
Jari tangan Gista bergerak bersamaan dengan kedua matanya yang berusaha ia buka, rasanya sekujur tubuhnya sangat sakit dan begitu lemah. Apalagi, saat ia merasakan banyak alat medis yang menempel di tubuhnya. Seolah, ia bisa bertahan dengan bantuan alat-alat medis itu. Seperti, masker oksigen yang menutup hidung dan mulutnya. Untuk sekedar menghirup udara saja, ia harus menggunakan masker oksigen itu.
Kedua matanya memerjap-merjap menyesuaikan cahaya yang terasa silau di ruangan itu, hingga saat kedua matanya terbuka lebar. Orang yang pertamakali ia lihat adalah Genta dan Mica yang seperti tengah menantinya untuk terbangun.
Ruangan itu terlihat asing bagi, Gista. Memang sangat asing, karena itu bukan kamarnya. Nyatanya ia berada di rumah sakit, Gista tak ingat bagaimana ia bisa berada di sana. Terakhir yang ia ingat adalah ia mengalami kecelakaan ketika hendak pergi ke bandara.
"Gi, akhirnya kamu siuman juga. Abang khawatir banget sama kamu," ucap Genta yang senang saat melihat adik satu-satunya itu siuman dari komanya.
"Gi, kak Mica kangen banget sama kamu. Kamu harus cepat sembuh, kakak nggak mau lihat kamu kayak gini." ujar Mica dengan kedua matanya yang berair.
Air mata Gista menetes begitu saja saat melihat Genta, ada rasa sesak di dadanya dan juga rasa perih di hatinya saat melihat Genta. Ingatannya tiba-tiba berputar pada kejadian beberapa hari lalu, di mana ia mengetahui satu fakta malam itu. Fakta jika Genta alasan dibalik Bara yang memutuskan hubungan dengannya.
Flashback on
"Saya kan sudah pernah bilang sama kamu, jangan dekati adik saya lagi. Putuskan adik saya, lalu menjauh dari kehidupannya. Tapi, kenapa kamu masih ajak dia pergi? Sampai pulang semalam ini," Itu suara Genta, yang membuat tubuh Gista membeku di pijakannya.
Kenapa Genta bisa berbicara seperti itu pada Bara? Kenapa Genta meminta Bara untuk menjauh darinya? Apa salah Bara?
"Maaf, tapi ini untuk yang terakhir. Saya tidak akan menemui Gista lagi," ucap Bara yang membuat kedua mata Gista memanas saat mendengarnya.
"Apapun itu, saya tidak suka melihat Gista bersama kamu. Saya sudah peringatkan kamu agar putuskan Gista, karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah menyetujui hubungan kamu dan Gista!"
Flashback off
Masih teringat dengan jelas kejadian itu, di mana ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya sendiri. Rasanya sakit, dan yang lebih menyakitkan lagi ketika ia tak bisa dengan Bara lagi. Bahkan, ia tidak bisa bertemu Bara untuk yang terakhir kalinya. Karena, tiba-tiba kecelakaan itu terjadi padanya.
"Gi, kamu kenapa nangis? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit, Gi? Bilang sama Abang mana yang sakit?" tanya Genta bertubi-tubi karena khawatir saat melihat Gista meneteskan air matanya.
"Ba-ra," ucap Gista terbata dengan tatapan terluka melihat Genta.
Mendengar satu nama yang disebut Gista, membuat Genta terdiam mematung.
"Kamu mau ketemu sama Bara, Gi?" tanya Mica.
"Bara udah pergi," ujar Gista dengan air matanya yang terus menetes, "Bara tinggalin Gigi sendiri," lanjutnya.
Gista menangis saat merasakan semua sakit yang dialaminya kali ini, sakit karena kecelakaan, sakit karena ditinggalkan dan sakit dengan fakta yang Genta lakukan.
"Apa salah Gigi sayang, Bara? Apa salah Gigi cinta, Bara? Kenapa harus sesakit ini, saat Bara melepaskan Gigi? Rasanya sakit, saat Bara pergi meninggalkannya Gigi." lirih Gista membuat Genta sesak saat melihatnya.
"Maafin Abang, Gi. Semuanya salah Abang, semuanya gara-gara Abang. Abang yang minta Bara untuk putusin kamu, Abang yang minta Bara untuk meninggalkan kamu, Abang yang udah ancam Bara untuk menjauh dari hidup kamu." jujur Genta yang membuat tubuh Mica mematung saat mendengarnya, tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Genta.
Sedangkan, Gista merasakan dadanya semakin sesak saat mendengar kejujuran dari Genta. Rasanya samit, berkali-kali lipat ketika ia mendengar langsung dari mulut Genta.
Flashback On
"Nih, gue beli roti sama minum buat lo." ucap Bara sambil memberikan kresek berisi roti dan air mineral pada Gista.
"Berapa?" tanya Gista.
"Berapa apanya?" tanya balik Bara.
"Harga roti sama minumnya, Gigi mau ganti uang Bara." jawabnya.
"Nggak usah, itu gue beli buat lo. Gratis! Nggak usah di ganti, sekarang lo makan rotinya. Dari tadi lo belum makan kan, lain kali jangan buat gue kesel lagi karena liat lo pingsan." ujar Bara.
"Kenapa Bara kesel lihat Gigi pingsan?" tanya Gista.
"Gue kesel karena lo selalu aja buat gue khawatir,"
"Tau kesalahan lo apa sekarang?" tanya Bara yang membuat senyum Gista melengkung ke bawah dan menganggukkan kepalanya.
"Apa?"
"Gigi udah lancang pakek sepatu roda Bara, nggak bilang\-bilang Bara dulu." ucap Gista dan saat itu ia kembali mendapatkan sentilan di keningnya lagi.
__ADS_1
"Salah!" balas Bara.
"Trus, apa dong?" tanya Gista, memang kesalahannya apa sekarang jika bukan karena memakai sepatu roda Bara tanpa izin?
"Kesalahan lo itu adalah karena lo udah bikin gue khawatir, lo udah bikin gue takut terjadi sesuatu sama lo karena sepatu roda ini. Gue tau, lo nggak bisa pakek sepatu roda maka dari itu gue takut lo jatuh. Kalau jatuh biasa aja nggak apa\-apa, Gi. Tapi, kalau lo jatuh trus kepala lo kepentok lantai gimana? Bahaya ..."
"Gimana bisa ... Gimana bisa gue melepaskan Lo, kalau Lo aja selalu berhasil bikin gue khawatir kayak gini, Gi." Ucap Bara, berharap Gista mendengarnya meski dalam keadaan pingsan.
"Kenapa Lo minta putus? Salah gue apa coba? Apa karena saat itu, gue nggak sempat nolongin Lo waktu Lo jatuh saat latihan sepatu roda? Tapi, kan gue udah minta maaf berkali-kali sama Lo, Gi. Tapi, Lo nggak mau maafin gue juga." Lanjut Bara, apa segitu marahnya Gista padanya saat kejadian itu. Sampai akhirnya Gista minta putus darinya?
**flashback off**
Sepenggal ingatan itu, membuat air mata Gista terus menetes. Ingatan di mana hanya Bara yang begitu peduli padanya, hanya Bara yang merasa kesal jika dirinya membuat Bara khawatir, hanya Bara yang banyak memberikan warna di hidupnya dan hanya Bara yang mencintainya begitu dalam.
Gista menutup kedua matanya saat merasakan sakit disekujur tubuhnya, napasnya juga terputus\-putus. Tubuhnya semakin melemah, ia tak bisa apa\-apa lagi. Ketika hendak membuka kedua matanya lagi pun, kelopak matanya terasa begitu berat.
"Terima kasih, Bara. Terima kasih sudah mencintai Gigi selama ini, terima kasih sudah memberikan Gigi kesempatan untuk merasakan cinta itu, terima kasih sudah menerima Gigi selama ini, terima kasih untuk semuanya." batin Gista.
Tittt ... Tiitt ...
"Gi, bangun Gi. Jangan tinggalin Abang, Gi. Gista," ucap Genta sambil menepuk pelan pipi Gista, berharap kedua mata adiknya itu kembali terbuka.
"Gista, bangun Gi. Jangan bikin kak Mica takut, Gi. Gigi," ujar Mica panik, saat kedua mata Gista tak kunjung terbuka, "Ge lakukan sesuatu, aku nggak mau kehilangan Gista. Cepat, Ge." lanjutnya.
Saat itu juga, Genta berusaha untuk membantu Gista agar keadaannya kembali normal dengan keahlian yang ia bisa sebagai dokter. Ia terus berusaha agar jantung Gista berdetak normal lagi, namun usahanya tidak berbuah hasil. Gista nya sudah pergi.
\-\-\-
Kenyataan ...
Tak semua kenyataan bisa diterima dengan baik dan dipercaya dengan mudah. Sama, seperti yang aku alami saat ini.
Kenyataan yang baru saja aku dengar dari mulut orang yang aku sayangi. Kenyataan yang telah berhasil membuat dada ini sesak dan rasa perih di hati.
Kenyataan jika Bang Genta yang memaksa Bara untuk putus dengan Gigi.
__ADS_1
Apa yang salah?
Kenapa Bang Genta meminta Bara untuk melakukan itu? Apa yang salah dari Bara? Apakah cintanya yang salah?
Justru, karena cintanya membuat aku bisa merasakan bahagia. Bahagia yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Bahagia yang tak pernah aku miliki sebelumnya
Bara mencintaiku lebih dari apa aku tau, Bang. Tapi, kenapa? Kenapa Bang Genta memisahkan kita?
Berpisah dengan Bara membuatku sakit, Bang. Sakit yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, tetapi disaat aku merasakannya. Kenapa rasanya sesakit ini?
Aku mencintainya, Bang. Aku mencintai segala kesederhanaannya, mencintai kejujurannya, mencintai sikapnya, mencintai kekurangannya, mencintai kehidupan dia yang apa adanya.
Hanya Bara, Bang. Hanya Bara yang akan kesal jika aku membuatnya khawatir, hanya Bara yang akan marah jika aku dimanfaatkan orang lain, hanya Bara yang tetap ada disaat orang lain pergi, hanya Bara yang mau menerima setiap kekuranganku, hanya Bara yang sampai detik ini aku cinta.
Ini tidak adil untuk Bara, Bang. Selama ini aku yang selalu merepotkannya, aku yang selalu membuatnya susah, aku yang selalu membuatnya pusing, tapi kenapa harus Bara yang Bang Genta paksa untuk menjauh dari hidupku?
Bara banyak berkorban untukku, Bang. Dia yang selama ini ada di belakangku, menjagaku tanpa membuatku risih.
Jika Bang Genta berpikiran jika aku akan bahagia setelah Bara pergi dari hidupku, itu salah Bang. Nyatanya, aku tak pernah bisa bahagia ketika jauh dengan Bara.
Gista Rajani Alveera
Bara tak bisa menahan air matanya setelah membaca isi dari buku diary Gista, bagian itu ditulis pada saat malam terakhir Bara dan Gista bertemu. Bara berpikir jika malam itu, Gista mendengar percakapannya dan Genta. Karena, jika tidak. Gista tidak mungkin menulis semua itu.
"Kenapa kamu memilih pergi, Gi? Kenyataan ini lebih sakit daripada mengetahui jika kamu sudah bahagia dengan orang lain. Jika boleh memilih, aku memilih kamu bahagia dengan orang lain, Gi. Daripada meninggalkan aku selamanya, ini terlalu sakit." ujar Bara bagaimana bisa ia menerima kenyataan ini. Gista begitu berharga baginya.
"
Gigi pengen banget punya mesin waktu, Bar. Mesin waktu yang bisa membuat Gigi pergi ke masa lalu, dan pergi ke masa depan."
Seketika ia teringat ucapan Gista 8 tahun lalu, di mana gadis itu ingin memiliki mesin waktu. Mesin yang bisa mengantarkan ke masa lalu agar bisa melihat apa yang ia rindukan dimasa lalu. Dan, bisa melihat masa depannya. Jika dulu Gista yang menginginkan memiliki mesin waktu itu, sekarang Bara lah yang menginginkannya.
Bara menginginkan mesin waktu itu, agar ia bisa kembali ke 8 tahun lalu. Jika itu terjadi, maka saat itu ia tidak akan pernah bilang putus pada Gista, ia tidak akan melepaskan Gista dan ia juga tidak akan pernah meninggalkan Gista.
Namun, rasanya itu tidak mungkin. Karena, ia hidup di dunia nyata bukan di dunia fantasi.
"Tenanglah di sana, aku masih mencintai kamu. Dan, akan terus mencintai kamu."
__ADS_1
\-\-\-