Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
6. Putusnya hubungan Bara dan Pacarnya


__ADS_3

Minggu pagi, Gista diajak Debby untuk ikut jogging bersamanya dan juga Bara ke taman kota yang tak jauh dari komplek perumahannya. Gista mengiyakan, karena ia juga bosan jika harus di rumah terus setiap hari weekend. Jadi, apa salahnya ikut jogging bersama Debby dan juga Bara.


Hanya tiga keliling taman kota saja, Gista dan Debby sudah kelelahan karena taman kota itu cukup luas. Jadi, keduanya memilih untuk berhenti dan beristirahat beda halnya dengan Bara yang masih lari berkeliling taman sendirian.


"Capek banget ya, Gi." Ucap Debby sambil menghapus keringat dengan handuk kecilnya.


"Iya, By capek banget. Tapi, kenapa Bara nggak capek kayak kita ya? Sebelum jogging Bara makan bayam ya, By?" Tanya Gista.


"Nggak kayaknya, Bara kan nggak suka sayur. Mana mau makan bayam, emang kenapa gitu?" Tanya balik Debby.


"Ya siapa tau aja, Bara kayak Popeye yang makan bayam langsung kuat. Habisnya, dia nggak capek apa masih jogging juga sampai sekarang." Jawab Gista yang membuat Debby terkekeh mendengarnya.



"Namanya juga cowok, Gi. Stamina nya lebih kuat daripada cewek, udahlah biarin aja. Kalau capek dia berhenti sendiri." Ujar Debby yang dibalas dengan anggukan Gista.


Tak lama kemudian, Bara datang dengan keringatnya yang sudah membasahi wajahnya. Ia pun duduk di tengah-tengah antara Debby dan Gista.


"Lo kalau mau duduk di sana kek, ini malah nyeledek ke sini. Sempit tau!" Omel Debby, yang diacuhkan oleh Bara.


"Beli minum kek, Deb. Haus gue." Titah Bara.


"Beli aja sana sendiri, gue juga capek tau. Makanya gue ngaso dulu di sini." Ujarnya.


Bara berdecak, kalau tidak capek juga ia tidak akan meminta Debby untuk membelikan air minum untuknya. Tapi, berhubung ia capek dan warung berada di jarak yang cukup jauh dari sana. Jadi, ia meminta Debby saja untuk membelikannya. Tetapi, kembarannya itu malah menyuruhnya balik.


Sedangkan, Gista yang sedari tadi diam saja semakin diam. Gadis itu, tengah menahan sesuatu hingga tak ikut berbicara seperti biasanya.


Keterdiaman Gista itu, membuat Debby penasaran. Tak biasanya gadis itu hanya diam saja, apalagi sekarang terlihat seperti menahan nafas.


"Lo kenapa diam aja, Gi?" Tanya Debby penasaran, membuat Bara ikut menoleh ke samping kanannya.


"Jangan dulu ajak Gigi ngobrol," balasnya dengan nada suara yang sangat pelan.


"Emang kenapa?"


"Gigi lagi nahan sakit perut, jadi diem dulu." Jawabnya, yang kembali diam bak patung.


Bara menautkan sebelah alisnya, makin aneh saja gadis di sampingnya itu. Namun, ia tak mau peduli biarkan saja gadis itu melakukan apa yang menurutnya baik. Toh ia tidak punya urusan sama sekali padanya.


Bara menghela nafasnya panjang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Siapa tahu ada yang menjual air mineral asongan, namun bukannya menemukan pedagang asongan. Dirinya malah melihat dua orang yang sangat dikenalnya.


"Sial!" Umpat Bara, lalu bangkit dari duduknya untuk menghampiri dua orang yang tak jauh dari tempatnya sekarang.


Gista dan Debby mengerutkan keningnya saat melihat Bara yang tiba-tiba pergi sambil mengumpat, keduanya memerhatikan Bara yang berjalan cepat menuju dua orang yang sedang bermesraan. Makin dekat, dekat, dekat dan ...


Bugh


Gista dan Debby terlonjak kaget saat melihat Bara yang tiba-tiba memukul cowok yang tak dikenali mereka.

__ADS_1


Bugh


Lagi, Bara memukul cowok itu tanpa ampun. Membuat gadis yang bersama cowok itu menjerit, dan berusaha memisahkan Bara dan cowok itu yang kini saling memukul.


"Itu Bara ngapain mukul-mukul cowok itu, By?" Tanya Gista takut, ini baru pertama kalinya ia melihat adegan pukul-pukulan dua orang cowok.


"Gue juga nggak tau, Gi. Ayo samperin, itu mereka malah berantem." Ujar Debby yang langsung dibalas dengan anggukan.


Keduanya pun berlari menghampiri Bara, sekarang aksi berantem Bara vs cowok tak dikenalnya itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di taman kota itu.


"Bara udah, Lo apa-apaan sih?" Ujar Debby sambil mencoba menjauhkan Bara dari cowok itu.


"Bara, Stop!" Ucap cewek itu.


"Bar, udah. Ngapain pakek berantem sih? Bara kalau mau minum beli langsung ke warung, jangan mukulin dia gara-gara nggak di kasih sama cowok itu. Nanti, Gigi beliin air deh." Ucap Gista, yang berfikir jika Bara memukuli cowok itu, karena Bara tidak diberi air minum saat meminta air pada cowok itu.


Bara berhenti memukuli cowok itu, lalu beralih menatap tajam cewek yang lebih membela cowok yang dipukulinya itu.


"Hebat banget ya Lo jadi cewek, nggak tau malu. Bilangnya ada urusan sama nyokap, taunya ada di sini sama selingkuhan. Sejak kapan nyokap Lo jadi cowok kek dia, huh?" Ujar Bara tak habis pikir dengan gadis yang notabenenya adalah pacarnya itu.


"Sekarang.kita.putus!" Lanjut Bara penuh penekanan, lalu pergi begitu saja. Ia tak ingin mendengar apapun lagi dari mantan pacarnya yang baru putus satu detik yang lalu.


"Wah-wah berani banget Lo selingkuhin kembaran gue, Lo denger ya baik-baik. Meskipun itu anak kadang nyebelin, suka bolos sama bandelnya minta di gerek. Tapi, dia itu orangnya baik, setia, nggak pernah mainin perasaan cewek. Huh, gue doain Lo dapat karma secepatnya. Bye!" Ucap Debby yang ikut kesal, ya seperti yang dikatakannya. Meskipun Bara bandel dan nyebelin, tetapi ia sayang banget sama kembarannya itu. Ia tak ingin ada yang menyakiti kembarannya.


Debby menarik Gista pergi dari sana untuk mengejar Bara yang lebih dulu pergi dengan perasaannya yang ... Entahlah!


Hingga mereka berhenti di sebuah warung kecil yang cukup jauh dari taman, di sana Bara tengah duduk di bangku yang ada di depan warung itu sambil meneguk air yang dibelinya di warung itu.


Bara dan Debby hanya melongo di tempat melihat Gista seperti orang yang belum minum satu tahun.


"Gigi haus," Ucapnya setelah menghabiskan setengah botol air mineral milik Bara, tanpa merasa bersalah ia memberikan lagi botol mineral yang sudah kosong pada tangan Bara. "Makasih," lanjutnya sambil nyengir tanpa dosa.


"Lain kali, beli sendiri. Main rebut-rebut minum orang aja Lo, untung nih air bekas gue. Kalau bekas orang lain gimana?" Cibir Bara.


"Emang kalau bekas orang lain kenapa?" Tanya Gista tak mengerti.


"Ya, bahaya. Kalau orang lain itu, punya riwayat penyakit berbahaya gimana? Lo mau ketularan?" Gista menggelengkan kepalanya cepat, mana ada orang yang mau ketularan penyakit berbahaya.


"Kalau Bara nggak punya penyakit berbahaya kan?" Tanya Gista takut.


"Alhamdulillah nya nggak, jadi Lo nggak perlu khawatir. Tapi, Lo double untung." Ujar Bara yang tidak dimengerti Gista begitu juga dengan Debby yang mendengarnya.


"Double untung apa?"


"Untung yang pertama, Lo minum air mineral gue secara gratis. Kedua, barusan Lo ngerasain ciuman gue." Jawab Bara membuat kedua mata Gista membulat.


"Apaan, Gigi nggak ciuman sama Bara kok." Bantah Gista, bagaimana bisa ciuman. Ia hanya meminum air mineral milik Bara saja, tidak ada yang lain.


"Barusan kan Lo nempelin bibir Lo ke botol ini waktu minum, sebelum Lo melakukan itu. Gue yang melakukan hal yang sama, itu artinya ..." Bara menggantungkan ucapannya sambil tersenyum miring, beda halnya dengan Gista yang sedang mencerna penjelasan Bara barusan.

__ADS_1


"Bara, Gigi nggak paham."


Serentak, Bara dan Debby kompak menepuk jidatnya masing-masing. Percuma juga menjelaskan pada Gista, sekarang kelemotan nya sedang dalam mode on.


Gista ikut duduk di bangku yang sama dengan yang diduduki Bara dan Debby, kemudian ia menepuk-nepuk bahu Bara setelah mengingat kejadian tadi yang menimpa Bara. Kejadian dimana Bara di selingkuhin.


"Sabar ya, Bara. Cewek masih banyak di dunia ini, pasti Bara akan mendapatkan cewek yang lebih baik dari tante tadi." Ucap Gista bijak.


"Tante? Kok Lo panggil cewek tadi Tante? Dia seumuran kita kali, Gi." Ucap Debby.


"Masa sih seumuran kita? Tapi, kok udah kayak tante-tante aja dandanan nya? Mana heboh lagi pakek baju udah kayak yang mau dangdutan ngejreng banget." Ujar Gista jujur, yang membuat Bara terkekeh mendengarnya.


Tak salah memang jika Gista berbicara seperti itu, Gista type orang polos yang kalau bicara akan jujur sesuai dengan apa yang dilihatnya atau di dengarnya. Barusan Gista bisa berbicara seperti itu, ya karena sesuai dengan apa yang dilihatnya.


"Gigi kira Bara pacaran sama tante-tante. Aduh ... Maaf ya, Gigi salah paham. Masa seumuran kita Gigi sebut Tante."


"Ngapain minta maaf, Gi. Apa yang Lo bilang emang bener kok, dandanan dia emang udah kayak tante-tante. Bingungnya kenapa nih anak bisa pacaran sama dia?" Ucap Debby bingung sambil menunjuk Bara.


"Dulu dia nggak kayak gitu, dia berubah jadi kayak tadi setelah balik dari Amerika seminggu yang lalu. Tau deh kenapa?" Ucap Bara menjelaskan apa yang diketahuinya itu.


"Emang udah berapa lama Lo pacaran sama dia?" Tanya Debby penasaran, meskipun dirinya saudara kembarnya Bara. Tetapi, ia tidak tahu sama sekali Bara punya pacar.


"Satu bulan lebih dua minggu. Dan gue cuma pacaran satu Minggu doang, cuma awalan aja. Karena, sebulan dia ada di Amerika. Dan, seminggu ini dia berubah sama gue. Ya mungkin karena cowok tadi, mantannya." Jawabnya.


"Dia lebih memilih mantannya lagi? Gila ... Mungkin selama ini, dia cuma jadiin Lo pelampiasan doang."


"Mungkin!"


Gista membandingkan sikap Bara dan Nadin yang mempunyai kasus sama, di selingkuhin. Namun, kenapa sikap pada dua orang itu berbeda dalam menyikapi masalah yang terjadi. Jika, kemarin Nadin menangis meraung-raung sambil mengumpati cewek yang katanya cabe-cabean itu. Tetapi, kenapa Bara tidak melakukan hal yang sama seperti Nadin? Bara tidak menangis meraung-raung, tidak mengumpati cowok yang menjadi selingkuhan mantan pacarnya itu.


Kenapa berbeda? Gista tak mengerti dengan sikap Bara yang tenang-tenang saja.


"Bara rasanya di selingkuhin gimana?" Tanya Gista polos.


"Biasa aja," jawab Bara singkat.


"Biasa aja ya, tapi kenapa Nadin kemarin nangis-nangis karena di selingkuhin. Sampai nggak ada obatnya segala?"


Bara memutar bola matanya malas, lalu menatap Gista yang memasang wajah kebingungannya. Sebenarnya, setiap kali menatap wajah Gista yang kebingungan Bara selalu ingin tersenyum, hanya saja selalu ia tahan. Dari pada ia tersenyum, lalu gadis itu terus bertanya-tanya kenapa dirinya tiba-tiba tersenyum.


"Mungkin karena si Nadin, udah cinta banget sama pacarnya. Setiap orang emang paling benci sama yang namanya di selingkuhin. Dan, setiap orang juga beda-beda menyikapinya, sama seperti gue dan Nadin. Kalau dia nangis-nangis, gue mah ogah nangisin cewek kek gitu. Lagian, selama ini gue nggak cinta sama dia. Gue cuma sempat kagum aja sama dia, apalagi dia kan temen satu ekskul gue dulu waktu SMP." Jelas Bara, tak ada sedikitpun kesedihan di wajahnya.


"Karena, orang yang Lo cinta masih sama kayak yang dulu. Iya, kan ..." Ujar Debby sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Diem Lo!" Debby mengerucutkan bibirnya, Bara memang menyebalkan.


"Pulang yuk, udah rada siangan juga ini." Ajak Gista, ia sudah tidak nyaman lagi dengan tubuhnya yang berkeringat.


"Yaudah yuk, Gi." Ucap Debby.

__ADS_1


Mereka pun bangkit dari bangku yang ada di depan warung itu, lalu pergi untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


---


__ADS_2