SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN

SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN
TIDUR BERSAMA


__ADS_3

Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Tanpa berpikir panjang, Alice bergegas membuka pintu rumahnya.


“Pak Albert !” ucap Alice, membuat seluruh mata menatap kearahnya.


“Hai ! Aku akan menginap disini ! Boleh kan ?” tanya Albert kepada Alice.


“Bo..boleh pak !” jawa Alice gugup.


“Pak Albert kenapa tampan sekali hari ini ? Ternyata dia lebih tampan dari Asta !” batin Alice, tampaknya ia terpesona menyaksika Albert mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam serta sandal jepit berwarna hitam.


“Halo Guan ! Bagaimana kabarmu ?” sapa Albert, sesaat ia sampai di ruang tengah tempat berkumpulnya Penyihir dan para Ksatria Langit.


“Apa matamu sudah buta ? Kau bisa melihat dengan jelas kabari dari Tuan Putri kan ?” jawab Mika ketus.


“Wanita ini selalu saja bermulut tajam !” batin Asta.


“Aku akan masuk ke dalam kamarku !” kata Asta, lalu pergi melangkah menuju kamar Qhien Guan.


“Hoi ! Jangan seenaknya ya ?! Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh barang – barangku !” teriak Qhien Guan, lalu menyusul Asta yang telah pergi.


Deg !


Seketika Albert terkejut menyaksikan Qhien Guan menyusul Asta sang Ksatria Langit menuju kamar. Sesaat ia merasakan sakit di dalam hatinya.


“Guan ! Tunggu ! Aku akan menemanimu menghadapi Ksatria Langit itu !” teriak Asta sembari melangkah mengikuti Qhien Guan.


“Oh baiklah ! Ayo sini !” jawab Qhien Guan.


Namun


Crriinggg !!


Secara tiba – tiba Asta memasang sebuah penghalang tak kasat mata agar Albert tidak dapat menyusul mereka berdua.


“Hoi manusia tampan ! Ada apa ?!” Qhien Guan tampak bingung menyaksikan Albert yang tidak dapat melangkah maju, bahkan suaranya tidak dapat ddi dengar oleh telinganya.


“Sial ! Mentang – mentang punya kekuatan, bersikap sesuka hatinya kepada manusia !” Albert merasa kesal karena sihir Asta menghalangi langkah kakinya untuk tetap bersama Qhien Guan.


Dengan terpaksa, ia harus tidur di ruang tengah bersama Loid dan Yuno.


Malam terasa panjang, suasana hening menyelimuti malam, tampak Qhien Guan dan Asta sang Ksatria Langit sedang berdebat begitu sampai di dalam kamar.


“Hei ! Sudah aku katakan kalau ini kamarku ! Jadi akulah yang berhak tidur diatas situ bukan kau !” Qhien Guan merasa kesal ranjang tempat ia beristirahat telah direbut oleh Asta.


“Menyingkirlah dari situ Ksatria Langit sialan !” bentak Qhien Guan.


“Tolong jangan berisik ! Kau mengganggu orang – orang yang sedang beristirahat !” ucap Asta dengan santainya.

__ADS_1


“Yasudah ! Kalau begitu aku tidur dibawah saja !” lantang Qhien Guan.


“Terserah kau saja !”


Dengan terpaksa Qhien Guan akhirnya memilih untuk tidur di lantai malam ini, ia pun menarik paksa bantal yang berada di bawah kepala Asta sehingga membuat Asta seketika terkejut.


“Apa yang kau lakukan ?” tanya Asta kesal.


“Kau sudah tidur diatas ! Apa aku tidak boleh mengambil bantal ini ? Ha ?” bentak Qhien Guan, membuat Asta terdiam dan tidak mampu berkata – kata.


Asta pun kembali melanjutkan tidurnya, namu tiba – tiba


BRYUUUURRRRRR !!


Hujan turun dengan derasnya, disertai dengan suara petir yang menggelegar. Seketika Qhien Guan bangun dari tempatnya, sesaat ia memandang Asta yag sudah tertidur diatas ranjang dengan hangatnya.


“Sial ! Ksatria itu merebut tempatku !” batin Qhien Guan.


“Padahal dia sudah berusaha merebut Kerajaanku, membantai seluruh rakyatku, membuat orangtuaku terluka !” Seketika Qhien Guan teringat pada kejadian yang telah menimpa Kerajaanya, membuat api dendam kembali muncul di dalam hatinya..


“Cih ! Tidak akan aku biarkan kau merebut kekuasaanku kali ini !” ucapnya kemudian, lalu dengan cepat ia naik ke atas ranjang dan mencoba tidur diatas ranjang tersebut bersama Asta.


“Ternyata dia naik juga ya !” batin Asta, sembari tetap memejamkan kedua matanya.


“Sebenarnya aku tidak sudi berada di satu tempat dengan Ksatria Langit sialan ini ! Tetapi takkan kubiarkan kau merebut tempatk kali ini !” gumam Qhien Guan sembari manarik selimutnya.


GREP !


“Aku tidak akan melepaskamu Ratu Penyihir !” ucap Asta dengan lembut.


“Hoi ! Apa yang sedang kau lakukan Ksatria Langit sialan !” bentak Qhien Guan.


“Kau ingin merasakan seranganku seperti waktu itu ?” ucap Asta, lalu memandang wajah Qhien Guan dengan jarak yang cukup dekat.


“Apa yang kau katakan ?! Cepat lepaskan tanganmu yang kotor itu dari tubuhku Ksatria sialan !”


“Tidak akan kulepaskan ! Kau adalah Penyihir, jika aku melepaskanmu maka kau akan mengamuk mengutuk seluruh manusia yang berada di muka bumi ini !”


“Kau pikir aku ini singa lapar yang mengamuk sesuka hati ! Kenapa pikiranmu tidak ada sama sekali ?!


“Jika kau berisik, aku akan memberikan serangan itu lagi !” ucap Asta sembari tersenyum kecil.


“Sial !Kau selalu bertindak sesuka hati !” lantang Qhien Guan.


Sementara itu, di ruang tengah tampak Albert sedang gelisah memikirkan Qhien Guan yang berada di dalam satu kamar bersama dengan Asta.


“Apa yang dilakukan Ksatria Langit itu kepada Qhien Guan ya !” batin Albert.


“Apa jangan – jangan dia akan melakukan hal itu lagi !” Seketika Albert teringat pada perlakuan Asta kepada Qhien Guan waktu itu.

__ADS_1


“Akh ! Sial ! Padahal aku tidak pernah seperti ini sebelumnnya !” Albert yang merasa kesal memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih agar pikirannya kembali tenang seperti semula.


Setibanya di daput, Albert bertemu dengan Alice sedang mengenakan gaun tidur berwarna putih yang sangat tipis sehingga membuat seluruh bagian tubuhnya terlihat dengan sangat jelas.


Deg !


Deg !


Deg !


Jantung Albert berdetak kencang menyaksikan Alice yang sedang berada di depan lemari es dengan gaun tidurnya yang terlihat begitu menggoda. Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk mendekati Alice.


Tanpa terasa kini ia telah berada sangat dekat dengan Alice.


“Lho ? Pak Albert belum tidur ?” tanya Alice, sesaat setelah ia menolah kebelakang.


“Halo ! Pak Albert !” Alice tampak kebingungan menyaksikan Albert berdiri diam tanpa kata seperti sebuah patung yang menghiasi taman.


“Pak ! Halo ! Pak Albert baik – baik saja ?” Alice mencoba menyadarkan Albert.


Namun


Cup !


Dengan cepat, Albert mengecup bibir mungil Alice, membuat Alice tercengang sehingga membuat gelas yang berada ditangannya terjatuh.


“Apa ini ? Apa yang telah dilakukan pak Albert ? Apa dia sadar dengan tindakannya ?” batin Alice dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


“Ini.. ini adalah yang pertama kali ! Pak Albert adalah orang pertama yang melakukannya kepadaku !” batinnya lagi sembari menikmati kecupan yang berlansung lama itu.


Secara perlahan, tangan Albert pun mulai menelusuri bagian - baguan tubuh Alice dengan lembutnya.


Alice yang terlanjur merasakan kenikmatan itu hanya bisa pasrah dan menikmatinya.


Tiba - tiba


"Ma..maafkan saya !" ucap Albert merasa bersalah.


"Oh ! Tidak apa - apa pak !" jawab Alice tersipu malu, membuat Albert sedikit tenang.


"Saya sungguh tidak sadar ! Sekali lagi maafkan saya !"


"I..iya ti..tidak apa - apa !" jawab Alice gugup sembari tetap tersipu malu.


Hal itu membuat Albert berpikir sejenak, lalu


Cup !


Kembali ia melakukan aksinya, kali ini dilakukannya secara sadar !

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2