SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN

SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN
MISI PENCARIAN PRIA BERJANGGUT


__ADS_3

“Aduh ! Jika kau dendam denganku, lansung dibunuh saja ! Jangan pura-pura mengobati lenganku !” Kesal Loid sambil menahan rasa sakit di lengannya.


Sehabis pertempuran sengit itu terjadi, Yuno lansung mengoles obat salep luka bakar pada lengan Loid. Diantara para Ksatria Langit itu, tidak ada satupun yang memiliki sihir penyembuh sehingga membuat mereka harus menggunakan obat-obatan yang ada di dunia manusia untuk menyembuhkan luka pada lengan Loid.


“Tenanglah ! Ini hanya sakit sedikit saja !” Jawab Yuno sembari mengoleskan obat salep itu pada lengan Loid.


“Apa kau bisa bekerja malam ini ?” Tanya Asta kepada Loid.


“Tentu saja Tuan ! Hamba masih sanggup, ini hanyalah luka kecil” Jawab Loid sembari memegang lengannya yang terluka.


“Luka kecil ? Tapi mengapa wajahmu merintih kesakitan seperti itu ?” Singgung Yuno.


“Jika aku tidak bekerja, kau akan selalu mengeluh tentang uang !” Ketus Loid kesal.


“Tidak usah dipaksakan ! Aku akan meminta ijin kepada Tante Maya” Kata Asta.


“Tidak Tuan, hamba masih dapat bekerja !”


Mendengar jawaban Loid yang begitu teguh dengan pendiriannya, Asta pun berhenti membahas masalah ini. Ia terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu, sepertinya pertempuran dengan mantan Ksatria Langit alias iblis tingkat enam membuat pikirannya sedikit terbebani.


“Sepertinya kita harus mengubah kebijakan yang ada di Kerajaan Langit !” Ucap Asta kemudian.


Seketika Yuno dan Loid terdiam mendengar perkataan yang telah diucapkan oleh Asta.


“Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali ! Bagaimana jika ternyata masih ada penduduk yang secara diam-diam telah menjalin hubungan dengan seorang Penyihir” Asta tampak berpikir keras.


“Apa kita harus melenyapkan seluruh Penyihir hingga tidak ada satu orangpun yang tersisa ?" Ucap Asta penuh kebingungan.


"Yuno, bagaimana menurutmu ? Apa yang harus kita lakukan agar orang-orang seperti Raga tidak bermunculan kembali ?” Tanya Asta kepada Yuno.


“Entah mengapa, aku merasa beberapa penduduk Kerajaan Langit masih ada yang menjalin hubungan dengan para Penyihir” Ucapnya kemudian.


“Mungkin jalan satu-satunya adalah melenyapkan para Penyihir itu Tuan” Jawab Yuno.


“Apakah tidak ada cara lain ? Bagaimana jika penduduk di Kerajaan Langit malah menjadi dendam menyaksikan kekasihnya dari Kerajaan Penyihir dibantai ?”


Seketika Yuno terdiam, ia tidak memiliki saran lain lagi selain melenyapkan para Penyihir. Ia tidak ingin para penduduk menjalin hubungan dengan makhluk pendosa seperti Penyihir. Namun disisi lain, ia juga tidak ingin melihat penduduk dari Kerajaan Langit bernasib sama dengan Mantan Ksatria Langit itu alias Raga.


Para Ksatria Langit itu pun berpikir keras untuk mengatasi masalah ini, mereka tampak berbincang-bincang saling menukar pendapat.


Sementara itu, di tempat kediaman Alice, tampak Albert dan Alice baru saja tiba dari kantor secara bersamaan dengan mengendarai mobil masing-masing.


Qhien Guan yang sedari tadi berada di taman lansung menyambut mereka dengan gembira.


“Halo ! Selamat datang kembali !” Ucap Qhien Guan dengan riang.


Sesaat Alice dan Albert saling melempar pandangan.

__ADS_1


“Kenapa dia terlihat senang sekali ?” Gumam Alice.


“Hoi ! Jika ada yang menyapamu, harusnya kau balas dengan senyuman !” Ucap Qhien Guan kepada Alice.


“Jadi mencari lelaki berjanggut tidak ?” Tanya Alice depada Qhien Guan.


“Tentu saja jadi ! Hari ini kita harus menemukannya ! Aku juga sudah melatih kekuatan gigiku dari tadi untuk menghadapinya” Jawab Qhien Guan dengan lantang.


“Gigi ? Ngapain kamu melatih gigi ?” Seketika Alice memandang Qhien Guan dengan tatapan aneh.


“Oh iya, Pak Albert juga akan membantu kita mencari lelaki berjanggut itu” Kata Alice kemudian.


“Oh ya ? Bagus sekali ! Semakin banyak yang mencari maka semakin cepat pula ditemukan !” Ucap Qhien Guan cengengesan.


“Apa kau tidak ada kegiatan lain ? Kami tidak ingin kau merepotkan kami nantinya !” Ucap Mika kepada Albert dengan nada suara ketus.


Mika memang seorang Penyihir yang pintar dan setia, tetapi ia tidak pandai dalam berkata-kata. Jika orang lain yang berbicara dengannya mungkin sudah sakit hati setiap mendengar ucapan yang keluar dari bibir Mika.


“Hei, jaga ucapanmu !” Bisik Alice kepada Mika.


“Saya tidak akan merepotkan kalian, saya akan membantu kalian mencari orang yang kalian maksud kapan pun” Jawab Albert sambil tersenyum tipis.


“Apa kalian punya foto lelaki itu ? Agar saya bantu sebarkan melalui internet juga !” Ucap Albert kemudian.


Qhien Guan dan Mika terlihat kebingungan mendengar perkataan Albert.


“Ooooohhhh ! Tidak punya ! Hehehe” Jawab Qhien Guan dengan santai sembari memancarkan senyum mengerikan di wajahnya.


“Lho ? Lalu bagaimana cara kita menemukannya ?” Tanya Albert kebingungan.


“Lihat saja jenggotnya !” Jawab Mika singkat.


“Jenggot ?” Albert terlihat semakin bingung.


“Huh ! Mereka ini memang bodoh sekali !” Gumam Alice jengkel.


“Sudahlah pak, lebih baik jangan ditanyakan lagi kepada mereka ! Bapak tidak akan menemukan jawaban sama sekali” Keluh Alice kepada Albert.


“Yasudah, kalau begitu kita cari secara bersama-sama saja karena hanya Qhien Guan dan Mika yang mengenali pria berjanggut yang kalian maksud” Kata Albert.


“Aku juga tidak mengenalnya !” Ucap Qhien Guan dengan santai.


“Hanya Mika dan pak tua yang mengenali lelaki berjanggut itu” Ucapnya kemudian yang berpikir bahwa pak Asep juga mengenali lelaki berjanggut yang mereka cari.


“Maksud kamu pak Asep ?” Tanya Alice penasaran.


“Yap ! Kata pak tua itu, lelaki berjanggut punya kemampuan yang luar biasa, dia sangat kuat ! Dia bisa mengangkat mobil hanya dengan giginya lho ! Aku tidak sabar ingin bertemu dan mengalahkannya !” Ucap Qhien Guan dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Masa sih pak Asep mengenalinya ? Apa jangan-jangan pak Asep juga termasuk Penyihir ?” Alice menduga-duga didalam pikirannya sendiri.


“Ha ? Jangan-jangan selama ini pak Asep menyamar sebagai manusia dan bertingkah laku selayaknya manusia ?” Gumamnya kemudian.


“Kalau dipikir-pikir, kekuatan pak Asep juga tidak normal, dia bisa mencuci mobilku setiap pagi, membersihkan garasi mobil, mengurus taman depan dan belakang. Astaga, pantesan saja lelaki yang datang kemaren ketakutan dan pergi saat pak Asep datang” Alice kembali mengingat Asta yang datang kerumahnya dengan membawa pedang sihir tempo hari lalu, ia menduga Asta ketakutan saat bertemu dengan pak Asep.


Tuing…Tuing


Tuing..Tuing


Qhien Guan yang menyaksikan Alice bengong mencoba mentowel kepala Alice berulang kali.


Plak


Dalam sekejab Alice melayangkan sebuah pukulan kepada Qhien Guan.


“APA YANG KAU LAKUKAN ?!” Bentak Alice jengkel.


“Ma..Maaf !” Jawab Qhien Guan dengan raut wajahnya yang manja.


“Sudahlah, mari kita mulai pencariannya ! Semakin cepat maka semakin baik !” Kata Albert.


“Ayo !” Jawab Alice ketus, tampaknya ia masih jengkel dengan perbuatan Qhien Guan kepadanya.


“Hei manusia ! Apa kau tidak takut kepalamu hilang dimakan iblis ? Jika ada tiga iblis datang, kami tidak bisa melindungimu ! Melindungi Alice saja sudah terlalu repot !” Kata Mika kepada Albert dengan wajah datarnya.


Jlep !


Perkataan yang telah diucapkan oleh Mika sangat menusuk hati, raut wajahnya seketika berubah penuh ketakutan, namun ia berusaha menutupinya. Ia juga mencoba untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan perkataan Mika.


“Jaga ucapanmu Mika ! Kau menakutinya ! Lihatlah wajahnya sudah seperti itu !” Teriak Qhien Guan kepada Mika sembari menunjuk wajah Albert.


“Harusnya kau tidak usah bilang kepalanya hilang dimakan iblis ! Lagi Pula aku tidak akan membiarkan iblis memakan kepala lelaki ini !” Ucap Qhien Guan kemudian dengan tegas dan percaya diri.


“Kalau Kepala lelaki ini dipenggal oleh iblis, sudah pasti aku akan menangkapnya ! Mana mungkin aku biarkan iblis itu menyantapnya ! Kau mengerti !” Ucap Qhien Guan lagi.


“Mengerti Tuan Putri, Maafkan atas perkataan hamba !” Jawab Mika menyesali ucapannya.


“Kamu tidak usah khawatir, kepalamu tidak akan dimakan oleh iblis ! Tapi jika kau takut, kau boleh membungkus kepalamu sekarang pakai ini” Kata Qhien Guan kepada Albert sembari memberikan sebuah kantong plastik hitam yang entah dari mana diambilnya.


Plak


Plak


Plak Plak Plak Plak


Seketika Alice melayangkan pukulan sekuat tenaganya kepada Qhien Guan secara berkali-kali. Albert dan Mika yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam menatap amarah Alice yang begitu mengerikan.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2