
"Bangunlah Penyihir lemah !" ucap Asta ketus sembari mengarahkan sepotong kue kepadanya.
"Kau ?" Qhien Guan tampak terkejut menyaksikan Asta sang Ksatria Langit berada di dekatnya.
"Makanlah ini ! Aku masih berbaik hati padamu !" Asta pun mengarahkan kue tersebut ke bibir Qhien Guan dengan tangannya sendiri.
Dengan terpaksa Qhien Guan pun menerima kue tersebut dan melahapnya.
Tak disangka, ternyata sepotong kue dapat mengembalikan sedikit energinya.
"Cih ! Lemah sekali !" ketus Asta.
"Ini makanlah lagi ! Lalu sembuhkan dirimu sendiri, setelah itu sembuhkan juga Ksatriaku yang sedang sekarat !" kata Asta sembari tetap menyuapi Qhien Guan.
"Kenapa tidak sembuhkan sendiri saja ? Kalian bisa membantai tetapi tidak bisa menyembuhkan diri sendiri ! Lalu sekarang meminta bantuan padaku !" balas Qhien Guan.
"Aku sudah menyelamatkanmu dan memberimu kesempatan hidup ! Jadi kau harus melakukan yang telah kuperintahkan !"
"Licik sekali ! Menunda membunuhku agar prajuritnya selamat dari kematian !" batin Qhien Guan kesal.
"Kenapa ? Kau tidak suka ?" tanya Asta ketika menyaksikan ekspresi wajah Qhien
Guan.
"Memangnya siapa yang suka menyelamatkan musuhnya
?!"
"Pintar ! Berarti kau tahu kan tujuanku menyelamatkanku ?"
"Cih ! Dasar licik !"
"Ohh ? Tidak mau menyembuhkan ya ?" Seketika Asta mendekatkan wajahnya kepada Qhien Guan.
"Ini seperti yang waktu itu !" Tiba - tiba Qhien Guan teringat pada kejadian itu, disaat Asta mengecup bibirnya.
"Ya baiklah ! Akan aku sembuhkan !" Dengan terpaksa Qhien Guan pun menuruti perintah Asta agar kejadian itu tidak pernah terulang kembali.
Tok tok tok
Tampak Alice sedang mengetuk pintu kamar, lalu masuk kedalam sembari membawa satu mangkuk sup ayam dan satu piring makanan berat.
"Waktunya makan !" ucap Alice sembari melangkah perlahan mendekati Qhien Guan.
"Waaaaahhh ! Baunya enak sekali !" Seketika raut wajah Qhien Guan berubah menjadi riang gembira.
"Ini makanlah agar energimu cepat pulih !" ucap Alice sembari memberikan makanan tersebut.
"Emm kamu tidak ingin makan juga ?" tanya Alice kepada Asta sembari tersenyum kecil seperti orang yang terlihat salah tingkah.
"Hoi ! Tidak usah pedulikan dia !" ucap Qhien Guan sembari menyantap makanan itu dengan lahapnya.
Sementara itu di suatu tempat yang gelap dan hanya disinari dengan sebuah cahaya merah, terdapat dua iblis yang sedang berdiskusi bersama sang Raja iblis akibat dari tewasnya iblis tingkat ketiga.
"Iblis tingkat sepuluh sampai tingkat tiga telah dikalahkan oleh Penyihir dan para Ksatria itu ! Tampaknya mereka memang tidak pantas mendapatkan gelar itu !" ucap Raja iblis.
__ADS_1
"Aku harus segera mengisi posisi yang telah kosong ! Kalian berdua segera cari iblis yang pantas untuk mengisi posisi itu ! Jika kalian memberikan iblis yang lemah, maka aku akan melenyapkan kalian dari dunia ini !" perintah Raja iblis.
"Baik Tuanku !" jawab iblis tingkat satu dan iblis tingkat dua secara serentak.
"Aku harus mendapatkan batu sihir itu sebelum Penyihir itu menemukannya !" ucap Raja iblis dengan santainya.
"Kalian berdua !"
"Siap Tuan !" sahut kedua iblis tersebut.
"Saat ini yang tersisa hanya kalian berdua ! Berikan aku kepuasan ! Aku akan memberikan sedikit kekuatanku kepada kalian ! Cepat tuntaskan pekerjaan ini !" perintah sang Raja iblis.
"Baik Tuanku !" jawab kedua iblis tersebut secara serentak.
"Bagus ! Aku menunggu hasilnya !" ucap sang Raja iblis, lalu pergi menghilang begitu saja.
Cahaya merah itupun ikut menghilang bersamaan dengan perginya sang Raja iblis. Suasana gelap dan sunyi menyelimuti tempat itu, tampak iblis tingkat satu dan iblis tingkat dua sedang berdiri tegap sembari memikirkan tugas yang telah diberikan oleh Raja iblis kepada mereka.
"Mencari iblis untuk menggantikan posisi yang kosong itu tidak mudah ! Sepertinya kita harus bertempur dengan iblis - iblis yang ada di dunia ini agar kita dapat menemukan iblis yang pantas mengisi posisi itu !" ucap iblis tingkat pertama dengan tegas.
"Kau tampak manis sekali jika serius begitu !" goda iblis tingkat kedua sembari melontarkan senyum tipis.
"Kau ! Cepat lakukan tugas ini ! Tidak ada waktu untuk bermanja - manja !" lantang iblis tingkat satu.
"Ah kau terlalu serius ! Ayolah kita nikmati sesekali kebahagiaan ini !" jawab iblis tingkat dua sembari memancarkan senyum nakal di wajahnya.
Namun
Whooossshhh !
"Cih ! Untuk apa berpura - pura malu begitu ! Ah dia memang payah sekali !" kesal iblis tingkat dua tersebut.
Waktu pun begitu cepat berputar, tanpa terasa hari sudah malam, tampak Qhien Guan dan yang lainnya masih berkumpul dirumah Alice.
"Aku sudah menyembuhkan lukamu ! Lalu kenapa kalian belum pulang juga ?!" Qhien Guan tampak kesal menyaksikan para Ksatria Langit berkumpul dirumah ini.
"Benar ! Tidak tahu malu ! Harusnya kalian pergi dari sini !" sambung Mika.
"Ya ! Kalian memang tidak tahu malu !" lantang Qhien Guan.
"Ah sudah - sudah ! Tolong jangan ribut lagi ! Ini sudah malam !" Alice berusaha membuat suasana menjadi tenang.
"Kami akan beristirahat disini malam ini !" ucap Asta mengagetkan Qhien Guan dan yang lainnya.
"Tuan !" Yuno tampak kebingungan mendengarkan keputusan Asta, luka pada tubuh Loid sudah sembuh tetapi Asta masih memutuskan untuk tinggal di rumah Alice bersama manusia dan para Penyihir.
"Ah lelaki manis ini akan menginap dirumahku malam ini ?" batin Alice, ia tampak senang mendengarkan keputusan Asta.
"TIDAK BISA BEGITU !! AKU TIDAK AKAN TENANG JIKA KAU MENGINAP DISINI !!" teriak Qhien Guan kesal.
"Lagi pula kenapa para Ksatria Langit berada disini ?! Sangat merusak pemandangan !" ketus Mika.
"YA BENAR ! KALIAN SANGAT MERUSAK PEMANDANGAN !" sambung Qhien Guan lantang.
"Sudahlah ! Biarkan saja mereka menginap disini, hanya satu malam saja !" ucap Alice.
__ADS_1
Tiba - tiba
Beepp.. Beepp..
Telepon genggam milik Alice berdering, sebuah panggilan dari Albert.
"Pak Albert ?" batin Alice.
"Halo pak !" jawab Alice.
"Apa kalian sudah makan malam ?" tanya Albert.
"Sudah pak, kami makan bersama para Ksatria itu !" jawab Alice mengagetkan Albert.
"Apa ?! Ksatria Langit ?!"
"Iya pak ! Mereka sekarang ada dirumah ! Bahkan mau menginap disini !"
"Ngapain mereka menginap ?! Yasudah tidak perlu dijawab lagi ! Aku akan kesana sekarang ! Malam ini aku akan menginap dirumahmu !" ucap Albert tegas.
"I..iya pak !" jawab Alice penuh kebingungan, lalu menutup teleponnya.
"Pak Albert akan menginap juga malam ini !" ucap Alice kepada Qhien Guan dan yang lainnya.
"Kenapa manusia itu juga ikut - ikutan menginap ?" tanya Mika kesal.
"Manusia itu rupanya ingin bersaing denganku !" batin Asta, ia tampak kesal mendengar Albert ikut menginap bersama dengan mereka.
"Baiklah ! Aku akan tidur dikamar itu !" ucap Asta sembari menunjuk kamar milik Qhien Guan.
"HOI ! ITU KAMARKU ! AKU TIDAK AKAN MAU TIDUR DISINI !" Seketika Qhien Guan murka, ia tidak ingin tidur di atas sofa bersama Yuno dan Loid.
"Tidak ada yang menyuruhmu tidur disini !" kata Asta dengan santainya.
"Lalu kenapa tadi kau bilang ingin tidur di kamarku ?!"
"Aku akan tidur bersamamu !" Seketika ucapan Asta membuat Alice dan yang lainnya tercengang.
"Tuan akan tidur dengan Penyihir itu ?" guman Loid.
"Aku tidak sudi tidur bersamamu Ksatria Langit sialan !" lantang Qhien Guan.
"Sudi ataupun tidak sudi, kau harus tidur denganku malam ini juga ! Aku takut kau akan membunuh para Ksatriaku saat kami sedang terlelap !" ucap Asta menjelaskan.
"Oh jadi begitu alasannya !" Loid pun merasa lega setelah mendengar alasan yang diberikan oleh Asta.
"Hampir saja aku berpikiran buruk pada Tuan ! Ternyata dia hanya berusaha melindungi kami !" batin Yuno terharu.
"Ah kamu tenang saja ! Guan tidak akan melakukan hal seperti itu kog ! Hehehe !" Alice mencoba membuat suasana menjadi tenang.
"Hei manusia ! Kau tidak pernah tahu isi pikiran dari Penyihir ini ! Jika terjadi sesuatu, apa kau mau bertanggung jawab ?" kata Asta, membuat Alice tidak dapat berkata - kata.
"Ka..kalau begitu, terserah kalian saja ! Tapi aku mohon jangan ada keributan disini apalagi pertumpahan darah !" pinta Alice.
Bersambung..
__ADS_1