
1 Minggu kemudian ...
Setelah sekian lama menunggu acara pernikahan Genta & Mica, akhirnya hari itu tiba juga. Tepat pada hari ini, jam 10.00 pagi tadi acara akad nikah telah dilaksanakan. Dan, acara resepsi pernikahannya dilanjut pada pukul 16.00 sore s/d selesai.
Senyum Gista merekah saat melihat kebahagiaan Genta dan Mica di atas pelaminan sana, sejak dari tadi senyum keduanya tidak pernah luntur. Apalagi, saat serentetan orang yang menyalami mereka satu-persatu untuk memberikan selamat.
Gista bahagia melihatnya, ia senang akhirnya abang satu-satunya itu sekarang menikah juga. Kedua orangtuanya juga pasti ikut bahagia melihatnya di atas sana.
Sekarang jam menunjukkan pukul 20.15 malam, Gista sudah merasa bosan di sana karena tak ada orang yang dikenalinya. Ia tidak terlalu dekat dengan keluarga besar Mica, jangankan dengan keluarga besar Mica. Dengan keluarga besar kedua orangtuanya yang hadir ke acara itu saja, Gista tidak dekat. Apalagi, selama ini mereka tinggal berjauhan dengannya.
"Gigi," panggil seseorang yang membuat Gista mengalihkan pandangannya ke sumber suara, saat itu juga senyumnya semakin mengembang saat melihat Lili yang baru datang bersama Dino.
"Gigi, yaampun lo cantik banget malan ini, Gi." Ujar Lili saat sudah berada di hadapan Gista.
"Lili juga cantik banget," ucap Gista.
"Cantikan Lo, Gi. Serius gue," balas Lili, malam ini Gista memakai gaun berwarna peach, dengan rambut yang di gelung bergaya modern dan terdapat flower crown yang menghiasi kepala Gista.
(Gaun yang dipakai Gista)
(Tatanan rambut Gista)
"Lili bisa aja,"
"Kalau Bara liat lo cantik kayak gini, dia pasti nyesel udah putusin lo, Gi." ucap Lili yang membuat Gista tersenyum samar, bukan Bara yang menyesal putus darinya. Tetapi, ia yang menyesal. Karena, melepaskan orang yang begitu mencintainya.
"Lo nggak usah sedih-sedih lagi, Gi. Biarin ajalah si Bara, gue juga nggak tau kenapa dia tiba-tiba kayak gitu. Sampai, sekarang aja si Bara masih diemin gue," Ujar Dino.
"Iya, Gigi udah nggak apa-apa kok,"
"Nggak usah mikirin Bara lagi, mending Lo anterin kita ke abang lo. Gue mau ngucapin selamat dulu," ucap Lili yang langsung diangguki oleh Gista.
Mereka bertiga pun berjalan menuju pelaminan, yang sekarang sudah cukup lenggang. Tidak seperti tadi, orang-orang harus mengantri untuk memberikan selamat pada pasangan pengantin.
---
Jam menunjukkan pukul 21.00 malam, sekarang Gista berada di taman belakang gedung yang dipakai sebagai tempat acara resepsi pernikahan Genta & Mica. Ia duduk sendirian di sana, sambil memandang bulan purnama yang menghiasi langit malam ini.
Gista memang sengaja memilih keluar dari gedung itu, rasanya ia bosan sekali berada di dalam. Apalagi, Gista hanya diam saja selama acara. Ia juga tidak ada teman ngobrol, saat di dalam. Lili sudah pulang setengah jam yang lalu, membuat dirinya semakin bosan berada di dalam.
Jadi, ia memutuskan untuk keluar mencari angin. Siapa tahu rasa bosannya itu akan hilang.
"Kenapa lo malah duduk di sini?" tanya seseorang yang membuat Gista menoleh ke belakang.
Gista terdiam mematung saat melihat Bara lah yang berada di belakangnya, sejak kapan Bara berada di sana?
"Bara,"
Cowok itu tersenyum tipis, lalu duduk di bangku sebelah Gista yang masih kosong. Bara heran kenapa Gista malah duduk sendirian di luar, padahal acara pernikahan Genta berada di dalam.
"Kenapa di luar?" tanya lagi Bara.
"Gigi bosan di dalam, nggak ada temen. Gigi nggak terlalu akrab sama keluarga, jadi Gigi ke sini aja. Cari angin," jawab Gista yang diangguki paham oleh Bara.
"Apa kabar, Gi?"
"Baik, kabar Gigi baik. Bara sendiri?"
"Maunya baik juga, kenyataannya nggak. Tapi, harus kelihatan baik-baik aja," ujar Bara yang membuat Gista terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Entahlah, Gista masih merasa bersalah pada Bara. Apalagi, melihat perubahan Bara yang begitu berbeda sejak hari di mana Gista memutuskan Bara meskipun itu hanya pura-pura.
Tak ada lagi Bara yang menyebalkan di lihatnya, tak ada lagi Bara yang suka bercanda atau menggodanya. Semuanya, sudah berbeda.
Bara melepaskan jaket yang dipakainya, lalu menyampirkannya di bahu Gista. Membuat gadis itu, kembali mendongkakkan kepalanya dan menatap Bara.
"Udaranya dingin, nanti lo masuk angin lagi." Ucap Bara.
__ADS_1
"Terima kasih," Bara mengangguk sebagai jawabannya.
"Bara ke sini sendiri? Debby mana?" Tanya Gista, sebenarnya ia merasa canggung saat ini berada di dekat, Bara.
"Dia ada di dalam, sama pacarnya. Dari pada gue ngikutin mereka jadi nyamuk, jadi gue keluar aja. Eh, ketemu lo di sini." Jawab Bara, yang dibalas dengan anggukan mengerti Gista.
Setelah itu, keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Situasi yang sangat canggung, baru kali ini mereka merasakan itu. Padahal, sebelumnya mereka tidak pernah merasakan situasi seperti saat ini saat berdekatan.
"Cantik," ucap Bara tiba-tiba, yang membuat Gista mendongkakkan kepalanya melihat bulan purnama yang memancarkan sinarnya di atas langit sana.
"Iya, bulannya cantik. Langitnya juga nggak terlalu gelap," sahut Gista sambil tersenyum memandang bulan itu.
"Bukan bulan, Gi. Tapi, lo yang cantik." batin Bara yang masih menatap Gista, saat berkata cantik pun Bara sedang menatap Gista. Tetapi, gadis itu malah mendongakkan kepalanya dan menyangka jika yang Bara sebut cantik itu adalah bulan.
Bara terus menatap wajah Gista, meskipun Gista terus menatap ke arah langit. Kapan lagi Bara bisa menatap Gista sedekat ini? Apalagi, waktunya semakin menipis untuk bisa melihat Gista dalam jarak sedekat ini.
Dadanya kembali sesak, ketika ia harus menerima kenyataan. Di mana ia harus melepaskan Gista, meskipun hatinya begitu dalam mencintainya. Di mana ia ingin menjaga Gista dari dekat, tetapi keadaan tidak merestuinya.
Bisakah ia berjauhan dengan Gista? Rasanya, tidak. Seminggu lebih tidak bertemu Gista saja, membuat hidupnya terasa hampa. Apalagi, jika lebih dari itu? Bara tak bisa membayangkannya, karena rasanya sulit.
"Gue mau pamit, Gi." ucap Bara yang membuat Gista mengalihkan pandangannya pada Bara.
"Bara mau pulang sekarang?" tanya Gista, membuat Bara terdiam. Bukan pamit untuk pulang yang dimaksud Bara kali ini, tetapi yang dimengerti Gista kali ini berbeda dengan apa yang ada dipikiran Bara.
Apa yang harus dilakukan Bara sekarang? Mengatakan semuanya pada Gista, atau tidak? Berat rasanya jika harus mengatakannya pada Gista, tetapi ia harus mengatakannya.
"Hati-hati di jalannya ya Ba ---"
"Gue pamit mau pergi ke Jerman, Gi." sela Bara sambil menundukkan kepalanya, dan pernyataan itu berhasil membuat Gista terdiam mematung sambil menatapnya.
Tak ada lagi kata yang bisa diucapkan oleh Gista, setelah mendengar ucapan Bara. Seolah mulutnya terasa berat untuk mengucapkan kata-kata lagi, yang ada malah jantungnya yang seperti berhenti berdetak dan kedua matanya yang terasa memanas.
Apa maksud Bara? Kenapa Bara mengucapkan itu? Untuk apa Bara pergi ke sana?
Banyak pertanyaan yang berputar di otak Gista, tetapi ia tak bisa mengutarakan itu. Rasanya tenggorokannya sakit, dan susah untuk mengeluarkan kata.
"Gue dapat beasiswa lanjut sekolah di sana, Gi." ucap Bara, yang membuat Gista menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya terasa semakin sakit rasanya, disaat ia berusaha untuk tidak menangis.
"Awalnya, gue nggak nyangka bisa mendapatkan beasiswa itu. Gue cuma coba-coba aja, waktu ikut beberapa tes saat seleksi. Tapi, ternyata gue lolos seleksi," ujar Bara, namun Gista masih terlihat diam saja sambil menatapnya.
Melihat Gista yang sekarang membuat hati Bara nyeri rasanya, Bara tahu jika saat ini Gista tengah menahan tangis. Ia bisa melihatnya dari kedua mata Gista yang memerah dan berkaca-kaca, tetapi sekarang gadis itu bersikap seolah dirinya baik-baik saja.
"Gue udah nggak sekolah di SMA Jati Bangsa, Gi. Tahun ajaran baru, gue sekolah di Jerman. Semuanya udah diurus, setelah gue lolos seleksi. Dan, gue juga udah ngurus kepindahan gue dari sekola setelah pemberian raport dua minggu lalu," lanjut Bara, tadinya Bara juga tidak menyangka jika dirinya lolos seleksi.
Bara memang mengikuti semua tes dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap saja ia tidak menyangka jika hasil tes yang dikerjakannya itu bisa membuatnya lolos. Apalagi, banyak sekali orang yang juga ikut seleksi saat itu. Bukan hanya Bara, yang pastinya masih banyak orang yang lebih cerdas darinya. Apalagi, yang ikut seleksi saat itu dari berbagai negara.
Seleksi itu diadakan sebelum Bara mengikuti UAS di sekolah, pada seleksi pertama ia mengikuti tes tertulis berbasis online. Setelah lolos seleksi pertama, setelah selesai UAS dilaksanakan. Bara mendapatkan undangan interview dan seleksi yang selanjutnya. Untuk itu, selama beberapa hari Bara tidak masuk sekolah saat acara PORBAS itu. Bara pergi ke Jerman untuk menghadiri undangan itu untuk di interview dan seleksi lagi.
Dan, Bara mendapatkan kembali informasi lolos seleksi secara keseluruhan dua hari sebelum pemberian raport. Ia mendapatkan beasiswa itu, dan itu adalah sesuatu yang pernah Bara idamkan dulu.
"Dua hari lagi gue berangkat ke Jerman, Gi." Tenggorokan Gista semakin sakit rasanya, karena ia terus menahan tangisnya agar tidak pecah.
Dua hari lagi? Kenapa secepat itu? Dua hari lagi juga Gista harus masuk sekolah, karena libur panjangnya akan berakhir di hari esok. Dan, itu artinya dua hari lagi Gista masuk sekolah sebagai kelas 12. Tapi, Bara ... Bara akan pergi ke Jerman.
Kenapa mendadak sekali rasanya? Sakit hati karena putus dengan Bara saja, belum sembuh. Sekarang, ditambah lagi dengan Bara akan pergi meninggalkannya jauh. Ini sangat sulit bagi Gista.
"Apa karena beasiswa itu, yang membuat Bara benar-benar putusin Gigi?" tanya Gista tiba-tiba, rasanya ia juga tidak terlalu yakin jika Bara memutuskannya hanya karena marah saat Gista pura-pura memutuskannya.
"Maaf ..." ucap Bara menggantung, membuat Gista yakin jika memang karena itu Bara memilih putus dengannya.
Tapi, kenapa? Kenapa Bara memilih putus darinya? Kenapa Bara tidak membujuknya saja agar mau hubungan jarak jauh dengannya? Kenapa malah putus yang dipilih, Bara? Apakah Bara tidak percaya padanya jika mereka LDR?Atau ada hal lain? Entahlah, Gista tidak tahu. Tapi, rasanya ini sangat sesak.
"Gi ---"
"Tolong anterin Gigi pulang, Gigi udah ngantuk Bara. Gigi mau pulang," sela Gista rasanya ia ingin menangis sekarang juga. Tetapi, ia tidak ingin menangis di hadapan Bara. Dan, sekarang rasanya ia sudah tak nyaman lagi di sana. Ia ingin pulang.
"Tapi, acaranya kan belum selesai, Gi." ujar Bara.
"Nggak apa-apa, yang penting kan akadnya tadi. Sekarang, cuma resepsi aja. Gigi mau pulang aja, lagian Bang Genta sama Kak Mica nggak akan pulang ke rumah. Mereka nginap sehari di rumah kak Mica, jadi Gigi mau pulang aja." jelasnya, ia tak berani pulang sendiri. Apalagi, harus naik kendaraan umum di malam hari.
"Yaudah, ayo. Kebetulan gue bawa mobil, Debby bisa pulang sama pacarnya nanti." ucap Bara yang langsung dibalas dengan anggukan Gista.
__ADS_1
Keduanya pun bangkit dari duduknya, lalu pergi dari tempat itu untuk pulang. Dan, berjalan menuju mobil Bara yang terparkir di basemen.
---
Setelah menghabiskan waktu selama 50 menit perjalanan dari tempat acara resepsi pernikahan Genta & Mica, akhirnya mobil yang dikendarai Bara sampai juga di depan pagar rumah Gista dengan selamat.
Selama perjalanan hanya diisi dengan keheningan, tidak ada yang berbicara. Apalagi, sepanjang perjalanan Gista terus menatap ke arah luar jendela dengan pikirannya yang berkecamuk. Melihat Giata yang hanya diam saja, membuat hati Bara semakin nyeri.
Gista keluar dari mobil, begitu juga dengan Bara yang ikut keluar dan mengitari mobilnya untuk membantu Gista yang sedikit kesulitan saat keluar karena gaunnya.
"Makasih, Bara." ucap Gista dengan memperlihatkan senyumannya, dan Bara yakini itu hanya senyuman palsu. Senyum penutup luka.
"Bara hati-hati ya pulangnya, makasih udah sempetin waktunya buat datang ke acara pernikahan Bang Gege. Oh ya, selamat juga atas beasiswanya. Semoga Bara sukses," lanjut Gista, nada suaranya sudah tak setenang biasanya.
"Gigi masuk dulu ya, Bara. Udah malam," ucapnya, sambil melangkah untuk membuka pagar besi rumahnya. Namun, baru tiga langkah ia berjalan meninggalkan Bara. Langkahnya itu tiba-tiba terhenti saat ada sebuah tangan yang menahannya.
"Lo bisa nangis sekarang, Gi." ujar Bara, yang membuat Gista menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisnya.
Gista tak berani menoleh ke belakang, ia tak yakin jika ia bisa menahan tangisnya jika melihat wajah Bara. Untuk itu, ia memilih memunggungi Bara.
"Jangan nahan tangis lagi, Gi. Lo boleh nangis di hadapan gue sekarang, tapi lo harus janji. Kali ini adalah tangisan terakhir lo, lo nggak boleh nangis lagi." lanjut Bara, membuat Gista memejamkan kedua matanya.
Bara melangkah mendekati Gista dan berdiri di hadapannya, ia tahu jika sekarang Gista masih tengah menahan tangisnya.
"Gi, gue minta maaf," ucap Bara yang membuat Gista kembali membuka matanya dan saat itu juga kedua matanya bertemu dengan manik mata Bara.
"Bara nggak perlu minta maaf, Bara nggak salah." ujar Gista dengan nada suara yang bergetar.
"Gue cinta sama lo, Gi. Gue sayang sama lo, tapi maaf ... Gue nggak bisa terus bersama lo," ucapanya, yang saat itu juga berhasil membuat air mata yang sedari tadi Gista tahan menetes juga.
Gista tak bisa lagi untuk menahan tangisnya, sedari tadi ia berusaha untuk kuat. Tetapi, ia tidak bisa. Hatinya benar-benar sakit, dadanya juga sesak.
"Kenapa harus sesakit ini, Bara? Rasanya sakit dan sesak, Gigi nggak pernah ngerasain ini sebelumnya. Tetapi, kenapa disaat Gigi merasakannya. Rasanya harus sesakit ini?" tanya Gista yang kini tangisnya sudah pecah, ia menyerah. Ia tak bisa menahan semuanya lagi.
"Salah Gigi apa, Bara? Apa kesalahan Gigi sangat besar, sampai-sampai Gigi harus menerima semuanya sesakit ini?" tanya lagi Gista yang dibalas dengan gelengan Bara. Bahkan, Gista tak salah apa-apa.
"Sakit, Bara. Di sini," ucapnya sambil menunjuk dada sebelah kirinya, "rasanya sakit banget," lanjutnya.
Tak tega melihat Gista yang menangis seperti itu, Bara pun menarik Gista ke dalam pelukannya. Disaat itu juga, tangis Gista semakin pecah.
"Jangan tinggalin, Gigi." lirihnya yang membalas pelukan Bara dengan erat.
"Maaf, Gi. Maaf ... ." Bara tak tahu harus mengucapkan apalagi? Ia ingin sekali untuk tetap berada di dekat Gista, tetapi keadaan tidak memihaknya. Ada sesuatu yang Gista tidak tahu, yang membuat Bara benar-benar harus melepaskannya.
"Kenapa Bara harus pergi? Kalau Bara memang nggak mau pacaran lagi sama, Gigi. Gigi nggak apa-apa, asalkan Bara nggak pergi. Jangan tinggalin Gigi," ucap Gista masih dengan isak tangisnya.
"Maaf, Gi. Ini demi kebaikan lo, gue nggak punya pilihan lagi." batin Bara.
"Lo harus bisa lupain gue, Gi. Gue nggak bisa terus bersama lo, lo harus berani dengan diri lo sendiri. Jangan mau dibodohi orang, Gi. Nggak semua orang peduli sama lo, mereka bisa aja memanfaatkan kepolosan lo." ujar Bara.
"Nggak bisa, Gigi nggak bisa. Gigi butuh Bara, Gigi mau sama Bara dan Gigi nggak bisa lupain Bara."
"Lo pasti bisa, Gi. Lo harus bisa, gue mau lo bahagia."
Gista tak membalasnya lagi, ini terasa sulit. Ia tidak bisa melakukannya, apalagi jika harus melupakan Bara. Bagaimana bisa?
Bara melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Gista dan menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Lo pasti bisa, setelah itu lo harus bisa kembali menjadi Gista yang ceria." ujar Bara, namun dibalas dengan gelengan Kepala Gista.
"Oh ya, gue masih punya utang sama lo. Gue punya utang 9 jam lagi sebagai pacar 1 X 24 jam lo, yang waktu itu. Waktu itu, kita baru menghabiskan waktu 15 jam sebagai pacar 1 X 24 jam. Dan, gue mau melunasi sisa 9 jam lagi besok." ucap Bara, ia hanya memiliki waktu satu hari lagi sebelum ia berangkat ke Jerman, "Lo bisa kan kalau besok jalan sama gue?" tanya Bara yang dibalas dengan anggukan Gista.
Bara tersenyum melihatnya, meski hanya sebuah anggukan kecil. "Besok, jam 4 sore gue akan jemput lo. Kita pergi ke tempat-tempat yang waktu itu belum sempat kita kunjungi. Besok harus menjadi hari paling indah dan bahagia," ucapnya yang kembali dibalas dengan anggukan Gista.
"Sekarang lo masuk ya, ini udah malam. Jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang lagi. Lo tuh cantik banget tau malam ini, bulan di atas aja kalah cantiknya sama lo." Gista kembali menganggukkan kepalanya, ia tak tahu harus bilang apalagi.
"Yaudah, masuk gih."
"Boleh, Gigi peluk Bara sekali lagi?" tanya Gista.
Bara tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Saat itu juga Gista memeluknya, pelukan yang lebih erat. Seolah ia tak ingin melepaskannya. Karena, saat ia melepaskannya. Ia takut Bara tak bisa lagi ia gapai dan ia peluk.
__ADS_1
---