
Gista tengah serius memandangi layar ponselnya yang memutar video dari aplikasi YouTube-nya, kedua telinganya menggunakan headset untuk mendengar suara dari video itu. Ia tengah menunggu Lili sebenarnya, yang sedang ke ruang OSIS. Dirinya menunggunya di depan ruang TU sambil tethering WiFi gratis yang ada di ruang TU itu. Lumayan dirinya bisa nonton di YouTube sebelum Lili selesai dari ruang OSIS.
"Wifi-an, ya, lo!" tuding seseorang yang tiba-tiba mengageti Gista.
Gadis itu, mendongkakkan kepalanya sambil melepaskan satu headset di telinganya, kemudian menoleh pada si pelaku yang mengagetinya.
"Ngagetin aja, sih, Bara," ujarnya. Bagaimana tidak kaget, Bara tiba-tiba datang sambil menepuk bahunya sedikit keras. Padahal, dirinya tengah fokus nonton.
"Gratisan mulu lo maunya, YouTube-an pakek WiFi gratis. Nggak modal," cibir Bara.
"Apa salahnya? Nggak ada yang larang Gigi wifi-an di sini, selagi ada yang gratis kenapa nggak di manfaatin aja?" balas Gista tanpa ada rasa tersinggung setelah dicibir Bara.
"Iya, sih. Btw, nonton apa lo? Gue lihat serius amat, nonton bokep, ya, lo!" tuduh Bara, membuat Gista menautkan sebelah alisnya.
"Bokep? Bokep itu apa? Gigi baru denger, film Indonesia atau luar negri? Genrenya apa? Humor, romance atau action?" tanya Gista, membuat Bara tercengang mendengarnya. Ia baru sadar jika gadis itu terlalu polos, mana mengerti tentang begituan.
"Lo nggak tau bokep apaan?" Gista menggeleng yakin, pasalnya ia baru mendengarnya saat Bara menyebutkannya barusan. Bara berpikir sejenak, jangan sampai Gista bertanya lebih lanjut mengenai pembahasan ini.
"Nanti Gigi cari di google, deh."
"Eh, jangan!" larang Bara cepat, membuat kening gadis itu menyerinyit.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan, bokep itu dilarang keras untuk di pertontonkan. Bahaya, jangan mau tau."
"Kok, Bara tau kalau itu dilarang keras, terus bahaya? Bara pernah nonton, ya?" tebak Gista, membuat Bara kaget. Jangan berburuk sangka pada Bara, meskipun ia berkata seperti itu. Ye, ia tidak pernah mengotori mata dan pikirannya untuk menonton video seperti itu.
"Enak aja, gue nggak pernah nonton kayak begituan. Pokoknya lo jangan cari tau, dosa tau. Lo bisa ditangkap polisi," ujar Bara membuat Gista takut, apalagi bawa-bawa dosa dan polisi.
"Nggak akan, Gigi nggak akan cari tau. Janji!" Ucap Gista sambil menunjukkan jadi terlunjuk dan tengahnya hingga membentuk V.
Rasanya Bara ingin sekali tertawa saat melihat wajah Gista sekarang, namun ia berusaha untuk tetap menahan tawanya. "Emang, dari tadi lo nonton apa, sih?" tanya Bara masih penasaran.
"Dora the Explorer," jawabnya sambil menunjukkan ponselnya, membuat Bara melongo saat itu juga.
"Dora? Bocah kecil yang rambutnya pendek, yang mainnya sama monyet itu?" tanya Bara memastikan yang langsung dibalas dengan anggukan antusias Gista. "Gue kira lo nonton drama Korea," ujarnya, pasalnya kebanyakan sekarang orang-orang demam drama korea. Apalagi, cewek-cewek yang fanatiknya minta ampun sama yang namanya drakor. Sampai-sampai pemeran cowok di drakor itu sering disebut-sebut pacarnya lah, suaminya lah. Dan, banyak macam lainnya.
Tetapi, Gista? Gadis kelahiran tahun berapa dia itu, sudah tujuh belas tahun masih suka nonton kartun Dora the Explorer. Luar biasa! Namun, itu lebih baik menurut Bara, gadis polos seperti Gista jangan berani nonton yang macam-macam.
"Gigi nggak suka nonton film begituan, nggak ngerti bahasanya. Teman sekelas kita aja banyak yang nangis-nangis nggak jelas setelah nonton drakor, Gigi sukanya Dora. Seru, nggak perlu nangis-nangis. Tapi, berpetualang sambil membantu orang lain," jelasnya, membuat Bara takjub mendengarnya. "Gigi jadi mau anak panah yang warna birunya setiap kali nonton Dora," lanjutnya kali ini membuat sebelah alis Bara terangkat.
"Kenapa pengen jadi panahnya? Bukan si Dora-nya?"
"Soalnya, panah itu yang selalu menunjukkan jalan yang benar ketika Dora kebingungan harus memilih antara jalan A dan B. Sama kayak peta, dia selalu nunjukkin ke mana saja yang harus dilalui Dora," jawabnya, begitu semangat menjelaskannya pada Bara. Seolah Bara itu, anak kecil yang tidak tahu film kartun itu.
"Woy ... Lagi ngapain lo berdua?" ujar Lili yang baru datang.
"Lagi ngomongin Dora dan teman-temanya," jawab Gista semangat, gadis itu memang selalu terlihat bersemangat jika membicarakan tentang kesukaannya. "Oh, ya, Lili udah selesai dari ruang OSIS-nya?" tanya Gista yang dibalas dengan anggukan.
"Yaudah, sekarang aja, yuk, ke musholanya. Udah nggak penuh kayaknya sekarang." Lili kembali mengangguk mengiyakan.
"Bara udah sholat dzuhur belum?"
"Belum."
"Yaudah, bareng aja, yuk. Bara jadi imamnya, kita sholatnya berjamaah. Pahalanya lebih gede," ajaknya yang dibalas dengan anggukan Bara.
Mereka bertiga pun berjalan menuju musholla sekolah, yang tidak terlalu jauh dari ruang TU. Sedari tadi, Gista memang sedang menunggu Lili untuk ke musholla.
---
Setelah istirahat kedua berakhir, seharusnya kelas Gista diisi dengan pelajaran bahasa Inggris. Tetapi, berhubung ada rapat guru. Jadi, sekarang mereka tidak belajar. Guru bahasa Inggris mereka sudah berpesan tadi, agar kelas jangan ribut dan tidak ada boleh yang keluar kelas selain izin ke toilet. Untuk itu, semua siswa-siswi kelas 11 IPA-3 memilih kegiatan yang tidak membuat kekacauan hingga keluar kelas.
__ADS_1
Kebanyakan dari mereka ada yang menggosip ria ala cewek-cewek, nobar ala cowok-cowok di pojokan. Ada yang tidur, dan ada juga yang selfie-selfie menuhin memori ponsel. Seperti Gista dan Lili, di bangkunya mereka berdua foto-foto dengan aplikasi camera yang banyak stiker berbagai karakternya.
"Nanti share-it ke ponsel gue, ya, Gi."
"Oke-oke."
"Itu stikernya lo download lagi yang banyak, yang baru-baru itu pada bagus."
"Siap!"
"Perhatian semua," ucap seseorang di depan kelas membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke depan. Dimana ada Dino yang kini berdiri di depan kelas. "Pada kepo nggak kenapa gue ada di depan kelas?"
"Kagak!"
"Ya, elah, kepo aja kenapa, sih. Biar pada penasaran," ujar Dino maksa.
"Emang lo mau ngapain, Dinosaurus?"
"Gini, barusan, kan, gue ikutan main TOD sama mereka," jawab Dino sambil menunjukkan kumpulan cowok-cewek yang sudah duduk melingkar di meja yang digabungkan. "Barusan kebagian gue, terus gue pilih dare. Nah, jadi tantangannya itu, gue disuruh nembak cewek yang gue suka. Sekarang, di sini gue mau memenuhi tantangan itu," lanjutnya
membuat semua orang penasaran sekarang.
"Ceweknya, anak kelas ini juga, No?"
"Wuidih ... Cinlok ini mah, siapa, No? Siapa?"
"Ada, yang jelas dia cewek."
"Ya, iyalah cewek, masa banci."
"Yaudah gercep, No. Gercep!"
Dino mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang tengah duduk di bangkunya, semua orang mulai menerka-nerka siapa yang sedang diperhatikan oleh Dino. Karena, di sana jajaran bangku siswi. Jadi, mereka bingung siapa yang dilihat Dino sedalam itu.
"Gista ..." ucapnya menggantung membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada Gista, termasuk satu cowok yang duduk di pojok ikut melihat kearah Gista dengan gelisah. Takut, apa yang dipikirkannya diucapkan oleh Dino.
Gista yang disebut Dino dan langsung diperhatikan semua teman sekelasnya, jadi bingung sendiri. Ia belum mengerti dengan situasi sekarang, begitu juga dengan Lili yang tengah penasaran apa yang akan diucapkan Dino selanjutnya.
"Gista."
"Apa, sih, Dino manggil-manggil terus, ngefans sama Gigi? Mau minta tanda tangan Gigi? Sini Gigi bakalab kasih, kok," kata Gista dengan polosnya, membuat suasana jadi ambyar.
"Gista gue suka sama sahabat lo," ucap Dino lantang di depan kelas, membuat semua murid langsung bersorak-sorak setelah mendengar ucapan Dino. "Agatha Liliana, lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Dino membuat orang yang disebutnya hampir jantungan dibuatnya.
Lili dan Gista langsung berpandangan dengan mulut yang ternganga, mendengar penuturan Dino membuat keduanya tercengang.
"Itu nama Lili, kan, yang disebut, Dino?" tanya Gista yang dibalas dengan anggukan Lili.
"Barusan Dino nyampein perasaannya buat Lili?" Lili mengangguk kembali.
"Dino nembak Lili buat jadi pacarnya?" Untuk yang ketiga kalinya Lili mengangguk.
Brak
Gista menggebrak meja sambil berdiri, membuat semua temannya tercengang melihatnya yang tiba-tiba menggebrak meja.
"Sahabat Gigi ditembak, woy. Sahabat Gigi ada yang suka!" teriak Gista heboh membuat semuanya kini melongo, Lili yang ditembak kenapa Gista yang heboh sendiri.
"Jawab, Li. Itu si Dino nungguin, Lili mau jadi pacarnya atau nggak?" ujar Gista membuat Lili bingung harus apa.
"Terima, terima, terima ...." Sorak semua siswa-siswi.
"Maju dong, Li. Cepetan," ucap Gista yang benar-benar heboh, sedangkan Lili masih linglung di bangkunya. Ia masih tak percaya jika Dino menyampaikan perasaan kepadanya.
__ADS_1
Karena, tak ada pergerakan sedikitpun dari Lili. Gista pun bangkit dari duduknya. Memutari jajaran bangkunya, lalu menarik tangan Lili dan membawanya ke depan kelas.
"Gigi lo apaan, sih?" bisik Lili yang kini menjadi pusat perhatian teman sekelasnya.
"Udah, Lili terima aja Dino. Bukannya Lili juga suka sama dia," balas Gista berbisik.
"Tapi, gue malu Gigi."
"Malu kenapa?"
"Di liatin banyak orang!"
"Oh, gitu." Lili menganggukkan kepalanya, sedangkan Gista berpikir sejenak. Bagaimana caranya agar Lili tidak malu lagi, hingga satu ide terlintas di otaknya.
"Woy, semuanya. Gigi minta kalian semua tutup mata," pintanya membuat semua orang menyerinyitkan dahinya.
"Buat apa kita disuruh tutup mata? Emang bakal ada adegan 17+++?" tanya salah satu temannya.
"Adegan 17+++ itu, maksudnya gimana? Adegan apa emang?" tanya balik Gista, tak mengerti.
"Itu loh yang, hot."
"Hot? Hotdog?! Adegan makan hotdog maksudnya? Emang ada yang jualan hotdog di sekolah ini?" tanya lagi Gista, membuat semua orang tak menyangka jika gadis itu benar-benar polos.
"Iyain ajalah biar cepet."
"Terus, Lo minta kita tutup mata buat apa, Gista?"
"Lili malu katanya di liatin kalian, jadi lebih baik kalian tutup mata aja. Gigi juga tutup mata, nih," ujarnya sambil benar-benar menutup matanya.
"Udah pada tutup mata belum?" tanya Gista, yang masih menutup matanya.
"Udah!" balas mereka semua.
"Yaudah, Lili jawab sekarang. Udah nggak ada yang ngeliatin, kok."
"Ekhem." Dino berdehem singkat, lalu menggenggam kedua tangan Lili. Membuat gadis itu, mendongakkan kepalanya dan menatap Dino yang juga tengah menatapnya. "Jadi, gimana Li? Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya lagi Dino membuat Lili menggigit bibir bawahnya.
Krik ... Krik ... krik ...
Suara di kelas itu, benar-benar hening. Karena, penasaran dengan jawaban yang akan diucapkan Lili pada Dino. Percuma sebenarnya mereka tutup mata, jika kedua telinganya bisa mendengar jawaban Lili. Padahal, Lili mau ini bersifat rahasia.
"Li ..." Lili menganggukkan kepalanya.
"Maksudnya ngangguk? Lo mau?" tanya Dino memastikan.
"Iya, gue mau."
"GUE DI TERIMA WOY!" teriak Dino membuat semua orang membuka matanya minus Gista, lalu bersorak-sorak sambil bertepuk tangan. Ada juga yang memukul-mukul meja.
"PJ, UUYYY ... PJ ... TRAKTIRAN UYYY TRAKTIRAN ... JANGAN LUPA TRAKTIR KITA SEKELAS LO!"
"DINO KAGAK JOMBLO LAGI, DINO KAGAK JOMBLO LAGI."
"HAYANG KAWIN WIN WIN WIN ... HAYANG KAWIN ... EUYY!"
Dan, masih banyak lagi sorak-sorakan anak kelas 11 IPA 3 saat itu, hingga yang membuat mereka terdiam adalah ketika ...
GUBRAK
"GISTA ...!" teriak mereka bersamaan, saat tiba-tiba Gista pingsan di depan kelas.
---
__ADS_1