit tercengang menyaksikan tingkah lakunya bagaikan seorang anak kecil.


"Ah menyenangkan sekali!" teriak Qhien Guan, membuat para Ksatria Langit terpaku memandangnya.


"Hoi, ada apa dengan kalian berdua? Wajah kalian terlihat sangat bodoh sekali!" ucap Mika kepada Loid dan Yuno yang masih diam mematung sejak berada di dalam mobil hingga saat ini.


"Naik mobil itu memang sangat menyenangkan!" batin Yuno yang baru pertama kali merasakan itu.


"I.. ini pertama kalinya aku naik benda seperti ini!" batin Loid, tampaknya Yuno dan Loid sangat senang mengendari mobil sehingga membuat mereka tidak dapat berkata - kata sedikitpun.


"Menyingkir dari sana!" Tiba - tiba saja Asta telah berada di atap mobil mewah milik Albert, membuat seluruh mata yang memandang tercengang seketika.


"Apa yang kau lakukan diatas mobilku Ksatria bodoh?" teriak Albert merasa kesal.


"Tuan!" batin Yuno dan Loid serentak, tampaknya kedua Ksatria itu juga sangat penasaran dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Qhien Guan.


"Huh! Para Ksatria Langit itu memang bodoh sekali!" Sesaat Mika tertunduk sambil menepuk jidatnya.


"Dimana dua Ksatria itu?" tanya Alice, membuat Mika menoleh kesamping kirinya tempat Loid dan Yuno berdiri. Namun kedua Ksatria itu sudah tidak berada disana lagi.


Dengan cepat, Mika menoleh ke sebelah kanannya, lalu ke belakang, tetapi masih saja tidak menemukan kedua Ksatria itu disana.


"Hoi! Ngapain kalian berdua ikut naik keatas juga?!" teriak Qhien Guan, membuat Mika melihat keatap mobil Albert seketika.


"Mereka?" Sesaat Mika tercengang menyaksikan para Ksatria itu telah berpindah tempat ke atap mobil mewah milik Albert.


"ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA?! TURUNLAH DARI MOBILKU PARA KSATRIA LANGIT BODOH!" teriak Albert yang kesal menyaksikan para Kstaria Langit itu menginjak atap mobil mewahnya.

__ADS_1


Brak!


Dengan rasa penasaran, Asta pun melompat kebawah seperti yang telah dilakukan Qhien Guan sebelumnya.


Tanpa rasa ragu dan malu sedikitpun, Yuno dan Loid mengikuti perilaku Asta, mereka berduapun turut melompat kebawah, membuat Albert semakin murka.


"HENTIKAN TINDAKAN BODOH KALIAN ITU!!!" bentak Albert. Untuk pertama kalinya Albert telah berteriak kepada orang lain, tanpa sadar rasa kesepian yang selama ini dirasakan telah hilang begitu saja.


Sesaat Asta ingin mencoba naik ke atap mobil itu lagi seakan ingin mengulangi aksi melompatnya itu namun Albert menghalangi tindakan mereka dengan api amarah yang membara.


"MASUK KALIAN SEMUA!" bentak Albert, membuat Qhien Guan sedikit tercengang, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menduga bahwa Albert juga telah memerintah dirinya untuk masuk.


"Tuan putri!" ucap Mika, lalu mengikuti Qhien Guan melangkah masuk ke dalam rumah.


Melihat itu, Albert terdiam sesaat. Ia tidak menyangka bahwa ucapannya membuat Qhien Guan memasuki rumah.


"Jangan - jangan Guan merasa aku telah membentaknya?" Seketika Albert menjadi panik, lalu pergi menyusul Qhien Guan ke dalam rumah.


Sedangkan para Ksatria Langit masih menikmati aksi melompatnya dengan perasaan riang gembira bagaikan seorang anak kecil yang baru saja memasuki pendidikan usia dini.


"Bapak tukang bakso!" Sesaat pandangan Alice manangkan seorang lelaki berjanggut yang biasa berjualan di depan rumahnya.


"Pak!" panggil Alice, membuat tukang bakso tersebut menghentikan langkahnya.


"Bungkus baksonya tujuh ya pak!" kata Alice sesaat setelah sampai disana.


"Aura ini?!" batin bapak tukang bakso itu, ternyata ia adalah penyihir berjanggut yang selama ini telah dicari - cari oleh Qhien Guan dan yang lainnya.


"Pak!" ucap Alice sembari melambaikan tangannya.


"Tunggu sebentar ya, karyawan saya sedang menuju kesini!" ucap lelaki tersebut.


Beberapa saat kemudian.


"Kakek, cepat sekali jalannya! Apa kakek menggunakan kekuatan lagi?" Seorang wanita muda datang menghampiri lelaki berjanggut itu, ia adalah cucu dari lelaki tersebut, ia juga merupakan keturunan murni dari para Penyihir.


"Eh ada pembeli! Mau berapa bungkus kak?" tanya penyihir wanita itu.


"Oh, tujuh bungkus saja ya kak!" jawab Alice sembari menatap lelaki berjanggut itu, tampaknya Alice sedang memikirkan sesuatu yang telah ia lupakan, namun sayangnya ia tak dapat mengingat hal apa yang telah dilupakannya.

__ADS_1


"Ternyata ada Ksatria Langit tercium dari rumah itu!" batin lelaki itu sembari menatap fokus rumah Alice, membuat Alice sedikit bingung menyaksikan sikap lelaki itu.


"Tapi aku juga mencium aura Raja Penyihir disini! Apakah Raja Penyihir ada dirumah itu?" batinnya lagi.


"Kak, ini baksonya!"  kata Penyihir wanita muda itu sembari memberikan tujuh bungkus bakso kepada Alice.


"Berapa kak semua kak?" tanya Alice.


"Semuanya ada tujuh bungkus kak!" jawab Penyihir wanita itu.


"Bukan gitu, maksud saya harganya semua berapa?"


"Berapa ya??" ucap Penyihir wanita itu, membuat Alice sedikit bingung.


"Aku gak tahu berapa kak! Menurut kakak berapa?" ucap Penyihir wanita itu kemudian, membuat Alice semakin bingung.


"Lho? Yang jualan kan kakak! Coba tanya ke kakeknya!" kat Alice kebingungan.


"Kakek, berapa harga tujuh bungkus bakso kek?" Dengan cepat, Penyihir wanita itu bertanya kepada lelaki berjanggut yang berdiri disampingnya sedang menatap fokua rumah Alice.


"Aku tidak tahu!" jawab lelaki itu singkat.


"Tidak tahu juga kak!" kata Penyihir wanita itu kemudian kepada Alice, membuat Alice seketika tercengang menyaksikan penjual yang tidak tahu membuat dan menghitung harga barang dagangannya.


"Selama ini kalian jualannya seperti apa? Kenapa harga dagangan sendiri saja tidak tahu?" tanya Alice penasaran.


"Ya kami bisa tidak jualan, cuma jalan - jalan saja! Hehehe!" jawab Penyihir wanita itu cengengesan.


"Oh berarti baru mulai berjualan ya?"


"Bukan kak! Sudah bertahun - tahun jualan tapi kalau ada pembeli lansung kami usir!" Lagi - lagi jawaban dari Penyihir wanita penjual bakso itu membuat Alice tercengang.


"Kayaknya penjual bakso ini gak beres sama sekali! Aku harus cepat - cepat pergi!" batin Alice, ia menduga bahwa penjual bakso itu sedang mangalami gangguan jiwa.


"Yasudah kak, ini saya berikan tiga ratus ribu! Semoga cukup ya!" kata Alice sambil memberikan uang senilai tiga ratus ribu rupiah.


"Wah! Uang pertama kami, terimakasih kakak manusia!" ucap Penyihir wanita itu.


"Kakak manusia? Memangnya mereka ini siapa? Hantu?" batin Alice kebingungan, lalu dengan cepat pergi meninggalkan tukang baksi itu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2