SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN

SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN
BEREBUT KURSI


__ADS_3

Di sore hari yang cerah tampak Qhien Guan dan yang lainnya sedang mencari lelaki berjanggut yang dianggap sebagai seseorang yang mengetahui keberadaan dari batu sihir yang selama ini di cari oleh para Penyhir.


Mereka telah menelusuri seluruh pasar berulang kali tetapi tetap saja tidak tidak menemukan keberadaan dari lelaki yang mereka cari.


“Ah sulit sekali menemukan orang tanpa gambar sama sekali!” gerutu Qhien Guan, membuat Mika seketika merasa bersalah.


“Maa.. Maafkan hamba Tuan Putri!” ucap Mika.


“Bagaimana kalau kita lanjutkan pencarian ini besok saja ?” kata Albert.


“Meskipun aku tidak begitu menyukaimu! Tetapi aku setuju dengan saranmu itu!” sahut Asta.


Qhien Guan dan yang lainnya akhirnya memutuskan untuk kembali kerumah dan melanjutkan pencarian lelaki tersebut esok hari.


Merekapun pulang dengan mengendarai mobil mewah milik Albert yang seharusnya hanya muat untuk lima orang saja.


“Hei, mau apa kau ? Aku yang duduk disini! Pergilah kebelakang Ksatria Langit sialan!” dengan lantang Qhien Guan berebut kursi bagian depan tepat berada disebelah supir.


“Bagian depan hanya untuk lelaki saja! Pergilah kebelakang bersama teman manusiamu itu!” ucap Asta sembari menghalangi langkah Qhien Guan menuju kursi depan, membuat Albert dan yang lainnya sedikit kebingungan.


“Hei Ksatria Langit, mengalahlah untuk wanita! Pergi sana ke belakang!” kesal Albert yang ingin duduk di sebelah Qhien Guan.


“Ya benar! Mengalahlah kepada untuk wanita!” sambung Qhien Guan dengan lantangnya.


“Hei kalian! Berhentilah berkelahi! Tidak bisakah kita pulang dengan tenang dan damai ?” ucap Alice yang mulai kesal menyaksikan tigkah laku Ksatria Langit dengan Penyihir bagaikan tikus dan kucing yang selalu berkelahi setiap kali bertemu.


BAM !


Tiba – tiba saja Asta masuk ke dalam mobil tepatnya di kursi bagian depan, lalu dengan cepat ia menutup pintu mobil tersebut agar Qhien Guan berhenti memperebutkan kursi itu dengannya.


“Hoi Ksatria Langit sialan! Buka pintunya! Aku ingin duduk di depan! Hoi!” teriak Qhien Guan sambil mengetuk kaca mobil dengan keras.

__ADS_1


“Hoi Ksatria Langit! Buka pintunya dan biarkan dia yang duduk di depan denganku!” ucap Albert kepada Asta, namun Asta tak sedikitpun beranjak dari tempat duduknya, ia tetap duduk santai dan menatap pemandangan di depan matanya tanpa menghiraukan Albert dan Qhien Guan sama sekali.


“Tuan Putri!” ucap Mika lirih.


“Sudahlah! Tidak perlu rebut lagi! Kami bertiga naik taksi online saja!” kata Alice.


“Tidak! Biar mereka saja yang naik taksi online! Aku tidak ingin mengantar mereka pulang kerumahnya karena aku bukan supirnya.” ketus Albert, namun meskipun Albert telah berkata seperti itu, para Ksatria Langit tetap tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya, para Ksatria Langit itu tetap duduk tenang seakan tidak mendengarkan suara apapun.


“Ah kalau sudah begini, aku duduk diatas saja!” ucap Qhien Guan, lalu melompat naik keatas mobil mewah itu, membuat Albert dan Alice sedikit tercegang.


“Guan! Turunlah! Bahaya duduk diatas!” Alice yang khawatir akan keselamatan Qhien Guan berusaha menyuruh Ratu dari para Penyihir itu untuk turun dan duduk bersama di dalam mobil, namun sayangnya Qhien Guan telah terlanjur nyaman duduk diatap mobil, tampaknya ia sangat menikmati pemandangan dari atas mobil.


“Tuan Putri, aku akan ikut denganmu!” ucap Mika.


“Hoi! Jangan membuat tempatku sempit, duduklah di dalam!” teriak Qhien Guan dari atap mobil mewah itu.


“Ba.. baik Tuan Putri!” jawab Mika.


“Guan! Apa kamu yakin duduk diatas? Di atas sana sangat berbahaya!” kata Albert sangat mengkhawatirkan keselamatan Qhien Guan.


“Menyenangkan ?” batin Asta penasaran.


Tanpa berpikir panjang, Asta pun menyusul Qhien Guan duduk di atap mobil, membuat Albert dan yang lainnya seketika tercengang.


“Hoi, kenapa kau kesini sialan ?! Aku sudah mengalah untukmu! Sekarang kau ingin merebut tempat baruku! Serakah sekali kau!” lantag Qhien Guan hingga suaranya terdengar sampai ke dalam mobil.


“Mereka berdua berada di atap mobilku! Hanya berdua ?” batin Albert, sesaat Albert membayangkan Asta secara tidak sengaja berpelukan dengan Qhien Guan akibat dari laju mobilnya, setelah itu ia juga membayangkan Asta dan Qhien Guan sedang bermesraan di atap mobilnya dan menikmati pemandangan yang indah dengan penuh cinta bagaikan Romeo dan Juliet.


“Alice!” ucap Albert kemudian, membuat Alice sedikit kebingungan.


“Iya pak!” sahut Alice.

__ADS_1


“Tolong kamu yang kemudikan mobil! Saya akan duduk diatas bersama mereka!” ucap Albert, lalu dengan cepat turun dari mobilnya dan naik secara perlahan ke atap mobil mewahnya.


“Oh! Ba..baik pak!” Alice tampak tercengang menyaksikan tingkah laku Asta dan Albert yang terlihat aneh bagaikan kakak beradik yang sedang berebut mencari perhatian ayahnya agar diberikan hadiah yang lebih besar.


“Hoi! Kau juga, kenapa naik kesini ?” bentak Qhien Guan ketika menyaksikan Albert sedang naik secara perlahan – lahan menghampiri mereka di atap mobil mewahnya.


“Akhirnya sampai juga! Ternyata tidak semudah itu naik ke atas sini!” ucap Albert sesaat setelah sampai.


“Pak! Apa mobilnya sudah bisa dijalankan ?” tanya Alice dari dalam mobil.


“Ya sudah! Jalankan saja, jangan ngebut ya!” teriak Albert dari atas atap mobil.


“Baik pak!”


Ketika Alice hendak menjalankan mobil mewah itu, sesaat ia menatap kursi yang berada di sampingnya masih terlihat kosong. Lalu saat itu juga ia menoleh ke belakang, namun yang ia temukan adalah wajah kaku Mika dan dua orang Ksatria Langit sedang duduk tegap tak bersuara bagaikan patung lilin yang siap dikirim kepada pemiliknya.


“Halo! Aku bukan supir kalian ya, jadi tolong pindah salah satu ke depan!” ucap Alice kemudian, namun sayangnya ucapannya tersebut tidak mendapat respon dari ketiga orang itu, membuat ia sedikit kesal.


“Mika! Pindahlah ke depan! Kau ingin membuatku seperti seorang supir ya ?!” kesal Alice.


Dalam sekejab, Mika lansung turun dari mobil dan pindah ke kursi bagian depan tepat berada di samping Alice.


“Ha ? Lansung menurut begitu saja ?” batin Alice tercengang.


“Yasudahlah, yang penting aku tidak menjadi supir meskipun kenyataannya memang adalah supir” batin Alice, lalu menjalankan mobil mewah itu.


“Uhhuu ! Ini sangat menyenangkan!” teriak Qhien Guan kegirangaan sesaat setelah mobil melaju.


“Hei manusia ! Kenapa wajahmu pucat begitu ? Apa kau takut ?” tanya Asta ketika melihat wajah Albert yang penuh ketakutan.


“Si.. siapa yang takut! Saya hanya menikmati hembusan angina!” jawab Albert sembari berpegangan pada sudut atap dengan eratnya.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, tampak semua mata tertuju pada mobil mewah milik Albert, semua orang tampak tercengang menyaksikan tiga orang duduk berada di atap mobil itu membuat mobil yang super mewah itu menjadi tidak memiliki harga sama sekali.


Bersambung..


__ADS_2