Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
12. Jalan berdua bareng pacar 1 X 24 jam


__ADS_3

• Sarapan Bubur Mang Darto √


• Jalan-jalan di CFD √


• Naik sepeda di Kota Tua √


• Foto-Foto √


• Nonton Film di Bioskop √


• Naik wahana di Dufan


• Main di Pantai


• Makan Malam Romantis


• Lihat Bintang di Rooftop


Sudah empat point yang sudah di lakukan Gista dan Bara hari ini, masih ada empat point lagi sebelum akhirnya mereka pulang nanti. Gista sangat senang, bisa keliling-keliling kota. Apalagi, Bara menuruti apapun keinginan Gista tanpa penolakan sekali pun.


Sekarang keduanya berada di Mall, jalan-jalan sebentar setelah nonton di bioskop.


"Setelah ini mau kemana lagi?" tanya Bara.


"Ke Dufan, Gigi mau naik Tornado, Histeria, Roll coaster, Bianglala, komedi putar dan semua wahana yang ada di sana." jawab Gista dengan semangat.


"Emang berani naik semua wahana itu?" tanya lagi Bara.


"Berani dong."


"Kenapa nggak takut?"


"Kan ada, Bara."


Bara tersenyum, lalu mengacak rambut Gista gemas. Lalu, merangkul leher Gista sambil berjalan. "Sebelum ke sana, kita makan dulu ya." ucapnya.


"Makannya nanti aja."


"Makan dulu, sekarang udah jam 2, biar ada tenaga buat naik wahananya." ucap Bara yang kini langsung di angguki Gista.


"Tapi, Gigi ya yang milih tempat makannya."


"Emang mau makan di mana?" tanya Bara.


"Di Restoran Index Finger." jawabnya.


"Di mana tuh?"


"Warteg."


"Kok warteg?"


"Namanya juga Index Finger, tinggal tunjuk jari di depan etalase. Makanan yang kita mau, langsung pindah ke piring." jawab Gista menjelaskan, membuat Bara terkekeh lagi.


"Oke-oke, kita ke sana sekarang." ucap Bara yang ikut semangat juga ketika melihat Gista semangat.


---


"Bener nggak takut nih?" tanya Bara pada Gista, sekarang keduanya sudah duduk di kursi wahana Tornado.


Setelah makan siang di warteg, keduanya langsung pergi menuju salah satu tempat rekreasi yang ada di Jakarta. Sesuai dengan yang di inginkan Gista.


"Nggak, kan ada Bara." jawab Gista sambil tersenyum.


"Yakin?"


"Iya."


"Bener?"


"Heem."

__ADS_1


"Serius."


"Iya, ih. Nanya sekali lagi, Gigi ngambek nih." ancam Gista yang malah membuat Bara terkekeh.


Setelah semua kursi terisi, semuanya di pakaikan pengaman dengan kuat agar tidak jatuh. Sebenarnya Gista deg-degan sekarang, karena ini pertama kalinya ia akan menaiki wahana Tornado itu. Dan, jujur ia takut tapi ia ingin melakukan hal yang selama ini di takutinya itu.


Bara meraih tangan kiri Gista, lalu menautkan jari-jarinya dengan jari Gista. Bara tahu jika sebenarnya Gista takut, tapi entah apa yang mendorong Gista untuk menaiki wahana itu.


"Genggam tangan gue, biar rasa takut lo hilang." ucap Bara yang di angguki Gista sambil tersenyum.


Perlahan, wahana itu mulai naik ke atas. Gista memejamkan matanya,


genggaman tangannya pada Bara semakin mengerat apalagi saat mereka di bawa berputar-putar di atas. Teriakan-teriakan orang yang menaiki wahana itu saling bersahutan, ada yang berteriak ketakutan, ada juga teriak sambil tertawa menikmati wahana itu.


"BARAAAA ..." teriak Gista setelah membuka matanya kembali dan ikut menikmati wahana itu, meski ada sebagian rasa takutnya.


Bara yang mendengar teriakan Gista yang memanggil namanya, semakin mengeratkan genggamanya juga. Ia berpikir jika sekarang Gista sedang ketakutan.


Tapi, pikirannya itu salah ketika mendengar teriakan Gista yang selanjutnya.


"MAKASIH UDAH BIKIN GIGI BAHAGIA, GIGI SENANG SANGAT-SANGAT SENANG DAN ITU KARENA BARA." Teriak lagi Gista, yang setelah itu ia tertawa puas.


Spontan Bara ikut tertawa juga, meski sekarang mereka sedang di buat pusing oleh wahana itu. Tetapi, mereka menikmatinya.


Hingga tiga menit kemudian, wahana itu selesai dan kembali turun ke bawah. Mimik wajah orang-orang bervariasi sekarang, ada yang tengah menahan muntah, ada yang mau pingsan, ada yang biasa aja dan ada juga yang berseri. Seperti Gista contohnya, hal yang tidak pernah di duga oleh Bara.


Bara kira Gista akan menangis saat wahana itu berputar di atas karena ketakutan, tetapi ternyata Gista malah teriak-teriak dan tertawa.


Bara melepaskan sabuk pengamannya dan bangkit dari tempat duduk itu. "Senang?" tanyanya sambil membuka sabuk pengaman Gista.


Gista menganggukkan kepalanya cepat dan terkekeh, lalu ia berdiri hingga saling berhadapan dengan Bara.


"Mau naik apa lagi?" tanya Bara.


"Histeria." jawab Gista masih dengan semangatnya.


"Yakin mau langsung naik histeria?" Gista mengangguk cepat sebagai jawaban, "Yaudah, yuk." ajak Bara.


"Gi, kok bisa jatuh sih?" tanya Bara sambil membantu Gista untuk berdiri. Namun, Gista tak kunjung mau berdiri dan malah bengong membuat Bara kebingungan.


"Gista." panggil Bara, membuat Gista tersadar dari lamunanya dan menatap Bara.


"Iya, Bara?"


"Kenapa bisa jatuh?"


"Gigi pusing abis naik Tornado, jadi nggak sengaja jatuh." jawabnya sambil tersenyum.


"Sekarang masih pusing?" tanya lagi Bara.


Gista menggelengkan kepalanya, lalu mencoba berdiri yang di bantu oleh Bara. "Gigi haus, Bara." ucapnya.


"Yaudah, kita beli minum dulu sebelum naik wahana lagi." ucap Bara yang langsung di angguki Gista.


Bara pun menggenggam tangan Gista, lalu pergi dari kawasan wahana Tornado itu.


---


Jam kini menunjukkan pukul 21.15 malam, sekarang Gista dan Bara berada di pantai. Mereka ke malaman pergi ke pantai, karena terlalu asik main di Dufan. Semua wahana di sana, benar-benar mereka naiki. Gista pun yang penakut, memberanikan diri untuk tetap naik. Gista tak ingin merusak rencananya hanya karena ketakutannya.


"Gi, berhenti dulu." ucap Bara yang menghentikan langkahnya, otomatis Gista juga menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Bara?" tanya Gista, namun Bara tidak menjawabnya.


Bara membuka jaket yang di pakai nya, lalu menyampirkannya di bahu Gista. Udara semakin malam semakin dingin, dan Gista malah sok-sok'an menahan dingin. Karena, tidak membawa jaket, dan bajunya pun tidak berlengan hanya sebatas menutupi bahunya saja.


"Pakek jaket gue. Lo nggak dingin apa, pakek baju nggak ada lengannya. Gue yakin baju lo tembus angin, Gi." ucap Bara.


"Gigi pakek ini, karena Gigi pikir pasti Gigi kepanasan kalau pakek baju lengan panjang. Apalagi, siang tadi yang emang lagi cerah banget cuacanya. Makanya Gigi pakek ini." balas Gista menjelaskan.


"Tapi, seenggaknya lo persiapan bawa jaket. Kan udah tau bakalan sampai malam." ujar Bara.

__ADS_1


"Gigi sengaja nggak bawa jaket tau."


"Kenapa?"


"Kan biar di pakein jaket sama pacar, Gigi." ucap Gista sambil tersenyum lebar.


Bara ikut tersenyum, lalu mengacak rambut Gista gemas. Bara merasa ada yang berbeda dengan Gista hari ini, entah kenapa Gista selalu aja memiliki jawaban yang membuat Bara tersenyum dan juga tertawa. Tidak seperti biasanya, Gista yang polos pasti akan banyak bertanya.


"Bara, Gigi mau tanya." ucap Gista membuat alis Bara terangkat.


"Mau tanya apa?" tanya Bara.


"Kalau tiba-tiba jantung berdebar kencang itu, kenapa sih?" tanya balik Gista.


Bara menyerinyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba Gista bertanya itu padanya. "Kenapa lo tanya itu?"


"Karena, Gigi merasakan itu Bara." ujar Gista.


"Kapan?"


"Sekarang, jantung Gigi lagi berdebar kencang." jujur Gista, membuat bibir Bara berkedut menahan senyum.


"Cuma sekarang aja berdebar kencangnya?" tanya lagi Bara.


Gista menggelengkan kepalanya, memang ini bukan yang pertama kalinya Gista merasakan jantungnya berdebar kencang. Jika di ingat kembali, jantungnya pernah berdebar kencang saat ...


"Awalnya waktu kita sembunyi di ruangan kecil bawah tangga sekolah, jantung Gigi berdebar kencang. Kedua, waktu Bara menjelaskan pertanyaan Gigi tentang 'Apa itu cinta'. Ketiga, waktu Bara gangguin Gigi yang lagi wi-fi'an. Keempat, waktu Bara tolongin Gigi yang hampir jatuh karena lari buru-buru ambil obat sakit hati buat Nadin di UKS. Kelima, saat Bara ngusap bibir Gigi. Keenam, ketika Bara bilang kalau Bara kesal karena Gigi selalu bikin Bara khawatir. Ketujuh, waktu Bara dengan rela pinjamin Gigi ponsel dan menghapus satu game kesukaan Bara cuma buat game masak-masakan. Kedelapan, saat Bara membersihkan wajah Gigi dari cream kue. Kesembilan, ketika Bara mau mewujudkan satu keinginan Gigi. Kesepuluh, hari ini ... Sejak tadi, jantung Gigi terus berdebar kencang. Anehnya, jantung Gigi berdebar kencang kalau lagi sama Bara tapi kalau sama yang lainnya nggak." jawab Gista panjang lebar, membuat Bara tak bisa menahan senyumnya kali ini. Adakah Gadis di luar sana yang akan mengutarakan apa yang di rasakannya kepada orangnya langsung?


Bara yakin, sangat jarang ada Gadis yang mau jujur seperti Gista saat ini. Ada baiknya juga Gista polos, karena Gista orang yang lebih suka jujur dan kalau sudah jujur. Pasti Gista akan terlalu jujur.


"Itu kenapa ya, Bara? Apa ada masalah dengan jantung, Gigi?" tanya Gista serius.


"Apa lo pernah tanya sama Abang lo? Abang lo kan, Dokter." ucap Bara.


"Gigi pernah tanya juga sama Bang Gege, kata Bang Gege katanya Gigi lagi jatuh cinta." ungkap Gista membuat senyum Bara semakin mengembang di buatnya. "Jadi, apa benar Gigi lagi jatuh cinta?" tanya lagi Gista memastikan.


"Kenapa tanya gue, kan yang ngerasain lo." jawab Bara, dalam hati ia menjawab 'iya' dari pertanyaan Gista.


"Kan Gigi nggak pernah jatuh cinta, Bara. Jadi, mana Gigi tau." balas Gista.


Bara memegang kedua bahu Gista, Gadis itu memang berbeda. Sangat-sangat berbeda dari Gadis yang lainnya. "Apapun itu namanya, tapi gue harap. Apa yang lo rasain waktu itu, kemarin dan hari ini. Nggak akan pernah berubah setiap bersama gue. Gue senang, lo mau jujur tentang itu." ucapnya masih dengan senyumannya.


Gista tiba-tiba merasakan pipinya memanas, dan pastinya pipinya itu merah merona.


"Pulang yuk." ajak Bara membuat dahi Gista menyerinyit.


"Kok pulang? Kan belum 24 jam, Bara." ucap Gista, jika di hitung mereka baru menghabiskan 15 jam untuk bersama sebagai pacar.


"Ini udah malam, Gi. Lo harus istirahat, nggak capek apa dari pagi kita ke sana ke mari. Apalagi, besok kita harus sekolah." ujar Bara menjelaskan, membuat wajah Gista jadi murung.


"Tapi belum 24 jam, Bara."


"Gue tau, tapi ini udah malam Gi."


"Gigi udah bikin Bara capek ya? Pasti iya, apalagi Bara harus bawa motor ke sana ke mari. Maafin Gigi, Bara. Emang seharusnya dari awal Gigi nggak minta Bara untuk me---"


"Jangan minta maaf." sela Bara, membuat Gista terdiam tidak berbicara lagi.


Bara menangkup pipi Gista dengan kedua tangannya, lalu menatap mata indah itu dengan dalam. "Gue nggak capek, Gi. Mau sekalipun lo minta gue bawa motor ke luar kota seharian, gue bisa, gue mampu. Tapi, gue mikirin kesehatan lo, Gi. Gue nggak mau lo kecapean, apalagi besok kita harus sekolah. Dan, waktu yang belum kita lewati gue bisa ganti di lain hari, Gi." ucapnya meyakinkan Gista.


"Tapi, Gigi cuma punya waktu 24 jam untuk menjadi pacar, Bara. Dan, itu cuma hari ini." ujar Gista, membuat Bara jadi bingung kenpa Gista jadi aneh rasanya.


"Tanpa gue jadi pacar lo, gue mau kok mewujudkan apapun keinginan lo. Kita baru menghabiskan waktu 15 jam untuk hari ini, seenggaknya lo punya waktu 9 jam lagi sebagai pacar gue untuk lain hari, Gi. Jadi, 24 jam jadi pacar lo itu tidak gue kurangi, cuma gue simpan sisa nya


untuk lain waktu." balas Bara, Gista tak bisa menjawab apapun. Gadis itu hanya terdiam dengan pikirannya yang berkecamuk.


"Kita pulang ya?" Dan, Gista hanya mengangguk sebagai jawaban. "Jangan ngambek dong."


"Gigi nggak ngambek, ayo pulang." ucapnya, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Bara.


Bara menghela nafasnya gusar, ia jadi merasa bersalah sekarang. Tapi, ia harus bagaimana? Sekarang sudah malam, ia tak mungkin membawa Gista pergi ke tempat yang berbeda lagi. Bukannya tak mau, ia hanya khawatir saja pada kesempatan Gista.

__ADS_1


---


__ADS_2