
Dengan gontai Gista berjalan melewati koridor bersama Lili di sampingnya yang tengah bercerita kemana dia selama liburan sekolah, gadis itu terus menceritakannya kepada Gista. Padahal, sebenarnya Gista tak benar-benar menyimak apa yang diucapkan Lili padanya.
Keduanya berjalan untuk menuju kelasnya yang berada dilantai dua, barusan mereka baru saja mengikuti upacara bendera yang biasa dilaksanakan setiap hari senin. Hari ini juga hari pertama pelaksanaan MOS untuk peserta didik baru kelas 10.
Melihat peserta MOS, Gista jadi mengingat kejadian 2 tahun lalu. Di mana ia berdiri di dekat gerbang sendiri, karena tidak tahu harus ke mana. Dan, saat itu juga Bara datang menghampirinya dan mengajaknya untuk masuk bersama.
Mengingat itu, membuat dadanya sesak rasanya. Apalagi, setelah mengetahui apa yang terjadi semalam.
Gista menghela nafasnya berat, ia masih merasa ngantuk saat ini. Gista tak bisa tidur setelah pulang dari jalan-jalan bersama Bara. Ia memikirkan apa yang terjadi semalam, rasanya kepala Gista ingin pecah jika terus memikirkan itu.
"Yaampun, Gi. Pokoknya, gue pengen banget ke sana lagi. Tempatnya itu bagus banget, nyesel gue dari dulu kalau diajak ke sana nggak pernah mau." ujar Lili yang masih antusias bercerita pada Gista selama perjalanan.
Gista tak tahu apa saja yang diceritakan Lili sejak tadi, yang tertangkap Indra pendengarannya itu. Hanya Garut, sawah, gunung dan talaga bodas. Mungkin, Lili pergi liburan ke sana.
"Nanti kapan-kapan gimana kalau kita ke sana bareng-bareng?" tanya Lili.
"Gigi harus dapat izin dari Bang Genta, kalau mau keluar kota, Li. Dan pastinya bakalan susah dapat izin dari Bang Genta nya," jawab Gista.
"Ah, iya juga sih."
Setibanya di kelas, mereka duduk di bangkunya masing-masing. Kali ini mereka tidak satu meja, karena Lili ditarik Dino untuk sebangku dengannya. Sedangkan, Gista belum sempat memilih tempat duduk. Karena tadi saat datang ke sekolah, ia langsung ke lapangan. Ia datang tepat bel masuk berbunyi, jadi tidak sempat ke kelas.
Gista mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas barunya, mencari tempat yang kosong. Dan, hanya tinggal ada satu bangku lagi yang kosong.
Ia pun berjalan ke bangku yang tersisa satu itu, lalu duduk di bangku itu.
"Gigi duduk di sini ya, Jon. Nggak apa-apa kan satu bangku sama, Gigi?" tanya Gista pada teman satu bangkunya itu.
Jono mendongkakkan kepalanya saat mendengar suara Gista di sebelahnya, mempause game di ponselnya. Ia pun menoleh ke arah Gista.
"Lah, lo nggak sebangku sama Lili emangnya?" tanya balik Jono.
"Lili sama Dino, nggak ada bangku kosong lagi selain ini." ucap Gista.
"Kalau lo duduk di sini, trus nanti si Bara duduk di mana?" tanya lagi Jono yang membuat Gista terdiam dan bingung.
Kenapa Jono bertanya seperti itu? Apa Jono tidak tahu jika Bara sudah pindah dari sekolah itu?
Melihat Gista yang diam saja, membuat Jono merasa bersalah karena menyebut nama Bara. Ia tahu Gista pasti masih sakit hati karena putus dengan Bara.
"Lo boleh kok, duduk di sini. Nggak apa-apa kok, Gi." ucap Jono. Lagian gue nggak tau, kenapa si Bara belum datang juga sampai jam segini. Masa dia bolos lagi di hari pertama masuk sekolah? Mana dua minggu ini kagak ada kabar, lagi. Batin Jono bingung.
"Makasih, Jon." Jono menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tak lama kemudian seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas 12 IPA-3 dengan senyumannya yang merekah di wajahnya.
"Morning, student." sapa guru berhijab itu.
"Morning, Miss." sahut mereka semua.
"How are you?"
"Fine, Miss. And you?"
"I'am fine," ucap guru b. Inggris bernama Hani itu, "Ketemu lagi sama, ibu. Mulai sekarang ibu bukan cuma untuk ngajar kalian b. Inggris aja. Tapi, ibu juga akan menjadi wali kelas kalian." lanjut Bu Hani yang membuat mereka bersorak senang.
Mereka senang Bu Hani menjadi wali kelasnya, selain masih muda Bu Hani adalah guru yang baik, asik, saat belajarnya pun tidak membosankan. Apalagi, tidak membuat mereka mengantuk.
"Ibu senang bisa jadi wali kelas kalian, apalagi setelah tau kalau juara umum kemarin ada di kelas ini. Hebat banget yang juara umum, bisa ngalahin juara umum yang ada di kelas unggulan." ucap Bu Hani sambil tersenyum, membuat mereka ikut tersenyum. Cukup bangga juga dengan adanya juara umum yang berada di kelas mereka, meski hanya Bara saja yang menjadi juara umumnya, "Tapi, ibu sedih." lanjutnya yang membuat mereka semua menyerinyitkan dahinya.
"Sedih kenapa, Bu?" tanya Surya.
"Karena, teman kalian berkurang satu." jawab Bu Hani yang membuat mereka semakin kebingungan, kecuali Gista yang memang sudah tahu apa yang dimaksud Bu Hani.
"Berkurang satu? Kok bisa, Bu? Perasaan kita naik kelas semua," ucap Panji.
"Ya, kalian memang naik kelas semua. Tapi, ada satu teman kalian yang pindah dari sekolah ini." ujar Bu Hani.
"Pindah? Siapa, Bu?" tanya Dino.
"Siapa lagi kalau juara umum kelas kita, Debara Raja Adiatama." jawab Bu Hani yang membuat mereka semua kaget mendengarnya, tak ada satupun dari mereka yang tahu jika Bara pindah. Kecuali, Gista.
"Padahal, ibu udah seneng banget waktu Bara jadi juara umum. Tapi, dia harus pindah dari sekolah ini." lanjutnya.
"Bu," panggil Jono sambil mengangkat tangan kanannya.
"Ya, Jono?"
"Kenapa Bara bisa pindah, Bu?"
"Yang ibu dengar, Bara lolos tes seleksi beasiswa sekolah di Jerman, Jono. Jadi, Bara lanjut sekolah di Jerman. Bara nggak bisa datang ke sini untuk menemui kalian terakhir kalinya, karena tepat hari ini Bara berangkat ke Jerman. Tapi, dia titip salam buat kalian," jelas Bu Hani membuat Jono mengalihkan pandangannya pada Gista yang sedari tadi terus menunduk.
"Gi ..."
Gista mendongkakkan kepalanya, lalu tersenyum ke arah Jono. Seolah, jika ia baik-baik saja. "Gigi udah tau, Jono. Bara yang kasih tau Gigi langsung," ucapnya.
Jono menghela napasnya gusar, jadi ini rahasia Bara yang membuatnya kebingungan saat Bara tiba-tiba memintanya untuk menjaga Gista.
"Sabar ya, Gi." Gista menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, masih dengan senyumannya. Senyum palsu lebih tepatnya.
__ADS_1
"Bara cinta banget sama lo, Gi. Gue bisa lihat itu, tapi gue nggak tau kenapa Bara malah milih putusin lo, tapi gue yakin dia punya alasan, Gi." ujar Jono membuat Gista terdiam.
Ia tahu alasan Bara memilih putus darinya itu karena apa, semalam adalah jawabannya. Meski, sebenarnya Gista masih ragu apakah yang di dengarnya itu benar atau tidak. Karena, Gista masih perlu mencari informasi lagi.
---
"Lo beneran nggak mau ke kantin, Gi?" tanya Jono saat melihat Gista hanya duduk saja di bangkunya, padahal istirahat sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Bahkan saat diajak Lili saja, Gista malah menolaknya.
"Nggak, Jon. Gigi mau di kelas aja," jawabnya.
Jono yang sedari tadi ikut duduk di sana, jadi tidak tega melihat Gista. Gadis itu, pasti kepikiran tentang Bara.
Kali ini Jono tidak ikut ke kantin juga, karena ia memilih menjalankan amanah Bara padanya. Yaitu, menjaga Gista.
"Lo nggak laper emangnya? Entar magh lo kambuh lagi," ujar Jono yang langsung dibalas dengan gelengan Gista.
"Jono, Gigi boleh pinjem ponsel nggak? Gigi mau kabari temen, Gigi. Gigi nggak punya ponsel sekarang, soalnya rusak." ucap Gista, yang membuatnya terlihat sangat miris rasanya.
"Boleh, nih. Pakek aja, pulsa gue banyak kok." kata Jono sambil memberikan ponselnya pada Gista.
Gista tersenyum sambil mengambil ponsel Jono, lalu ia mengetikkan nomor telpon yang ia hapal. Setelah ia menyiman nomornya, ia langsung mengirim pesan ke nomor itu.
To : Debby
By, ini Gigi. Gigi mau tanya. Jam penerbangan Bara ke Jerman itu, jam berapa?
Send.
Gista menghela napasnya setelah mengirim pesan itu, semoga Debby langsung membacanya dan membalasnya.
Drrtt .. drrtt ...
Sesuai dengan apa yang diharapkan Gista, Debby menjawab pesannya cepat. Gista pun langsung membaca pesannya.
From : Debby
Jam 2 siang, Gi. Kenapa?
To : Debby
Gigi mau ketemu, Bara. Sebelum Bara pergi ...
From : Debby
Tapi, Lo kan sekolah, Gi. Kayaknya nggak bisa,
To : Debby
From : Debby
Lo yakin, Gi?
To : Debby
Iya, By.
Oh ya, ada satu lagi yang mau Gigi tanyain.
From : Debby
Apa, Gi?
To : Debby
Tolong jawab yang jujur, By. Gigi yakin Debby tau tentang ini, Gigi mau Debby jujur sama Gigi.
Apa Bara putusin Gigi karena Bara dapat beasiswa ke Jerman?
1 detik
2 detik
3 detik
1 menit
3 menit
5 menit
Sudah lima menit, tetapi Gista belum mendapatkan balasan dari Debby. Kenapa Debby tidak membalasnya?
"Dibalas dong, By. Jangan bikin Gigi penasaran, Gigi butuh jawaban." Batin Gista, berharap ia bisa mengetahui semuanya saat ini juga. Sebelum terlambat.
6 menit ...
7 menit ...
Masih belum ada balasan, Gista menghela napasnya. Ia tak tahu kenapa Debby tidak membalas pesannya lagi.
__ADS_1
"Nih, Jon. Makasih ponselnya," ucapnya sambil memberikan ponselnya pada Jono.
Saat Jono hendak mengambil ponselnya kembali, saat itu juga suara getaran ponsel Jono berbunyi kembali.
"Eh, bentar Jon. Ada balasan lagi," ucap Gista yang diangguki mengerti Jono. Saat itu juga Gista kembali membuka pesan dari Debby.
From : Debby
Sebenarnya, Bara putusin lo bukan karena itu, Gi.
Bara itu cinta banget sama, Lo!
Gista menelan ludahnya dengan susah payah, setelah membaca balasan dari Debby. Jika Bara memilih putus dengannya bukan karena Bara akan pergi ke Jerman, pastinya ada alasan lain. Dan, Gista takut jika apa yang dipikirkannya saat ini adalah benar-benar menjadi jawaban apa yang membuat Bara putus dengannya.
"Gigi harap bukan karena itu, jangan karena itu. Apa yang Gigi dengar semalam, Gigi harap itu cuma salah dengar. Bukan ke ---"
Drtt ... Drttt ...
Satu pesan lagi masuk dari Debby, dan Gista langsung membukanya dan membacanya.
From : Debby
Maaf, Gi. Gue nggak bermaksud apa-apa. Tapi, gue harus bilang ini.
Bang Genta!
Deg
Jantung Gista rasanya seperti berhenti berdetak, ia mengerti maksud dari pesan yang baru saja ia baca dari Debby. Dadanya terasa sesak, hatinya juga perih. Kenapa semuanya jadi begini? Sekarang Gigi tahu yang sebenarnya, apa yang membuat Bara memutuskannya.
---
Gista mengendarai motornya dengan laju cukup cepat, hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya. Karena, sekolah belum belajar produktif saat pertama kali masuk awal tahun ajaran baru. Biasanya di pakai dengan kegiatan beres-beres, membuat daftar organigram. Lalu, ngobrol dengan wali kelas baru tentang apa yang harus dilakukan setelah menjadi kelas 12.
Hari ini Gista pulang setengah 2 siang, dan kali ini ia tidak langsung pulang. Tetapi, ia akan pergi ke Bandara untuk menemui Bara sebelum jam keberangkatannya tiba. Gista hanya punya waktu setengah jam, untuk bisa sampai di sana. Dan, ia berharap masih ada waktu untuk bisa bertemu dengan Bara.
"Kenapa Bara nggak bilang yang sebenarnya sama, Gigi? Gigi tau itu menyakitkan, tapi rasanya semakin sakit. Kalau Bara nggak pernah ngasih tau Gigi tentang itu," batin Gista.
Sekarang, ia tahu apa sebenarnya alasan Bara memilih putus darinya. Kalau saja semalam ia tak mendengar percakapan Bara dan Genta, mungkin ia tidak akan pernah tahu alasan Bara yang sebenarnya apa.
Dan, percakapan mereka semalam membuat Gista tak percaya. Hatinya juga perih rasanya, ketika tahu jika Genta alasan Bara putus darinya.
Flashback on
"Lebih baik kamu masuk, Gi. Istirahat, kamu kan harus sekolah pagi-pagi." ucap Genta yang langsung diangguki Gista.
"Bara, Gigi masuk dulu. Makasih dan hati-hati pulangnya," pamit Gista yang diangguki Bara.
Gista pun masuk ke dalam rumahnya, hanya beberapa langkah jauh dari pagar rumahnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar ucapan seseorang yang berhasil membuat tubuhnya mematung dengan dada yang terasa sakit kembali mendengarnya. Sakit lebih dari apa yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Saya kan sudah pernah bilang sama kamu, jangan dekati adik saya lagi. Putuskan adik saya, lalu menjauh dari kehidupannya. Tapi, kenapa kamu masih ajak dia pergi? Sampai pulang semalam ini," Itu suara Genta, yang membuat tubuh Gista membeku di pijakannya.
Kenapa Genta bisa berbicara seperti itu pada Bara? Kenapa Genta meminta Bara untuk menjauh darinya? Apa salah Bara?
"Maaf, tapi ini untuk yang terakhir. Saya tidak akan menemui Gista lagi," ucap Bara yang membuat kedua mata Gista memanas saat mendengarnya.
"Apapun itu, saya tidak suka melihat Gista bersama kamu. Saya sudah peringatkan kamu agar putuskan Gista, karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah menyetujui hubungan kamu dan Gista!"
Deg
Sakit rasanya, mendengar apa yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Hal yang tak pernah ia pikirkan, jika sebenarnya Genta yang ada dibalik alasan Bara memutuskannya.
"Saya sudah putuskan Gista sesuai apa yang anda inginkan, anda juga nggak perlu khawatir. Gista tak tau jika saya putuskan dia karena anda yang meminta, tadi saya ajak Gista pergi karena saya ingin mengakhirinya dengan baik-baik. Saya tidak mau Gista membenci saya karena pergi tiba-tiba, saya juga tidak mau Gista menyalahkan dirinya sendiri." jelas Bara yang membuat Gista menangis dalam diamnya, ia bersembunyi dibalik pohon yang ada di halaman rumahnya. Ia tak ingin mereka tahu jika Gista masih berada di sana dan menguping pembicaraan mereka.
Apa sebenarnya yang ada di pikiran Genta tentang Bara? Kenapa abangnya itu, menyuruh Bara untuk putus dengannya? Kenapa selama ini Genta bersikap seolah ia menyetujui hubungannya dengan Bara? Jika diam-diam di belakangnya Genta menyuruh Bara untuk mengakhiri hubungannya dengan Gista.
"Kenapa, Bang? Kenapa Bang Gege lakuin itu? Apa salahnya kalau Gigi sama Bara? Gigi bahagia kalau sama Bara, Gigi nyaman dan aman ketika bersama Bara. Tapi, kenapa Bang Gege menentang hubungan kita?" batin Gista, rasanya ini lebih sakit. Kenyataannya yang ternyata mereka putus karena abangnya sendiri.
"Saya sudah melakukan yang anda inginkan, itu artinya anda harus melakukan apa yang saya inginkan juga," ujar Bara yang membuat Gista menyerinyitkan dahinya, apa yang diminta Bara pada Genta? Sampai Bara mau menuruti keinginan Genta untuk putus darinya.
"Yang saya inginkan hanya melihat Gista bahagia, saya ingin dia bahagia setelah saya pergi. Saya ingin dia ceria lagi, saya tidak ingin ada air mata lagi yang menetes dari kedua matanya. Gista terlalu berharga buat saya, saya sangat mencintai dia lebih dari apa yang anda tau. Sekalipun misalnya Gista tak pernah tau jika saya mencintainya selama ini, tetapi saya akan tetap mencintainya." lanjut Bara yang membuat Gista menggigit bibir bawahnya, agar tangisnya tidak pecah.
"Tolong jaga Gista dengan baik, saya tau anda kakaknya. Tapi, terkadang tidak semua yang dirasakan Gista bisa anda ketahui. Saya berharap anda bisa memegang janji anda untuk melakukan apapun agar Gista bahagia setelah saya pergi dari hidupnya, jika suatu saat nanti saya melihat Gista tidak bahagia. Jangan salahkan saya jika saya akan kembali masuk ke dalam hidupnya, karena itu salah anda yang pernah memaksa kita untuk berpisah. Saya permisi, selamat malam." Setelah itu, Gista mendengar suara motor yang mulai menjauh.
Saat itu juga Gista berlari menuju rumahnya, ia harus segera masuk sebelum Gista melihatnya di sana. Dan, tangisnya pecah saat ia sudah berada di dalam kamarnya.
Kenyataan ini membuat hati Gista sakit, orang yang ia percaya menyetujui hubungannya dengan Bara. Ternyata adalah orang yang membuat hubungannya harus berakhir.
Flashback off
"Tunggu Gigi, Bara. Jangan pergi dulu," gumam Gista yang menambah kecepatan laju motornya.
Tintin ... Tinnn ...
Brak
---
End
__ADS_1