Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
Ekstra Chapter 1


__ADS_3

Tubuh Bara meluruh ke tanah, ketika merasa tubuhnya melemas. Melihat apa yang ada di hadapannya, membuat dada Bara sesak dan kedua matanya yang memanas. Kenyataan yang tak pernah ia pikirkan akan terjadi tanpa sepengetahuannya, kenyataannya yang tak bisa ia terima begitu saja. Kenyataannya jika ia telah ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai selama ini.


**Gista Rajani Alveera



Binti



Gilang Rion Alveer**


Air mata Bara menetes sesaat setelah ia membaca nama yang tertulis pada nisan di hadapannya, nama seseorang yang selama ini ia pikirkan dan selalu berada di hatinya. Dan ternyata sekarang orang yang selalu dipikirkannya itu, tak ada lagi di dunia yang sama dengannya.


"Kenapa jadi kayak gini, Gi? Bukan ini yang aku mau, bukan ini yang aku inginkan setelah aku pergi dulu. Yang aku inginkan itu kamu bahagia, bukan pergi selamanya." ucap Bara, ini rasanya sakit. Sangat sakit, ia melepaskan Gista dulu karena ingin Gista bahagia seperti apa yang dikatakan Genta. Bukan berakhir seperti ini.


"Ini terlalu sakit, Gi. Rasanya lebih sakit dari pada 8 tahun lalu, aku terpaksa harus melepaskan kamu. Gimana bisa kamu tinggalkan aku untuk selamanya? Kalau aku tau akhirnya akan seperti ini, mungkin dulu aku nggak akan pernah melepaskan kamu, aku nggak akan pernah tinggalkan kamu. Karena, nyatanya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai itu sangat sakit," lanjut Bara, kenyataan ini membuat hatinya hancur. Apalagi, setelah mengetahui apa yang terjadi pada Gista 8 tahun lalu dari Jono.


Flashback on


"*Bar, apa lo nggak tau?" tanya Jono.


"Tentang apa?"


"Gista udah meninggal,"


Deg


Jantung Bara rasanya seperti berhenti berdetak, mendengar sesuatu yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bagaimana bisa Jono mengatakan jika Gista sudah meninggal? Karena itu tidak mungkin, selama ini Debby tidak memberitahu jika Gista meninggal.


Selama tinggal di Jerman, Bara sering menanyakan tentang Gista pada Debby. Tetapi, Debby tak pernah bilang jika Gista sudah meninggal.


"Gista meninggal 8 tahun yang lalu, Bar." lanjut Jono, yang membuat Bara semakin tak percaya dengan apa yang dikatakan Jono.


"Lo ngomong apa sih, Jon? Jangan ngada-ngada deh, gimana bisa Gista udah meninggal? Lo kalau mau bercandain gue, jangan kayak gitu." ujar Bara membuat Jono semakin iba melihatnya.


"Dia kecelakaan setelah pulang sekolah," ucap Jono membuat Bara menyerinyitkan dahinya.


"Stop deh, Jon. Jangan bercandain gue kayak gitu, gue nggak suka." balas Bara, sulit percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jono.


"Tepat saat lo akan berangkat ke Jerman, dia mau nyusul lo ke bandara." ujar Jono, yang membuat dada Bara terasa sangat sesak.


"Jon, berhenti bercanda kayak gitu." pinta Bara.


"Dia meninggal setelah mengalami koma 1 minggu,"


Air mata Bara menetes begitu saja, bagaimana bisa itu terjadi? Ini sangat sulit untuk dipercaya oleh Bara, jelas sakit saat mendengar pernyataan dari Jono. Karena, bukan itu yang ingin ia dengar saat pulang ke Indonesia. Kabar ini lebih sakit dari pada mendengar jika Gista sudah bahagia dengan orang lain.


"Maafin gue, Bar. Gue nggak bisa jagain Gista seperti apa yang Lo minta, gue nggak tau kalau saat itu Gista mau nyusul lo ke bandara. Waktu itu, Gista buru-buru banget setelah bel pulang. Gue kira dia ada urusan lain, tapi setelah gue lihat percakapan Gista dengan adik lo di ponsel gue. Gue baru tau kalau Gista mau nyusul Lo ke bandara, kalau sekolah pulang cepat." jelas Jono yang menambah rasa sesak pada dada Bara.

__ADS_1


"Kenapa nggak ada yang ngasih tau gue, Jon? Bahkan, Debby nggak pernah bilang apa-apa sama gue. Dia nggak bilang kalau Gista kecelakaan, apalagi sampai meninggal." ucap Bara.


"Satu hal lagi, Bar."


"Apa?"


"Kayaknya saat itu Gista tau alasan lo putusin dia karena apa," ujar Jono yang membuat Bara menyerinyitkan dahinya.


"Maksud Lo?"


"Dari pesan yang gue baca, Gista tanya apa alasan sebenarnya lo putusin dia pada Debby. Apa karena Lo akan pergi ke Jerman atau bukan. Debby membalasnya bukan, dan Debby menulis bang Genta di pesan berikutnya. Mungkin, saat itu Gista sudah tau yang sebenarnya." jelas Jono, membuat Bara terdiam. Jika saat itu Gista tahu apa yang sebenarnya terjadi, pasti Gista sangat terluka.


"Gue mau ke makam Gista, Jon*."


Flashback off


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Gi? 8 tahun tanpa kamu aja hidup aku terasa berat, apalagi tanpa kamu selamanya. Sangat berat rasanya, Gi." ujar Bara, "Aku pulang untuk memastikan kalau kamu bahagia, Gi. Bukan untuk mendengar kenyataan ini," lanjutnya.


"Bara," panggilan seseorang itu, membuat Bara mengalihkan pandangannya. Di mana ada seorang perempuan yang berdiri tak jauh di tempatnya. "Kamu Bara kan?" tanyanya memastikan.


Bara berdiri dari posisinya, lalu menganggukkan kepalanya. Perempuan itu, seperti pernah Bara lihat sebelumnya.


Perempuan itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya pada Bara. Sebelum akhirnya ia berkata, "Saya Mica, kakak ipar Gista." ucapnya memperkenalkan diri.


"Bara," ujarnya sambil membalas uluran tangan Mica. Jika Mica adalah kakak ipar Gista, jadi ia pernah melihatnya saat acara pernikahan itu.


Tadi setelah hendak pulang dari pemakaman Gista, Mica tak sengaja melihat Bara yang memasuki pemakaman. Ia mengenali wajah Bara, karena saat itu Gista pernah memperlihatkan foto Bara padanya. Untuk memastikan jika apa yang dilihatnya itu adalah Bara, ia sengaja mengikuti Bara dari belakang. Dan, tebakannya itu benar saat melihat Bara berhenti di pemakaman Gista.


"Bisa,"


"Kalau gitu, ikut saya ke rumah. Ada sesuatu yang mau saya kasih untuk kamu," ucapnya yang langsung diangguki oleh Bara.


---


Setelah 30 menit di perjalanan, akhirnya Bara dan Mica tiba di rumah Mica. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya Gista, rumah yang tadi sempat ia kunjungi. Tetapi, ia tidak menemukan Gadis yang sangat dirindukan. Ternyata, Gista tidak pindah rumah. Hanya saja Gista sudah pindah dari dunia.


Mica mengajak Bara untuk masuk ke dalam rumahnya, saat di ruang tamu mereka melihat anak kecil yang sedang dibujuk untuk makan. Anak kecil itu adalah anak kecil yang ditemuinya tadi.


"Gista nggak mau, Bi. Jangan paksa, Gista." ujar gadis kecil itu.


"Tapi, non Gista belum makan dari tadi." balas asisten rumah tangga itu.


"Ada apa ini?" tanya Mica yang membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya, dan saat itu juga gadis kecil itu berlari ke arah Mica.


"Non Gista nggak mau makan, Bu." jawab asisten rumah tangga itu.


"Kenapa nggak mau makan?" tanya Mica pada gadis kecil itu.


"Gista nggak suka paha ayam, Mah. Tapi, Bi Erni malah goreng paha ayam, udah tau Gista sukanya sayap atau dada ayam." jawab gadis itu, membuat Bara mematung saat mendengarnya.

__ADS_1


Kenapa yang tidak disukai gadis kecil itu sama persis dengan, Gista? Bahkan namanya pun sama, Gista!


"Yaudah, Bi tolong masakin ayam goreng lagi buat Gista. Bagian sayapnya aja," ucap Mica yang langsung diangguki asisten rumah tangganya, lalu bi Erni pergi ke dapur.


"Duduk, Bar." Bara mengangguk, lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Om yang tadi datang ke sini kan? Yang nyari Gista, tapi waktu udah ketemu Gista. Katanya bukan aku yang om cari," ucap gadis kecil itu, saat melihat Bara dan mengingat kejadian tadi.


"Yang dicari om Bara memang bukan kamu," ujar Mica.


"Tapi, tadi bilangnya mau ketemu Gista kok, Mah." balasnya.


"Tapi, bukan Gista kamu. Tapi, tante Gigi." Gadis kecil itu mengangguk mengerti, "sebentar ya, Bar. Saya mau ambil barangnya dulu," ucap Mica yang langsung diangguki oleh Bara.


Mica pun pergi dari sana untuk ke lantai 2, meninggalkan Bara dan Gista di ruang tamu berdua.


"Jadi, om itu nyari Tante Gigi?" tanya Gista memecahkan keheningan diantara mereka.


"Iya," jawabnya singkat.


"Gista juga kepengen banget ketemu sama tante Gigi, tapi sayangnya tante Gigi udah nggak ada. Gista cuma bisa lihat wajahnya dari foto aja," ucap Gista membuat Bara menundukkan kepalanya. Kenyataannya ini terasa sakit, lebih sakit dari apa sakit yang pernah ia rasakan selama ini.


Bisakah waktu diputar kembali? Rasanya Bara ingin mengulang semuanya, ia ingin kembali pada saat-saat ia bersama Gista. Dan, jika ia bisa kembali ke waktu itu. Ia berjanji untuk tidak akan melepaskan dan meninggalkan Gista.


"Gista ke dapur gih, kayaknya Bi Erni udah selesai masak. Kamu makannya sama Bi Erni di ruang makan," ucap Mica yang sudah kembali ke ruang tamu.


"Iya, Mah." Gadis kecil itu pun berlari menuju ruang makan, sesuai dengan apa yang dikatakan Mica. Sedangkan, Mica duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa namanya, Gista?" tanya Bara.


"Genta yang ngasih nama itu," jawabnya yang diangguki paham oleh Bara.


"Tadi katanya ada yang mau dibicarain, mbak mau bicara apa sama saya?" tanya lagi Bara.


"Tolong maafkan Genta, Bar."


"Kenapa harus mbak yang minta maaf? Dan, maaf untuk apa?"


"Saya sudah tau semuanya, tentang alasan kamu putusin Gista 8 tahun lalu. Karena, Genta kan. Awalnya saya juga nggak nyangka kalau Genta yang nyuruh kamu buat putusin, Gista. Tetapi, setelah kecelakaan itu ... Semuanya terungkap, dan Genta menyesal pernah menyuruh kamu untuk mengakhiri hubungan dengan Gista. Keegoisannya membuat Genta kehilangan Gista selamanya." jelas Mica, membuat dada Bara semakin sesak jika mengingat kejadian itu.


"Genta sangat menyesal, apalagi ketika dia nggak bisa menyelamatkan Gista dan Gista pergi dengan rasa kekecewaan pada Genta. Genta ingin sekali minta maaf sama kamu sejak dulu, tetapi dia nggak bisa ketemu kamu. Karena, kamu sudah pergi." lanjut Mica.


"Untuk apa meminta maaf pada saya? Yang dia sakiti bukan saya, tapi Gista. Gista yang banyak terluka, bukan saya." ujar Bara dengan kedua matanya yang memanas.


Mica menundukkan kepalanya, ia bisa melihat luka di mata Bara. Luka yang sama persis yang pernah ia lihat di mata Gista 8 tahun yang lalu.


"Maaf, saya harus pulang." ucap Bara sambil bangkit dari duduknya, ia tak ingin lagi membahas tentang Genta. Karena, itu malah menambah rasa sesak di dadanya.


Mica ikut berdiri, lalu memberikan sebuah buku pada Bara. "Ini diary Gista, mungkin cuma kamu yang berhak menyimpannya. Karena, dia menulis semua tentang kamu di dalamnya," ucapnya.

__ADS_1


"Makasih, saya permisi," ujarnya, lalu pergi meninggalkan Mica untuk segera pulang ke rumahnya.


---


__ADS_2