
Bruk
Gadis pemilik mata indah itu, menganga sambil menatap lantai koridor sekolah dengan nanar. Es krim yang baru saja dibelinya dari kantin, harus jatuh tanpa bersalah hanya karena seseorang yang tiba-tiba menabraknya. Ia hanya dapat meneguk ludahnya untuk menerima kenyataan jika es krim yang belum sempat ia makan/minum itu, berakhir di lantai yang berdebu dan tak bisa dinikmati lagi.
Ia mendongkakkan kepalanya untuk melihat siapa pelaku utama yang telah menabraknya, detik itu juga ia mencubit pinggang sosok cowok berhalis tebal itulah yang membuat dirinya harus merelakan es krim kesukaannya.
"Aaaww ... ish, main cubit-cubit gue aja lo," ujarnya, sambil menepis tangan gadis itu.
"Es krim Gigi jatuh gara-gara Bara, tuh. Itu es krim, baru Gigi beli dari mpok Lina. Belinya pakek duit, duitnya sepuluh ribu masih ada kembaliannya. Gigi baru buka kemasannya aja, belum Gigi jilat atau gigit itu es krim. Tapi, malah Bara jatuhin duluan. Es krim Gigi jatuh Bara, es krim Gigi jatuh. Dan, yang jatuh itu es krim rasa coklat kesukaan Gigi, bukan es batu ataupun es balok," omel gadis yang bernama lengkap Gista Rajani Alveera itu, panjang lebar. Membuat cowok di hadapannya itu, mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
"Gue tau itu es krim, santai aja kali nggak usah dijelasin dengan detail," ucap cowok itu, santai.
"Ish ... Bara, tuh, ya. Bukannya minta maaf sama, Gigi."
"Ck, gue minta maaf."
"Udah, gitu aja?" tanya Gista sebal dengan cowok di hadapannya itu.
Debara Raja Adiatama -- cowok yang menabraknya itu --, menautkan sebelah alisnya. Sebelum akhirnya berkata, "Terus, gue harus apa? Katanya gue harus minta maaf, barusan gue udah minta maaf. Terus apa lagi?"
"Ganti es krim, Gigi!"
*Debara di mana kamu? Jangan lari, Bapak mau hukum kamu.
Di mana murid bandel itu, cepat sekali larinya*.
Samar-samar Bara mendengar teriakan guru BK yang sedari tadi ia hindari, ia harus cepat-cepat pergi dari sana sebelum ia tertangkap guru BK dan diseret ke ruang BK. Namun, baru saja Bara hendak berlari, tiba-tiba tangannya langsung dicekal oleh Gista yang masih tak terima es krimnya jatuh.
"Apa lagi, sih, lo?" tanya Bara cepat, sebelum guru BK itu menemukannya di sana.
"Ganti dulu es krim, Gigi."
Awas aja, nanti kalau ketemu. Saya kasih hukuman yang berat untuk kamu, Debara.
Suara pak Supri -- guru BK sekolahnya -- itu, mulai terdengar jelas. Itu artinya pak Supri sudah dekat dengan keberadaan Bara sekarang. Bara ingin berlari, tetapi gadis di hadapannya itu tak kunjung melepaskan tangannya dan malah terus menagih ganti rugi padanya.
"Bara, ih, ganti es krim, Gigi. Pokoknya Bara harus ganti," rengek Gista, bersih keras ingin es krimnya kembali.
"Nah, itu dia. Debara diam kamu di sana," teriak pak Supri yang berhasil menemukannya, ia harus cepat-cepat pergi dari sana sebelum pak Supri menahannya.
"Bar ---"
"Bawel lo, ya!" Tak ada pilihan lain, Bara pun menarik tangan Gista untuk berlari menghindari pak Supri.
"Eh." Gista yang tiba-tiba ditarik oleh Bara hanya pasrah mengikutinya berlari dengan perasaan jengkel pada cowok itu. Sudah membuat es krimnya jatuh, cowok itu malah menarik tangannya dan membawanya berlari begitu saja.
"DEBARA JANGAN LARI KAMU!" teriak pak Supri yang kembali mengejar Bara yang bandelnya naudzubillah.
"AWAS-AWAS-AWAS!" teriak Bara pada murid-murid yang tengah berjalan santai berlawanan arah dengannya, agar tidak menghalangi jalannya untuk kabur dari pak Supri.
__ADS_1
---
Bara menarik Gista untuk masuk ke dalam ruangan kecil yang berada di bawah tangga, ruangan sempit yang dikhususkan untuk menyimpan alat-alat kebersihan. Sudah sempit, pengap, gelap pula.
"Bara ngapain bawa Gigi ke sini, sih?" gerutu Gista semakin kesal pada Bara, mana posisi keduanya kurang mengenakan.
Keduanya saling berdempetan di dalam ruang sempit itu, hanya ada jarak 3 cm saja di antara keduanya. Karena, tempat itu memang sangat sempit ditambah lagi sudah banyak peralatan kebersihan di sana.
"Jauh-jauh Bara dari Gigi! Gigi sesak napas, nih. Udah tau ini tempat sempit, Bara malah tarik Gigi masuk ke sini segala," ujarnya, semakin kesal saat melihat wajah Bara yang begitu dekat dengannya.
"Berisik banget, sih, lo. Bisa diam nggak? Kalau kita ketahuan gimana?"
"KITA? BARA AJA KALI GIGI MAH ENGGAK, PAK SUPRI, TUH, NGEJAR BARA BUKAN NGEJAR GIGI!"
"Kecilin itu suara, elah. Berisik tau nggak!"
"BODO AM ---" Gista tak melanjutkan ucapannya, saat Bara tiba-tiba menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Sssttt ... Pasup ada di depan," bisik Bara.
"*Kemana murid satu itu? Kenapa cepat sekali perginya?"
"Sudah ketahuan mau bolos, kabur gitu aja. Sekarang hilang. Awas saja kalau ketemu, nggak akan saya lepaskan."
"DEBARA DI MANA KAMU?"
"Eh, kalian. Apa kalian melihat Debara?"
"Oh, ya, sudah, terima kasih."
"Cari kemana lagi, ya? Ke belakang sekolah lagi kali, ya? Coba cari ke sana aja, deh*."
Selang 1 menit Bara sudah tak mendengar lagi suara pak Supri yang mencarinya. Tadi, Bara memang hendak bolos sekolah lewat gerbang belakang sekolah, tapi aksi mau bolosnya itu malah ketahuan oleh pak Supri yang sedang keliling sekolah. Sekarang, gagal sudah dirinya untuk bolos sekolah.
"Aww!!" ringis Bara saat Gista menggigit telapak tangannya. "Main gigit-gigit aja lo, sakit tau!" gerutunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Bara juga, ngapain pakek tutupin mulut Gigi? Tangan Bara bau tau!" cibir Gista.
"Bau? Oh, iya, gue lupa habis cebok nggak pakek sabun tadi," candanya sambil terkekeh.
"Iuuuuu ... jorok banget, sih, Bara! Jauh-jauh dari Gigi, jangan deket-deket," ujar Gista sambil mendorong dada Bara agar menjauh darinya.
"Siapa juga yang mau deket-deket sama cewek yang bentuknya datar kayak lo."
Bugh
Dengan sengaja Gista meninju perut Bara, membuat cowok itu kembali meringis. "Buka pintunya, Gigi sesak napas, nih."
"Nanti gue kasih napas buatan, tenang aja," kata Bara sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Ogah! Cepetan ...!"
"Iya, sabar kenapa."
Bara pun membuka pintu ruangan itu, kepalanya menyembul keluar untuk memastikan jika pak Supri benar-benar sudah tidak ada. Setelah memastikan semuanya aman, Bara pun keluar dari tempat itu yang disusul oleh Gista.
Baru saja ia hendak pergi dari tempat itu, namun tiba-tiba saja ada yang menarik kerah seragamnya dari belakang. Siapa lagi pelakunya jika bukan Gista. "Apalagi, sih, lo?"
"Mau kemana Bara, huh?" tanya Gista.
"Ke kelas lah."
"Enak aja, ganti dulu es krim Gigi yang jatuh gara-gara Bara tadi," ujarnya, masih tak terima. "Ayo, cepet!" lanjutnya, sambil menarik tangan Bara agar tidak kabur.
---
Gista menggeser kaca Freezer untuk mengambil salah satu es krim yang diinginkannya, ia mengambil satu es krim cone rasa cokelat. Es krimnya kali ini akan dibayar oleh Bara sebagai ganti ruginya.
"Gigi mau ini," ucapnya sambil menunjukkan es krim cone-nya.
"Kok, itu? Es krim yang jatuh tadi bukan es krim kayak gini, ya. Gue inget betul kalau es krim yang jatuh tadi itu, pakek stick es, bukan cone kayak gini," ujar Bara.
"Emang kenapa kalau yang ini? Asal rasanya cokelat, Gigi suka, kok, es krim yang ini."
"Yang ini lebih mahal harganya, daripada yang lo beli tadi. Jadi, lo beli yang tadi aja. Keenakan di lo, kalau sekarang gue beliinnya yang ini," ucapnya terus terang, membuat Gista mengerucutkan bibirnya sebal.
"Pokoknya Gigi mau yang ini, cuma beda empat ribu doang harganya juga. Anggap aja sebagai traktiran dari Bara, apalagi tadi Bara tarik-tarik Gigi lari. Capek tau!" Bara memutar bola matanya malas, lalu melangkah menuju mpok Lina pedagang yang menjual es krim beserta makanan lainnya.
Gista bersorak senang, saat melihat Bara membayar es krim yang diinginkannya. Ia pun merobek kemasan es krimnya, lalu memakannya dengan suka-cita bak anak kecil.
"Enak," serunya.
Seketika ada tangan jahil yang merebut es cone-nya, membuat Gista berbalik badan dan menemukan ...
"Bara ... kok, diambil, sih, es krimnya? Mana dimakan lagi. Itu, kan, punya Gigi!" gerutunya, ternyata Bara lagi si pelakunya.
"Yang beli siapa?"
"Bara! Tapi, kan, itu buat ganti es krim Gigi yang jatuh."
"Ada uang lebih gue empat ribu, jadi gue berhak juga makan, nih, es krim."
"Ish ... cuma empat ribu doang juga."
"Empat ribu juga duit, gue bisa beli gorengan. Dapat empat pula," ujarnya tak mau kalah.
Gista diam, tak ingin meladeninya lagi. Wajahnya cemberut tanda ia kesal pada Bara, bagaimana ia tidak kesal jika es krimnya malah dimakan Bara.
"Nih, udah gue makan yang empat ribunya," ucap Bara sambil mengembalikan es krim cone-nya ke tangan Gista. Lalu, ia berlalu begitu saja meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
"Dasar kampret, pelit, awas aja Bara!"
---