Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
Epilog


__ADS_3

8 Tahun kemudian ...


Bara mengedarkan pandangannya keluar jendela taksi yang ia tumpangi, melihat gedung-gedung pencakar langit yang  berdiri sepanjang jalan yang taksinya lewati. Sekarang ia berada di perjalanan untuk pulang ke rumahnya. Senyumnya mengembang ketika akhirnya ia kembali ke tanah kelahirannya, tepatnya lima menit yang lalu ia tiba di Indonesia. Setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di bandara Soekarno Hatta, Bara langsung bergegas untuk pulang setelah urusannya selesai di Bandara.


Tak ada yang tahu tentang kepulangannya hari ini, ia sengaja tidak memberitahu siapapun. Jadi, tidak ada yang menjemputnya ke bandara. Lagi pula, keluarganya itu sudah pindah rumah ke Bandung lagi sejak 6 tahun yang lalu. Jadi, ia sengaja tidak memberitahu mereka. Karena ia ingin memberikan kejutan untuk keluarganya.


Sebelum pulang ke Bandung, Bara akan pergi ke rumah yang dulu ia tempati saat di Jakarta. Ia ingin lebih dulu pulang ke sana, karena ia merindukan seseorang. Seseorang yang sudah 8 tahun tak bertemu.


"Kamu apa kabar? Kamu baik-baik aja kan? Apa kamu bahagia? Apa kamu sudah mendapatkan seseorang yang mencintai kamu lebih dari aku? Kalau sudah apa kamu bahagia dengannya?" batin Bara, banyak sekali pertanyaan yang selalu berputar di otaknya tentang gadis itu. Gadis yang sampai detik ini ia cinta.


Bara membuka ponselnya, senyumnya mengembang saat melihat wallpaper ponselnya. Seorang Gadis belia yang tengah tersenyum ke arah kamera, foto itu ia ambil saat 8 tahun yang lalu. Ketika ia pergi ke pantai di hari ulang tahun gadis itu.


Gadis itu, hanya ada satu nama di hatinya siapa gadis itu. Meskipun selama 8 tahun ia berpisah dengan gadis itu, tetapi gadis itu tak pernah hilang di hatinya ataupun di pikirannya. Siapa lagi gadis itu, jika bukan Gista Rajani Alveera.


"Apa kamu masih sama seperti dulu? Masih polos kah? Atau, sudah lebih dewasa?" batin Bara sambil menatap foto Gista di ponselnya.


"Sudah sampai, Mas." ucap supir taksi itu, setelah berhenti di depan pagar besi rumah yang sudah 8 tahun ini juga tak ia kunjungi.


Bara menatap ke arah rumah itu, terlihat sangat sepi. Tapi, apakah orang yang dirindukannya itu berada di dalam rumah? Rumah itu adalah rumah Gista, Bara memang sengaja memberikan alamat rumah Gista pada supir taksi itu. Karena, ia ingin bertemu dengan Gista.


Ia hanya ingin memastikan jika apa Gista sudah bahagia atau belum? Jika Gista sudah bahagia, ia akan mundur dan kembali menjauh dari Gista. Tetapi, jika Gista belum bahagia atau belum menemukan orang yang mencintainya lebih dari Bara mencintainya. Maka Bara akan kembali maju, ia tak peduli siapapun yang akan menghalanginya nanti. Karena, Bara akan terus memperjuangkan Gista. Ia tak ingin melepaskan Gista lagi.


"Bapak tunggu di sini sebentar, ya. Saya mau ke rumah itu sebentar," ucap Bara yang langsung diangguki supir taksi itu.


Bara pun keluar dari taksi itu, lalu masuk ke dalam rumah itu setelah membuka pagar besinya. Saat sudah berada di depan pintu utama rumah Gista, ia langsung mengetuk pintu itu.


Tok ... Tok ... Tok ...


Rasanya jantung Bara berdetak lebih kencang saat ini, mungkin karena rasa rindunya pada Gista. Apalagi, setelah 8 tahun tidak bertemu dan tidak ada komunikasi diantara mereka berdua.


Tak lama kemudian, pintu utama itu terbuka. Bara melihat seorang wanita paruh baya yang barusan membukanya, ia tak tahu siapa wanita itu. Ia tidak mengenalnya dan baru melihatnya kali ini.


"Maaf, Mas. Cari siapa ya?" tanya wanita paruh baya itu.


"Ibu siapa, ya?" tanya balik Bara.


"Oh, saya asisten rumah tangga di rumah ini," jawabnya yang langsung diangguki mengerti Bara, "Mas siapa ya dan cari siapa?" tanyanya.


"Saya, Bara. Dan saya ingin bertemu dengan Gista," jawabnya yang membuat dahi wanita itu menyerinyit.


"Kalau boleh tau, Mas ini siapanya non Gista, ya?" tanya lagi wanita itu.


"Saya temannya," dahi wanita itu semakin mengkerut saat mendengar jawaban Gista. Merasa aneh jika Bara adalah teman majikannya.


"Nggak salah Mas temannya non Gista? Mas bukan penculik kan?" tanya wanita itu yang tidak dimengerti Bara. Maksudnya apa? Kenapa ia disangka penculik.


"Saya bukan penculik, saya itu memang temannya Gista. Apakah Gista ada di rumah?" Wanita itu mengangguk sebagai jawaban, "bisa panggilkan Gista, saya ingin bertemu dengannya." ujar Bara.


Wanita paruh baya itu, menatap Bara dengan seksama. Membuat Bara risih ditatap seperti itu, kenapa bisa ia disangka penculik?


"Mas beneran temannya non Gista?" tanyanya.


"Iya, memangnya kenapa kalau saya temannya Gista?"


"Aneh, masa non Gista punya teman om-om." Bara membulatkan kedua matanya saat mendengar jawaban wanita itu, apa katanya? Om-om, dari mananya ia terlihat om-om? Ia dan Gista itu seumuran, lagipula mukanya tidak terlihat tua. Ia masih muda, umurnya masih 26 tahun.


"Tunggu sebentar, saya panggil dulu non Gista." ucapnya yang langsung diangguki Bara.


Wanita paruh baya itu kembali masuk ke dalam rumah, sedangkan Bara mengedarkan pandangannya melihat halaman rumah Gista. Tidak terlalu banyak yang berubah dari rumah itu, hanya saja jadi banyak bunga yang di tanam di halaman rumah itu. Bunga mawar putih dan pink kesukaan Gista, apa gadis itu yang menanamnya?


"Mau apa cari, Gista?" tanya seseorang yang membuat Bara menoleh ke sumber suara.


Namun, bukan Gista yang ia lihat dan bertanya padanya. Tetapi, seorang gadis kecil berumur 7 tahun.


"Saya mau ketemu dengannya," jawab Bara.


"Trus mau ngapain?"


"Mau bicara sama dia,"


"Bicara apa?" tanya lagi gadis kecil itu, membuat Bara bingung. Siapa sebenarnya gadis kecil itu? Kenapa malah dia yang keluar bukannya Gista?


"Bisa panggilkan Gista sekarang? Saya ada urusan sama dia," ujar Bara, anak kecil itu terlalu kepo dengan apa yang ingin dibicarakan Bara pada Gista.


"Ngapain di panggil lagi? Gista kan udah ada di sini, om mau ngapain cari aku? Aku nggak kenal om siapa," balas gadis itu yang membuat Bara tidak mengerti.


"Saya nggak cari kamu, tapi saya cari Gista."


"Ya aku, Gista. Om tau nama aku dari siapa? Kita kan nggak kenal," Bara semakin tak mengerti, kenapa nama anak itu Gista? Sebenarnya anak siapa gadis itu?


"Tapi, bukan kamu yang saya cari. Saya cari Gista teman saya, yang tinggal di rumah ini." ujar Bara.


"Di sini cuma ada satu Gista, om. Dan, Gista yang tinggal di rumah ini ya cuma aku. Nggak ada yang lain,"


Bara terdiam, apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kenapa Gista yang tinggal di rumah itu hanya anak kecil itu, lalu di mana Gista yang ia kenal dulu? Apa Gista pindah rumah?


"Maaf, mungkin saya salah alamat. Permisi," ucapnya, lalu pergi meninggalkan gadis itu sendiri dengan raut kebingungan.

__ADS_1


Bara kembali naik ke taksi yang ia tumpangi tadi, lalu meminta supir taksi itu untuk mengantarnya ke rumahnya.


---


Bara menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, sampai saat ini ia bingung Gista ada di mana. Kenapa Gista yang ditemuinya tadi malah seorang anak kecil? Apakah Gista benar pindah rumah dari sana? Tapi, kenapa Debby tidak memberitahunya? Apa Debby juga tidak tahu, karena sudah pindah ke Bandung?


Kalau iya Gista pindah, tetapi gadis itu pindah ke mana? Harus pada siapa ia cari tahu tempat tinggalnya? Ia tidak punya nomor telpon Gista, karena terakhir sebelum ia pergi. Gista tidak memegang ponsel, karena rusak. Semua sosial media Gista juga sudah seperti tidak digunakan lagi, karena sepanjang 8 tahun ini. Ia tidak melihat Gista memposting sesuatu di media sosialnya.


"Jono," gumam Bara saat mengingat siapa yang harus ia tanyakan, "siapa tau aja Jono tau, Gista ada di mana sekarang." lanjutnya, lalu bangkit dari posisi tidur terlentangnya dan mengubah posisinya jadi duduk.


Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Lalu, mencari nomor Jono yang ia miliki saat masih SMA dulu. Ia berharap Jono tidak mengganti nomornya, karena Bara tidak mempunyai nomor lain. Sudah selama 8 tahun ini juga, Bara lost kontak dengan teman-temannya.


Ada nada sambung yang ia dengar saat menelpon nomor Jono, itu artinya nomornya masih aktif. Hingga tak lama kemudian, akhirnya ia mendengar suara di sebrang sana.


"Hallo,"


"Jon,"


"Maaf , ini siapa ya?"


"Ini gue, Jon. Bara!"


"Bara?"


"Gue Bara temen SMA lo, Jon? Apa Lo masih inget gue?"


"Serius ini lo, Bar?  Lo ada di mana sekarang?"


"Gue udah balik ke Indonesia, Jon. Sekarang gue ada di rumah,"


"Kapan Lo balik? Lo gitu ya, Bar. Pergi nggak bilang-bilang gue, mana nomor lo yang dulu nggak aktif lagi."


"Maaf, Jon. Nanti gue jelasin semuanya sama Lo, gue juga udah ganti nomor. Makanya nomor yang dulu udah nggak aktif, kita bisa ketemu nggak hari ini? Ada yang mau gue tanyain,"


"Bisa, Bar. Kebetulan 1 jam lagi gue mau ke Albar Resto, mau reunian sama teman-teman SMA kita dulu. Lo ke sana aja, ikut reunian. Lo pasti kangen sama temen-temen juga kan,"


"Boleh tuh, gue akan ke sana. Kita ketemu di sana ya,"


"Siap, Bar. Gue tunggu Lo!"


"Oke, udah dulu ya. Gue mau siap-siap dulu,"


"Iya, Bar."


Tut.tut.tut.


"Reunian? Mungkin gue bisa ketemu Gista di sana," ucapnya.


Bara tersenyum, ia tak sabar ingin bertemu dengan Gista. Lalu, ia bangkit dari kasurnya. Ia harus bersiap-siap sebelum pergi ke restoran yang dimaksud Jono.


---


Bara mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran, mencari sosok yang ia cari sedari tadi. Bara melihat semua teman-teman SMA nya dulu ada di sana, tetapi kenapa ia tidak menemukan Gista di sana.


"Bara!" panggil seseorang yang membuat Bara mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Senyumnya mengembang saat melihat Jono yang melambaikan tangannya sambil berjalan menghampirinya.


"Wah, gila lo, Bar. 8 tahun nggak ketemu, kenapa masih kerenan lo dari pada gue?" ujar Jono yang membuat Bara terkekeh mendengarnya.


"Bisa aja lo, sekarang juga lo tambah keren kok, Jon." ucap Bara.


"Iya, dong. Masa punya tunangan, gue masih kucel aja. Kan malu,"


"Lo udah tunangan?" Jono mengangguk sebagai jawaban, "wihhh ... Selamat ya, nanti lo harus cerita banyak sama gue." lanjutnya.


"Lo juga punya hutang banyak penjelasan ke gue," ujar Jono.


"Iya-iya, nanti bakalan gue ceritain sama lo." balas Bara.


"Yaudah, mending sekarang kita ketemu sama yang lain," ajaknya yang langsung diangguki Bara.


Keduanya pun berjalan menuju meja yang di tempati oleh teman-teman sekelasnya dulu, mereka sengaja memboking restoran itu untuk acara reuninya kali ini.


"Guys, liat nih siapa yang datang." ucap Jono pada teman-temannya yang membuat mereka semua mengalihkan pandangannya.


Sebagian dari mereka ada yang terkejut saat melihat Bara yang ada di sana, sebagian lagi ada yang tidak suka melihat ada Bara di sana.


"Bara, sumpah demi apa lo. Lo, Bara?" tanya Surya tak percaya.


"Iya, Sur." jawab Bara sambil memperlihatkan senyumannya.


"Gila Lo, Bar. Dulu pindah nggak bilang-bilang, main pergi aja." ujar Lingga.


"Maaf, soalnya waktunya mepet banget. Setelah dibagi raport, gue harus urus kepindahan gue ke Jerman." ucap Bara tak enak.


Semua teman-temannya saling bergantian bertanya pada Bara, dengan senang hati juga Bara menjawabnya. Dan saling menyapa mereka kembali, namun ada yang berbeda sekarang. Dua sahabatnya, terasa asing baginya. Dino dan Panji tidak menyapanya sama sekali, mereka terang-terangan menatapnya tak suka. Bara sendiri pun tidak tahu kenapa mereka bersikap seperti itu.

__ADS_1


Sekarang ia bingung, kenapa ia tidak melihat Gista di sana. Padahal, Lili ada di sana. Biasanya Gista dan Lili selalu kompak, tetapi kenapa sekarang Gista tidak ada.


"Gista nggak ada kalau Lo cari dia," ucap Lili tiba-tiba dengan tatapan tak suka juga saat melihat Bara, "tapi mana mungkin sih lo cari dia, lo kan pernah berharap agar nggak pernah ketemu lagi sama Gista. Dan, sekarang doa Lo bener-bener terkabul. Lo nggak akan pernah ketemu Gista lagi," lanjut Lili yang membuat Bara menyerinyitkan dahinya.


"Lo kok ngomong gitu sih, Li?" tanya Jono.


"Kesel aja gue liat dia, udah bikin sahabat gue jatuh cinta, trus sakitin sahabat gue abis itu ninggalin sahabat gue gitu aja." jawab Lili sinis.


"Lo nggak tau apa-apa, jadi jangan sok tau." ucap Bara.


"Udah jelas kok, Lo cuma mau sakiti sahabat gue."


"Cukup, Li. Jangan ungkit-ungkit lagi, orangnya aja juga nggak ada." ujar Surya, ia tak ingin acara reuninya malah jadi acara debat.


"Ikut gue yuk, Bar. Ada yang mau gue tanyain," ajak Jono, yang langsung diangguki Bara. Lagi pula ia tak ingin berdebat dengan Lili.


Bara pun mengikuti Jono yang mengajaknya, ke outdoor resto itu. Lalu, duduk di salah satu meja.


"Udah ya, Bar. Jangan dimasukin ke hati ucapan si Lili," ucap Jono.


"Dia nggak tau apa yang terjadi, tapi dia seolah-olah tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Bara.


"Emang sebenarnya ada apa sih, Bar? Gue masih bingung tau nggak dengan kejadian 8 tahun yang lalu, Lo cinta sama Gista. Tapi, Lo malah putusin Gista. Trus, tiba-tiba aja lo pergi." ucap Jono.


"Gue terpaksa putusin dia, Jon. Dan itu bukan karena gue kecewa dia udah bohongin gue dengan pura-pura putus ataupun gue yang akan pergi ke Jerman saat itu, tapi karena ..." Bara menggantungkan ucapannya ketika mengingat apa yang terjadi 8 tahun lalu.


Flashback on


"Gi, jangan diemin gue terus dong. Gue minta maaf," ucap Bara, ia sudah beberapa kali minta maaf pada Gista. Tetapi, Gadis itu terus mendiamkannya.


Gista masih kesal padanya, karena Bara tidak langsung menolongnya tadi saat Gista jatuh dan menabrak tiang ring basket.


"Gi, ngomong dong. Jangan diemin gue gitu aja," ujar Bara. Aneh rasanya kalau Gista terlihat diam saja, biasanya juga Gista ceria.


Gista menghentikan langkahnya, tepat saat di depan pagar rumahnya. Lalu, membuka slot kuncinya. Setelah itu, Gista masuk ke dalam rumahnya tanpa berbicara apa-apa pada Bara.


Bara menghela napasnya gusar, baru kali ini Gista kesal padanya sampai mendiamkannya. Aneh rasanya, karena yang ia tahu Gista tak bisa marah.


Bara berbalik untuk pulang, namun saat itu juga sebuah mobil berhenti tepat beberapa sentimeter di depannya. Seseorang yang berada dibalik kemudinya itu, keluar dari mobilnya. Lalu, berjalan menghampiri Bara.


Dia adalah Genta, kakaknya Gista. Bara tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya sopan, alih-alih dibalas senyuman. Pria itu malah memasang wajah datar.


"Bara?" tanyanya yang langsung diangguki cepat Bara, "saya dengar adik saya pacaran sama kamu?"


"Iya,"


"Kalau gitu, saya ingin kamu putuskan Gista." ujarnya yang membuat Bara menyerinyitkan dahinya heran, kenapa tiba-tiba ia disuruh untuk memutuskan Gista. Memangnya apa salahnya?


"Kenapa harus putusin, Gista?" tanya Bara heran.


"Karena Gista tidak butuh kamu, dia tidak butuh pacar seperti kamu. Saya tidak suka kamu bersamanya," jawab Genta membuat Bara terdiam, "untuk itu, saya minta kamu putuskan Gista dan menjauh dari hidupnya." lanjutnya.


"Saya tidak bisa putusin, Gista. Saya mencintainya, apa salahnya? Saya tidak akan menyakiti dia," ucap Bara.


"Tapi, Gista tidak butuh cinta kamu. Putusin Gista atau saya yang akan suruh Gista untuk putusin kamu? Gista hanya punya saya, dia pasti akan nurut sama saya kalau saya suruh dia putusin kamu." ujar Genta yang membuat Bara menelan ludahnya dengan susah payah.


"Gista tidak akan bisa putusin saya, karena dia juga mencintai saya."


"Saya tidak suka dibantah, saya tidak pernah segan untuk meninggalkan orang yang membantah saya. Termasuk adik saya sendiri, kalau dia membantah apa kata saya." ucap Genta, membuat Bara tak percaya jika kakak Gista bisa egois seperti itu.


"Kenapa anda egois? Anda tidak bisa mengatur siapapun yang boleh masuk ke dalam kehidupan Gista, dia bisa menentukan pilihannya sendiri." ujar Bara.


"Ya, saya egois. Ini untuk kebaikan, Gista. Sekarang kamu tinggal pilih, putuskan Gista. Atau melihat Gista menderita sendiri karena saya tinggalkan. Kamu hanya punya dua pilihan itu," balas Genta, lalu membuka pintu pagarnya lebar agar mobilnya bisa masuk.


"Sekarang kamu bisa pergi dari sini," ucap Genta.


Tanpa kata Bara pergi begitu saja dengan pikirannya yang mulai berkecamuk, apa yang harus dilakukannya sekarang? Kenapa Genta tidak menyukainya berpacaran dengan Gista? Apa salahnya?


Banyak pertanyaan yang ingin ia tahu jawabannya, tetapi sekarang ia juga harus memikirkan hubungan dengan Gista. Apa yang harus ia lakukan? Memutuskan Gista tapi ia masih cinta, atau tetap bersama Gista tapi Gista akan ditinggalkan oleh kakaknya sendiri. Mana bisa seperti itu? Gista hanya memiliki Genta, tidak mungkin juga Gista bisa menerima jika Genta meninggalkannya. Gista pasti sedih.


Flashback off


Jono menatap iba pada Bara, tak percaya jika ternyata alasan Bara dan Gista putus adalah karena kakaknya Gista sendiri. Mereka harus saling tersakiti, karena keegoisan kakak Gista.


"Karena itu, gue putusin Gista, Jon. Gue nggak mau Gista terluka kalau tau abangnya sendiri yang menentang hubungan kita," ucapnya.


Bara menghela napasnya berat, rasa sesaknya masih ia rasakan sampai sekarang. Hatinya perih jika mengingat kejadian itu, "Gue sayang Gista itu udah dari kecil, Jon. Meski Gista nggak pernah tau, jika dari dulu gue sering diam-diam mengikuti dia untuk menjaganya. Dari dulu Gista udah sering banget diejek orang, dijahili orang. Dan, gue akan membalas orang-orang itu tanpa sepengetahuan dia sehingga nggak akan ada orang yang jahilin dia dan ejek dia lagi. Gue nggak suka ketika ada orang yang memanfaatkan kepolosan Gista, dia itu terlalu berharga buat gue, Jon." jelasnya, membuat Jono tak tahu harus berkata apa. Jono bisa melihat cinta itu dari mata Bara.


"Gue kangen sama Gista, Jon. Sekarang dia ada di mana ya? Tadi gue ke rumahnya, tapi dia nggak ada. Cuma ada anak kecil yang nama, Gista. Bukan Gista yang gue kenal, lo tau nggak Gista ada di mana sekarang? Apa dia udah bahagia?" tanya Bara yang membuat Jono menelan ludahnya dengan susah payah, pertanyaan Bara itu bisa disimpulkan jika Bara tidak tahu apa yang terjadi 8 tahun lalu.


"Bar, apa lo nggak tau?" tanya Jono.


"Tentang apa?"


"Gista udah meninggal,"


Deg

__ADS_1


---


__ADS_2