Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
30. Raja & Rajani


__ADS_3

Do you know, if i liked you from the past until now, Rajani.


-Raja-


Air mata Gista kembali menetes, sudah beberapa kali ia membaca kalimat itu dan ia tidak bisa menahan tangisnya. Kenapa baru kali ini ia mengetahui jika Bara mencintainya dari dulu, ia tak pernah tahu jika Bara segitunya mencintainya. Sampai-sampai, Bara mengikutinya ke mana saja sejak dulu. Terbukti, pada foto-foto yang ia temukan di kamar Bara. Foto-foto dirinya yang dimiliki Bara, tetapi tidak dimiliki olehnya ataupun Keluarganya.


Rajani dan Raja, ia jelas tahu dua nama itu. Rajani adalah dirinya sendiri dan Raja adalah Bara, kedua nama itu diambil dari nama tengah mereka.


Yang semakin membuat dada Gista sakit adalah, kenapa ia baru sadar sekarang jika Bara adalah Raja yang ia kenalnya dulu, kenapa baru sekarang ia mengetahui semuanya, dan kenapa saat ia tahu semuanya hubungan antara dirinya dan Bara sudah berakhir?


"Kenapa jadi kayak gini, Bara? Kenapa Bara nggak pernah bilang sama, Gigi?" gumam Gista, masih sambil menatap kertas yang ia ambil tadi di kamar Bara.


"Dan, kenapa Bara nggak pernah bilang jika Bara itu adalah Raja. Raja yang selama ini Gigi kenal," ucap Gista, saat itu juga ia teringat kenangan saat ia berkenalan dengan bocah kecil bernama Raja.


Flashback On


Seorang gadis kecil yang berumur 4 tahun, tengah berdiri sendiri sambil terisak di depan kelas barunya.


Hari ini adalah hari pertama gadis itu masuk sekolah, kedua orangtuanya sudah mendaftarkan dirinya ke salah satu PAUD yang tidak jauh dari rumahnya.


Tetapi, gadis itu malah nangis di hari pertama sekolah. Karena, sang bunda harus pergi bekerja. Jadi, ia hanya diantar saja sampai depan kelasnya tidak sampai ditunggu sampai jam sekolahnya selesai oleh bundanya.


Dan, yang membuat gadis kecil itu menangis karena ia sendirian di sana, tak ada seorangpun yang dikenalnya. Ia takut sendirian di sana.


"Teman-teman, lihat di sini ada yang nangis," seru seorang bocah laki-laki yang sebaya dengannya. Membuat satu-persatu anak paud yang lainnya berlarian ke arahnya.


"Uuuhhh ... Kamu cengeng sekali," ejek salah satu dari mereka, yang membuat gadis itu semakin terisak.


"Jelek sekali kamu, udah jelek nangis lagi. Tambah jelek kamu,"


"Jelek-jelek, jelek-jelek,"


"Jangan ada yang mau jadi temen dia, dia itu jelek. Cengeng lagi,"


"Heh, kalian ngapain kumpul di sini? Pergi-pergi!" usir seorang bocah yang baru saja datang dan melihat ada kerumunan.


"Hei, liat. Si jelek lagi nangis, kamu jangan mau temenan sama dia ya," ucap salah satu dari mereka.


"Kenapa kamu bilang begitu? Itu nggak baik, kita itu juga harus temenan sama siapa aja. Jangan pilih-pilih teman," ujar bocah laki-laki itu tak suka mendengarnya.


"Tapi, kita nggak mau temenan sama dia. Iya kan teman-teman," balasnya.

__ADS_1


"Iya," seru teman yang lainnya serentak.


"Yaudah, kalau kalian nggak mau temenan sama dia. Tapi, jangan ejek dia lagi. Kalau kalian ejek dia, nanti aku bakalan laporin kalian ke Bu Guru." ancam bocah itu, yang membuat mereka takut saat mendengarnya.


"Sana kalian masuk ke kelas, jangan ganggu dia lagi. Atau mau aku laporin sekarang juga," Tanpa berbicara apa-apa lagi, bocah kecil berjumlah 3 orang itu berlarian masuk ke kelas sebelum mereka di laporkan pada Guru.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya bocah laki-laki itu, yang barusan menolongnya.


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, kepalanya masih ditundukkan karena takut.


"Kalau gitu, kamu jangan nangis lagi. Mereka nggak akan gangguin kamu lagi, kan ada aku," ucapnya.


"Makasih," ujar gadis itu membuka suara dan memberanikan diri menatap lawan bicaranya. Bocah itu, langsung mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.


"Kamu kenapa belum masuk?" Tanya bocah itu.


"Aku takut, nggak punya teman." Jawabnya.


"Kalau gitu, kita temenan ya. Sekarang kamu nggak usah takut lagi," ucapnya yang membuat kedua mata gadis kecil itu berbinar.


"Beneran?"


"Iya, mulai sekarang kita teman." Gadis itu menganggukkan kepalanya senang, akhirnya ada yang mau juga menjadi temannya.


"Nama aku, Gista. Biasanya di panggil, Gigi. Tapi, Bunda sering panggil aku Rajani. Dan, aku sangat suka di panggil Rajani," jawab gadis itu sambil tersenyum saat memperkenalkan diri.


Bocah laki-laki itu mengangguk seraya berkata, "Oh, kalau gitu aku juga panggil kamu, Rajani."


"Kenapa memilih panggil Rajani? Kenapa nggak Gigi aja?" Tanyanya.


"Biar kamu suka sama aku, kalau aku panggil kamu, Rajani." Jawab bocah itu.


"Oh gitu, lalu nama kamu siapa?"


"Panggil aja aku, Raja."


"Raja?"


"Iya, aku Raja dan kamu Rajani." Gadis kecil itu mengangguk, lalu tersenyum dengan lebar.


---

__ADS_1


Jam istirahat, semua anak-anak paud berlarian keluar dari kelas. Ada yang 0ergi ke kantin, main perosotan dan ayunan di taman, ada yang membaca dongeng di depan kelas, ada juga yang bermain dengan boneka yang dibawanya di rumahnya.


Sedangkan Raja dan Rajani, akan memakan bekal makanan yang dibuat orangtuanya di rumah. Mereka memilih menikmati makanan itu di bangku taman berdua.


"Yah, sayur! Aku kan nggak suka sayur, tapi mama aku selalu saja membuatkan aku sayuran," ucap Raja ketika melihat isi bekal yang dibawanya itu.


"Sayur itu kan baik, Raja. Sehat," ujar Rajani yang memang suka dengan sayuran, tidak seperti Raja.


"Tapi, tidak enak. Aku nggak suka, Rajani." balas Raja yang enggan memakan sayuran itu, meski dibuat oleh mamanya.


"Kalau gitu, kita tukeran makanan aja. Nih, aku bekal sama ayam goreng," ucap Rajani, sambil memberikan kotak bekalnya pada Raja.


"Tapi ---"


"Nggak apa-apa, lagian aku nggak suka ayam bagian paha. Sukanya bagian dada sama sayap, jadi kamu makan aja." potong Rajani, saat melihat keraguan diwajah Bara.


"Beneran?" Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.


Mereka pun akhirnya saling bertukar bekal mereka, lalu langsung memakannya sebelum istirahatnya berakhir.


"Enak," ucap Rajani, membuat Raja menautkan sebelah alisnya. Enak dari mananya sayur itu? Raja tidak mengerti, karena ia tidak suka. Ia pernah mencoba makan sayur, tetapi saat baru satu kali mengunyah ia langsung memuntahkannya lagi. Karena, rasanya aneh sekali.


"Ayam goreng lebih enak," ujar Raja.


"Sama-sama enak menurut aku," balas Rajani.


"Semua makanan sepertinya enak menurut kamu," tebak Raja yang langsung diangguki Rajani.


Raja hanya tersenyum saat melihat Rajani mengangguk dengan mulutnya yang masih mengunyah makanan, terlihat sangat lucu baginya.


---


Flashback off


"Kalau aja dari dulu Gigi tau kalau Bara itu, Raja. Mungkin, Gigi nggak akan mau ikuti ide mereka, Bar. Kenapa sekarang kita jadi kayak gini? Bukan ini yang Gigi mau," ucap Gista masih dengan isak tangisnya.


Selama ini Gista memang tidak pernah tahu jika Bara itu adalah Raja yang dikenalnya dulu, ia hanya berteman sampai lulus TK saja saat itu. Ketika masuk SD, Gista tak pernah tahu Raja masuk ke SD mana. Tapi, tanpa disadari ternyata sejak dulu mereka selalu sekolah di tempat yang sama.


Hanya saja Gista tak tahu, kenapa ia tidak bisa bertemu dengan Bara. Jika, saat SD-SMP pun mereka satu sekolahan. Dan, entah kenapa Bara tidak pernah menghampirinya sekalipun saat Bara tahu kalau Gista bersekolah di sekolahnya juga.


"Maaf, Gigi minta maaf, Bara."

__ADS_1


---


__ADS_2