
"Kamu nggak sakit kan, Gi?" Tanya Mica yang membuat Gista mengalihkan pandangannya pada calon kakak iparnya itu.
"Nggak kak, Gigi nggak sakit." Jawabnya, pelan.
"Sudah satu Minggu ini kakak lihat kamu murung terus, Gi. Kamu kenapa?" Tanya lagi Mica bingung, tidak biasanya Gista tidak semangat seperti itu. Biasanya, Gista selalu terlihat ceria.
Gista tak menjawab pertanyaan itu, rasanya dadanya sesak sekali. Ingin mengatakan tidak apa-apa, tetapi Gista tidak pandai berbohong. Sedikit saja ia berbohong, maka lawan bicaranya akan tahu jika dirinya bohong. Dan, Gista tak pernah mau menyakiti hati orang lain karena ia telah berbohong.
Sama seperti apa yang dilakukan Gista pada Bara, ketika berbohong dengan pura-pura memutuskannya untuk kelancaran rencana mereka membuat kejutan. Gista saat itu, harus dengan sangat terpaksa berbohong pada Bara.
"Gi ..." panggil Mica saat Gista hanya diam saja.
"Gigi putus sama Bara, Kak." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
"Lho, kok bisa?" tanya Mica kaget mendengar pernyataan itu.
"Gigi yang salah, waktu itu Gigi kerjain Bara dengan pura-pura putusin Bara. Karena, mau kasih kejutan ulang tahun buat, Bara. Tapi, kayaknya Bara kecewa dan sakit hati waktu Gigi putusin. Sampai akhirnya, Bara beneran putusin Gigi saat tau kalau Gigi cuma kerjain dia sama teman-teman." Jawabnya menjelaskan apa yang terjadi, dan itu berhasil membuat air matanya menetes lagi.
Mica duduk mendekati Gista, lalu memeluknya. Ini pasti berat bagi, Gista. Bara adalah cinta pertamanya, yang membuat Gista merasa bahagia. Tetapi, Gista juga harus merasa sakit hati karena cinta pertamanya.
"Kamu udah jelasin semuanya sama dia?" tanya Mica yang dibalas dengan anggukan, Gista.
"Bara nggak suka di bercandain kayak gitu, kak. Katanya perasaan dia nggak se-bercanda itu, dia beneran cinta sama Gigi. Tapi, Gigi malah lukai hati dia dengan pura-pura putusin dia." ujar Gista, tangisnya kembali pecah saat mengingat kejadian itu. Sangat sakit rasanya, sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ssstthh ... Jangan nangis, Gi." ucap Mica sambil mengelus punggung Gista, mencoba untuk menenangkannya.
"Gigi cinta sama Bara, kak. Cuma Bara yang berhasil membuat Gigi jatuh cinta."
"Ketika kamu jatuh cinta, kamu juga harus siap untuk merasakan sakit hati nya, Gi. Karena, cinta itu tidak hanya memberikan bahagia aja, tapi ada sakitnya juga." ujar Mica, untuk masalah apa yang di rasakan Gista sekarang. Ini memang cukup sakit, apalagi Gista baru merasakan cinta untuk yang pertama kalinya.
"Bara sangat baik sama Gigi, kak. Sangking baiknya, dia selalu kesal kalau Gigi bikin dia khawatir, dia akan marah kalau Gigi mau aja di manfaatin orang. Meskipun kadang Bara itu nyebelin, tapi dia itu selalu perhatian sama, Gigi." ucap Gista, ia tak menyesal sudah mengenal Bara. Malah ia sangat bersyukur bisa mengenal, Bara. Yang ia sesali hanya satu, di saat ada seseorang yang benar-benar mencintainya. Ia malah membuatnya sakit, karena candaannya.
Mica melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata yang membasahi wajah Gista. Baru kali ini, ia melihat calon adik iparnya itu menangis seperti ini. Apalagi, karena cinta pertamanya.
"Kamu harus kuat, nggak boleh sedih berlarut-larut. Ingat, Gi. Kalau dia masih cinta sama kamu dan dia adalah jodoh kamu, pasti suatu saat nanti. Dia akan kembali pada kamu." Meski Gista hanya calon adik iparnya, tetapi Mica sangat menyayanginya. Gista sudah ia anggap sebagai adik kandung sendiri.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi, ya." Gista mengangguk sebagai jawaban, ia bersyukur masih ada orang yang peduli dan menyayanginya.
"Jangan bilang ke Bang Gege kalau Gigi nangis ya, kak. Apalagi, karena cowok. Gigi nggak mau Bang Gege khawatir." pinta Gista, ia tak ingin membebani Genta dengan masalahnya. Selama ini ia sudah cukup merepotkan Genta, jadi ia tak ingin menambah kerepotan Genta lagi dengan masalahnya.
"Iya, kakak nggak akan bilang, Genta. Tapi, kamu harus janji sama kakak. Kalau kamu nggak akan nangis-nangis lagi."
"Iya, kak. Akan Gigi usahain."
Mica tersenyum mendengarnya, lalu menganggukkan kepalanya. "Oh ya, maaf ya kamu nggak bisa liburan kemana-mana libur sekolah kali ini. Kamu malah harus ikut sibuk buat pernikahan, kakak." Ucapnya, tak tega.
"Nggak apa-apa kok, kak. Gigi kan emang harus bantu pernikahan kakak, pernikahannya tinggal 10 hari lagi." ujarnya, dan ia tak sabar untuk menanti hari itu tiba. Ia ingin Mica menjadi kakak ipar seutuhnya, bukan hanya jadi calon terus.
"Kamu emang adik kakak yang terbaik, Gi." senyum Gista mengembang saat mendengarnya.
---
Meski sekolah sudah libur, Bara tidak bisa diam saja ataupun liburan gitu saja. Karena, ia harus belajar demi masa depannya. Selain, belajar demi masa depannya sebenarnya Bara tengah menyibukkan diri saja. Karena, jika ia hanya terdiam. Maka ia akan mengingat Gista, dan jika sudah mengingat Gista hatinya akan terasa perih saat mengingat kenyataan yang harus di terimanya.
Sudah 3 hari ini tak bertemu dengan, Gista. Terakhir kali ia bertemu dengan gadis itu, adalah ketika pembagian raport. Dan, saat itu pun mereka tidak saling menyapa. Lebih tepatnya, Bara yang berusaha menjauh dari Gista.
"Bara, ini gue."
Bara menghela nafasnya, itu suara Debby. Semenjak kembarannya itu, ia perbolehkan masuk ke dalam kamarnya. Entah kenapa, Debby jadi sering masuk ke kamarnya.
"Bara, bukain pintunya." Pinta Debby, masih dengan mengetuk pintu kamarnya.
Bara pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu kamarnya untuk membukanya. Ia memang mengunci pintu itu, sudah pernah ia bilang. Jika, Bara tidak suka kamarnya di masuki oleh siapapun. Tetapi, sekarang sepertinya Debby pengecualian.
"Ada apa?" Tanyanya, setelah membuka pintu itu.
"Gue masuk, ya."
"Mau ngapain?"
"Ya, mau cerita. Apalagi?"
__ADS_1
Bara mengangguk saja, lalu membuka pintunya lebar agar Debby bisa masuk. Setelah itu, ia kembali mengunci pintunya. Jaga-jaga kalau ada yang masuk tiba-tiba.
Dengan seenaknya, Debby loncat ke kasur Bara dan berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar Bara yang berwarna putih.
Sedangkan, Bara kembali duduk di kursi meja belajarnya. Ia mencoba untuk fokus belajar, meski ujung-ujungnya ia tak akan fokus karena Debby pasti mengajaknya bicara.
"Bar, gue nggak pernah nyangka kalau Lo se-cinta itu sama, Gista." ucap Debby membuka obrolan.
"Emang kenapa? Salah?" tanya Bara.
"Nggak sih, cuma ya gue nggak nyangka aja." jawab Debby, padahal Bara pernah pacaran dengan orang lain. Tetapi, tetap saja tidak bisa menggantikan posisi Gista.
"Oh ya, Bar. Apa Gista tau kalau Lo suka sama dia dari lama?"
"Dia belum tau, gue sengaja nggak kasih tau dia. Kalau dia tau semuanya, dia pasti makin sedih dan malah nyalahin dirinya sendiri. Dan, gue nggak mau itu terjadi." jawabnya, Bara tak masalah jika Gista tak tahu tentang ia yang sudah dari lama menyukainya. Karena, bagi Bara mengetahui Gista yang juga menyukainya sampai mencintainya pun itu sudah cukup.
Debby mengubah posisi terlentangnya menjadi tengkurap dan menghadap Bara yang duduk di kursi. "Seharusnya Lo nggak putus sama Gista, Bar. Kalian itu, saling mencintai. Anehnya, kenapa hubungan kalian harus berakhir secara di paksakan," ujarnya, sampai sekarang ia sulit menerima jika hubungan Bara dan Gista berakhir begitu saja.
"Jangan sampai Gista tau apa yang sebenarnya, Deb."
"Gue nggak janji ya, Bar."
Bara menatap Debby tajam saat mendengar ucapan Debby, "Deb, gue nggak mau dia kepikiran tentang itu. Karena, pastinya Gista akan terluka kalau mendengar itu," ucapnya.
"Tapi, ini rasanya nggak adil buat kalian, Bar." Elak Debby, tak suka dengan keadaan yang harus dialami Bara dan Gista.
"Biarlah, Deb. Gue akan jalani ini, meski sulit buat gue."
"Tapi, gue nggak terima lihat Gista sakit hati karena keadaan ini, Bar. Dia sahabat gue, gue nggak mau dia terluka."
"Gue tau, Deb. Tapi, setidaknya untuk sekarang biarkan seperti ini. Dan, gue akan memikirkan lagi apa yang harus gue lakukan nanti. Karena, bagaimana pun gue nggak pernah rela melepaskan, Gista."
Debby menghela nafasnya gusar, ia benci dengan masalah yang terjadi pada Bara dan juga Gista. Ingin angkat bicara, tetapi ia tak ingin membuat masalahnya semakin runyam. Jadi, yang ia bisa hanya diam dan terus menyemangati Bara ataupun Gista.
---
__ADS_1