
Dengan hati-hati, Gista memarkirkan motor matic-nya di parkiran sekolah yang sudah cukup banyak berbagai motor yang terparkir di sana. Pagi ini ia bisa menggunakan motornya kembali. Karena, kemarin motornya di antar langsung ke rumahnya, seperti yang dikatakan Bara sebelumnya. Montir bengkel kenalan Bara, benar-benar mengantar motor ke rumahnya.
Gista pun turun dari motornya, tanpa melepaskan helmnya lebih dulu. Ia selalu membawa helmnya ke kelas, daripada disimpan di motornya, takut ada orang iseng yang mengambil helmnya.
Ia pun berjalan menuju kelasnya, masih dengan memakai helmnya. Orang-orang yang melihatnya sebenarnya sudah tidak aneh lagi, karena hampir setiap hari Gista seperti itu. Tetapi, tetap saja mereka tak bisa menahan tawanya jika melihat Gista yang berjalan dari parkiran menuju kelasnya memakai helm.
"Sialan lo, nggak tau malu banget. Dasar pagar makan tanaman."
"Enak aja lo, kalau gagal move on bilang dong lo. Bukan ngatain gue pagar makan tanaman segala."
"Halah, lo itu pemanor tau nggak! Penghianat lo! Selama ini lo anggap gue apa, huh? Gue udah baik sama lo, tapi lo malah rusak kepercayaan gue."
"Lo sama dia udah nggak ada apa-apa, ya, terus apa salahnya kalau gue jadi pacarnya dia?"
"Bangke lo!"
Gista membulatkan kedua matanya saat melihat dua teman sekelasnya bertengkar di depan kelas, mereka saling mengatai dan saling dorong-dorongan, terus jambak-jambakan. Orang-orang yang melihat mereka bukannya memisahkan, malah membuat video acara pertengkaran itu.
"Kalau ketahuan guru BK bahaya, nih. Bisa tercoreng nama kelas Gigi," ujarnya, lalu berlari dengan cepat menghampiri kerumunan yang menonton aksi pertengkaran itu untuk memisahkan kedua temannya.
"Eh, udah-udah ... kalian berdua kenapa berantem?" tanya Gista, namun tak di dengar oleh dua pelaku yang bertengkar itu.
Keduanya malah saling mendorong Gista, saat kini Gista berada di tengah-tengah mereka. Dan, menjadi oper-operan kedua teman sekelasnya itu.
"Lo yang bangke, ***!"
"Dasar monyet, lo!"
"Put, udah Put. Malu diliatin banyak orang," kata Gista berusaha memisahkan dua orang itu.
"Diam, Gi. Jangan ikut campur, itu cewek udah rebut mantan gue. Padahal, gue itu sahabatnya dia selama ini. Tapi, dia tetep aja rebut mantan gue," kesal Puput masih dengan berusaha ingin menjambak Nimas.
"Dia, kan, udah mantan Lo, apa salahnya kalau sekarang gue jadi pacarnya? Toh, dia udah nggak suka lagi sama, lo." balas Nimas tak terima disebut sebagai pemanor (Perebut Mantan Orang).
"Dia putusin gue gara-gara lo, bangke!"
"Enak aja gara-gara gue, gue pacaran sama dia setelah Lo putus sama dia, ya."
"Kayak nggak ada cowok lain aja lo pacaran sama mantan gue."
"Lo juga, kayak nggak ada cowok lain aja masih pikirin mantan!"
"Nantangin gue, ya, lo!"
"Lo yang nantangin gue duluan, dipikir gue takut? Kagak!"
Nimas dan Puput pun kembali saling dorong-dorongan, terus jambak-jambakan. Gista yang masih berusaha memisahkan keduanya harus rela kena pukulan keduanya.
"Woy, tolongin Gigi dong ... pisahin mereka, elah," ucap Gista, tapi tidak ada yang mau maju. Mereka malah asik nonton sambil memvideokan perkara yang unfaedah itu.
*Bruk
Jeduk*
Suara itu, terdengar saat Gista tiba-tiba jatuh terlentang dan kepalanya yang masih memakai helm menghantam ubin lantai. Itu terjadi, karena Nimas dan Puput terlalu kencang saling dorong-dorongan, hingga ia ikut terdorong dan menyebabkannya jatuh seperti orang pingsan.
"GISTA!" teriak dua pelaku yang menyebabkan Gista jatuh, alih-alih ada yang membantunya. Orang-orang malah melongo di tempat.
Hingga seseorang yang baru saja datang, mengulurkan tangannya untuk membantu Gista berdiri. Gista pun menerima uluran tangan itu, lalu berdiri masih dengan kepalanya yang pusing sekaligus badannya yang sakit.
"Bukannya dibantuin, malah diem aja Lo semua. Kalau dia geger otak gimana? Udah tau dia lemot, nanti makin lemot lagi," ujar Bara yang membantu Gista barusan.
"Lo nggak apa-apa, Gi?" tanya Bara, namun gadis itu malah diam saja.
Bara melepaskan helm yang dikenakan Gista, tak ada pergerakan sedikitpun dari gadis itu. Gista masih terdiam bak patung hidup.
__ADS_1
"Gista, woy ... Lo nggak apa-apa, kan?" tanya lagi Bara, masih tak mendapatkan respon apapun. "Eh, lo berdua. Tanggung jawab, nih, dia tiba-tiba kayak gini," ujar Bara pada Nimas dan Puput.
"Gue nggak sengaja, sumpah!" ucap Puput sambil menunjukkan dua jarinya. Jari telunjuk dan tengahnya, hingga membentuk V.
"Gue juga nggak sengaja," ucap Nimas yang cemas melihat Gista tiba-tiba diam saja.
"GISTA!" panggil Bara dengan nada suara keras, membuat gadis itu tersentak kaget. "Lo nggak apa-apa, kan?"
Gista menggelengkan kepalanya, kemudian memegang kepalanya yang sedikit pusing. Ia pun masuk begitu saja ke dalam kelasnya, membuat semua orang menyerinyitkan dahinya heran. Apa Gista benar-benar baik-baik saja?
"Itu cewek udah aneh makin aneh aja," celetuk seseorang.
"Untung si Gista pakek helm, kalau kagak bisa-bisa kepalanya bocor. Apalagi, jatuhnya terlentang kayak gitu."
"Ada untungnya juga dia pakek helm setiap hari dari parkiran ke kelas, mungkin persiapan jika dia jatuh kayak barusan. Kepalanya kagak kenapa-kenapa." Bara hanya menggelengkan kepalanya, lalu ikut masuk ke kelas.
---
Jam istirahat sekolah, Gista tidak pergi ke kantin. Saat diajak sahabatnya pun ia menggelengkan kepalanya saja, Gista sedang tidak ingin pergi ke mana-mana selain duduk di bangkunya saja. Lagi pula ia merasa tidak lapar sekarang, yang ia rasakan sekarang adalah bosan. Ya, ia sangat bosan. Entah kenapa ia bisa bosan seperti ini, padahal biasanya ia biasa-biasa saja.
Seketika Gista mengingat kejadian tadi pagi, saat Nimas dan Puput bertengkar hanya karena cowok. Ia jadi heran kenapa bisa sampai bertengkar seperti itu, saling mengatai, dorong-dorongan terus jambak-jambakan.
Untuk apa sebenarnya mereka melakukan itu?
Puput marah sama Nimas, karena Nimas pacaran sama mantannya Puput. Nimas balas marah, karena tak terima disebut sebagai perebut mantan orang.
Tidak ada faedahnya sama sekali, untuk apa Puput mempermasalahkan mantannya yang jadi pacar Nimas? Toh, sudah mantan, kan. Nimas juga, seharusnya jelaskan secara baik-baik pada Puput. Bukannya malah balas marah plus saling mengatai.
Keenakan itu cowok, diperebutkan oleh mantan dan pacarnya sekaligus.
Gista baru kali ini menyaksikan dua orang teman yang bertengkar karena memperebutkan cowok sampai dengan berkata-kata kasar, dorong-dorongan dan juga jambak-jambakan.
Terakhir Gista melihat kejadian saling dorong-dorongan dan jambak-jambakan itu, saat dirinya kelas 3 SD. Saat itu kedua temannya bertengkar karena memperebutkan sebuah boneka.
"DORRR!" teriak Lili --sahabat Gista-- yang baru kembali dari kantin, "bengong mulu lo, mikirin apa, sih?" tanyanya, sambil duduk di bangkunya yang ada di sebelah Gista.
"Gigi lagi bingung," jawab Gista, membuat Lili menautkan sebelah alisnya.
"Bingung kenapa, lo?"
"Cuma gara-gara satu cowok, kenapa Nimas dan Puput jadi berantem kayak tadi, ya, Li?" tanya balik Gista yang masih tak paham dengan masalah 2 temannya tadi.
"Nimas sama Puput mah masih mending, Gi. Di luaran sana ada saling bunuh cuma rebutan satu cowok doang." Gista membulatkan kedua matanya saat mendengarnya, semakin tak percaya bisa sampai segitunya hanya karena merebutkan satu cowok.
"Yang bener, Li?" Lili mengangguk sebagai jawaban, membuat Gista ngeri sendiri. "Menurut Lili, kenapa bisa kayak gitu?" tanya lagi Gista.
"Ya, apalagi kalau bukan karena, cinta."
"Wah-wah, Cinta itu siapa, Li? Selingkuhannya, ya? Seenaknya aja itu si Cinta-cinta itu, bikin Nimas sama Puput sampe berantem." Lili ternganga mendengar Gista yang menanyakan siapa cinta? Jelas bukan orang, cinta yang dimaksud Lili barusan.
"Cinta bukan orang, Gi."
"Terus apa dong? Hewan? Tumbuhan? Atau benda langit?"
"Bukan!"
"Terus apa dong? Cinta itu apa?"
"Cinta itu ..." Lili menggantungkan ucapannya, bingung apa yang harus dijelaskannya pada Gista. Ia mengetahui apa itu cinta, tetapi ia bingung harus menjelaskannya bagaimana pada Gista.
Kedua mata Lili berkeliaran mencari seseorang yang bisa menjelaskan arti cinta pada sahabatnya itu, hingga satu orang yang baru saja masuk ke kelas membuat Lili tersenyum.
"Cinta itu ...? Apa?"
"Coba, deh, Lo tanya sama, Bara. Dia, kan, pintar. Pasti dia tau," ucap Lili, daripada dirinya yang ikut bingung menjelaskan pada Gista. Lebih baik melemparkan pada Bara.
__ADS_1
"Oh, gitu, ya?" Lili mengangguk. "Oke!"
Gista pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Bara yang sudah duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya. "Bara mau nanya dong," ucapnya, sambil duduk di bangku depan mejanya Bara.
"Nanya apaan?" tanya Bara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, karena ia sedang memainkan game yang ada di ponselnya.
"Apa itu cinta? Siapa itu cinta? Jenis apa itu cinta? Cantik nggak si cinta?"
Bara mem-pause gamenya, menyimpan ponselnya di atas meja. Lalu, menatap Gista dengan tatapan selidiknya. "Ngapain lo tanya begituan?"
"Kata Lili, Nimas dan Puput berantem ngerebut satu cowok karena cinta. Waktu Gigi tanya si cinta itu siapa, kata Lili cinta itu bukan orang. Terus cinta apa dong?"
"Ngapain lo tanya sama gue?"
"Kata Lili, Bara, kan, pinter. Jadi, Bara serba tau," jawabnya selalu jujur.
Bara melirik pada Lili yang tengah memperhatikan keduanya dari bangku, gadis itu tengah terkekeh. "Kenapa lo mau tau cinta?"
"Biar Gigi ngomong sama itu cinta, biar nggak bikin Nimas sama Puput berantem lagi. Karena, cuma ngerebutin satu cowok doang."
"Cinta itu bukan manusia, hewan, tumbuhan atau benda," ucap Bara, yang membuat Gista tak setuju.
"Kata siapa cinta bukan manusia? Ada, kok, manusia namanya cinta. Contohnya: Cinta Laura, Cinta Kuya. Mereka manusia, kan?" ujar Gista, membuat Bara memutar bola matanya jengah.
"Tapi, cinta yang dimaksud dalam pertengkaran Nimas sama Puput itu bukan manusia," kata Bara, ia heran pada gadis yang ada di hadapannya itu. Sebenarnya, Gista itu lemot, polos atau bloon?
"Terus apa dong?" tanya Gista, kini dengan tampang yang entah dipolos-polosin atau emang sudah polos dari tadi.
"Tapi, perasaan."
"Perasaan? Gimana, sih, maksudnya? Gigi kurang paham."
Bara menghela napas panjangnya, jika ia menjelaskannya pada Gista. Apa gadis itu, akan mengerti?
"Cinta itu adalah sebuah perasaan yang timbul dari hati tanpa kita sadari dan yang tak bisa kita rencanakan. Cinta itu, datang secara tiba-tiba, bisa datang kapan saja, pada siapa saja. Cinta itu ada, tetapi nggak punya alasan kenapa cinta itu tiba-tiba ada. Karena, orang yang jatuh cinta sampai saat ini nggak bakalan tau apa alasan sebenarnya dia mencintai seseorang. Yang jelas, cinta itu ada karena terbiasa, dan rasa nyaman ketika sedang bersama seseorang. Itu, definisi cinta menurut gue." Gista terdiam sambil memandang wajah Bara, entah kenapa ia menjadi terpana saat mendengarkan penjelasan Bara tentang cinta. Tiba-tiba juga jantungnya malah berdebar lebih kencang.
"Paham nggak lo apa yang barusan gue jelasin?"
Gista mengangguk-anggukan kepalanya, seraya menjawab, "Nggak!"
"Maksudnya gimana, sih? Ngangguk tapi bilang nggak, jadi sebenarnya lo ngerti apa nggak?" tanya Bara.
"Nggak ngerti, kurang paham. Bisa dijelasin lagi nggak? Yang lebih singkat, padat dan jelas gitu," jawabnya, membuat Bara menatapnya jengah. Untuk apa barusan ia bicara panjang lebar jika Gista tak mengerti juga.
"Mending lo balik ke bangku lo, deh, sana. Capek gue jelasin sama lo. Nggak bakal ngerti-ngerti juga lo," ujar Bara, ia sudah berbaik hati mau menjelaskan apa itu cinta. Tapi, Gista malah tak mengerti sedikitpun.
"Kok, gitu, sih? Gigi, kan, belum pa ---"
"Gue nggak mau jelasin lagi, udah sana tanyain sama si Lili."
"Pelit banget, sih, Bara. Cuma jelasin doang juga, punya ilmu itu bagi-bagi dong, jangan pelit." Bara menyentil dahi Gista, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Kalau gue pelit, gue nggak mungkin jelasin barusan, Gista."
"Iya, juga, sih. Yaudah, deh, makasih buat pelajaran cinta yang sama-sama rumitnya kayak rumus matematika. Oh, ya, makasih juga udah bayarin mas-mas montir yang benerin sama nganterin motor Gigi kemarin."
"Sama dua."
"Apaan sama dua?"
"Sama-sama maksudnya, Gista. Udah, deh, balik aja sana lo ke bangku," greget Bara pada gadis itu, benar-benar harus ekstra sabar jika menghadapi Gista.
Gista pun kembali menuju bangkunya, masih dengan kebingungannya tentang cinta itu. Benar-benar rumit.
---
__ADS_1