Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
8. Munculnya masalah baru


__ADS_3

Gista berjalan dengan lemas di sepanjang koridor sekolah, ia masih kepikiran dengan motornya yang hilang. Karena, motornya yang hilang itu, tadi ia diantar oleh Genta ke sekolah. Bukannya tidak mau diantar oleh Genta, hanya saja ia tidak ingin merepotkan kakaknya itu terus-menerus.


Untuk kesekian kalinya, Gista menghela nafasnya berat. Seakan bebannya begitu banyak yang ia pikul sekarang, ingin menangis. Tetapi, tak ada gunanya juga ia menangis.


Jika biasanya, setiap hari Gista selalu memakai helm dari parkiran sampai kelasnya. Pagi ini, ia hanya menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan menuju kelasnya.


Orang-orang yang melihat Gista yang tak memiliki semangat seperti biasanya, merasa heran. Banyak orang yang bilang dirinya aneh, setiap kali melihat kelakuan Gista. Dan, sekarang orang-orang kembali berkata aneh saat melihat Gista yang terlihat murung.


Bruk


Prangggg ...


Gista terlonjak kaget saat ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang di depan pintu kelasnya, lalu membuat barang yang dibawa orang itu jatuh ke lantai hingga pecah.


Ia mendongakkan kepalanya, semakin kaget saat melihat Lili lah yang barusan bertubrukan dengannya itu.


"Lili, maafin Gi---"


"Gigi ... Cangkir hias gue pecah," sela Lili.


"Li, maafin Gigi ... Gigi nggak sengaja." Ucap Gista merasa bersalah.


"Nggak sengaja? Lo jalan pakek apa sih, huh?" Tanya Lili dengan nada suara yang tidak biasa.


"Gigi jalan pakek kaki, Li." Jawabnya.


"Iya, pakek kaki. Tapi, mata Lo juga harus di pakek kalau lagi jalan. Gini nih, akibat Lo jalan sambil nunduk, nabrak gue trus cangkir hias gue jatuh dan pecah gara-gara Lo!" Omel Lili tak seperti biasanya, untuk kali pertama Gista melihat Lili yang semarah itu padanya.


"Maafin Gigi, Li."


"Maaf Lo itu nggak bisa bikin cangkir hias gue yang pecah jadi semula lagi, Gi. Sekarang gue harus apa? Itu cangkir hias harus dikumpulin hari ini juga, kalau gue nggak bakalan dapat nilai seni budaya." Bentak Lili membuat Gista menundukkan kepalanya lagi, ia benar-benar takut jika ada yang marah padanya. Apalagi, sampai membentaknya.


"Gigi bener-bener nggak sengaja, Li. Maafin Gigi ..." Ucap Gista.


"Gue nggak butuh maaf Lo, asal Lo tau aja. Cangkir hias itu, lebih berharga buat gue. Dari pada temen yang bloon kayak Lo ..."


Deg


Hati Gista serasa ada yang menusuk dengan benda yang tajam, saat mendengar ucapan Lili. Sahabatnya sendiri berbicara seperti itu, Gista merasa tak percaya jika yang berbicara barusan adalah Lili.


"Lili ... Kenapa Lili berbicara kayak gitu?" Tanya Gista, tanpa disadari air matanya menetes begitu saja. Sangking perih hatinya saat mendengar ucapan Lili barusan.


"Emang bener kok, cangkir hias itu berharga buat gue. Dari pada Lo, mulai sekarang ... Jangan deket-deket sama gue lagi." Ujar Lili, lalu masuk lagi ke dalam kelasnya.


Gista memukul dadanya yang terasa sesak, padahal ia tidak punya riwayat penyakit asma. Kedua matanya juga tidak bisa menahan air mata agar tidak menetes. Ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya, yang jelas hatinya sangat sakit ketika sahabatnya itu lebih memilih sebuah cangkir dari pada dirinya.


"Ngapain Lo?" Tanya seseorang membuat Gista mendongkakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang bertanya padanya.


Gadis itu langsung menghapus air matanya, lalu menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawabannya.


"Kenapa nangis? Abang Lo marahin Lo kemarin?" Tanya lagi orang itu, siapa lagi jika bukan Bara yang entah kenapa selalu muncul di setiap ia merasa sedih atau membutuhkan bantuan.


Gista menggelengkan kepalanya, tanda bukan.


"Trus, kenapa Lo nangis?"


Untuk yang ketiga kalinya Gista menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sih Lo?"


"Nggak pa-pa," jawabnya, lalu melengos masuk ke dalam kelasnya. Membuat Bara semakin heran dengan gadis itu.


---


Bang Genta


Gi, nanti Bang Gege nggak bisa jemput


kamu ke sekolah. Bang Gege lagi sibuk

__ADS_1


banget hari ini, kamu naik taksi aja ya.


Gigi kan takut kalau pulang naik


Kendaraan umum, Bang.


Tapi, naik taksi aman, Gi. Kamu langsung kasih alamat rumah ke supir taksinya, nanti supir taksinya bakalan antar kamu ke rumah.


Jadwal Abang padet banget hari ini, Gi. Jadi nggak bisa jemput kamu.


Yaudah deh, Bang.


Gista keluar dari ruang obrolan chatnya dengan Genta, lalu mencari nomor kontak Debby.


Debby Ratu Adiata


By


Ya, Gi?


Pulang sekolah jamber, By?


Emm ... Jam 3 sorean hari ini.


Kenapa?


Mampir ke sekolah Gigi dulu dong,


nanti Gigi nebeng pulang sama Debby.


Gue pulang sekolah mau ke


rumah teman, Gi. Ada kerja


kelompok soalnya. Lo nebeng


ke Bara aja, bilang di suruh gue


Lo.


Oh gitu ya ... Yaudah deh, By.


Iya. Sori ya, bukannya gue nggak


mau nebengin Lo nih. Tapi, pulang


sekolah gue harus ke rumah temen.


Iya, nggak apa-apa, By. Makasih.


Maaf udah ganggu Debby


Ah, santai aja sama gue mah.


Gue lagi istirahat ini.


Yaudah, terusin aja yaa ...


Gista menghela nafas berat, lalu menyimpan ponselnya di atas meja. Sekarang ia bingung memikirkan bagaimana ia pulang nanti, mau ikut Bara ia malu karena sudah beberapa kali menyusahkannya. Masa ia terus menyusahkan, Bara.


Ia benar-benar bingung sekarang, padahal pulang sekolah masih beberapa jam lagi. Di tambah lagi dengan teman-temannya yang entah kenapa Gista merasa semuanya menjauh darinya, ia tak tahu apa yang telah di perbuatannya. Lili pun yang notabenenya adalah sahabatnya, ikut menjauh serta marah sejak kejadian tadi pagi. Bahkan, Lili pindah bangku meninggalkan Gista seorang diri saja di bangkunya.


Saat bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu saja, Lili langsung melengos pergi bersama Dino tanpa mengajaknya seperti biasa. Gista benar-benar bingung sekarang, sangking bingungnya ia tidak pergi ke kantin walau perutnya sangat lapar.


Brak


Gista terlonjak kaget saat tiba-tiba Dino datang sambil menendang kaki mejanya, ia pun berdiri dari posisi duduknya. Tak mengerti kenapa Dino tiba-tiba datang dan menendang kaki mejanya.


"Apa-apaan sih, Dino?" Tanya Gista.

__ADS_1


"Lo tuh yaa ... Jadi temen nggak ada peduli sama sekali sama, Lili. Lili nangis-nangis, Lo malah santai aja di sini." Ujar Dino dengan emosi.


"Lili nangis? Dia nangis kenapa, Dino?" Tanya lagi Gista.


"Pakek tanya kenapa, udah jelas-jelas karena Lo. Lili nangis karena nggak dapat nilai seni budaya, cangkir hias yang Lili buat pecah karena Lo kan. Lo gimana sih, gara-gara kecerobohan Lo, Lili yang kena imbasnya." Jawab Dino dengan nada suara meninggi.


Kedua mata Gista memanas, ia paling tidak bisa mendengar seseorang yang berbicara dengannya dengan nada suara tinggi. Apalagi, sampai membentaknya, dan sekarang Dino menyalahkannya dengan nada suara yang tinggi.


"Tapi, Gigi nggak sengaja, Dino. Tadi Gigi nggak tau kalau Lili mau keluar dari kelas, Gi--"


"Tapi, seenaknya setelah kejadian tadi Lo cari cara gimana agar Lili dapat nilai meskipun cangkir hiasnya pecah. Itu kan gara-gara Lo, tapi Lo malah tenang-tenang aja di sini. Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali, emang bener ya kata orang-orang. Lo tuh selain bloon, polos, Lo juga nggak tau malu." Ujar Dino, lalu melengos pergi keluar kelas meninggalkan Gista yang masih terdiam membeku.


Lo tuh selain bloon, polos, Lo juga nggak tau malu


Air mata Gista menetes begitu saja, dadanya sesak mendengar ucapan Dino mengenainya. Apa satu kesalahan yang dilakukan Gista, telah menutupi semua kebaikannya di mata mereka?


Gista kembali duduk di bangkunya, lalu menelungkupkan kepalanya di atas tangan yang ia lipat di meja. Kedua bahunya bergetar, air matanya tak ingin berhenti mengalir. Hingga sekarang, yang dilakukan Gista hanyalah menangis dalam diamnya.


Tak ada seorangpun di kelas, selain dirinya. Entah kenapa orang-orang menjauh darinya, ia tak tahu apa kesalahannya pada teman sekelasnya. Padahal, ia hanya tak sengaja menabrak Lili dan membuat cangkir hias Lili menjadi pecah.


Tanpa di sadari Gista, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dengan kedua tangan yang menggepal setelah melihat kejadian beberapa waktu lalu.


---


Jam pelajaran ke 5-6 diisi dengan pelajaran Sejarah Indonesia hari ini, semua murid sebisa mungkin untuk tetap memperhatikan guru yang sedang menerangkan di depan kelas, meski semua siswa sudah mengantuk mendengarnya.


Berbeda dengan murid yang lain, sejak istirahat tadi Gista masih menelungkupkan kepalanya dilipatan tangannya sampai sekarang. Dan, sampai sekarang guru yang mengajarnya tidak sadar jika Gista tidak memperhatikannya sedari tadi, karena meja Gista berada di urutan ke empat di pojok. Pastinya, tubuh Gista terhalangi teman sekelasnya yang duduk di depannya.


"Sekarang, kalian kerjakan soal hal 154-156. Hari ini harus selesai dan di kumpulkan." Ujar Guru Sejarah Indonesia itu, yang langsung disahuti oleh semua murid minus Gista.


Semua murid pun mulai mengerjakan soal-soal seperti yang di ucapkan oleh gurunya, berbeda dengan Bara yang mengganggu teman-teman yang dekat dengan bangkunya.


"Panjul, sstt ... Eh Panjul ..." Bisik Bara pada teman yang duduk di depannya.


"Apaan sih?"


"Pinjem paket, gue kagak bawa buku paket. Tau sendiri si Jono kagak sekolah." Ujarnya, hari ini Bara memang duduk sendirian di bangkunya. Karena, teman sebangkunya sedang sakit.


"Gue juga kagak bawa paket, ini gue mau gabung ke yang lain. Lo ikut gabung aja sama yang lain." Bara berdecak mendengarnya, lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelasnya mencari teman sekelasnya yang bisa ia pinjami buku paket.


Hingga matanya melihat Gista yang masih ada dalam posisinya seperti istirahat tadi, ia berfikir jika Gista tidur sejak tadi. Ia pun bangkit dari bangkunya, berjalan merangkak ke belakang meja untuk ke meja Gista tanpa sepengetahuan gurunya yang ada di depan.


Setelah dekat dengan meja Gista, ia pun duduk di sebelah gadis itu.


"Gi, pinjem paket dong." Bisiknya sambil menusuk-nusuk bahu Gista dengan telunjuknya. Namun, tak ada pergerakan sama sekali dari gadis itu meskipun di ganggu olehnya.


"Kebo amat nih orang, enak bener lagi dari tadi tidur. Bukannya dengerin guru, ini malah tidur." Gumamnya.


"Gi, bangun woyyy ... Ada guru juga, Lo masih tidur aja. Istirahat udah berakhir tiga puluh menit yang lalu oyyy ..."


Masih tak ada sahutan atau pergerakan dari Gista.


"Eh, Gista bangun Lo ..." Kali ini Bara menggoyangkan bahu Gista.


Tetap, tidak ada pergerakan.


Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal, senyenyak apa tidur Gista hingga diganggu olehnya pun tidak terusik sama sekali. Ia pun mengangkat kedua bahu Gista, karena bingung tak ada pergerakan sedikitpun dari Gista.


Saat itu juga, Bara membulatkan kedua matanya melihat wajah Gista yang pucat tubuhnya juga lemas, kalau saja Bara tidak menahan kedua bahu Gista. Mungkin gadis itu akan terjengkang ke belakang.


"BU ... GISTA PINGSAN!" teriak Bara, membuat semua teman sekelasnya menoleh sambil teriak kaget.


"Gi, bangun Gi ... Gigi ..." Ucap Bara sambil menepuk pelan pipi Gista, namun tak ada pergerakan sedikitpun dari gadis itu.


Bu Nani yang mengajar saat itu, langsung menghampiri meja Gista setelah Bara berteriak memberitahukan jika Gista pingsan.


"Gista kenapa, Bara?" Tanya Bu Nani.


"Saya nggak tahu, Bu. Saya pikir dari tadi dia tidur, saya bangunin tapi nggak bangun-bangun. Malahan udah saya gangguin, Bu ... Tapi Gista nggak gerak-gerak. Mukanya juga pucat, mungkin Gista sakit, Bu." Jawab Bara menjelaskan.

__ADS_1


"Yasudah, tolong bawa Gista ke ruang UKS sekarang juga. Ibu takut terjadi sesuatu padanya ..." Bara mengangguk, tanpa butuh waktu lama ia pun menggendong Gista ala bridal style dan membawanya ke UKS.


---


__ADS_2