SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN

SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN
BERKUMPUL DIRUMAH ALICE


__ADS_3

Di tempat kediaman Alice tampak semuanya berkumpul di ruang tamu bersama dengan para Ksatrian Langit.


Suasana pun tampak begitu menegangkan dan mencekam.


“Cih ! Kenapa kalian ikutan masuk ke rumahku ?” tanya Alice kepada ketiga Ksatria Langit.


“Kami hanya menjaga buruan kami agar tidak kabur !” jawab Asta sembari memandang Qhien Guan yang terkapar lemah tanpa berpaling sedikitpun.


“Kita harus memanggil dokter untuk mengobati luka – luka yang ada pada tubuh Qhien Guan dan Mika !” kata Albert sembari berusaha mengobati luka Qhien Guan.


“Ti..tidak perlu ! Akh !” ucap Qhien Guan sembari menahan sakit.


Saat ini, ia belum mampu mengeluarkan sihir penyembuh miliknya karena tubuhnya sudah kehabisan tenaga saat bertempur dengan iblis tingkat lima.


“Bagaimana caramu mengalahkan iblis itu ? Dia adalah iblis yang sangat kuat, aku cukup kagum melihat kau mengalahkannya !” ucap Asta sembari tetap memandang Qhien Guan yang sedang terluka.


“Oh ! Aku lupa, kau kan Penyihir yang di rumorkan itu ? Tentu saja kau bisa mengalahkannya dengan mudah !” ucap Asta lagi.


“Cih !” ketus Qhien Guan.


“Kau tidak berhak berbicara dengan Tuan Putri !” kata Mika dengan tatapan penuh dendam.


“Beraninya kau berkata seperti itu kepada Tuanku ! Padahal kau sendiri lemah, tetapi nyalimu itu boleh juga !” sahut Loid sembari membalas tatapan Mika yang begitu tajam.


“Huh ! Kau sendiri juga lemah tetapi tidak tahu diri ! Lihat saja lenganmu itu, padahal itu hanya luka kecil, aku tidak menyangka ternyata Ksatria Langit selemah ini” balas Mika ketika menyaksikan lengan Loid yang terluka akibat pertempuran melawan iblis tingkat enam yaitu mantan Ksatria Langit.


Jlep !


Seketika Loid merasa malu, ternyata serangan bibir tajam Mika lebih mematikan daripada serangan iblis terkuat yang pernah mereka hadapi.


“Mulutnya tajam sekali !” gumam Loid.


“Berhentilah berbicara ! Kalian tidak lihat Guan sedang sekarat ?! Kalian berisik sekali !” Alice tampak kesal mendengar pertengkaran bibir antar Penyihir dan Ksatria Langit.


“Pak Albert ! Ayo kita pindahkan Guan ke kamar saja !” ucap Alice kemudian kepada Albert.


Tanpa berpikir panjang, Albert pun menuruti ucapan Alice. Ia menggendong tubuh Qhien Guan dan membawanya ke kamar tempat Alice beristirahat.


Deg !


Entah mengapa, Asta merasa tidak senang menyaksikan pemandangan itu, ia pun menatap Albert dengan tatapan tajam seakan ingin melenyapkannya.


“Kenapa manusia itu begitu peduli kepada Penyihir itu ?” batin Asta.


Tak lama kemudian, Albert dan Alice telah kembali ke ruang tamu berkumpul kembali bersama Mika dan para Ksatria Langit.


Syuut !


Seketika Asta berdiri dan bergegas menuju ruangan tempat Qhien Guan beristirahat.


“Hei apa yang ingin kau lakukan ?” tanya Alice panik.

__ADS_1


“Jangan pernah mendekatinya !” ucap Albert penuh amarah.


“Cih !” Asta yang kesal lansung membatasi ruangan itu dengan kemampuan sihirnya, sehingga siapapun tidak dapat melewatinya termasuk para Ksatria dan Penyihir.


“Padahal hanya manusia biasa, tapi sudah sok jagoan !” Untuk pertama kalinya Asta kesal kepada seorang manusia.


Kreekk !


Asta membuka pintu secara perlahan, lalu menutupnya.


“Tidak ! Jangan bunuh Tuan Putri !” Tampaknya Mika sangat khawatir menyaksikan Asta masuk kedalam kamar yang di tempati oleh Qhien Guan.


“Tuan !” ucap Yuno lirih.


“Apa yang akan dilakukan Tuan ? Apa dia akan melenyapkan Penyihir itu disini ?” tanya Loid penasaran.


“Tidak ! Tuan tidak mungkin seperti itu ! Beliau selalu memegang ucapannya !” jawab Yuno tegas.


Sementara itu didalam ruangan tempat Qhien Guan beristirahat, tampak Asta sedang menatap Qhien Guan yang terkapar lemah tak berdaya.


“Oohh ?! Jadi inilah sosok Tuan Putri dari bangsa Penyihir ?” ucap Asta mengagetkan Qhien Guan.


“Kau ! Apa yang ingin kau lakukan ?! Apa kau ingin membunuhku disini ?!” Qhien Guan tampak panik menyaksikan Asta berada didalam sebuah ruangan bersama dengan dirinya.


Tubuhnya yang masih lemah tidak dapat bergerak sama sekali, pertempuran tadi benar – benar menguras energinya hingga titik terakhir.


“Jika kau ingin membunuhku ! Lakukan saja ! Aku tidak takut mati ! Tetapi jangan mencelakai kaumku !!” ucap Qhien Guan tegas.


“Tidak usah banyak basa – basi ! Aku sungguh tidak menyukaimu dan kaummu !”


“Ternyata sang Tuan Putri Penyihir ini galak sekali ya ?” Asta mendekatkan wajahnya pada Qhien Guan, kini jarak wajah mereka hanya sekitar dua sentimeter.


Deg !


Seketika jantung Qhien Guan berdetak begitu kencang, ia tampak terkejut menyaksikan tinngkah laku pemimpin Kerajaan Langit itu.


“Sial ! Apa dia akan mencongkel mataku ?” batin Qhien Guan panik sembari jantungnya tetap berdetak sangat kencang.


“Hah ?! Jangan – jangan ia ingin membunuhku secara perlahan ? Dia kan Ksatria yang sangat kejam, bayi saja dibunuhnya !” Sesaat Qhien Guan teringat pada kejadian yang telah menimpa Kerajaannya.


Para Ksatria Langit menyerang Kerajaan Penyihir secara membabi buta tanpa mengenal usia.


“Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu ?” tanya Asta.


“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan ? Jika memang ingin membunuhku ya bunuh saja ! Tidak usah bertele – tela !” lantang Qhien Guan.


Cup !


Secara tiba – tiba Asta mengecup bibir mungil Qhien Guan, membuat Qhien Guan seketika terkejut.


“Apa ? Ada apa ini ? Apa yang telah dilakukannya ?” batin Qhien Guan.

__ADS_1


“Itu adalah serangan pertama, lain kali aku akan memberikan serangan yang mematikan padamu jika kau banyak berbicara dan menantangku !” ucap Asta.


“Apa maksudnya ? Bukankah dia ingin membunuhku ? Lalu mengapa dia melakukan itu ? Apa sebenarnya yang telah direncanakannya ?” batin Qhien Guan penuh dengan sejuta pertanyaan.


“Berhentilah bermain – main sialan ! Aku akan membunuhmu begitu kekuatanku pulih !” ucap Qhien Guan kemudian.


Jlep !


Tiba – tiba Asta menempelkan tubuhnya diatas tubuh Qhien Guan, membuat Qhien Guan terkejut dan mematung.


“Aku tidak sedang bermain ! Kau ingin melihat aku bermain ?” Asta yang selama ini dingin dan berwibawa sesaat berubah menjadi sosok yang liar di hadapan Qhien Guan si Penyihir yang seharusnya dilenyapkan.


“Menyingkirlah kurang ajar ! Dasar kau tidak tahu malu ! Apa sebenarnya yang kau lakukan ? Apa kau ingin mengeluarkan isi perutku sehingga membuatmu harus menempel pada tubuhku ?” Tampaknya Qhien Guan berpikir bahwa Asta akan membunuhnya dengan cara mengeluarkan organ – organ yang berada dalam tubuhnya.


“Ternyata sang Tuan Putri ini hanya memiliki otak sejengkal ya !” ucap Asta.


“Ah sial ! Tenagaku masih belum kembali putih ! Aku yakin sebentar lagi dia kan memenggal kepalaku dengan jarak sedekat ini !” batin Qhien Guan.


“Cih ! Dia pikir aku ini bodoh ! Tingkah lakumu sudah bisa ditebak dasar Ksatria Langit bodoh !” batinnya lagi.


“Hei Bodoh ! Kalau kau ingin membunuhku yasudah bunuh saja dengan cara normal ! Aku sudah bisa menebak tindakanmu itu !” kata Qhien Guan kemudian.


“Bernahkah ??” Asta melontarkan senyum tipis dan nakal.


Kraakk !


Secara tiba – tiba Asta merobek pakain Qhien Guan sehingga membuat dadanya terlihat begitu jelas.


Qhien tampak sangat terkejut, namun saat ini ia tidak dapat melakukan apapun.


“Sial ! Apa dia akan memotong bagian itu terlebih dahulu ?” Qhien Guan menduga bahwa Asta akan memotong buah dadanya sehingga membuatnya harus melucuti pakaian Qhien Guan dengan paksa.


Cup !


Tanpa basa – basi, Asta pun mengecup dada Qhien Guan.


“Akh ! Apa yang telah kau lakukan ?” tanya Qhien Guan.


“Apa ? Kenapa rasanya seperti ini ? Ini tidak sakit sama sekali !” batin Qhien Guan kemudian.


“I..ini terasa sangat nikmat dan nyaman ! Apakah cara dia membunuh seperti ini ?” batinnya lagi.


“Haah ! Aku tidak akan lansung memulainya ! Aku hanya memberikan tanda pada tubuhmu !” Asta tampaknya tidak berniat melakukan hubungan terlarang itu kepada Qhien Guan, yang ia lakukan hanyalah mengecup bagian – bagian tubuhnya hingga meninggalkan bekas berwarna merah kebiruan.


“Ah aku lupa kalau kau bisa menyembuhkan diri !” ucap Asta kemudian.


“Kalau begitu permainannya sampai disini dulu ya ! Kita akan melakukannya pada pertemuan kedua !” Asta pun pergi meninggalkan Qhien Guan di dalam ruangan sendirian.


“Apa sebenaranya yang telah dilakukannya ? Kenapa tubuhku tidak terluka sama sekali ? Aku juga masih hidup !” batin Qhien Guan penasaran.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2