Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
25. Kejutan yang [Tak] di inginkan


__ADS_3

Gista duduk termenung di pinggir lapangan, kali ini ia tengah nonton pertandingan basket yang di laksanakan hari ini. Sepanjang pertandingan itu di mulai, Gista sama sekali tidak menikmati pertandingan itu.


Sudah beberapa kali ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan basket itu, tetapi ia tidak menemukan seseorang yang sejak tadi di carinya. Padahal, ini sudah tim ke 4 yang bertanding, tapi sosok Bara tak ia temukan di mana pun. Ya, sedari tadi Gista tengah mencari keberadaan Bara.


Setelah selesai mengikuti lomba menyanyi dua hari yang lalu, Gista tak bertemu lagi dengan Bara. Kemarin pun, Bara tidak masuk sekolah. Gista tak tahu alasan Bara tidak masuk sekolah karena apa.


Gista menghela nafasnya gusar, ada yang berbeda antaranya dengan Bara beberapa hari ini. Gista merasa hampa, beberapa hari berusaha untuk menjauh dari Bara. Padahal, bukan itu yang di inginkannya. Nyatanya ia tak bisa jauh dari, Bara. Tetapi, Gista terpaksa harus melakukan itu.


Jika boleh jujur, sekarang Gista merindukan Bara. Ia sangat merindukan cowok menyebalkan itu, ia juga merasa bersalah selama beberapa hari ini. Ia sudah bersikap aneh, yang membuat Bara berubah. Gista tak melihat semangat sedikitpun dari, Bara. Apalagi, saat Gista bilang putus beberapa hari yang lalu. Dan, sebenarnya Gista memiliki alasan kenapa ia bersikap aneh pada Bara sampai ia memutuskan Bara begitu saja. Ia memiliki alasan untuk semuanya.


"Lima hari lagi, Gi. Hanya lima hari lagi, dan semuanya akan baik-baik aja." Batin Gista.


---


Dengan gontai, Bara berjalan di koridor sekolah untuk menuju kelasnya. Seperti hari-hari sebelumnya, Bara tidak ada semangat-semangatnya. Hari ini adalah hari terakhir PORBAS, yang di isi dengan lomba dance dan karate. Sedangkan untuk, lomba yang lainnya sudah selesai di laksanakan selama 9 hari ini. Bahkan, panitia sudah menemukan pemenangnya di setiap lomba.


Selama 6 hari ini juga, Bara tidak masuk sekolah. Karena, ia ada urusan. Untungnya saja di sekolah tidak lagi belajar efektif, jadi ia tidak perlu khawatir karena ketinggalan pelajaran. Hanya saja, ia melewati berberapa perlombaan saat masa PORBAS di laksanakan. Ia hanya sekolah sampai perlombaan menyanyi saja, besoknya ia tidak masuk sekolah. Dan, baru hari ini ia masuk sekolah lagi.


Tapi, itu tidak masalah. Karena, selama pelaksanaan lomba, Bara tidak menikmatinya sama sekali. Rasanya semua lomba terasa hambar menurutnya, apalagi hanya jadi penonton saja.


Karena tidak mood untuk menjadi penonton lagi di perlombaan dance dan karate, jadi Bara berniat untuk diam saja di kelas. Itu lebih baik, karena sekarang ia butuh ketenangan. Lagi pula, sekarang pasti kelasnya sepi. Karena, teman-temannya berpencar untuk nonton perlombaan.


Setibanya di depan kelas, Bara langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kelasnya. Baru dua langkah ia masuk ke dalam kelasnya, tiba-tiba ia di kaget kan oleh ...


Dorr ...


"SURPRISE!!!" Teriak teman-teman sekelasnya yang baru saja mengagetinya.


"Happy birthday to you, Happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you ..." nyanyi semua teman-teman sekelas Bara, semuanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Tak ada ekspresi lain lagi dari Bara, selain wajahnya yang datar melihat satu-persatu teman-temannya yang begitu kompak bernyanyi selamat ulang tahun untuknya.


Ia juga melihat Gista di sana, Gadis itu yang paling depan sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 18 yang menyala di atasnya. Bara melihat gadis itu menatapnya sambil tersenyum. Senyuman yang sudah beberapa hari ini tak ia lihat.


Apakah ada yang salah dengan gadis itu?


Kenapa gadis itu tersenyum padanya? Setelah, gadis itu membuat hatinya perih beberapa hari ini dan membuat hidupnya berubah hanya karena keputusannya. Sekarang, dengan mudahnya Gista tersenyum di hadapannya.


"Selamat ulang tahun, Bara." Ucap Gista, setelah teman-temannya selesai bernyanyi lagu ulang tahun. "Ayo, make a wish dulu habis tuh tiup lilinnya." Lanjutnya, masih dengan senyumannya. Senyuman yang selalu menjadi candu bagi Bara untuk melihatnya, namun entah kenapa sekarang melihat senyuman itu malah menyakitkan untuknya.


"Buat apa?" Tanya Bara masih menatap Gista dengan datar.


"Buat harapan, Bara. Semoga aja semua harapan Bara terkabul di usia Bara yang ke 18 ini." Jawab Gista, wajah polosnya kembali terlihat di mata Bara. Gista yang ia kenal sejak lama, kini terlihat lagi. Bukan seperti Gista yang beberapa hari ini, Gista yang tak pernah di kenalinya.


"Buat apa Lo repot-repot nyiapin semua ini? Gue bukan siapa-siapa Lo lagi kan." Ujar Bara yang kini berhasil membuat senyum di bibir Gista menghilang.


Gista melihat raut tak senang di wajah Bara, malahan dari awal Bara tidak memperlihatkan raut senangnya ketika di beri kejutan olehnya dan teman-temannya. Sedari tadi Bara hanya menunjukkan wajah datarnya saja.


"Soal beberapa hari yang lalu, maafin Gigi, Bara. Gigi cuma bercanda bilang putus sama, Bara. Gigi nggak beneran minta putus dari, Bara." Ujar Gista menjelaskan, ia memang tak sungguh-sungguh meminta putus dari Bara.

__ADS_1


"Kenapa Lo bohong sama gue?" Tanya Bara dengan nada suara yang terdengar dingin.


"Maaf ... Gigi harus lakuin itu, demi kesuksesan membuat kejutan ulang tahun buat, Bara." Jawab Gista, menyesal. Tapi, ini demi kejutan ulang tahun untuk Bara.


"Iya, Bar. Sebenarnya, ini kita semua yang ngerencanain. Kita minta Gista buat pura-pura marah sama Lo, trus putusin Lo gitu aja. Kita cuma mau jahilin doang, sebelum ngasih kejutan buat Lo. Sekalian buat Gista membuktikan seberapa cinta Lo sama dia, Gista mau tau apa reaksi Lo ketika dia minta putus." Ujar Dino angkat bicara, semua yang terjadi beberapa hari ini. Sudah mereka atur, susun dan kerjakan serapih mungkin. Ini demi misi memberikan kejutan untuk Bara.


"Apa Lo nggak percaya kalau gue cinta sama Lo, Gi?" Tanya lagi Bara.


"Bukan begitu, Gigi bukannya ngga per--"


"Padahal, selama ini gue cinta sama Lo lebih dari apa yang Lo tau." Sela Bara, membuat Gista terdiam.


Gista menggigit bibir bawahnya, saat melihat sorot kecewa yang ia lihat di kedua mata Bara. Ia sudah membuat kesalahan, bodohnya ia melakukan kesalahan itu.


"Bara, Gigi minta ma---"


"Lo bilang tadi, Lo cuma bercanda bilang putus sama gue. Apa Lo nggak mikir perasaan gue gimana setelah Lo bilang putus saat itu, Gi?" Sela lagi Bara, yang lagi-lagi membuat Gista terdiam.


Teman-temannya yang lain jadi merasa bersalah, ekspetasi mereka saat menjahili Bara tidak sama dengan kenyataannya. Mereka tidak berpikir jika akhirnya akan membuat Bara marah pada Gista sekarang.


"Lo nggak pernah tau, Gi. Gimana pusingnya gue mikirin kesalahan apa yang udah gue perbuat pada Lo sampai tiba-tiba Lo putusin gue gitu aja tanpa alasan. Apa karena gue udah buat Lo jatuh saat latihan sepatu roda? Tapi, gue kan udah minta maaf sama Lo berkali-kali. Cuma Lo aja, yang nggak pernah dengerin gue waktu minta maaf ..." Bara menjeda ucapannya, saat merasakan dadanya yang terasa sesak. Ia tak pernah menyangka jika Gista akan melakukan itu padanya, bahkan kompak dengan semua teman sekelasnya.


"... Dan, ternyata apa. Lo bilang Lo melakukannya untuk ngasih kejutan buat gue? Ini sama sekali bukan kejutan yang gue mau. Kejutan ini nggak pernah gue inginkan." Lanjutnya, yang membuat Gista menelan ludahnya dengan susah payah.


Kedua matanya tiba-tiba memanas, baru kali ini ia melihat Bara yang marah padanya. Dan, jelas bukan ini yang di harapkan Gista saat memberi kejutan untuk Bara.


"Bercanda Lo bilang? Lo pikir perasaan gue se-bercanda itu?" Tanya Bara dengan tatapan tajamnya, membuat Panji terdiam.


"Gue emang kadang suka jahilin Lo, Gi. Gue juga kadang suka bercanda, tapi gue nggak pernah bercanda dengan perasaan gue sama Lo. Hidup gue juga nggak se-bercanda itu, sampai-sampai Lo bilang kalau Lo putusin gue karena bercanda." Ujar Bara, yang membuat dada Gista semakin sesak saat mendengar ucapannya. Gista tahu jika ia salah, tapi ia juga tidak berniat untuk menyakiti hati Bara.


"Maaf ... Maafin Gigi, Bara." Lirih Gista dengan suaranya yang terdengar bergetar.


"Waktu itu juga gue minta maaf sama Lo, tapi Lo malah bilang kalau kita udah aja. Lo bilang kalau kita nggak usah pacaran lagi, Lo bilang kalau kita udahan aja. Lo bilang kita putus kan, waktu itu. Sekarang, akan gue kabulkan itu. Kita putus!" Ujar Bara, yang detik itu juga membuat air mata Gista menetes.


Sedangkan, semua teman-temannya membelalakkan matanya kaget. Kenapa, Bara malah beneran mengatakan putus? Sudah tahu jika Gista hanya pura-pura saja saat itu.


"Bara, Lo apa-apaan sih. Nggak gitu juga, Bar."


"Iya, Bar. Kita tau kita salah, tapi nggak bilang putus juga dong, Bar."


"Bara, Gigi itu nggak salah. Tapi, kita yang salah. Jangan gitu lah, Bar."


"Bara, kita minta maaf. Ini semua murni kesalahan kita, jangan putusin Gista."


Bara tak mengindahkan ucapan-ucapan temannya itu, Bara masih tetap menatap Gista dengan tatapan kecewa dan wajah dinginnya.


"Lo tadi minta gue make a wish kan?" Tanya Bara yang tak di jawab oleh Gista. Gadis itu, masih terdiam mematung di pijakannya dengan terus menatap Bara tak percaya dan air mata yang terus saja menetes.


Bara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum miring, "Harapan gue kali ini cuma satu, semoga gue nggak bertemu dengan Lo lagi, Gista!" Ucapnya, lalu meniup lilin yang masih menyala itu hingga padam. Baru setelah itu, Bara pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


Semoga gue nggak bertemu dengan Lo lagi, Gista!


Deg


Rasanya, jantung Gista berhenti berdetak saat mendengar ucapan Bara yang itu. Apakah Bara benar-benar marah padanya? Sampai berbicara seperti itu?


Bruk


Kue ulang tahun yang sedari tadi Gista pegang, jatuh begitu saja saat tubuhnya rasanya melemas. Air matanya terus menetes saat rasa perih di hati dan sesak di dadanya yang semakin nyeri di rasakannya.


"Gista ..." Ucap Lili saat melihat Gista masih terdiam mematung dengan pandangan kosongnya.


Semoga gue nggak bertemu dengan Lo lagi, Gista!


"Nggak ..." Gumam Gista lirih, bukan itu yang diinginkannya. Sungguh, Gista tak pernah ingin putus dari Bara apalagi sampai tak bertemu dengan Bara lagi.


"Bara!!!" Teriak Gista, setelah dua menit Bara keluar dari kelas. Detik itu juga, Gista berlari untuk menyusul Bara.


Gista terus berlari mengejar Bara yang berada di depan koridor sana. "Bara, tunggu!" Teriaknya, namun Bara terus saja berjalan mengabaikan Gista.


"Bara!"


Gista mempercepat larinya, setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Gista berharap semuanya akan kembali baik-baik saja, bukan malah hancur seperti ini.


Tepat saat berada di belakang Bara, Gista langsung menarik tangan Bara membuat langkah Bara terhenti.


"Bara dengerin Gigi dulu." Ucap Gista, tapi Bara malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bara maafin, Gigi. Gigi nggak pernah mau putus sama, Bara. Waktu itu, Gigi cuma bercanda Bara. Cuma bercanda nggak ada niat yang lain." Ujar Gista yang kini tangisnya pecah juga.


"Gigi tau apa yang kemarin Gigi lakukan itu salah, tapi Gigi cuma ikut-ikutan mereka aja, Bara ..."


Kali ini Bara mengalihkan pandangannya pada Gista, melihat Gista menangis seperti ini jelas membuat hatinya sakit. Tapi, apa yang telah terjadi padanya jelas-jelas lebih sakit.


"Trus kenapa Lo ikut-ikutan mereka? Karena, Lo mau bikin gue kejutan di hari ulang tahun gue? Gue nggak minta itu, Gi. Gue nggak pernah berharap Lo kasih kejutan buat gue. Lo inget ulang tahun gue aja itu udah cukup, Gi. Gue nggak minta Lo buat kasih gue kejutan segala." Ujar Bara yang membuat tangis Gista semakin pecah, untungnya saja di sana sepi. Karena, siswa-siswi kelas lain pasti sedang nonton perlombaan.


"Maaf ..."


"Nggak semua apa yang mereka minta dan mau harus Lo turuti, Gi. Walaupun mereka maksa Lo, tapi kalau hati Lo bilang nggak. Seharusnya Lo bilang nggak, jangan paksain bilang iya padahal Lo nggak mau ngelakuin itu. Terbukti kan sekarang, sesuatu yang di paksakan nggak akan pernah menghasilkan yang baik ..." Gista mengangguk, ia menyesal karena saat itu tidak mengikuti apa kata hatinya. Seharusnya, saat itu ia menolak ide teman-temannya.


"... Gue tau Lo polos, Gi. Tapi, Lo nggak bodoh, Lo nggak oon dan Lo juga nggak ****. Jangan gampang ke hasut omongan orang, Gi. Lakukan apapun yang menurut hati Lo baik, jangan lakukan apapun yang mereka paksa. Karena, nggak semua orang itu peduli sama Lo, Gi. Nggak semua orang yang baik di hadapan Lo, akan terlihat baik juga saat di belakang Lo." Lanjutnya.


"Jangan mau di bodohi oleh orang lain lagi, Gi. Dan, belajar untuk berani dengan diri sendiri. Karena, gue nggak bisa untuk terus berada di samping atau di belakang Lo terus." Ucap Bara, lalu pergi begitu saja meninggalkan Gista yang sekarang hanya bisa menangis.


Gista menepuk dadanya yang terasa sesak, sakit apa ini? Gista baru merasakannya sekarang, sepanjang ia hidup. Entah kenapa, rasa sakit ini yang paling menyakitkan sampai ia bisa menangis seperti ini.


Bahkan, menangisinya pun hampir sama seperti ia menangis ketika ia merasa kehilangan kedua orangtuanya, ketika saat itu kedua orangtuanya meninggal 2 tahun yang lalu.


---

__ADS_1


__ADS_2