Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
9. Rasa yang tak biasa


__ADS_3

Dalam keheningan Gista menatap ke arah lapangan dengan tatapan yang sulit di artikan, ekspersinya datar sehingga raut wajahnya tak bisa terbaca. Sekarang Gadis itu, tengah duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan. Padahal, sekarang seharusnya ia berada di kelas untuk mengikuti pelajaran B. Indonesia tapi dirinya malah pergi ke lapangan untuk melihat Marching Band yang sedang berlatih. Untuk pertama kalinya Gista bolos masuk pelajaran.


"Gi, bener nih nggak ikut latihan?" tanya salah satu teman ekskul nya itu, yang baru saja menghampiri nya.


"Besok aja ya, Gigi lagi nggak enak badan ini." jawabnya.


"Iya, sih. Muka lo pucet banget itu, kenapa lo nggak izin pulang aja?"


"Tanggung, satu jam pelajaran lagi. Abis itu pulang, lagian Gigi juga mau lihat kalian latihan." ujarnya yang diangguki temannya.


"Yaudah, kalau gitu gue balik lagi latihan ya. Lo jangan melamun aja," ucap Dhea yang langsung di angguki Gista.


Gadis itu pun kembali ke lapangan berkumpul dengan teman-temannya yang lain untuk latihan lagi.


Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri Gista yang masih asik dengan lamunannya.


"Gue cari kemana-mana ternyata lo ada di sini," ujar cowok yang baru saja menghampirinya membuat Gista menoleh padanya.


"Bara, kok ke sini bukannya di kelas belajar?" tanya Gista, dan ya cowok itu adalah Bara.


Bara berdecak, lalu duduk di samping Gista dengan menunjukkan ekspresi muka kesalnya pada Gadis itu.


"Lo juga, kenapa malah ada di sini?" tanya balik Bara, namun tak mendapatkan jawaban dari Gista. Gadis itu malah mengalihkan pandangannya lagi ke lapangan untuk melihat teman-temannya yang sedang latihan.


"Lo kenapa keluar dari Uks sih? Bukannya istirahat aja di sana, malah diem di sini." ujar Bara, tadi setelah membawa Gista ke Uks karena pingsan. Bara tidak kembali ke kelas, melainkan ke kanting untuk membeli makanan. Tapi, setelah kembali ke Uks ia tidak menemukan Gista. Padahal, saat ia pergi Gista masih dalam keadaan pingsan.


"Uks serem, Bara." jawabnya singkat.


"Kan lo di temenin sama petugas PMR, lo nggak sendirian di sana." ucap Bara.


"Gigi nggak suka suasana Uks, bukannya bikin Gigi sembuh. Malah bikin Gigi tambah sakit, jadi Gigi ke sini aja." balasnya tanpa mengalihkan pandangannya pada Bara.


"Nih, gue beli roti sama minum buat lo." ucap Bara sambil memberikan kresek berisi roti dan air mineral pada Gista.


"Berapa?" tanya Gista.


"Berapa apanya?" tanya balik Bara.


"Harga roti sama minumnya, Gigi mau ganti uang Bara." jawabnya.


"Nggak usah, itu gue beli buat lo. Gratis! Nggak usah di ganti, sekarang lo makan rotinya. Dari tadi lo belum makan kan, lain kali jangan buat gue kesel lagi karena liat lo pingsan." ujar Bara.


"Kenapa Bara kesel lihat Gigi pingsan?" tanya Gista.


"Gue kesel karena lo selalu aja buat gue khawatir," jawab Bara yang membuat Gista terdiam dan menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Bara.


"Oh," ucap Gista singkat, membuat Bara berdecak sebal.


"Kapan lo akan ngerti, Gista? Kenapa lo polos-polos banget jadi cewek?" Batin Bara kesal, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain tak lagi melihat Gista.


Gista mengambil roti di dalam kresek hitam, lalu membuka kemasannya untuk ia makan rotinya. "Makasih, Bara ..." ucapnya, tanpa mengalihkan pandangannya pada Bara. Gadis itu, memandang teman-temannya yang sedang latihan sambil memakan roti pemberian Bara.


Bara hanya berdehem saja sebagai sahutan, ia masih kesal padanya.


"Udah mau khawatir sama, Gigi." lanjut Gista yang tak di duga oleh Bara, ia kira Gista mengucapkan terima kasih untuk rotinya. Karena, ia berfikir Gista tidak akan pernah mengerti maksud khawatir yang di sebut Bara itu seperti apa.


Bara mengalihkan pandangannya lagi pada Gista yang masih memandang lurus ke arah lapangan, sesekali Gadis itu menyuapkan rotinya setelah kunyahan habis. Dan, Gadis itu tiba-tiba tersenyum ... Entah, tersenyum pada siapa? Karena yang berada di lapangan sana semuanya fokus dengan latihannya tidak ada yang tersenyum pada Gista. Lalu, Gista tersenyum pada siapa? Untuk apa? Entah, yang jelas kedua sudut bibir Bara tanpa di sadari tertari ke atas hingga membentuk sebuah senyuman.


Tiba-tiba saja Bara merasakan ada yang aneh padanya, debaran jantungnya berpacu lebih kencang, dan entah kenapa ia tidak bisa berhenti tersenyum.

__ADS_1


"Bara, ini roti rasa apa sih? Kenapa agak aneh ya?" tanya Gista.


"Rasa yang tak biasa," batin Bara yang masih menatap ke arah Gista yang kini menoleh padanya.


"Bara kok melamun? Bara!" ucap Gista sambil menepuk lengan Bara, membuat lamunan Bara buyar seketika.


"Kenapa?" tanya Bara berusaha senormal mungkin.


"Ini kok rotinya rasanya aneh," ujar Gista yang membuat dahi Bara menyerinyit.


"Aneh? Aneh gimana?"


"Nggak tau, pokoknya aneh banget rasanya. Nih, Bara lihat aja rotinya." ucapnya sambil memberikan roti yang tersisa setengah lagi.


Bara mengambilnya, lalu mencium aroma rotinya. Sedikit ada yang aneh dari aromanya, setelah itu ia mengecek expired nya. Kedua mata Bara membulat, saat tanggal kadaluwarsanya tiga hari yang lalu.


"Gista ... Muntahin lagi rotinya, Gi. Cepet muntahin lagi," ucap Bara yang tidak di mengerti Gista. Mana bisa ia memuntahkan roti yang sudah masuk ke dalam perutnya.


"Cepet Gi muntahin rotinya ... Muntahin ..." ucap lagi Bara yang kini sambil menepuk-nepuk punggung Gista.


"Bara apa-apaan sih? Kenapa Gigi di suruh muntahin lagi rotinya? Gigi nggak bisa muntahin rotinya." gerutu Gista kesal, saat punggungnya terus saja di tepuk-tepuk oleh Bara.


"Gista ... Rotinya udah kadaluwarsa," ujar Bara.


"Bercanda nya Bara nggak lucu tau!"


"Gue nggak bercanda, roti nya emang udah kadaluwarsa." ucap Bara setengah cemas takut Gadis itu keracunan.


"Bara kalau mau jahilin Gigi cari cara yang lain dong, jangan pakek cara ngasih makanan kadaluwarsa segala ke Gigi. Pantes aja tadi waktu Gigi mau ganti uang Bara, Bara bilang nggak usah. Ternyata makanan kadaluwarsa yang di kasih ke Gigi, lain kali nggak usah ngasih apa-apa ke Gigi kalau nggak ikhlas." ucap Gista yang membuat Bara bingung, kenapa Gista berfikiran jika Bara menjahilinya. Padahal, Bara memang benar niat mau ngasih makanan buat Gista dan ia tak tahu jika rotinya sudah kadaluwarsa.


"Gi, gue nggak lagi jahilin lo. Gue nggak tau kalau rotinya udah kadaluwarsa," ujar Bara. Namun, tampak nya Gista kesal padanya. Apalagi, Gista main pergi begitu saja meninggalkannya.


Baru kali ini Bara melihat Gista yang kesal sampai marah seperti itu, dan sekarang Bara jadi bingung sendiri. Gara-gara roti yang sudah expired Gista jadi salah paham padanya, ia tidak ada niatan untuk menjahili Gista. Karena, memang ia tak tahu jika rotinya sudah expired dan bodohnya Bara tidak mengechek terlebih dahulu saat membelinya tadi.


---


Bara menghentikan laju motornya tepat di depan pos satpam, di sana ia melihat Gista yang duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya untuk itu ia menghentikan motornya. Gista belum pulang, entah ia sedang menunggu jemputan Abangnya atau sedang kebingungan mau pulang naik apa. Karena, sampai saat ini Gista belum berani naik kendaraan umum sendirian.


"Gista!" panggil Bara yang membuat Gadis itu mendongkakkan kepalanya. Namun, hanya beberapa detik melihat Bara setelah itu ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tampaknya Gista masih marah pada Bara.


Bara menghela nafas panjangnya, lalu menyetadarkan motornya. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Gista dan dudun di sebelahnya.


"Lo masih marah sama gue, Gi?" tanyanya yang tak mendapatkan jawaban.


"Beneran deh, Gi. Gue nggak ada niatan jahilin lo, gue nggak tau kalau rotinya udah kadaluwarsa. Waktu gue beli, gue main ambil aja nggak di cek dulu expired nya. Maafin gue, Gi." ucap Bara yang kini membuat Gista kembali menoleh padanya.


"Gigi maafin," ucap Gista yang membuat senyum Bara mengembang.


"Makasih." Gista mengangguk sebagai jawaban.


"Btw, kenapa lo belum pulang?" tanya Bara.


"Bang Gege nggak bisa jemput, Gigi bingung mau naik apa. Gigi kan takut kalau harus naik kendaraan umum. Trus minta tolong ke Pak Anto buat anterin Gigi pulang, tapi kata Pak Anto tunggu dulu sampai semua murid pulang. Yaudah, Gigi tumgguin di sini." jawab Gista menjelaskan kenapa ia belum pulang juga.


"Lo pulang bareng gue aja yuk, nunggu semua murid pulang masih lama. Ini udah setengah empat, makin sore tar lo pulangnya kalau di anter pak Anto." ajak Bara membuat Gista menimbang-nimbang tawaran Bara yang mengajaknya pulang bareng.


"Tumben, kenapa Bara baik sama Gigi? Tadi ngasih Gigi roti walaupun udah expired, sekarang ngajakin Gigi pulang." ujar Gista perasaan dengan sikap Bara hari ini, karena dari pengalaman yang pernah Gista rasakan Bara harus di paksa dengan wajah memelas dulu kalau mau membantunya.


"Apa gue harus punya alasan untuk berbuat baik pada orang?" tanya Bara.

__ADS_1


"Nggak juga sih,"


"Yaudah, ayo." ajaknya lagi sambil berjalan menuju motornya dan menaikinya, yang di ikuti oleh Gista. Bara melajukan motornya, setelah bilang jika Gista pulang dengannya pada Pak Anto yang berada di dalam kantor pos Satpam.  


---


Setelah menghabiskan waktu selama 25 menit, akhirnya motor yang di kendarai Bara berhenti dengan selamat tepat di depan pagar besi rumah Gista. Gadis berambut panjang yang sengaja di gerai itu pun turun dari motornya Bara.


"Makasih, Bara." ucapnya.


"Iya,"


Hening


Keduanya diam setelahnya, bahkan tidak ada yang beranjak dari sana. Gista tidak masuk ke dalam rumahnya begitu juga dengan Bara yang tidak pergi untuk pulang ke rumahnya. Dan, sekarang hanya ada keheningan di antara keduanya.


1 menit ...


3 menit ...


7 menit ...


Merasa sudah terlalu lama keduanya saling terdiam di pijakannya masing-masing, Gista angkat bicara karena merasa tidak nyaman dengan keheningan.


"Bara kenapa masih ada di sini? Nggak pulang?" tanya Gista.


"Lo juga kenapa masih di sini? Nggak masuk?" tanya balik Bara membuat Gista berdecak sebal.


"Gigi tanya, malah balik tanya." ucap Gista.


"Masuk sana, gue pulang kalau lo udah masuk."


Gista menghela nafas panjangnya, bukannya masuk ke dalam ia malah tetap berdiri di tempatnya dengan raut wajah yang sedih.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Gigi nggak kenapa-kenapa," jawabnya.


"Maksud gue, kenapa lo nggak masuk rumah?" tanya lagi Bara.


"Gigi males di rumah sendirian, Bara. Kira-kira Debby udah pulang belum ya?"


Sebelum menjawab Bara terlebih dahulu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sekarang jam menunjukkan pukul 16.10 WIB. "Udah kayaknya, kenapa?" tanya lagi Bara.


"Gigi mau main aja sama Debby, Gigi bosen sendirian di rumah. Bara tunggu di sini dulu ya, Gigi mau ganti baju dulu." ucap Gista dengan semangatnya yang kembali lagi setelah barusan ia merasa sedih jika harus di rumah sendirian lagi.


"Yaudah,"


Gista pun membuka kunci pintu pagar besinya, lalu ia masuk ke perkarangan rumahnya. Ia tampak buru-buru saat masuk ke dalam rumahnya, takut Bara meninggalkannya karena menunggunya terlalu lama.


Lima menit kemudian, Gista kembali menghampiri Bara. Sekarang Gadis itu, telah berganti pakaian yang tadinya seragam sekolah sekarang memakai celana training panjang dan kaos berlengan pendek dengan gambar kartun winnie the pooh di bagian kaos depannya.


"Gigi lama ya, Bara?" tanya Gista yang langsung di balas dengan gelengan kepala Bara.


"Naik," ucapnya. Gista pun kembali naik ke atas motor Bara, entah perasaannya saja atau bukan. Jika hari ini, Bara benar-benar sangat baik padanya.


Motor Bara kembali melaju meninggalkan tempat itu, untuk menuju ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dengan rumah Gista.


---

__ADS_1


__ADS_2