Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
1. Maksa nebeng pulang sama Bara


__ADS_3

Gista keluar dari perpustakaan setelah ia selesai menyimpan buku yang ia pinjam kembali ke rak-nya, bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak satu jam setengah yang lalu. Seharusnya ia sudah pulang, tetapi karena ia diberi tugas oleh salah satu gurunya. Jadi, ia harus mengerjakan tugasnya terlebih dulu. Tugas ini memang dikhususkan untuknya saja, karena tugas ini sebagai ganti ulangan Minggu kemarin yang tidak diikuti oleh Gista.


Saat ulangan Minggu kemarin, Gista tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Seharusnya, ia mengikuti ulangan susulan. Tapi, berhubung soal ulangannya sudah bocor, jadi guru yang bersangkutan memberikan tugas lain pada Gista. Hingga akhirnya, Gista mengerjakannya saat pulang sekolah tadi, karena tugasnya harus dikumpulkan hari ini juga.


Ia memasuki ruang guru yang nampak sudah sepi, karena memang para guru sudah pulang seperti siswa lain. Hanya ada satu-dua guru yang tersisa, yang entah sedang mengerjakan apa? Gista tidak peduli, karena ia hanya ingin mengantarkan tugasnya saja ke meja guru yang bersangkutan.


Setelah menyimpan tugasnya di atas meja guru yang bersangkutan, Gista pun kembali keluar untuk segera ke parkiran sekolah. Namun, Ia meringis saat melihat ban motornya kempes.


"Ck, elah pakek kempes segala lagi. Gigi, kan, mau pulang, mana udah sore lagi. Gimana caranya Gigi bawa ini motor?" ucapnya, bingung sambil menggigit jari telunjuknya.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran sekolah untuk mencari bantuan, ia tidak bisa pulang jika tidak naik motornya. Ia tidak berani pulang naik angkot, taksi ataupun ojek dan sejenisnya. Gista lebih nyaman naik motor sendiri atau di antar oleh anggota keluarganya.


Lalu, sekarang ia harus bagaimana? Di parkiran sekolahnya sudah sepi, hanya ada satu-dua motor yang masih tersisa, kemungkinan milik anggota OSIS yang masih ada kegiatan.


Seketika ia melihat seseorang yang ia kenali, mungkin bisa membantunya untuk pulang. Ia pun berlari menghampiri cowok yang masih nangkring di atas motornya, dekat pos satpam sekolahnya. Tanpa bicara atau izin apa pun, Gista naik ke motor ninja milik cowok itu. Membuat si empunya motor kaget.


"Eh, turun Lo."


"Anterin Gigi pulang, Bar," pintanya santai.


"Apa? Anterin Lo pulang? Nggak-nggak, turun Lo dari motor gue," ucap cowok pemilik predikat sebagai murid rajin itu. Rajin bikin kesal maksudnya. "Gista turun!"


"Nggak mau."


"Turun, elah. Turun, woy." 


Mau tak mau, Gista pun turun dari motor Bara. Lalu, berhenti di depan motor Bara. Ia tak akan pulang sebelum Bara mau menolongnya pulang.


"Ngapain lo masih di sini? Pulang sana," ujar Bara yang dibalas dengan gelengan kepala Gista.


"Anterin Gigi pulang, ban motor Gigi kempes. Gigi nggak biasa naik kendaraan umum, takut diculik. Jadi, Gigi minta tolong sama Bara. Tolong anterin Gigi pulang," pinta Gista dengan wajah memelasnya.


"Ogah, pulang aja sana sendiri. Gue mau jemput pacar gue tau."


"Bara ayo dong, Gigi mau pulang. Udah sore ini, Gigi nggak biasa naik kendaraan umum, takut diculik. Nanti penculiknya minta tebusan uang, kan, kasian abang Gigi nanti. Tar Gigi bayar Bara, deh, ayo dong Bara ...." rengeknya, dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


"Lo pikir gue tukang ojek apa?"


"Bukan gitu, ya, Gigi mah baik hati aja mau bayar buat bensin Bara nanti. Ayo dong Bara, anterin Gigi pulang."


"Lo pikir Lo siapa minta gue anterin Lo pulang?"


"Gigi, kan, temen sekelas Bara. Masa Bara lupa, sih? Ayo dong Bara cepetan, tolong Gigi. Gigi mau pulang," rengeknya, ia benar-benar takut jika harus naik kendaraan umum. Apalagi, sendiri. Jadi, ia memilih merepotkan Bara saja yang notabenenya adalah teman sekelasnya.


"Maksa banget, sih, lo," kesal Bara yang membuat Gista menundukkan kepalanya, air mata gadis itu perlahan menetes begitu saja. Ia takut jika Bara tak mau mengantarnya pulang, itu artinya ia tidak bisa pulang ke rumah. Mau meminta jemput kakaknya pun, ponsel Gista sudah low-bat.


Bara menghela napasnya gusar, ia jadi tak tega melihat gadis itu. "Naik," ucapnya yang membuat kepala Gista terangkat untuk mendongkak.


"Naik ke mana?"

__ADS_1


"Ke motor gue lah, masa ke pohon toge!"


"Emang ada pohon toge, Bara? Kayak gimana itu, kok, Gigi nggak pernah lihat, ya?" tanya Gista dengan wajah polosnya.


"Jangan banyak tanya, cepet naik ke motor gue. Lo mau gue anterin apa nggak?" Gista mengangguk, lalu ia pun kembali naik ke motor Bara.


Bara pun mengenakan helm full face-nya, lalu menyalakan mesin motornya. Tanpa butuh waktu lama, Bara pun menancapkan gas motornya meninggalkan sekolahnya untuk mengantarkan si gadis merepotkan itu pulang.


---


Setelah menghabiskan waktu selama 35 menit di perjalanan, akhirnya motor yang dikendarai Bara berhenti tepat di depan pagar besi rumah Gista yang menjulang tinggi. Gista pun turun dari motornya Bara, lalu menyodorkan uang yang baru saja ia ambil dari saku seragamnya pada Bara.


Cowok itu, menautkan sebelah alisnya saat melihat uluran tangan Gista yang menyodorkan uang padanya. "Maksudnya apa, nih?" tanya Bara tanpa mengambil uang dari Gista.


"Ini Gigi bayar, karena Bara udah mau nganterin Gigi pulang."


"Gue bukan tukang ojek, ya."


"Gigi nggak bilang Bara tukang ojek, kok, ini Gigi bayar buat Bara beli bensin. Lumayan lah dapet satu liter, itung-itung rasa terimakasih Gigi ke Bara. Karena, Bara udah nganterin Gigi pulang," ujar Gista menjelaskan, ia tak ingin Bara tersinggung karena ia memberinya uang.


"Udahlah, nggak usah. Mending Lo tabung aja, tuh, duit. Oh, ya, mana kunci motor lo?" Gista menautkan sebelah alisnya, untuk apa Bara meminta kunci motornya? Masa, iya, Bara menolak uang darinya. Tetapi, mau mengambil motornya?


"Buat apa? Bara minta bayaran pakek motor Gigi? Tega banget, sih, Bara. Gigi, kan, cuma minta Bara anterin Gigi pulang doang, lagian Gigi barusan mau bayar Bara buat ganti bensinnya. Tapi, kenapa Bara malah minta motor Gigi? Kalau motor Gigi Bara ambil, terus Gigi gimana nanti kalau mau pergi?" ujar Gista panjang lebar membuat Bara memutar bola matanya malas.


"Bawel banget, ya, lo. Gue minta kunci motornya biar montir bengkel gampang nganterin motor Lo ke sini nanti," kata Bara yang tidak dipahami oleh Gista.


"Maksudnya gimana, nih?"


"Gini, ya, Gista. Gue punya temen yang kerja di bengkel, nanti gue samperin dia buat minta benerin motor ko yang masih ada di sekolah. Sekarang, gue minta kunci motornya biar nanti sekalian dia anterin motor lo ke sini kalau udah dibenerin." Gista mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Bara.


"Ngerti?"


Gista terdiam sebentar, otaknya sedang mencerna baik-baik penjelasan Bara barusan. Hingga dua menit kemudian, Gista mengangguk paham sambil tersenyum.


"Yaudah, nih, kunci motornya. Makasih, ya, sebelumnya."


Setelah menerima kunci motornya Gista, Bara pun kembali menyalakan mesin motornya untuk segera pulang. "Gue balik," ucapnya, lalu menancapkan gas motornya meninggalkan Gista yang masih menatap kepergian Bara.


Gista melihat uang yang sempat ditolak Bara tadi yang masih dipegangnya. Gadis itu tersenyum, lalu memasukkan kembali uangnya ke dalam saku seragamnya. Lumayan, buat nambahin beli kuota.


Ia pun membuka pagar besi rumahnya, lalu masuk ke rumahnya.


---


Gista mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, entah kenapa ia merasa bosan sekali malam ini. Ia tak tahu harus melakukan apa, setelah belajar tiga puluh menit yang lalu, ia memutuskan untuk tidur. Tetapi, bukannya tidur ia malah guling-guling saja di kasur, karena tak bisa tidur.


Lalu, apa yang harus dilakukannya untuk menghilangkan rasa bosannya itu? Main ponsel pun juga terasa bosan bagi Gista, ia sudah beberapa kali mengecek akun media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter. Tetapi, tidak ada yang menarik untuknya. Ia merasa kesepian, apalagi tidak ada chatt yang masuk pada aplikasi WhatsApp-nya. Maklumlah, Gista tidak punya pacar yang sering kali menghubungi lewat telpon ataupun chatt.


Hidup Gista terlalu datar-datar saja menurutnya, jangankan untuk chattan sama pacar. Sama teman saja, Gista jarang sekali jika bukan membahas tugas. Ia juga jarang gabung di grup chatt kelasnya, kebanyakan dirinya suka ketinggalan banyak. Jadi, ia malas untuk nimbrung, tetapi tak tahu pembahasan apa yang teman-temannya bahas.

__ADS_1


Gista bangkit dari kasur queen sizenya, keluar dari kamarnya dan menuruni setiap anak tangga untuk sampai di lantai satu. Samar-samar ia mendengar suara petikan gitar akustik yang sumbernya dari teras rumahnya, mungkin itu kakaknya. Ia pun berjalan menuju teras depan rumah, menghampiri kakaknya.


"Sendirian aja, Bang," ucap Gista, lalu duduk di samping kakak laki-lakinya yang bernama Genta itu.


"Belum tidur kamu, Gi?"


Gista menggelengkan kepalanya, sebelum ia berkata, "Nggak bisa tidur."


"Kenapa? Ada yang kamu pikirin?"


"Nggak ada, Gigi cuma bosen aja, Bang. Bang Genta sendiri kenapa masih di luar? Udah malam juga, harusnya Bang Genta banyakin istirahat. Bang Genta, kan, pasti capek, habis kerja seharian," ujarnya, ia kadang kasian pada kakaknya itu. Harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya dan Genta sendiri.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal dua tahun lalu, karena kecelakaan. Gista yang awalnya tinggal di Bandung harus pindah  ke Jakarta dan tinggal bersama kakak satu-satunya itu. Genta memang sudah mandiri sejak lama, ia juga mempunyai rumah dari hasil kerjanya sebagai Dokter disalah satu rumah sakit yang ada di Jakarta.


"Abang juga lagi bosen tadi, makanya ke sini dan main gitar. Lah, kamu tumben-tumbenan bosen. Kenapa? Nggak ada chatt dari pacar?" tanya Genta sedikit menggoda adiknya yang terpaut 11 tahun dengannya.


"Apaan, sih, Bang. Gigi nggak punya pacar juga, Gigi mana pernah pacaran," jujurnya, membuat Genta menautkan sebelah alisnya. Benarkah adiknya itu belum pernah pacaran?


"Kamu belum pernah pacaran?" Gista menganggukkan kepalanya, tanda, iya. "Kenapa? Abang kira sekarang kamu udah punya pacar."


"Takut "


"Takut? Takut kenapa?"


"Takut dicium, abis itu Gigi hamil lagi." Kini dahi Genta menyerinyitkan, teori dari mana itu cuma dicium bisa hamil?


"Cuma dicium langsung hamil?" Gista mengangguk cepat, sebagai jawaban. "Kata siapa itu?" tanya lagi Genta.


"Kata temen SD Gigi waktu itu, Bang. Dia cerita sama Gigi, mama sama papanya itu lagi pacaran. Terus, dia lihat papanya yang cium mamanya. Eh, besoknya mama temen Gigi itu bilang sama dia. Kalau dia akan punya adik, mamanya hamil lagi. Maka dari itu, Gigi sama dia takut pacaran. Nanti kalau dicium terus hamil gimana?" Genta tak bisa menahan tawanya saat mendengar penjelasan dari adiknya itu. Ternyata, adiknya itu polos sekali.


"Abang kenapa malah ketawa? Emang bener, ya, Bang?" tanya Gista penasaran.


"Kalau dicium doang nggak bakalan sampai hamil lah. Emang siapa, sih, temen kamu yang bilang kayak gitu?"


"Ada namanya Debby, dia itu temen SD-SMP Gigi waktu di Bandung. Cuma sekarang udah nggak pernah ketemu lagi semenjak SMA. Gigi, kan, pindah ke sini. Nggak tau, deh, dia sekolah di mana," ujarnya, sampai saat ini teori dari temannya itu selalu berputar di otaknya.


Genta terkekeh, lalu mengelus rambut adiknya dengan sayang. "Kalau cuma dicium doang nggak bakal sampai hamil, Gi. Apa karena teori itu juga yang bikin kamu menghindar setiap mau dicium papa dan Abang saat itu?" tanyanya, pasalnya Gista tak pernah mau dicium papanya dan juga dirinya. Mungkin, karena itu juga alasannya.


"Iya, kan, Gigi takut hamil setelah dicium, Bang." Genta dibuat tertawa lagi oleh adiknya itu, Gista benar-benar polos.


"Ada-ada aja kamu ini, sudah lebih baik sekarang kamu tidur. Udah malam," titah Genta yang diangguki Gista.


"Abang juga masuk ke rumah, jangan diem di luar terus. Nanti masuk angin lagi."


"Iya, sebentar lagi Abang masuk."


"Gigi duluan, ya, Bang. Selamat malam."


"Malam."

__ADS_1


Gista pun masuk ke rumahnya, sekarang baru ia mulai merasakan kantuk. Tidak seperti tadi, yang susah sekali hanya untuk sekedar nguap saja.


---


__ADS_2