Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
3. Ketemu Sahabat Lama


__ADS_3

Bang Genta


Pulangnya jangan malam-malam, ya, Gi.


Kalau udah selesai, langsung pulang aja.


Gista


Oke siap, Bang.


Bang Genta


Yaudah, kalau gitu. Abang kerja lagi, ya.


Ada pasien yang harus Abang periksa.


Gista


Iya, Bang. Nanti Gigi kabarin


Kalau udah pulang.


Bang Genta


Oke.


Gista menutup aplikasi WhatsApp-nya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya. Sore ini, Gista pergi ke salah satu Plaza yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahan kakaknya, ia mau mampir ke Gramedia untuk membeli novel. Ia pergi sendiri dari rumahnya, karena Genta belum pulang. Jadi, ia hanya meminta izin saja lewat WhatsApp pada kakaknya itu.


Setibanya di Gramedia, Gista langsung mendekati rak buku bagian novel untuk mencari novel yang menarik perhatiannya.


"Mbak-mbak gramed masih inget muka Gigi nggak, ya?" gumam Gista, takut jika ada salah satu karyawan/wati Gramedia itu ada yang sempat mengenalinya.


Ia takut, bukan karena ia pernah membuat masalah di sana ataupun mencuri buku yang ada di sana. Tetapi, karena kebiasaan Gista yang setiap datang ke Gramedia pasti yang dilakukannya itu adalah keliling rak, baca sinopsis yang ada di belakang buku, lihat-lihat buku yang menarik perhatiannya. Lalu, kembali pergi dari Gramedia itu tanpa membeli satu buku pun.


Bukan tanpa alasan sebenarnya Gista seperti itu, tetapi setiap kali Gista mau membeli buku. Disaat yang bersamaan perutnya selalu berbunyi minta makan. Jadi, mau tak mau uangnya ia pakai untuk  beli makan setelah puas keliling Gramedia sambil lihat-lihat buku.


Tetapi, sekarang ia ingin membeli buku. Lagi pula, tadi sebelum pergi ke sana. Ia sudah makan lebih dulu. Jadi, ia tidak usah khawatir jika perutnya akan berbunyi lagi saat mau beli novel.


"Yang mana, ya? Gigi bingung mau beli yang mana, rasanya semua buku yang ada di sini pengen Gigi beli semua," ujar Gista yang bingung sendiri, mau membeli novel yang mana.


"Gista," panggil seseorang pelan dari sampingnya membuat Gista mendongkakkan kepalanya. "Gista, kan?" tebak gadis itu, memastikan.


Gista menganggukkan kepalanya, mengiyakan tebakan gadis yang merasa tak asing lagi baginya.


"Ini gue," ucapnya, membuat Gista mengingat-ingat siapa orang yang ada di hadapannya sekarang.


Kedua mata Gista berbinar saat mengingat siapa orang yang ada di hadapannya sekarang. "Debby," tebaknya, yang langsung dibalas dengan anggukan gadis itu.


"Ya, ampun, Gista. Ini beneran Lo, kan?"


"Iya, ini Gista. Aaaa ... Kangen," ucap Gista sambil memeluk Debby, tak peduli ada di mana mereka sekarang. Yang penting keduanya senang bisa dipertemukan dengan sahabat lamanya di sana.


Dua menit kemudian, mereka saling melepaskan pelukannya. Senyum di bibir keduanya terangkat, setelah dua tahun tidak bertemu. Akhirnya, sekarang mereka dipertemukan lagi.


"Kok  Debby ada di sini, sih? Sejak kapan Debby ke Jakarta?" tanya Gista, karena yang ia tahu Debby berada di Bandung saat ia pamit untuk pindah ke Jakarta.

__ADS_1


"Satu Minggu setelah lo pergi ke Jakarta, gue sekeluarga juga pindah ke Jakarta. Soalnya, bapak gue di pindah tugaskan ke cabang yang ada di Jakarta," jawabannya, tahu begitu mungkin selama ini Gista bisa ajak Debby ketemuan.


"Tau gitu, kita masuk ke SMA yang sama lagi aja, By. Biar satu sekolah lagi kita," ujar Gista, Debby adalah satu-satunya sahabat terdekatnya sejak SD.


"Tadinya gue udah mau ngasih tau ke lo, waktu gue udah di Jakarta. Tapi, ponsel gue ilang. Gue nggak punya nomor lo, jadi bingung mau hubungin lo gimana. Mana gue kagak tau alamat rumah kakak lo lagi," jelas Debby.


"Nanti kita tukeran nomor telepon, deh, biar gampang nanti kalau mau ketemu lagi. Ah, sumpah Gigi kangen banget sama, Debby." Debby mengangguk, ia pun sama-sama merindukan sahabatnya itu.


"Lo ke sini sama siapa, Gi? Sendirian?"


"Iya, sendiri aja. Kalau Debby?"


"Tuh, sama orang yang ada di belakang lo," jawabnya, yang membuat Gista berbalik badan untuk melihat siapa orang yang ada di belakangnya.


Saat itu juga, Gista kaget saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya. "Loh, Bara."


"Lo kenal sama Bara, Gi?" tanya Debby.


"Kenal, Bara, kan, temen sekelas Gigi. Debby kenal juga sama Bara?" tanya balik Gista. Lalu, ia teringat sesuatu dan langsung kembali menoleh pada Bara. "Atau, jangan-jangan pacar Bara itu Debby, ya?"


Debby terkekeh mendengarnya, sedangkan Bara memutar bola matanya malas. Ia sebenarnya sudah malas sedari tadi berada di sana, ia ingin cepat pulang. Tapi, Debby malah lama saat memilih novel ditambah saat melihat Gista dan pergi begitu saja menghampiri Gista.


"Bukan, gue bukan pacarnya Bara. Tapi, gue kembarannya Bara," jawab Debby yang membuat kedua mata Gista membulat.


"Huh, kembaran? Sejak kapan?" tanya Gista, ia benar-benar tidak tahu soal ini. Karena, sebelumnya Debby tak pernah cerita jika dirinya punya kembaran.


"Ya, sejak lahir lah," ujar Bara, di mana-mana anak kembar lahirnya bersamaan di hari yang sama. Mana ada anak kembar yang satu lahirnya hari ini, yang satunya lagi lima tahun yang akan datang.


"Kok, Gigi nggak tau?"


"Iya, juga, sih. Eh, tapi Debby kenapa nggak sekolah di sekolah yang sama kayak Bara? Padahal, kalau Debby sekolah di sana juga, siapa tau kita bisa satu kelas," ujar Gista, biasanya anak kembar suka di sekolahkan di sekolah yang sama. Tetapi, kenapa mereka tidak?


"Gue bosen satu sekolah mulu sama ini anak, dari TK, SD sama SMP kita satu sekolah. Masa SMA juga mau sama, keliatan banget gue kembarnya sama dia," jelas Debby.


"SD sama SMP kita satu sekolahan juga, kan, By. Kok, Gigi nggak tau kalau Bara sekolah di sana juga?" tanya Gista, benar-benar bingung.


"Dia mah kerjaannya bolos mulu, jarang banget sekolah. Untung aja otaknya pinter, kalau nggak tau, deh, bakalan kayak gimana."


"Oh, pantesan."


Bara berdecak sebal, sampai kapan dirinya akan berada di sana terus dan menyaksikan dua sahabat yang baru dipertemukan lagi?


"Udahan elah ngobrolnya, gue mau balik, nih. Debby cepetan, lo udah, kan, pilih novelnya."


"Iya, bentar elah. Lo udah pilih novelnya, Gi? Kalau udah, biar kita bareng aja ke kasirnya," ajak Debby.


"Udah, yaudah, yuk." Debby mengangguk, lalu mereka pun pergi ke kasir untuk membayar novel yang akan dibelinya.


---


"Jadi ini rumah abang lo itu, Gi?" tanya Debby, saat ini mereka berada di depan pagar rumah Gista. Sehabis dari Plaza tadi, Debby meminta Bara untuk mengikuti motor Gista. Memastikan kalau Gista baik-baik saja sampai rumahnya.


"Iya, mau pada mampir dulu nggak?"


"Ya, ampun, Gista. Kalau gue tau Lo tinggal di sini dari awal, tiap hari gue ke sini, deh. Gue juga tinggal di kompleks perumahan ini tau nggak," ujar Debby, yang senang saat tahu rumahnya dan rumah Gista masih dalam perumahan yang sama.

__ADS_1


"Seriusan Debby?" Debby mengangguk antusias, "emang rumah Debby yang mana, Gigi nggak tau?" tanya Gista.


"Rumah Lo ini, kan, di jalan mawar. Nah, rumah gue di jalan anggreknya. Nggak jauh dari sini, kok."


"Wah, jadi kita gampang dong, ya, kalau mau ketemu. Kapan-kapan Gigi main ke rumah Debby boleh nggak?"


"Ya, boleh lah."


Gista bersorak kegirangan, lalu memeluk Debby lagi. Ia masih merindukan sahabatnya itu, bagaimana tidak rindu. Sembilan tahun mereka bersahabat, dan dua tahun ini keduanya tak bertemu.


Bara yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya bisa pasrah menunggu keduanya selesai melepaskan rindu, namun ia juga tak bisa menahan sudut bibirnya untuk terangkat ke atas saat  melihat dua gadis itu.


"Yaudah, gue pulang dulu, ya. Besok-besok kita main oke," ucap Debby setelah melepaskan pelukannya.


"Oke, siap!"


Debby pun naik ke motor Bara, tanpa membutuhkan waktu lama. Bara pun menancapkan gas motornya untuk segera pulang.


Begitu pula dengan Gista, yang masuk ke dalam perkarangan rumahnya dengan motor matic-nya.


---


Jam pelajaran ketiga sampai kelima, kelas 11 IPA-3 diisi dengan pelajaran olahraga. Berhubung guru olahraga mereka sedang berhalangan hadir, jadi mereka dibebaskan untuk memilih olahraga apa saja. Asalkan, selama jam pelajaran mereka tetap berada di lapangan, tidak ada yang bolos ataupun tiduran di kelas.


Gista memilih bermain basket, bukan main seperti sedang bertanding yang Gista lakukan.  Ia tidak lari-larian untuk mendapatkan bola basket dari lawan, terus memasukkan bolanya ke dalam ring. Tetapi, yang dilakukan Gista adalah berdiri di satu titik, dan melemparkan bola basketnya ke dalam ring. Berkali-kali ia melakukan itu, karena bola yang ia lemparkan selalu gagal masuk ke dalam ring basketnya.


"Ya, elah, kenapa nggak masuk terus, sih?" gregetnya, lalu berjalan mengambil bola basket yang menggelinding setelah gagal masuk ring. Habis itu, Gista kembali ke pijakannya yang tadi dan kembali berusaha memasukkan bola basket itu lagi.


Gista adalah salah satu orang yang tidak akan mudah menyerah kalau ia belum berhasil, maka dari itu ia terus mencoba memasukkan bola basket ke dalam ring yang lumayan tinggi.


Kedua mata Gista menyipit memfokuskan kedua matanya melihat ke satu arah, hanya pada ring basketnya. Setelah yakin jika kali ini bolanya akan masuk, Gista pun melompat dan melempar bola basketnya ke dalam ring sesuai fokus kedua matanya, hingga ...


Shoot


Bola basket itu, berhasil masuk ke dalam ringnya. Membuat Gista kesenangan sampai jingkrak-jingkrak sendiri sambil bersorak.


"Lili ... Gigi berhasil masukkin bolanya, Gigi bisa, Li!" teriaknya pada Lili yang sedari tadi sedang bermain voli bersama teman-temannya yang lain.


Lili menoleh pada Gista, lalu meninggalkan sejenak permainan volinya hanya untuk menghampiri Gista.


"Berapa kali masuknya, Gi?"


"Satu kali!" jawabnya dengan semangat 45, membuat Lili melongo di tempatnya. Hanya bisa masuk satu kali bolanya, Gista bisa sesenang itu sampai jingkrak-jingkrakan.


"Lili tau nggak? Gigi berhasil memasukkan bola ke dalam ring satu kali, setelah seratus sembilan puluh sembilan kali gagal. Dan, Gigi butuh waktu satu jam dua puluh lima menit sembilan detik, cuma untuk bisa berhasil satu kali memasukkan bola basket ke dalam ring. Hebat, kan, Gigi."


Lili yang senang melihat wajah cerianya Gista ikut jingkrak-jingkrakan, sambil bersorak-sorak. "Yeyeeee ... Gigi bisa masukin bola ke dalam ring, sahabat gue hebat, kan, ya!" teriaknya membuat teman sekelasnya yang lain melihat ke arah mereka dan menggelengkan kepalanya. Mereka sudah tak aneh lagi dengan kelakuan Gista dan Lili yang seperti anak kecil itu.


Apalagi, Gista yang polosnya minta dikondisikan. Gadis itu, orangnya berekspresi. Jika senang maka wajahnya akan berseri-seri, kalau sedih wajahnya terus ditekuk. Gista tak bisa menyembunyikan rasa yang sedang dialaminya, dan satu lagi gadis itu terlalu jujur.


"Yee ... Berhasil berhasil oyeee berhasil ...!" seru Gista senang.


Tanpa disadari, sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikan Gista. Kedua sudut bibirnya terangkat, melihat Gista yang kegirangan.


---

__ADS_1


__ADS_2