
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
Itu adalah suara tangisan Gista, sudah sepuluh menit lamanya Gadis itu menangis. Dan, penyebabnya karena tadi Gista menabrak tiang ring basket saat tak bisa mengendalikan sepatu rodanya untuk berhenti. Dahi Gista sedikit benjol, karena nabrak tiang itu. Dan double sialnya itu, adalah ketika Gista jatuh setelah kejedot tiang.
Tadi Bara terlambat untuk menolongnya, hingga akhirnya kejadian menyakitkan itu harus terjadi pada Gista.
Sekarang, mereka masih berada di lapangan basket. Duduk di pinggir lapangan, karena Gista terus saja menangis. Gara-gara jatuh tadi, Gista tak ingin lagi belajar menggunakan sepatu roda. Bahkan, setelah jatuh tadi. Gista melepaskan sepatu rodanya dan melemparnya begitu saja. Padahal, itu sepatu roda kesayangan milik Bara.
"Udah dong, Gi. Berhenti nangisnya," bujuk Bara untuk yang kesekian kalinya.
"Sakit tau, lihat nih dahi Gigi jadi benjol." Ujar Gista masih dengan isak tangisnya.
"Iya gue tau, tapi kalau Lo nangis nanti malah tambah sakit." Ucap Bara.
"Semuanya gara-gara, Bara. Kalau aja Bara tadi ngikutin Gigi dari belakang, mungkin Gigi nggak bakalan sampai nabrak tiang." Gerutu Gista kesal, ia masih tak terima dengan kejadian jatuh tadi.
"Iya, iya gue minta maaf."
"Dasar tukang boong, Bara. Katanya sebelum Gigi jatuh Bara bakalan tolongin Gigi duluan, tapi mana? Gigi udah jatuh duluan baru di tolongin." Omel Gista.
"Maaf, Gi. Tadi gue liat Lo bisa sendiri tanpa gue ikutin dari belakang. Jadi, gue cuma perhatiin Lo aja tadi." Ucap Bara, ia merasa bersalah karena seharusnya tadi ia mengikuti Gista dari belakang seperti apa yang di katakannya tadi. Tetapi, ia malah diam saja.
"Bisa dari mananya? Tadi aja Bara ledek Gigi, kalau Gigi bakalan kalah sama keong karena lambat banget cuma pakai sepatu roda doang." Balas Gista, membuat Bara heran apa segitu kesalnya Gista padanya?
"Iya, Gi. Gue tau gue salah, gue minta maaf."
"Maaf Bara nggak bisa bikin dahi benjol Gigi jadi semula. Gigi mau pulang." Ujarnya, sambil bangkit dari duduknya. Lalu, meninggalkan Bara begitu saja.
"Lah, Gi. Tunggu!" Ucap Bara, ia ikut bangkit. Lalu, mengambil sepasang sepatu roda yang tadi di lempar Gista. Baru setelah itu, ia mengejar Gista yang pergi meninggalkannya.
---
Bara melempar ponselnya asal ke sofa, setelah ia berusaha menghubungi Gista. Tetapi, tak bisa dan Bara baru ingat jika ponsel Gista rusak. Membuat Gadis itu, tak bisa di hubungi entah itu lewat nomor telponnya atau sosial medianya.
Kalau saja masalah tadi sudah selesai, mungkin sekarang Bara tak akan segelisah ini saat Gista tak bisa di hubungi. Tapi, masalahnya masalah tadi belum juga selesai. Gista benar-benar marah padanya, bahkan tadi saat Bara menyusulnya sambil meminta maaf pada Gista. Gadis itu, tak berbicara sepatah katapun. Gista terus saja mendiamkannya selama di perjalanan, sampai saat tiba di rumahnya pun. Gista tidak bicara apa-apa pada, Bara.
Bara tak tahu jika akhirnya akan seperti itu, tadi ia memang salah. Ia tidak menepati ucapannya, saat ia akan menjaga Gista dari belakang. Tetapi, dirinya hanya diam sambil memperhatikan Gista saja. Sampai akhirnya Gista jatuh, ia terlambat untuk menolongnya. Padahal, sebelumnya ia berkata bahwa sebelum Gista jatuh ia akan menolongnya lebih dulu. Tetapi, kenyataannya sungguh berbalik dengan apa yang di ucapkannya.
"Kemarin anak ayam tetangga mati lho, Bar. Karena ngelamun." Ucap seseorang membuat Bara mengalihkan pandangannya. Yang barusan berucap adalah Papanya, Dante.
Bara berdecak, apa hubungannya ia dan anak ayam tetangga yang mati karena melamun?
"Kenapa sih, Bar?" Tanya Dante sambil duduk di sofa sebelah Bara.
"Nggak apa-apa." Jawabnya.
"Kayak cewek deh, jawab nggak apa-apa. Taunya ada apa-apa, tar kalau di jawab oh doang. Malahan bilang 'kamu nggak peka deh, kalau aku bilang nggak apa-apa itu artinya ada sesuatu yang aku pikirin.' kayak gitu lagi." Ucap Dante, mencibir Bara. Lagi pula anaknya itu sok-sok'an tidak apa-apa, padahal dari wajahnya saja sudah ketahuan jika ada yang sedang di pikirkan oleh Bara.
"Apa sih, Pah. Nggak ada apa-apa juga."
"Ya, trus kalau nggak apa-apa kenapa malah ngelamun? Nggak biasanya Papa liat kamu ngelamun. Kenapa? Uang jajan kurang?" Tanya Dante.
"Iya, kurang. Tambahin dong," jawab Bara sambil mengulurkan tangannya seperti orang minta uang.
"Uang jajan kamu berapa sehari?"
"50 ribu, itu buat jajan sama bensin."
"Mau di tambahin jadi berapa?"
__ADS_1
"Sehari mau 1 juta."
Dante mengangguk-anggukan kepalanya sambil berpikir sejenak setelah mendengar jawaban Bara yang ingin uang sakunya jadi 1 juta perhari. "Kalau satu hari 1 juta, berarti kalau sebulan jadi 30 juta dong ya." Ucapnya.
"Iya, dikit banget kan 30 juta." Ujar Bara dengan entengnya.
"Iya, dikit banget itu. Kamu anaknya siapa sih, Bar?" Tanya Dante.
"Anaknya Bapak Dante Said Adiatama dan Ibu Diana Putri Jasmine Adiatama." Jawab Bara secara lengkap menyebutkan kedua nama orangtuanya.
"Pinter, karena kamu tau nama lengkap kedua orangtua kamu. Maka dari itu, mulai saat ini uang jajan kamu jadi 55 ribu perhari." Ujar Dante membuat Bara menyerinyit dahinya.
"Kok nambah nya cuma lima ribu sih, Pah?" Tanya Bara.
"Karena, kamu anaknya Bapak Dante dan Ibu Diana. Bukan anak Sultan, keturunan konglomerat. Jadi, terima saja uang jajan segitu, dari pada tidak sama sekali." Jawab Dante, membuat Bara mendengus sebal mendengarnya.
"Serah anda saja, Baginda raja." Ucap Bara kesal, tapi malah membuat Dante terkekeh.
"Back to my question, Son."
"Pertanyaan yang mana sih?"
"Kenapa tadi ngelamun?"
Bara menghela nafasnya gusar, ia pikir Papanya itu tidak mempertanyakan hal itu lagi. "Gista ngambek sama, Aku." Jawabnya.
"Gista? She is ...?"
"My girlfriend!"
"You have a girlfriend, but you didn't tell me." Ujar Dante, pasalnya ia memang tak pernah tahu jika Bara sudah punya pacar. Karena, Bara jarang mau curhat. Tidak seperti Debby, yang memang sering curhat padanya atau pada Diana.
"Nggak apa-apa sih, cuma penasaran aja. Tapi, bukannya Gista itu temennya Debby ya, Bar?"
Bara menganggukkan kepalanya, membenarkan tebakan Papanya itu. "Iya, dia juga sering main ke sini kok. Mama aja tau, Papa juga pernah liat dia waktu main ke sini." Ucapnya.
"She's a cute and sweet girl, Bara. She likes smile, good attitude. But, why does she like you?" Tanya Dante, membuat Bara memutar bola matanya malas.
"Memangnya kenapa kalau dia suka aku?" Tanya balik Bara, memangnya ada yang salah kalau Gista menyukainya?
"Karena, kamu menyebalkan." Jawab Dante.
"Enak aja, yang nyebelin itu Papa. Aku mah nggak pernah nyebelin." Balasnya.
"Nggak pernah terlewat maksudnya?!"
"Emang nggak pernah kok."
"Oke, back to topic. Kenapa Gista bisa ngambek sama kamu?" Tanya Dante penasaran, kapan lagi ia kepo pada Bara.
"Gista jatuh waktu latihan pakek sepatu roda, kepalanya kepentok tiang ring basket sampe dahinya benjol. Dan, itu gara-gara aku yang telat tolongin dia. Aku udah janji bakalan jagain dia dari belakang, tapi aku malah diem aja cuma liatin dia waktu latihan. Jadi, ya gitu ... Gista jatuh aku nggak sempet nolongin, dia nangis dan ngambek." Jawab Bara menjelaskan apa masalahnya yang terjadi tadi padanya dan Gista.
"Oh gitu." Balas Dante, yang membuat Bara berdecak kesal. Ia sudah cerita panjang lebar, dan Papanya itu hanya membalasnya dua kata saja.
"Udah gitu aja? Aku udah jelasin, malah bilang oh gitu aja. Kasih saran kek, apa kek." Gerutu Bara kesal, terbukti sekarang jika yang menyebalkan itu adalah Papanya bukan dirinya.
"Tadi kan Papa udah bilang, Papa itu cuma penasaran bukan peduli sama kamu."
Bara memutar bola matanya malas, kenapa ia bisa mempunyai Papa menyebalkan seperti itu?
__ADS_1
"Terserah apa kata Papa aja lah."
Dante tersenyum saat melihat wajah kesal Bara, dengan sengaja tangannya mengacak rambut Bara dengan gemas. "Oh ya, how?" Tanyanya yang tidak dimengerti Bara.
"Apanya yang, how?" Tanya balik Bara.
"Sebentar lagi kan pembagian raport kenaikan kelas, itu artinya ..." Ucap Dante menggantung, dan sekarang Bara sudah tahu arah pembicaraan mereka ke mana.
"I don't know, Dad."
"Why do you say you don't know? Bukannya itu yang kamu inginkan dulu?" Tanya Dante.
"Iya, tapi sekarang aku bingung." Jawab Bara, lalu menundukkan kepalanya. Apa yang di katakan Papa nya memang benar, jika sebentar lagi apa yang di inginkannya bisa tercapai. Namun, ada sesuatu hal yang membuat Bara berpikir lagi.
"Why? Apa karena, Gista?" Tebak Dante, membuat Bara terdiam.
"Aku akan pikir-pikir lagi, Pah."
"Pikir-pikir dengan baik, Bar. Ingat, selama ini kamu sudah berusaha untuk mendapatkan kesempatan itu. Sekarang, setelah kesempatan itu ada jangan sampai kamu membiarkannya begitu saja. Ini demi masa depan kamu, Papa tau kamu sudah dewasa, kamu bukan anak kecil lagi. Papa tau kamu bisa memilih mana yang harus kamu lakukan, dan mana yang harus kamu tinggalkan. Papa tidak meminta kamu untuk melepaskan, apapun yang kamu pilih Papa akan selalu dukung kamu. Jadi, pikirkan dengan baik-baik." Ucap Dante sambil menepuk bahu Bara.
"Iya, Pah. Aku usahain aku nggak akan pernah ngecewain Papa sama Mama." Ujar Bara, bagaimanapun ia ingin menjadi anak yang membanggakan kedua orangtuanya.
"Kamu tidak pernah mengecewakan, son." Balas Dante dengan senyumannya yang mengembang, membuat Bara ikut tersenyum juga.
"Thank, Dad."
"Untuk?"
"Semua yang Papa berikan untuk aku. Thank you very much."
"Untuk kamu, untuk Debby dan untuk Duta. Semua akan Papa lakukan yang terbaik untuk kalian, Papa sayang kalian." Ujar Dante, meskipun menyebalkan Bara akui jika Papanya itu adalah Papa terbaik yang ia punya.
"Udah malam, tidur kamu. Besok kan kamu masih UAS, jangan sampai telat datang ke sekolah. Papa juga mau tidur, mau kelonin Mama kamu." Ucap Dante, sambil bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Bara untuk ke kamarnya.
"Jangan sampai aku punya adik lagi, kalau aku punya adik lagi uang jajanku sehari 1 juta." Ancam Bara bercanda.
"Papa nggak janji kamu nggak punya adik lagi, Bar. Tapi, Papa akan usahakan kalau Mama kamu punya anak lagi." Balas Dante.
"Kalau itu terjadi, Bara mau jadi anak Sultan."
Dante tidak membalasnya lagi, namun samar-samar Bara mendengar suara kekehannya. Karena, dari nada suara pun bisa di tebak. Jika Bara dan Dante hanya sedang bercanda saja.
Bara menghela nafasnya, lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya yang ada di lantai 2. Sekarang, beban pikirannya bertambah lagi. Dan, ia harus memikirkannya dengan baik-baik.
Setibanya di kamar, Bara berdiri di depan mading dekat meja belajarnya. Ia memang sengaja membuat mading di kamarnya, dan di Mading itu ia menempelkan apapun yang sangat penting bagi hidupnya. Seperti, impiannya, kesukaannya, hobby nya, cita-citanya dan foto orang yang di cintainya.
Tak banyak orang yang tahu apa saja yang ia tempelkan di mading itu, karena Bara tidak pernah membiarkan siapapun untuk masuk ke dalam kamarnya. Termasuk, Mamanya sendiri. Ia selalu mengunci kamar itu, dan membawa kuncinya ketika ia pergi. Kamarnya adalah privasi miliknya, semua privasi Bara ada di dalam kamar itu. Dan, ia tak suka jika ada seorangpun yang masuk ke dalam kamarnya. Untuk itu, ia melarang semua orang untuk memasuki kamarnya. Entah itu ijin darinya ataupun tidak.
Yang bersih-bersih kamarnya pun, Bara sendiri. Karena, sangking tidak maunya kamarnya itu di masuki oleh orang lain. Sejauh ini, tidak ada yang pernah berani memasuki kamar Bara. Karena, mereka tahu bagaimana kemarahan Bara jika privasinya di ganggu.
Bara mengambil satu foto yang ia tempel di mading, foto seorang gadis kecil berkuncir dua yang memakai seragam putih-merah. Tengah memakan lollipop sendirian, gadis itu tidak menyadari jika ada seseorang yang memotretnya. Karena, saat itu Bara mengambil fotonya secara diam-diam.
"Hey, do you know. If i liked you from the past until now." Ucap Bara sambil terus memandangi foto itu.
Bara menghela nafasnya berat, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus mengambil kesempatan itu? Itu memang yang di inginkannya sejak dulu, tapi bagaimana dengan ...
"Gista."
---
__ADS_1