Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
19. Kegalauan Gista


__ADS_3

Hachim ...


Hachim ...


Gista menghapus ingusnya yang meler dengan tissu, seharian ini ia sudah menghabiskan 3 pack tissu hanya untuk menghapus ingusnya. Ia bersin-bersin akibat kemarin hujan-hujanan di sekolah, tubuhnya juga meriang sampai demam. Membuatnya tidak masuk sekolah hari ini.


Jadinya, seharian ini Gista hanya diam saja di kamar. Sakit kali ini ia di rawat oleh Mica calon kakak iparnya. Genta memang sudah tunangan dengan Mica enam bulan yang lalu, dan mereka akan menikah dua bulan lagi. Untuk itu, selain Genta sibuk kerja Genta juga sibuk ngurus pernikahannya dengan Mica nanti, yang membuat sering kesepian di rumah. Tapi, sekarang Gista senang karena tidak sendirian di rumah. Ada Mica yang sangat baik padanya mau menemaninya.


"Abang kamu kok ngeselin sih, Gi?" tanya Mica yang kini ikut rebahan di kasur milik Gista.


"Ngeselin gimana, Kak?" tanya balikĀ  Gista.


"Pokoknya ngeselin, Gi. Kan Kakak barusan upload foto di instagram, foto nya itu waktu kakak lagi main di puncak sama temen-temen. Trus Genta malah coment gini 'Posenya kayak kelinci yang lagi joget goyang dumang.' gitu, kan ngeselin." jawab Mica menceritakan kekesalannya itu.


"Apa semua cowok itu suka nyebelin sama ngeselin ya, Kak?" ucap Gista bingung membuat Mica menautkan sebelah alisnya.


"Emm ... Nggak semua sih, Gi."


"Tapi, Bara juga ngeselin + nyebelin, Kak."


"Bara? Siapa?"


"Ada pokoknya, cowok. Masa kemarin Bara bilang kalau gambar winie the pooh yang Gigi gambar di papan tulis itu makhluk nggak jelas bentuknya apa. Trus ngatain gambar Gigi itu kayak kangguru lagi senam jumba, kan nyebelin." ujar Gista yang sama-sama memiliki kekesalan seperti Mica.


"Nyebelin lagi kalau udah usil, Gi." ucap Mica yang langsung di setujui oleh Gista.


"Bener banget itu, Kak."


Ting


Bunyi notification ponsel itu, membuat Gista mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang ia simpan di nakas. Gista pun mengambil ponselnya dan langsung memeriksa notif yang baru masuk itu.


Debara Raja Adiatama


Istirahat kali ini lo ke kantinnya


bareng Lili dulu, ya. Kalau males


ke kantin nitip aja sama Panji,


Jono ataupun Dino.


Gista mengerutkan dahinya saat membaca WhatsApp dari Bara, untuk apa Bara mengirim pesan seperti itu? Apa Bara tidak tahu kalau Gista tidak sekolah hari ini? Tapi, mana mungkin kan mereka satu kelas. Jadi, Bara pasti tau.


Ngapain Bara nyuruh Gigi


ke kantin?


Ya, kalau jam istirahat kan


biasanya lo ke kantin.


Makan biar magh lo nggak


kambuh.


Ya, tapi ngapain Gigi ke kantin?


Kalau Gigi lapar ya tinggal ke


dapur.


Kok ke dapur sih?


Yaiyalah, orang Gigi ada di


rumah.


Gista tidak mendapatkan balasan lagi dari Bara setelah itu, tapi selang satu menit Bara malah menghubunginya lewat Video call.


Sebelum menjawab panggilan video call dari Bara, Gista menoleh terlebih dahulu pada Mica. Ternyata, Mica sudah tertidur. Pantas saja ia tak mendengar suaranya lagi.


Gista pun menjawab panggilan video call dari Bara setelah memastikan jika Mica benar-benar tidur.


"Kok lo ada di rumah, Gi?" tanya Bara to the point saat wajahnya sudah memenuhi layar ponselnya itu.


"Gigi nggak sekolah, Bara." jawabnya dengan nada suara yang beda karena flu.


"Kok bisa? Kenapa?"


"Gigi kan sakit, masa Bara nggak tau? Padahal, Gigi udah kasih tau KM sama wali kelas."


"Ya mana gue tau, Gi. Gue kan juga nggak sekolah."


"Bara nggak sekolah? Kenapa? Bolos lagi, ya?"


"Gue sakit, Gi. Bukan bolos!"


"Masa?"


"Nggak percayaan banget kalau gue sakit."

__ADS_1


"Abisnya dulu Bara suka bolos, jadi kalau Bara nggak sekolah. Gigi nyangkanya bolos."


"Tapi, sekarang gue kan nggak pernah bolos lagi."


"Kenapa nggak bolos lagi? Padahal dari kelas satu banyak banget huruf A di absensi Bara."


"Kan ada lo."


"Emang kenapa kalau ada, Gigi?"


"Di sekolah kan ada lo, yang selalu bikin gue ketawa dengan tingkah polos lo. Jadi, ngapain juga gue bolos cuma buat cari hiburan."


Gista berdecak, ternyata selama ini Bara sering menertawakannya di belakangnya.


"Gigi bukan badut ya, jadi nggak usah ngetawain Gigi." gerutunya sebal, tapi malah membuat Bara terkekeh di sebrang sana.


"Suruh siapa polosnya kebangetan?!"


"Emangnya yang ngerencanain kepolosan Gigi itu, Gigi sendiri? Enggak kali!" ujarnya semakin kesal.


"Tapi, kadang gue gemes sih lihat tingkah lo yang polos itu."


"Iya, sangking gemesnya Bara usilin Gigi terus."


Bara tertawa di sebrang sana, membuat Gista tambah kesal. Bara memang menyebalkan bukan?


"Oh jadi itu yang namanya Bara, Gi?" tanya seseorang yang membuat Gista terkejut saat mendengar suaranya tepat di telinga Gista.


Dan, karena keterkejutannya itu Gista tak sengaja melempar ponselnya hingga jatuh mencium lantai.


"Kak Mica, ngagetin!" ucap Gista yang benar-benar kaget.


"Hehe ... Sorry, abis penasaran ada suara cowok. Ternyata kamu lagi video call'an." ujar Mica sambil tersenyum tanpa dosanya.


"Kak Mica nguping, ya?!" tebak Gista.


"Kakak nggak nguping, cuma emang ke dengeran aja."


"Sama aja, intinya Kakak denger."


Mica hanya tersenyum, sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk seperti huruf V.


"Trus, bener ya cowok yang video call sama kamu itu yang namanya, Bara?" tanya Mica yang langsung di angguki kepala Gista.


"Trus?"


"Trus apa, Kak?"


"Trus Bara itu siapa nya kamu?"


"Yakin, cuma temen sekelas? Bukan pacar?"


"Pacar juga sih."


Kedua mata Mica berbinar mendengar pernyataan itu, betapa kaget nya ia jika calon adik iparnya itu tak takut lagi pacaran. Mica memang sudah tahu jika Gista dulu takut pacaran karena teori dari Debby saat mereka masih kecil.


"Sejak kapan? Kok nggak ngasih tau Kakak langsung sih?" tanya Mica penasaran.


"Malam ulang tahun, Gigi." jawabnya, yang semakin membuat kedua mata Mica berbinar.


"Serius?" Gista menganggukkan kepalanya tanda iya. "Kok bisa?" tanya lagi Mica.


Gista pun menceritakan semuanya, di awal dari ia meminta Bara untuk menjadi pacar 1 X 24 jam yang berakhir menjadi pacaran beneran itu pada Mica. Dan, Mica benar-benar tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar cerita Gista.


---


Gista berjalan dengan gontai menuju kelasnya, pagi ini ia kurang bersemangat. Penyebabnya, karena ponselnya yang kemarin tak sengaja terlempar sampai jatuh olehnya itu rusak. Hampir semua layarnya retak-retak, dan ponselnya juga tidak menyala.


"Gi ... Gista!" panggilan itu, membuatnya menghentikan langkahnya. Lalu, berbalik badan untuk melihat siapa orang yang memanggilnya itu.


Ternyata yang memanggilnya itu, Bara. Cowok itu berlari menghampirinya sambil memperlihatkan senyumannya. Namun, sepertinya mood Gista memang sedang tidak baik sekarang. Jadi, untuk sekedar membalas senyumnya pun bibirnya terasa berat.


"Pagi." sapa Bara masih dengan senyumannya.


"Hm."


"Kok hm, doang?"


"Pagi." ulang Gista.


Bara menyerinyitkan dahinya melihat wajah Gista yang tidak ada cerianya pagi ini, apa mungkin Gista masih dalam keadaan sakit?


"Tumben nggak semangat? Masih sakit, Gi?" tanya Bara yang langsung di balas dengan gelengan kepala Gista. "Trus, kenapa?"


"Nggak apa-apa." jawabnya.


"Bohong banget, keliatan banget tau lo bohongnya. Kenapa sih?"


"Nggak apa-apa."


"Ck, bikin gue makin penasaran aja lo."

__ADS_1


Gista hanya mengangkat kedua bahunya acuh, lalu kembali melangkahkan kakinya lagi. Meninggalkan Bara begitu saja.


"Lah, gue di tinggal." ucap Bara.


"Gista, tungguin gue!" teriaknya sambil mengejar Gista yang terus saja berjalan.


---


"Lo kenapa sih diemin gue dari tadi? Gue ada salah sama Lo?" Tanya Bara pada Gista


yang duduk di bangkunya masih dengan raut wajah tidak ada semangat-semangatnya sejak tadi pagi Bara lihat.


"Nggak ada." Jawabnya.


"Trus kenapa diemin gue dari tadi?"


Gista menghela nafasnya gusar, lalu menoleh ke arah Bara yang sedari tadi terus saja bertanya kenapa dirinya mendiamkannya. "Gigi tuh lagi sedih, Bara." Ucapnya.


"Lo sedih kenapa?"


"Gio mati, Bara. Nggak bisa hidup lagi."


"Innalilahi ... Kapan, Gi?"


"Kemarin, waktu Gigi sama Bara lagi Video callan."


Bara terdiam sejenak, memikirkan siapa sebenarnya Gio itu? Ia baru tahu nama itu, ia juga belum pernah bertemu dengan Gio. Apalagi, Gista baru menyebutkan nama itu sekarang.


"Sebenarnya, Gio itu siapa, Gi?" Tanya lagi Bara.


"Bara nggak kenal sama, Gio?" Tanya balik Gista yang di balas dengan gelengan kepala Bara. "Parah banget Bara nggak tau Gio, katanya Bara itu pacarnya Gigi. Tapi, Bara nggak tau Gio itu apa." Lanjutnya.


"Tapi, gue beneran nggak tau, Gi. Orang Lo baru sebut dia kali ini. Emang sebenarnya dia siapa?"


"Bukan siapa, tapi apa." Ralat Gista yang membuat dahi Bara menyerinyit.


"Maksudnya?"


"Gio tuh bukan orang, tapi ponselnya Gigi. Ponsel Gigi mati, Bara." Rengeknya dari kemarin Gista kalang kabut karena ponselnya mati setelah jatuh dengan tidak indahnya.


"Kalau mati tinggal di charger." Ujar Bara.


"Ih, bukan habis baterai. Tapi, ponsel Gigi tuh mati karena jatuh. Touchscreen nya juga retak. Ponsel Gigi rusak." Ingin rasanya Gista menangis, kedua matanya pun sudah berkaca-kaca.


"Yaudah, beli lagi aja yang baru."


"Gampang banget Bara bilang gitu, di pikir beli ponsel pakek daun. Gigi mana punya uang buat beli ponsel, ponsel Gigi yang itu aja di beliin Bang Gege. Kalau Gigi minta lagi sama Bang Gege, malu lah. Gigi udah banyak nyusahin Bang Gege." Ujar Gista.


"Trus gimana dong?"


"Nggak tau! Paling Gigi nggak bakalan pakek ponsel, sebelum Gigi punya ponsel yang baru." Balasnya, semalaman Gista uring-uringan karena ponselnya tidak menyala.


"Yaudahlah, nggak apa-apa. Lagian kalau Lo mau ketemu gue gampang kan, kita bisa ketemu di sekolah. Atau, lo bisa datang ke rumah gue kalau kangen. Nggak perlu chatt atau telpon dulu pakek ponsel." Ujar Bara membuat Gista menautkan sebelah alisnya.


"Sebenarnya, bukan karena itu Gigi galau. Gigi bodo amat kalau nggak bisa telponan atau chattingan, orang nggak pernah ada yang hubungi Gigi kalau nggak penting-penting amat. Tapi, yang bikin Gigi galau dari kemarin itu, Gigi nggak bisa baca cerita pacar-pacar khayalan Gigi di aplikasi NovelToon. Mana banyak banget cerita-cerita yang belum Gigi baca, sayang banget ponsel Gigi malah rusak." Ucap Gista menjelaskan.


Bara mendengus sebal mendengarnya, masa ia kalah dengan tokoh fiksi yang sering Gista baca. Gista lebih galau karena tidak bisa baca pacar khayalannya dari pada galau karena tidak bisa telpon atau chatting dengannya.


"Kok ngeselin sih, Gi. Masa gue kalah sama tokoh fiksi cerita yang Lo baca sih? Enakan juga yang nyata dari pada yang fiksi." Gerutu Bara tak terima.


"Tapi, yang fiksi lebih menarik hati. Gimana dong?"


"Ya, menarik hati. Tapi, kalau nggak bisa di miliki. Buat apa?"


"Ih, Bara ..."


"Apa? Emang bener kan, yang fiksi emang menarik hati kalau di khayalan. Tapi, nggak bisa di miliki di dalam kenyataan." Ujar Bara membuat Gista mengerucutkan bibirnya kesal. Tapi, ada benarnya juga apa yang di katakan Bara.


"Yaudah, sih. Meskipun tokoh fiksi nggak bisa di miliki Gigi, tapi seenggaknya Gigi bisa miliki Bara di dunia nyata." Balas Gista.


"Dih, dasar."


"Apa sih?"


"Nggak!"


"Gaje deh, Bara."


"Biarin!"


"Pacarnya siapa sih?"


"Gue?"


"Bukan."


"Trus?"


"Dante Said Adiatama."


"Itu, bapak gue!"

__ADS_1


Gista terkekeh, mendengar ketidak jelasan yang mereka ciptakan. Mereka memang seperti itu, jika sedang kehabisan topik pembicaraan.


---


__ADS_2