Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
5. Obat sakit hati?


__ADS_3

Malam ini, Gista pergi ke rumah Debby yang berada di kompleks perumahan yang sama dengannya, hanya saja berbeda daerah jalannya saja. Ternyata, rumah Debby memang tak jauh dari rumah kakaknya. Dan, sekarang Gista dan Debby tengah ngobrol di ruang tamu rumah Debby.


Ia memang sengaja pergi setelah magrib tadi, karena ia merasa kesepian di rumahnya. Apalagi, katanya Genta akan pulang larut malam ini. Jadi, ia meminta ijin pada kakaknya itu untuk pergi ke rumah Debby dan bersyukur karena Genta mengijinkan. Walaupun Gista tidak boleh pulang terlalu malam, meskipun satu komplek perumahan. Tetapi, Genta khawatir jika Gista pulang terlalu malam.


"Hahahah ... Hahahah ..." Tawa keduanya pecah, saat mengingat kejadian masa lalu saat keduanya masih SD.


"Abisnya itu si Jojo gendut banget waktu itu, jadi waktu lompat ke kolam renang. Tuh air dalam kolam langsung keatas." Ujar Gista mengingat kejadian, dimana saat itu ada praktek renang saat kelas 5 SD. Dan, satu aksi temannya yang berbadan gemuk menyedot perhatian mereka pada saat itu.


"Haha iya bener-bener, sumpah kocak banget si Jojo waktu itu. Gue ketawa-ketawa sampai ngompol di dalam kolam renang tau nggak." Kata Debby, jujur.


"Eh, Debby jorok!"


"Abis gue nggak tahan waktu itu, jadi yaudah pipisnya di dalam kolam aja. Nggak ada yang liat ini, heheh ..."


"Jorok, By. Apalagi, saat Gigi ambil nilai praktek tuh air kolam nggak sengaja ke minum sama Gigi." Debby menganga mendengarnya, geli membayangkan Gista saat tak sengaja meminum air kolam yang tercampur sedikit air kencingnya.


"Serius, Gi?" Tanya Debby memastikan.


"Serius, iuhh ... Untung Gigi nggak tau waktu itu," jawab Gista yang membuat Debby tertawa mendengarnya.


"Yang pingsan ngapain datang ke sini?" Tanya Bara yang tiba-tiba sudah berada di ruang tamu, entah kapan cowok itu datang ke sana. Kedua gadis itu tidak menyadarinya.


Bara duduk di single sofa, lalu memainkan game yang ada di ponselnya. Debby tampak kebingungan dengan ucapan Bara barusan, siapa yang pingsan? Gista?


"Emang kenapa kalau Gigi ke sini? Gigi mau ketemu Debby ini, bukan ketemu Bara." Ucap Gista.


"Lo pingsan tadi, Gi?" Tanya Debby yang dibalas dengan anggukan Gista. "Kenapa? Kok bisa?"


"Magh Gigi kambuh, lupa kalau seharian tadi Gigi belum makan. Pingsan deh," jawabnya sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapih.


"Kebiasaan deh Lo, makannya makan tuh harus yang teratur." Omel Debby, membuat Gista meringis.


"Gue kira, tadi Lo pingsan gara-gara Lo nggak terima karena Lili nerima jadi pacarnya Dino." Ujar Bara, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Kenapa Gigi musti nggak terima segala?" Tanya Gista.


"Ya siapa tau aja Lo suka sama Dino."


"Gigi emang suka kok sama, Dino." Ucap Gista tiba-tiba, yang kali ini membuat Bara keluar dari aplikasi game nya. Dan, memperhatikan gadis itu.


"Serius Lo suka sama si Dino?"


"Iya, sama Bara juga Gigi suka." Ujar Gista membuat Bara berpikir jika akan ada penjelasan lain setelah Gista mengucapkan itu. "Trus Gigi juga suka sama Devan, Alfa, Surya, Dimas, Ervan, Galuh, Heri, Ijal, Lingga, Beni---"


"Semua aja Lo bilang suka." Cibir Bara, ketika Gista terus menyebutkan satu-persatu teman sekelasnya yang cowok.


"Emang, kalau Gigi nggak suka. Berarti Gigi benci kalian .." ujar Gista, membuat Bara memutar bola matanya malas.


Debby hanya terkekeh mendengarnya, ternyata Gista lebih-lebih-lebih polos darinya. Sampai saat ini, Gista yang paling parah polos dari pada dirinya.


"Eh, iya sekarang Lo udah punya pacar belum?" Tanya Debby kepo.


"Belum, Gigi nggak punya pacar. Dan, belum pernah pacaran sekali pun." Jawabnya.


"Kenapa?"


"Yeeee .... Nggak usah sok lupa ingatan, Gigi mana mau pacaran karena takut. Debby sendiri yang nakutin Gigi waktu itu, dengan teori Debby itu." Gerutu Gista yang membuat kening Debby menyerinyit.


"Teori yang mana?"


"Teori yang dicium langsung hamil! Yang Debby bilang kalau Mama sama Papa Debby lagi pacaran setelah nikah. Trus, Papa Debby nyium Mama Debby. Besoknya Mama Debby bilang, kalau Debby bakal punya adik. Karena, Mama Debby hamil lagi. Di situ kan Gigi jadi ngeri, nggak mau pacaran. Karena, takut di cium trus hamil." Jelas Gista begitu prontal membuat Bara ternganga saat mendengarnya.


Detik itu juga, Debby tertawa terpingkal-pingkal. Ia ingat sekarang, ia memang pernah berbicara seperti itu pada Gista saat kelas lima SD.


"Lo masih inget aja teori itu, Gi. Waktu itu, gue cuma ngeduga aja. Gue kagak tau apa-apa, abisnya gue kaget sih. Nggak sengaja mergokin Papa yang lagi nyium pipi Mama gue, eh besoknya gue di kasih tau kalau gue bakalan punya adek." Ujarnya masih dengan tawanya yang tidak bisa berhenti.


"Ya gimana, Gigi kan takut jika itu beneran terjadi. Makanya Gigi takut pacaran."


"Aduh, maaf-maaf Gi. Saat itu kan, kita masih bocah. Jadi mana tau soal itu." Gista mengangguk tak mempermasalahkan lagi.

__ADS_1


"Jadi, Lo single dong ya?" Gista mengangguk lagi, membenarkan. "Sekarang, takut nggak pacaran?"


"Nggak tau, nggak pernah ngerasain juga." Jawabnya. "Emang rasanya pacaran itu, gimana?" Tanya Gista yang mulai penasaran.


"Pulang kek lu, Gi. Udah malam ini, pamali tau anak gadis jam segini belum ada di rumah." Ujar Bara tiba-tiba, padahal Gista masih penasaran. Tetapi, yang diucapkan Bara ada benarnya, apalagi sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.


"Yaudah deh, Gigi pulang ya, By."


"Di anter sama Bara, ya."


"Kok jadi gue?" Tanya Bara.


"Ini udah malem, Bar. Kasian kalau Gigi harus pulang sendiri."


"Tadi aja dia datang sendiri kan, dia juga pasti bawa motor. Kalau sekarang gue anterin dia pakek motor dia, terus gue pulang gimana? Jalan kaki? Ogah gue." Ujar Bara, niatnya menyuruh Gista pulang agar gadis itu tidak terlalu penasaran dengan yang namanya penasaran. Bakalan panjang urusannya, tetapi sekarang malah dirinya yang diminta untuk mengantarkan Gista pulang.


"Pakek motor Lo aja, biarin aja motor Gista di sini. Kan bisa diambil besok, sekarang udah malam kalau Gigi pulang sendiri. Apalagi, Gigi suka ngantuk di jalan, kalau terjadi sesuatu gimana?"


Bara menatap kembarannya itu, dengan malas. Yang ditatapnya malah nyegir tak berdosa, "Tunggu, gue ambil kunci motor dulu." Ucapnya, lalu berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Nggak apa-apa nih, By. Kayaknya Bara keberatan deh." Ucap Gista tak enak hati.


"Keberatan gimana sih? Orang tuh anak nggak bawa apa-apa coba, udah Lo tenang aja." Gista hanya mengangguk pasrah.


Hingga selang tiga menit, Bara kembali ke lantai satu dengan memakai jaket bombernya. "Cepetan." Ucap Bara, yang berjalan lebih dulu keluar dari rumahnya.


"Gigi pulang ya, By. Assalamualaikum." Pamitnya, saat mereka sudah berada di depan rumah.


"Wa'alaikum salam." Balas Debby.


Gista pun naik ke motor Bara, yang tanpa menunggu waktu lama. Bara pun menancapkan gas motornya untuk mengantarkan Gista pulang ke rumahnya.


---


Pukul 06.45 pagi, Gista sudah tiba di sekolahnya. Sambil bersenandung ria, ia berjalan menuju kelasnya yang seperti biasa kepalanya masih memakai helm dari parkiran dan akan melepaskan helmnya jika sudah sampai di kelasnya.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelasnya untuk mencari di mana sumber suara itu, hingga akhirnya matanya membulat saat melihat satu temannya yang duduk di lantai paling pojok. Saat itu juga, Gista menghampiri temannya itu.


Di kelas hanya ada dirinya dan juga temannya yang sedang menangis itu, padahal sudah banyak tas di kelas itu. Tetapi, entah pada kemana orang-orang nya.


"Nadin, kenapa nangis di pojokan gini? Kamu kenapa, Nad?" Tanya Gista yang kini ikut jongkok di hadapan temannya yang bernama Nadia itu.


"Nad, kamu kenapa? Cerita sama Gigi, siapa tau Gigi bisa bantu." Ujar Gista.


Gadis itu mendongkakkan kepalanya untuk melihat Gista, sejak tadi ia menangis hanya Gista lah yang datang padanya dan bertanya dirinya bisa menangis.


"Hati gue sakit, Gi." Ucap Nadin dengan Isak tangisnya yang semakin pecah.


"Huh? Hati Nadin sakit?" Tanya Gista kaget, yang langsung dibalas dengan anggukan.


"Bentar-bentar." Ucap Gista sambil mengambil ponsel yang ada di saku rok nya, setelah itu Gista mencari kontak seseorang. Setelah menemukan nomor Genta, Gista pun langsung memanggilnya.


Hanya butuh satu menit, sampai akhirnya telponnya itu di jawab oleh Genta.


"Hallo ..  kenapa, Gi?"


"Bang, temennya Gigi sakit."


"Sakit? Sakit apa, Gi?"


"Katanya hatinya sakit, Bang."


"Kenapa bisa sampai sakit?"


"Gigi nggak tau, Bang. Tapi, dia nangis karena kesakitan Bang."


"Coba tanyain ke teman kamu, dadanya sesak apa nggak?"


"Iya, sebentar, Bang." Gista menjauhkan ponselnya sebentar dari telinga, lalu bertanya sesuai dengan apa yang di katakan Genta.

__ADS_1


"Nad, dadanya sesak apa nggak?" Tanya Gista pada Nadin.


"Sesak banget, Gi." Jawab Nadin yang dibalas dengan anggukan Gista.


"Iya, katanya, Bang. Dadanya sesak banget," Ucapnya, setelah menempelkan lagi ponselnya ke daun telinganya.


"Coba kamu tanyain lagi, apa aja yang di rasakan teman kamu sekarang."


"Nad, selain sesak. Apalagi, yang Nadin rasain?" Tanya lagi Gista.


"Hati gue perih, Gi. Hati gue patah, gue pengen nyakar orang rasanya, pengen bejek-bejek muka pepacor itu." Jawabnya yang semakin histeris nangisnya, membuat Gista semakin cemas.


"Bang kayanya hatinya perih, sampe patah juga pengen nyakar orang sama bejek-bejek muka pepacor."


"Huh? Itu teman kamu hatinya bisa sakit karena apa?"


"Nad, itu hatinya bisa sakit karena apa?"


"Gue di selingkuhin, Gi. Pacar gue selingkuh sama cewek cabe-cabean goceng."


"Katanya di selingkuhin, Bang."


"Kalau itu mah, Abang nggak bisa bantu, Gi. Suruh nyari pacar baru lagi aja, udah dulu ya Abang harus kerja. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Jawab Gista setelah itu, sambung telponnya terputus.


"HUAAA .... SAKIT HATI GUE ..." Teriak Nadin tiba-tiba, membuat Gista bingung harus apa.


"Bentar, tunggu sebentar Nad." Ucapnya lalu berlari keluar kelas untuk pergi ke UKS.


Namun, saat di koridor Gista tak sengaja bertubrukan dengan seseorang yang hampir saja membuatnya terjengkang ke belakang jika tidak ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya untuk menahannya. Sebelah tangannya juga reflek melingkar di leher orang yang barusan bertubrukan dengannya.


Kedua mata indah Gista, bertemu dengan mata sosok cowok yang sering ia repotkan beberapa kali ini. Dia adalah Debara, cowok yang entah kenapa sekarang membuat jantung Gista berdetak kencang hanya karena melihat matanya saja.


Satu menit kemudian, keduanya tersadar. Gista melepaskan tangannya yang melingkar di leher Bara, begitu juga dengan Bara yang melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Gista.


Gista masih terdiam dengan detak jantungnya yang masih berdegup kencang, ia bingung kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak secepat itu? Ia baru merasakannya sekarang, ia jadi takut terjadi sesuatu pada jantungnya.


"Lo kenapa?" Tanya Bara, saat melihat Gista yang diam saja.


"Eh, anu ... Aduh, maaf ya barusan Gigi nggak sengaja nubruk Bara. Gigi buru-buru soalnya, mau ke UKS." Jawab Gista.


"Ngapain Lo ke UKS? Magh Lo kambuh lagi?"


"Bukan, magh Gigi nggak kambuh kok. Gigi ke UKS mau ngambil obat buat Nadin," ujarnya, meski ia bingung harus mengambil obat apa nanti di UKS.


"Emang si Nadin kenapa?" Tanya Bara.


"Katanya hatinya sakit banget, karena di selingkuhin pacarnya. Dia sampe nangis kenceng di pojokan kelas, nggak tega Gigi liatnya. Makanya Gigi mau ke UKS ngambil obat buat dia, siapa tau sakitnya ilang setelah minum obat. Tapi, Gigi bingung obat apa yang harus Gigi ambil di UKS. Kira-kira Gigi harus ambil obat apa ya, Bar? Paracetamol, Promag, Antimo, Bodrek, komix, Panadol, Kapsida, OBH, Antangin atau apa? Gigi bingung, soalnya Gigi belum pernah sakit hatinya. Jadi, nggak tau harus ngasih obat apa buat Nadin." Jelas Gista panjang lebar, masih dengan wajah cemasnya memikirkan Nadin yang menangis di kelas sendirian.


Bolehkan Bara tertawa ngakak saat mendengar penjelasan Gista?


"Gi, ngobatin sakit hati itu nggak gampang." Ujar Bara yang tak di mengerti Gista.


"Nggak gampang gimana? Tinggal diminum obatnya juga, kalau nggak bisa minum obat yang bentuknya tablet. Yaudah, tinggal di larutin pakek air. Trus, minum deh. Gampang kan." Kata Gista, yang membuat Bara menghela nafasnya gusar. Untuk menjelaskan pada Gista, memerlukan waktu yang lama. Tidak cukup hanya lima menit saja, sampai gadis itu mengerti.


"Balik ke kelas, bentar lagi bel. Di UKS kagak ada obat sakit hati." Ujarnya, sambil mendorong bahu Gista. Agar gadis itu kembali ke kelasnya.


"Tapi, gimana dengan Nadin?"


"Tinggal Lo hibur dia sampe ketawa ngakak, sakit hatinya pasti ilang."


"Kok bisa hanya karena di hibur?"


"Karena, sakit hati nggak ada obatnya."


Gista menggaruk kepalanya yang tak gatal, benar-benar tak mengerti. Kenapa sakit hati bisa tidak ada obatnya? Tidak seperti sakit kepala, gigi, ataupun masuk angin yang ada obatnya.


---

__ADS_1


__ADS_2