Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
7. Tragedi hilangnya si Gaga Matic


__ADS_3

Gista mendengus kesal saat teman-teman satu piket kelas dengannya itu, malah pada kabur dengan alasan ada urusan. Sekarang, dirinya malah mengerjakan piket seorang diri saja di kelas. Apalagi, kelasnya itu entah kenapa hari ini sangat-sangat berantakan sekali. Meja tak beraturan barisannya, bangkunya ada yang di satu meja terdapat 3 bangku, di satu meja terdapat 4 bangku dan ada juga di satu meja tetapi tidak ada bangkunya.


Itu semua, karena teman-teman kelasnya yang sering tak bisa diam di mejanya sendiri. Narik bangku cuma untuk berkumpul di meja lain, dan melakukan rutinitasnya. Kalau tidak menggosip, paling nobar atau main Truth Or Dare.


Gadis itu, mengusap keringat yang ada di pelipisnya dengan tangan setelah selesai mengangkat semua bangku dan menyimpannya di meja secara terbalik. Sekarang, ia harus menyapu lantai kelasnya.


"Sinta, Devan, Angga, Rio dan Beben ... Mereka harus di denda besok, karena nggak piket hari ini. Awas aja kalau sampe nggak bayar," ujar Gista mengabsen teman satu piketnya yang malah kabur.


Meski kesal, tetapi Gista tetap menjalankan piketnya dengan benar tidak asal-asalan. Sampai kelas itu, bersih setelah menghabiskan waktu 15 menit untuk menyelesaikan semuanya.


Gista pun menyimpan sapu dan juga pengki ke tempat semula, lalu ia mengambil tas dan helmnya yang sempat ia simpan di atas meja guru. Ia pun keluar kelas, tak lupa menutup pintu kelasnya sebelum akhirnya ia pergi menuju parkiran.


Sepanjang koridor sekolah suasana sudah sepi, orang-orang sudah pulang setelah bel pulang tadi. Hanya ada beberapa orang saja, yang mungkin sedang mengikuti ekstrakurikuler yang diselenggarakan hari ini.


Setibanya di parkiran, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan motornya. Seharusnya Gista tak kebingungan mencari keberadaan motornya, apalagi parkiran itu sudah tak sepenuh pagi-pagi tadi. Di parkiran itu, hanya tersisa tiga motor saja. Dan, dari ketiga motor itu tidak ada motornya sama sekali.


Lalu, dimana motornya sekarang? Ia ingat betul, jika tadi pagi dirinya memarkirkan motornya tepat di tempat ia berdiri sekarang.


"Lhooo ... Motor Gigi mana?" Tanyanya pada diri sendiri, kenapa motornya bisa tidak ada? Padahal, sudah ia kunci stang motornya. Kuncinya pun ada pada dirinya, mana mungkin ada yang pakai motornya. Jika kuncinya saja ada pada dirinya.


"Gaga? Kamu dimana Gaga ..." Teriak Gista meneriaki motor matic nya yang tidak ada di parkiran.


"Gaga ..."


Tak ada sahutan.


Gista berlari menuju pos satpam yang berada di depan dekat gerbang sekolah, siapa tahu satpam sekolahnya tahu di mana motornya itu berada. Atau Pak satpam yang memindahkan motornya ke tempat lain.


"Pak Anto ... Pak Anto ..." Panggil Gista dengan berteriak, membuat orang yang dipanggilnya itu keluar dari pos satpam.


"Kenapa, Neng?" Tanya Pak Satpam bernama Anto itu.


"Pak Anto lihat motor Gigi nggak, Pak?" Tanya Gista harap-harap cemas, ia takut kalau motornya hilang.


"Motor yang mana, Neng?" Tanya balik Pak Anto.


"Motor matic Gigi, Pak. Yang warna putih, namanya Gaga. Ada sticker Winnie the Pooh di belakang motornya, Pak." Jawab Gista menyebutkan sedikit ciri-ciri motornya.


"Duh, maaf Neng ... Bapak nggak lihat, memangnya ada apa?"


"Motor Gigi nggak ada di parkiran, Pak. Padahal, kuncinya masih ada di Gigi, tadi pagi juga Gigi kunci stang motornya. Tapi, kenapa sekarang nggak ada di sana." Ujarnya, menjelaskan apa yang terjadi.


"Bapak nggak tau, Neng. Sedari tadi Bapak nggak lihat ada hal-hal yang mencurigakan di sekolah, semuanya aman-aman saja seperti sebelumnya." Ucap Pak Anto membuat Gista semakin takut motornya benar-benar hilang atau di curi orang.


Kedua mata Gista sudah berkaca-kaca, ia bingung sekarang harus bagaimana. Kalau Satpam di sana saja tidak tahu, lalu ia harus bertanya pada siapa lagi?


"Trus motor Gigi gimana, Pak?" Tanya Gista dengan bibir yang bergetar, karena menahan tangisnya.


"Lebih baik Neng pulang dulu saja, nanti kalau Bapak lihat motor Neng ada di sekolah ini. Bapak langsung kasih tau, Neng Gista." Usul Pak Anto, nyali Gista semakin menciut mendengar usulan Pak Anto.


Motornya hilang saja sudah membuat nyali Gista menciut untuk pulang ke rumah, takut di marahi Genta. Di tambah dengan pulang menggunakan kendaraan umum, makin menciut sudah nyali Gista untuk pulang karena takut naik kendaraan umum. Apalagi, sendiri.


Lalu, ia harus bagaimana sekarang?


"Udah, Neng. Neng pulang dulu aja, ini sudah sore. Nanti di cariin orang rumah lagi ..."


"Yaudah, Pak. Kalau gitu Gigi pulang dulu, kalau Bapak lihat motornya. Langsung kabarin Gigi ya, Pak." Pak Anto mengangguk sebagai jawaban.


Setelah pamit, Gista pun pergi dari sekolahnya. Meski ia bingung harus apa sekarang.


---


Di sinilah Gista sekarang, duduk di halte sekolah sendirian sambil menangis sesenggukan. Ia bingung harus bagaimana, mau pulang tapi takut dimarahin Genta. Karena, motornya tidak ada, tetapi jika ia tidak pulang. Ia semakin takut kalau Genta khawatir padanya, karena tidak ada di rumah.


Mau pulang pun Gista tak tahu harus bagaimana, ia benar-benar takut jika harus naik kendaraan umum sendirian. Mau menelpon Genta untuk meminta jemput, ponselnya sudah mati karena low-bat.


"Gaga ... Lo dimana?" Isaknya masih memikirkan Gaganya, si motor matic.

__ADS_1


"Gaga ..."


"Lo kenapa belum pulang?" Tanya seseorang yang membuat Gista mendongkakkan kepalanya untuk melihat siapa orang itu.


Tangis Gista semakin pecah saat melihat Bara yang baru saja bertanya padanya.


Bara menautkan sebelah alisnya, gadis itu malah semakin menangis. Ada yang salah dengan pertanyaannya?


Bara pun duduk di sebelah Gista, heran kenapa gadis itu malah menangis di sana bukannya pulang ke rumah.


"Lo kenapa nangis?" Tanya Bara heran.


"Gaga hilang ..." Jawabnya.


"Gaga? Siapa dia?"


"Motor matic Gigi, dia hilang. Gigi panggil-panggil nggak ada sahutan, Gaga hilang di parkiran sekolah." Memangnya motor matic nya itu orang, kalau di panggil bisa nyahut?


"Kenapa bisa hilang?" Gista menggelengkan kepalanya, kalau ia tahu motornya hilang. Mungkin ia tidak akan kebingungan seperti sekarang. "Gara-gara motor Lo hilang, makanya Lo belum pulang juga?"


Gista mengangguk kali ini sebagai jawabannya, ia belum bisa tenang sebelum motornya kembali lagi padanya.


"Ini udah sore tau, tetap aja Lo harus pulang." Ujar Bara.


"Gigi kan nggak berani pulang naik kendaraan umum, takut di culik. Tar penculiknya minta tebusan sama Bang Gege, kasihan Bang Gege nanti." Jelasnya, seperti yang pernah dikatakan Gista padanya ketika memaksa dirinya untuk mengantarnya pulang.


"Yaudah, bareng sama gue aja yuk pulangnya." Tawar Bara, kasihan juga melihat Gista yang menangisi hilangnya motornya.


"Ayo pulang," ajak Bara.


"Nggak mau ..."


"Kenapa lagi? Katanya takut kalau naik kendaraan umum, yaudah bareng sama gue aja ayok." Ucapnya, namun Gista menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nggak mau?" Tanya Bara bingung.


"Kenapa?"


"Takut di marahin Bang Gege, karena motornya hilang. Motor itu, berharga banget buat Gigi, Bara. Itu peninggalan kedua orangtua Gigi, Gigi harus apa sekarang?" Tanya nya dengan isak tangisnya yang semakin pecah.


Bara mengumpati orang yang sudah mengambil motor Gista, perbuatannya itu sudah membuat gadis polos seperti Gista menangis sampai sesegukan seperti ini.


"Udah, jangan nangis lagi. Kalau itu motor emang jodoh Lo, pasti itu motor bakal balik lagi. Sekarang Lo pulang, ayo gue anterin. Kalau Lo nggak pulang, kasihan Abang Lo pasti khawatir." Bujuk Bara, untung saja tadi setelah pergi bersama teman-temannya ke suatu tempat, ia pulangnya lewat sekolah lagi. Kalau tidak, ia tidak akan pernah tahu jika Gista belum pulang dan malah menangis di halte sekolah.


"Kalau Bang Gege marah gimana?"


"Lo bilang aja yang sejujurnya, pasti Abang Lo ngerti kok." Ucapnya. "Sekarang, pulang ya." Gista hanya mengangguk pasrah.


Gista pun ikut naik ke motor Bara, tak ada pilihan lain. Selain ikut pulang bersama Bara, dari pada ia tetap di sana atau naik kendaraan umum yang ujung-ujungnya malah takut sendiri.


---


"Udah masuk sana," ujar Bara pada Gista untuk yang kesekian kalinya, sejak sampai di depan pagar rumah Gista lima belas menit yang lalu. Gista tak mau masuk rumah, apalagi saat melihat mobil Genta yang sudah berada di perkarangan rumahnya yang artinya Genta sudah pulang lebih dulu.


"Gigi takut di marahin Bang Gege, Bara." Ucapnya masih dengan isak tangisnya yang belum selesai sejak tadi.


Bara menghela nafas panjangnya, jika gadis itu hanya menangis saja. Masalah tidak akan kelar, ia mengerti jika Gista takut dimarahi oleh kakaknya. Tapi, jika Gista tidak jujur nanti akan lebih panjang urusannya.


"Nggak akan, Abang Lo nggak akan marah. Percaya sama gue."


"Kenapa Bara bisa yakin kalau Gigi nggak akan di marahin?" Tanya Gista.


"Ya yakin aja, feeling gue nggak pernah salah. Udah masuk sana ..." Gista menggelengkan kepalanya, ia masih takut untuk masuk ke dalam rumahnya. "Yaudah, kalau Lo nggak mau masuk. Gue mau pulang," ujarnya, sambil kembali menghidupkan mesin motornya.


"Eh, jangan dulu ... Gigi mohon, tunggu dulu sebentar doang sampe Gigi berani masuk ke rumah." Pinta Gista dengan wajah memelasnya.


Bara memutar bola matanya malas, kapan gadis itu akan berani masuk? Dari tadi saja Gista malah menangis, di suruh masuk malah geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Gista menggigit bibir bawahnya dengan keras, ia benar-benar ketakutan hanya untuk masuk ke dalam rumahnya dan jujur pada Kakaknya itu.


"Jangan di gigit bibirnya, entar bisa berdarah bibir Lo." Ucap Bara sambil menarik tangan Gista agar mendekat padanya.


Secara refleks tangan Bara mengusap Bibir bawahnya Gista yang barusan gadis itu gigit, sontak saja Gista membeku di tempatnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat lagi dari sebelumnya, padahal Bara hanya mengusap bibirnya saja. Tidak lebih.


Tersadar dengan apa yang dilakukannya secara refleks itu, Bara menjauhkan tangannya dari bibir Gista.


"Masuk sana." Perintah Bara.


"Takut di marahin, gimana dong?"


"Nggak akan, Abang Lo nggak akan marahin lo. Asalkan Lo jujur sama Abang Lo, percaya deh sama gue." Gista tampak berfikir sejenak, apakah yang dikatakan Bara itu benar? Genta tidak akan marah padanya, jika tahu motornya hilang?


"Gini aja deh, kalau Abang Lo nanti marah. Besok Lo bisa pukul gue sepuasnya, tapi kalau Lo nggak dimarahin sama Abang Lo. Lo harus traktir gue selama dua hari di kantin."  Lanjutnya, membuat Gista menyerinyitkan dahinya.


"Enakan di Bara dong, kalau misalnya Gigi nggak di marahin trus Gigi harus traktir Bara selama dua hari. Gigi nggak mau,"


"Serah Lo deh, masuk sana. Gue mau pulang ini ..."


Gista menghela nafasnya berat, lalu menganggukkan kepalanya. "Sebelumnya, makasih ya udah mau nebengin Gigi pulang." Ucapnya.


"Hm,"


"Perlu Gigi bayar nggak buat ganti bensin Bara?" Tanya Gista, membuat Bara menatapnya dengan tajam.


"Gue bukan tukang ojek! Gue balik!" Bara kembali menyalakan mesin motornya, yang sempat ia matikan kembali tadi. Lalu, ia pun menancapkan gas motornya meninggalkan Gista.


Sedangkan, Gista masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang di tekuk. Takut jika Genta akan marah saat tak ada motornya.


"Kenapa baru pulang, Gi?" Tanya Genta yang sudah berada diambang pintu utama rumahnya, membuat Gista terlonjak kaget mendengarnya.


Gista tidak berani mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Genta, ia takut Kakaknya itu memarahi dirinya.


"Maaf, Bang." Ucapnya masih dengan kepala menunduk.


"Yaudah, masuk ke dalam rumah sana. Abang cuma khawatir kamu belum pulang tadi, apalagi nomor kamu nggak aktif." Ujar Genta.


Gista tidak bergerak sedikitpun dari pijakannya, ia bingung harus jujur bagaimana pada Genta. Perlahan air mata Gista meluruh lagi, bahunya bergetar saat tak bisa menahan tangisnya di depan Genta.


"Kamu kenapa, Gi?" Tanya Genta heran.


Gadis itu mendongkakkan kepalanya, ia harus jujur pada Genta. Meskipun setelah ini Genta akan marah padanya, ia siap. Asalkan tidak ada kebohongan yang dilakukannya. "Bang Gege, maafin Gigi ..." Ujarnya membuat Genta kaget melihat dirinya yang menangis.


"Ya ampun, Gi. Kamu kenapa nangis? Udah jangan nangis, Bang Gege maafin kok. Tapi, lain kali kalau pulang telat kasih tau Abang, biar Abang nggak khawatir mikirin kamu yang belum pulang." Ucap Genta sambil mengusap lembut rambut Gista.


"Bukan masalah itu, Bang." Rengeknya.


"Lalu? Masalah apa?"


"Motor Gigi hilang, Bang. Gigi nggak tau Gaga ada di mana ..."


"Hilang? Ya ampun ... Tapi, kamu nggak kenapa-kenapa kan? Nggak terjadi sesuatu sama kamu kan?" Tanya Genta panik, sambil memutar tubuh Gista untuk mengecek apakah adiknya itu ada yang terluka.


"Bang Gege, yang hilang itu motornya Gigi. Gigi nggak kenapa-kenapa, kenapa tubuh Gigi di putar-putar segala?" Ujar Gista yang malah kebingungan dengan apa ya gan dilakukan Kakaknya itu.


"Abang cuma takut, kamu kenapa-kenapa, Gi. Kamu adek Abang satu-satunya, Abang nggak mau terjadi sesuatu pada kamu." Kata Genta.


"Gigi nggak kenapa-kenapa, Bang. Tapi, motor Gigi hilang ..."


"Syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa, soal motor nggak usah di pikirin. Kalau motor itu, memang jodoh kamu. Pasti motor itu, akan kembali sama kamu. Kalau bukan jodoh kamu, yasudah ikhlasin aja motornya." Ucap Genta, sekilas seperti yang di katakan Bara tadi saat membujuknya untuk ikut pulang.


"Bang Gege nggak marah sama Gigi?" Tanya Gista.


Genta menggelengkan kepalanya, lalu merangkul adiknya itu. "Nanti Abang ganti motor kamu, kalau Gaga nggak ketemu." Ucapnya begitu santai. Padahal, sedari tadi ia sudah ketakutan sendiri. Takut Genta marah padanya.


"Sudah, ayo masuk." Ajaknya yang dibalas dengan anggukan Gista. Sekarang ia sedikit bernafas lega, dirinya tidak di marahi oleh Genta.

__ADS_1


---


__ADS_2