SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN

SIHIR YANG TAK TERKALAHKAN
RESTORAN


__ADS_3

"Apa kita perlu pindah ke tempat lain ?" bisik Alice kepada Qhien Guan.


"Tidak perlu ! Kita makan disini saja ! Kalau ada apa - apa, aku bisa mengalahkannya saat ini !" ucap Qhien Guan tegas.


"Baiklah kalau memang seperti itu" Dengan cepat Alice membuka buku menu yang ada di atas meja mereka.


"Kalian pesan apa ?" tanya Alice.


"Entah mengapa nafsu makanku hilang saat melihat wajah binatang itu !" ucap Albert sambil memandang tajam Asta yang sedang melayani pelanggan.


"Yasudah ! Aku pesan menu yang sama saja ya ?" Alice pun memutuskan untuk memesan menu yang sama untuk mereka berempat.


"Tunggu disini ! Tuanku akan menghantarkan pesanan kalian !" ucap Loid dengan tatapan tajam.


"Ya baguslah ! Itu memang pantas untuk Tuan kalian !" balas Mika.


"Cih !" Loid pun pergi untuk menyiapkan menu yang telah di pesan oleh mereka.


"Harusnya kita pindah saja dari sini ! Wajah mereka benar - benar membuat selera makanku hilang !" ucap Albert.


"Tidak perlu dikhawatirkan ! Kita kesini hanya makan, selesai makan kita bisa lansung pergi dari sini !" Qhien Guan mencoba membuat Albert dan Mika tenang.


Meja makan menjadi tampak suram dan dipenuhi dengan aura dendam yang mematikan. Alice yang menyadari akan hal itu bergegas untuk menemui Asta.


"Hei mau kemana ?" tanya Qhien Guan penasaran.


"Aku ada urusan sebentar ! Jangan mengikutiku !" jawab Alice.


"Ada apa dengan wanita itu ? Dia selalu membuat pergerakan secara tiba - tiba ! Hampir saja kubunuh dia disini !" ucap Mika yang membuat Albert sedikit ketakukan.


"Wanita ini sungguh benar - benar monster yang sesungguhnya !" gumam Albert.


Tak berapa lama Alice pun bertemu dengan Asta.


"Kau manusia yang selalu bersama Penyihir itu ? Ada perlu apa ?" tanya Asta sesaat setelah Alice berada di hadapannya.


"Aku memohon padamu ! Tolong jangan bunuh teman - temanku ! Kami sedang makan disini, kami hanya ingin menikmati sarapan dengan tenang !" ucap Alice.


"Penyihir itu ternyata berada disini ?" batin Asta.


"Baiklah ! Aku akan mengabulkan permintaanmu !" ucap Asta kemudian, membuat Alice seketika tersenyum lega.


"Kalau begitu trimakasih banyak !"


"Tidak perlu bertrimakasih ! Aku hanya membebaskannya hari ini saja !" kata Asta, lalu pergi meninggalkan Alice.

__ADS_1


"Ternyata Ksatria Langit ini baik juga, selain itu wajahnya juga sangat tampan ! Aku.. aku.. aku sepertinya menyukainya" Tampak Alice tersipu malu, lalu pergi menghampiri Qhien Guan dan yang lainnya.


Sesampainya disana


"Ada apa denganmu ? Tiba - tiba saja kau menjadi gila setelah kembali !" Mika tampak kebingungan menyaksikan Alice yang tersenyum tanpa sebab.


"Ah tidak apa - apa !" jawab Alice sambil tetap tersenyum.


"Sepertinya manusia ini telah terkena kutukan !" gumam Mika.


Beberapa lama kemudian Asta muncul di hadapan mereka sembari membawa menu yang telah di pesan oleh Alice sebelumnya.


Seketika Albert dan Asta saling melempar tatapan tajam yang mematikan.


"Cih ! Padahal sangat lemah tetapi berani menatapku seperti itu !" gumam Asta.


"Silahkan menikmati makananmu Tuan Putri Penyihir" Asta menurunkan hidangan tersebut satu persatu sembari menatap nakal pada Qhien Guan.


"Apa maksudnya ?" batin Qhien Guan.


"Aku akan memberikan bonus nanti !" bisik Asta kepada Qhien Guan.


Deg !


"Guan ! Trimakasih untuk tadi malam ! Bibirmu sangat manis bagaikan anggur !" Tiba - tiba saja Albert mengucapkan kalimat yang membuat Alice dan Mika sangat terkejut.


"Ha ?" Qhien Guan tampak tercengang sesaat setelah mendengar ucapan Albert.


"Manusia dan Penyihir tidak dapat bersatu !" ucap Asta dengan lantang.


"Memangnya Ksatria Langit dan Penyihir bisa bersatu ?" balas Albert.


“A..apa maksudnya bibir Guan manis pak ?” Alice sangat terkejut ketika mendengar ucapan Albert.


“Apa maksud perkataan manusia ini ?” gumam Mika penasaran.


“Ternyata kau cukup berani juga manusia !!” kesal Asta


Albert dan Asta pun saling melempar tatapan tajam seakan ingin saling melenyapkan.


Alice yang menyaksikan itu cukup mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.


“Ah kumohon jangan bertengkar disini ! Daripada bertengkar seperti itu, bagaimana kalau kita bekerja sama saja untuk mencari lelaki berjanggut itu ?” Alice mencoba mendinginkan suasana.


“Hei ! Apa maksudmu bekerja sama ?” Tampaknya Mika tidak terima dengan keputusan yang dibuat oleh Alice.

__ADS_1


“Lelaki berjanggut ? Apa itu ?” tanya Asta penasaran.


“Haha ! Ksatria Langit tidak perlu tahu ! Kau cukup melayani pelanggan – pelanggan yang ada disini ! Itu sangat pantas untukmu !” ucap Albert sembari melemparkan tatapan tajam kepada Asta.


“Sudahlah pak Albert !” Kembali Alice mencoba mendinginkan suasana.


“Guan ! Menurutku kalian harus bekerjasama agar lelaki berjanggut itu dapat ditemukan !” bisik Alice kemudian kepada Qhien Guan.


“Apa kau sudah gila ?! Dia itu musuhku ! Jika aku bekerja sama dengan mereka, yang ada batu sihir itu akan jatuh ke tangannya, dan aku akan tewas seketika bersama dengan kaumku !” bantah Qhien Guan.


“Aku mengerti ! Tetapi saat ini, kau sangat membutuhkan tenaganya ! Aku tidak ingin melihatmu seperti kemarin lagi saat berhadapan dengan iblis wanita itu !” Alice mencoba meyakinkan Qhien Guan untuk bekerjasama dengan para Ksatria Langit.


“Tidak !” Qhien Guan tetap mempertahankan tekadnya untuk tidak menjalin hubungan apapun dengan para Ksatria Langit.


“Aduh bagaimana ya menjelaskannya ! Begini saja, cobalah untuk bekerjasama dalam beberapa hari ini, jika mereka menunjukkan tanda – tanda ingin merebut batu sihir itu, maka hentikan kerjasamanya ! Bagaimana ?”


“Kau memang sangat keras kepala ya ! Baiklah jika itu keinginanmu ! Aku hanya mengabulkan keinginanmu saja, sejujurnya aku tidak ingin bekerja sama dengan para Ksatria itu !” Akhirnya Qhien Guan menyetujui saran yang telah diberikan oleh Alice kepadanya.


“Baiklah ! Guan telah setuju untuk bekerjasama denganmu dalam pecarian lelaki berjanggut !” ucap Alice kemudian kepada Asta.


“Apa yang kau bicarakan ?!” Mika tampak sangat kesal setelah mendengarkan perkataan Alice.


“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan wahai manusia ! Untuk apa aku harus mencari lelaki berjanggut ? Apa dia yang akan menjadi pengantin Putri Penyihir ini” ucap Asta.


“Bukan ! Lelaki berjanggut itu adalah Penyihir satu – satunya yang mengetahui keberadaan dari batu sihir yang selama ini dicari oleh Guan !” kata Alice menjelaskan.


“Batu sihir ? Jadi benar, batu sihir itu berada di dunia ini ?” batin Asta.


“Aku harus memanfaatkan situasi ini ! Aku harus menemukan batu sihir itu agar tidak menjadi bencana bagi dunia !” batinnya kemudian.


“Baiklah, Aku setuju ! Kapan kita akan memulai pencarian ?” tanya Asta.


“Kami berencana akan mencarinya hari ini ! Jika kalian tidak mendapatkan ijin untuk tidak bekerja, maka kalian boleh datang besok saja !” jawab Alice.


“Tidak ! Aku akan mengurus ijinnya !” tegas Asta, lalu pergi meninggalkan Qhien Guan dan yang lainnya.


“Hamba tidak mengerti Tuan Putri ! Apa maksudnya bekerja sama dengan para Ksatria itu ? Kita tidak boleh menjalin hubungan apapun kepada mereka Tuan Putri ! Mereka telah menghancurkan Kerajaan kita !” Mika tampak tidak terima dengan keputusan ini, dendam dihatinya sudah teramat besar sehingga membuat ia sangat membenci para Ksatria Langit itu.


“Mika ! Aku mengerti perasaanmu ! Tetapi untuk kali ini, kita harus bekerja sama dengan para Ksatria itu ! Aku tidak ingin membuatmu terluka seperti kemarin, karena aku masih sangat lemah untuk melindungi siapapun !” lantang Qhien Guan.


“Tuan Putri !” ucap Mika lirih.


“Baiklah Tuan Putri ! Jika itu adalah keputusan Tuan Putri, hamba akan terima !” ucapnya kemudian.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2