Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
16. Malunya sampai Alumni


__ADS_3

"Parah lo, Gi. Benar-benar parah ..." ucap Bara dengan tawanya yang belum berhenti juga sedari tadi.


Kejadian tadi berhasil membuat Bara ikut melongo, kesal, tapi juga tidak bisa untuk tidak tertawa.


Sungguh ... Bara tidak percaya jika Gista benar-benar polos sepolos-polos ini. Ia kira Gista tahu caranya mencuci beras seperti apa, toh itu pekerjaan yang gampang di lakukan bukan. Apalagi, sama seorang perempuan. Mungkin, sudah tidak aneh lagi.


Tapi, pengecualian untuk Gista yang mempunyai cara sendiri saat mencuci beras.


Gista merasa sedih, malu dan kesal rasanya saat ini. Ia sedih, karena gara-garanya semua teman-temannya makan tidak pakek nadi, lalu ia malu karena ketidaktahuannya cara mencuci beras yang benar, semua teman-temannya jadi meledeknya sampai tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian, ia kesal karena Bara juga ikut menertawakannya, lebih parahnya Bara masih menertawakannya sampai saat ini.


"Udah ih, jangan ngetawain Gigi terus. Nggak tau apa kalau Gigi ini malu." gerutu Gista dengan wajah cemberutnya.


Sekarang keduanya berada di halaman depan rumah Gista, hanya berdua saja. Sedangkan, yang lainnya sudah pulang setelah acara makan-makan nya selesai. Lagi pula, ini sudah sore. Mereka cukup lama berkumpul di rumah Gista. Hari minggu kali ini di isi dengan berbagai macam rasa, seperti permen nano-nano.


"Abisnya lo ada-ada aja sih, cuci beras pakek mesin cuci di kasih detergen lagi." ledek Bara masih senang dengan tawanya yang belum reda itu.


"Gigi nggak tau, Bara. Gigi nggak pernah cuci beras, nggak pernah lihat orang cuci beras juga." jujur Gista dan memang itu kenyataannya.


"Masa sih? Terus lo makan pakek apa, kalau cuci beras aja lo nggak bisa? Nggak mungkin kan lo langsung menanak berasnya tanpa di cuci lebih dulu." ujar Bara bingung juga, padahal itu hal kecil menurutnya.


"Semuanya selalu di siapin Bang Gege, dari cuci beras, masak nasi, masak makanan. Semuanya Bang Gege yang kerjain, Gigi nggak pernah sibuk ngerjain kayak gitu." ucap Gista jangankan untuk memasak, menyalakan kompor saja ia tidak tahu bagaimana.


"Trus, kalau Abang lo lagi di rumah sakit. Dan, di rumah nggak ada makanan. Lo gimana?" tanya Bara.


"Ada Go food, atau nggak Gigi pergi ke warteg."


Bara menghela nafasnya, ia tak bisa menyalahkan Gista gitu aja karena tak bisa memasak ataupun mencuci beras dengan benar. Mungkin, dari kecil Gista belum pernah di ajarkan memasak oleh Ibunya. Dan, ketika beranjak remaja Ibunya meninggal yang mengharuskan Gista tinggal bersama Abangnya. Itu pun, Gista sering di tinggal sendiri di rumah karena Genta harus kerja.


"Gigi merasa bersalah sama semuanya, apalagi sama Bu Anggika yang sampe pingsan sangking takjubnya melihat cara Gigi nyuci beras." ujar Gista yang membuat Bara tersenyum.


Bukan tersenyum karena melihat wajah bersalah Gista, tapi pada ucapan Gista yang terasa lucu baginya. 'Sangking takjubnya melihat cara Gigi nyuci beras', kalimat itu yang membuat Bara tersenyum.


"Yaudah, sih. Lagi pula mereka udah maafin, lo. Mereka juga nggak marah sama lo, mereka maklumin setiap kepolosan lo. Ya ... Walaupun bikin kesel juga." balas Bara yang membuat Gista semakin cemberut.


"Tapi, mereka juga ngetawain Gigi setelah itu. Mana ledekin Gigi lagi, Gigi kan malu."


"Ya karena cara lo yang anti mainstream itu, yang bikin kita semua ketawa."


"Tega banget kalian semua bikin Gigi malu, ini mah malunya sampai Gigi Alumni." Bara kembali tertawa mendengar ucapan Gista.


"Kalau udah lulus sekolah, trus reunian. Yang ada di pikiran mereka cuma satu tentang lo, Gi. Kejadian gagalnya makan nasi karena beras di cuci pakai mesin cuci dan detergen." ucap Bara dan tawanya semakin pecah, ia sangat-sangat terhibur sekali hari ini.


Kesal masih terus di tertawakan oleh Bara, Gista pun mendorong lengan Bara agar sedikit menjauh darinya yang duduk di sampingnya. "Ketawa aja teruss ... Sampai beras yang di cuci Gigi tadi, berubah jadi nasi di dalam mesin cuci." ujar Gista kelewat kesal.


Alih-alih berhenti tertawa, Bara malah semakin tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan, kedua matanya berair sangking puasnya tertawa.


"Udah ih, ketawanya. Nyebelin banget sih, Bara." gerutu Gista yang semakin di buat kesal.


"Bara udah ..."


"Iya-iya, gue nggak akan ngetawain lo lagi." ucap Bara menyerah, lagi pula ia sudah capek tertawa sedari tadi.


Setelah berhenti tertawa, Bara malah asik menatap Gista yang kini juga menatapnya.


Gista menyerinyitkan dahinya, ketika Bara terus saja menatapnya lama. Ia jadi bingung, apakah ada yang aneh pada dirinya?

__ADS_1


"Bara ngapain sih liatin Gigi terus? Ada yang aneh ya? Eh, emang Gigi aneh ya dari dulu." ucap Gista bertanya, tapi di jawab sendiri.


"Lo tuh nggak aneh, tapi lo itu cewek unik dan limited edition. Yang artinya cewek kayak lo itu, nggak banyak. Bahkan mungkin, cuma ada satu. Dan, itu cuma lo doang. Makanya gue seneng bisa jadi pemilik hati si cewek unik dan limited edition ini." ucap Bara sambil tersenyum dan senyumannya itu tertular pada Gista.


Bara memang paling bisa membuat Gista kesal setelah itu membuat hatinya senang, menyebalkan memang. Tapi, Gista suka.


"Bara ..."


"Apa?"


"Gigi sedih ...!"


"Kenapa? Masih karena cuci beras pakek mesin cuci?" tanya Bara yang membuat Gista berdecak, sepertinya mulai sekarang kasus cuci beras pakai mesin cuci akan terus menghiasi hari-harinya.


"Bukan."


"Lalu?"


"Selusin coklat yang di janjiin mereka nggak jadi di kasih ke Gigi, karena kejadian tadi." ujar Gista, padahal kemarin ia sudah senang ketika di suap oleh selusin coklat.


"Oh ..."


"Kok oh doang?" tanya Gista makin kesal.


"Ya, trus gue harus jawab apa? Kan lo lagi curhat dan gue nanggapinnya dengan oh." balasnya.


"Dasar nggak peka. Beliin Gigi coklat kek buat ganti yang selusin itu, bukannya di sahut oh doang." gumam Gista pelan, namun masih terdengar juga oleh Bara.


Bara tersenyum saat mendengar gumaman Gista itu, untuk yang kedua kalinya Gista menyebutnya tidak peka. "Tar, gue beliin coklat. Jangan ngambek!" ucapnya sambil mengacak rambut Gista gemas.


"Bener ya?" Bara mengangguk mengiyakan. "Coklatnya selusin!"


---


Gista menopang dagunya dengan tangan sebelah kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk soto tanpa minat untuk ia makan. Rasanya ia sangat kesal sekali. Sejak kejadian hari minggu kemarin, semua teman-temannya tak habis-habis meledeknya sampai tertawa.


Ia tahu jika apa yang di lakukannya kemarin salah, tapi apa harus di ungkit-ungkit terus? Gista kan semakin malu.


"Elah, Gi. Tuh soto nggak bakalan jadi bakso mau seberapa lama lo aduk-aduk juga." ujar Lili yang duduk di hadapannya, bingung kenapa sahabatnya itu malah melamun.


Sekarang keduanya berada di kantin, biasanya Gista akan selalu semangat makan ketika istirahat. Tapi, sekarang boro-boro semangat wajahnya saja sedari tadi tidak ada ceria-ceria nya.


"Gigi lagi nggak nafsu makan." ucap Gista.


"Eh, nggak boleh gitu ya, Gi. Lo harus makan, kalau lo nggak makan. Nanti, kalau magh lo kambuh gimana? Lagian, gue kan udah traktir lo soto. Masa nggak di makan sih, lo nggak ngehargain pemberian gue banget sih." balas Lili yang membuat Gista menghela nafasnya berat, lalu memakan soto itu satu suap. Setelah itu, ia mengaduk-aduk kembali tanpa minta untuk memakannya lagi.


"Lo kenapa sih, Gi? Gue lihat dari tadi muka lo di tekuk terus?" tanya Lili, memang tidak biasanya Gista seperti itu.


"Gigi sebel sama temen-temen yang ngatain Gigi terus gara-gara kejadian cuci beras." jawab Gista.


"Ya abis lo ada-ada aja sih, nyuci beras pakek mesin cuci. Gue juga pengen ngakak kalau inget kejadian kemarin." ujar Lili membuat Gista berdecak sebal, Lili sama saja dengan mereka.


"Lili nyebelin banget sih, malah ikutan ketawa kayak mereka." gerutu Gista kesal.


"Lucu, Gi. Kapan lagi gue bisa ketawa ngakak teman sekelas."

__ADS_1


Gista tak mau membalas lagi, ia malah kembali fokus pada soto yang di aduk-aduknya itu.


"Kenapa malah di aduk-aduk terus? Kenapa nggak di makan?" Gista mendongkakkan kepalanya, saat mendengar pertanyaan bukan dari Lili. Tetapi dari ...


"Bara." ucapnya saat melihat Bara yang kini duduk di sebelahnya, lalu minum es teh manis miliknya tanpa permisi.


"***** ... Capek banget gue." ujar Bara sambil mengelap keringat di pelipisnya, ia baru saja bermain basket bersama teman-temannya.


Ia berhenti bermain basket, saat cuaca semakin terik di tambah lagi perutnya yang sudah lapar karena belum makan. Jadi, ia memutuskan untuk ke kantin, dan saat masuk kantin ia tak sengaja melihat Gista yang tengah mengaduk-aduk soto.


"Bara abis ngapain sih sampe banyak keringet gitu?" tanya Gista yang memang tak tahu jika tadi Bara pergi ke lapang basket.


"Main basket." jawabnya.


"Main basket kok pakek seragam? Seragamnya jadi basah tuh, keringet semua. Bau tau!" ujar Gista.


"Ih, gue mah nggak bau ya. Nih, lo cium aja." ucap Bara sambil mendekatkan seragam bagian ketiaknya ke hidung Gista.


Sontak saja Gista mendorong Bara agar menjauh darinya, masa ia di rusuh mencium seragam bagian ketiak Bara yang basah.


"Jorok banget sih, Bara." kesal Gista, tapi Bara malah terkekeh. Jahil memang cowok yang satu ini.


"Ekhem ... Ekhem ... Ekhem ..." Lili terus saja berdehem di hadapan mereka, membuat keduanya kompak menoleh kepadanya.


"Kenapa, Li? Seret?" tanya Gista.


"Iya, seret mata gue liat lo berdua malah pacaran di depan gue. Lo berdua kalau mau pacaran tau kondisi dong, gue masih di sini nih. Dan, gue bukan nyamuk." gerutu Lili kesal, ia merasa tidak terlihat kehadirannya di sana.


"Lagian, lo ngapain masih ada di sini? Mending lo samperin si Dino sana, dia tadi di bawa ke UKS. Dia pingsan." ujar Bara yang membuat Lili membulatkan kedua matanya.


"Serius lo? Dino kenapa bisa pingsan?" tanya Lili yang kini cemas.


"Gue nggak tau, mungkin karena dia mogok makan. Karena marahan sama lo, cek aja sana ke UKS." jawab Bara, dan tanpa membalas ucapan Bara. Lili langsung bangkit dari duduknya dan langsung pergi dari sana.


Bara tersenyum setelah Lili pergi, gini kan enak berdua bersama Gista. Ya, walaupun sebenarnya di kantin banyak orang. Setidaknya di meja itu, hanya ada dirinya dan Gista. Dan, soal Dino sebenarnya Bara bohong jila Dino pingsan. Padahal, Dino cuma numpang tidur saja di UKS. Ia berbohong agar Lili pergi meninggalkan mereka berdua.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, Gi." ucap Bara yang membuat Gista menyerinyitkan dahinya.


"Yang mana?"


"Kenapa lo cuma ngaduk-aduk sotonya? Kenapa nggak di makan?" ucapnya mengulang pertanyaannya yang tadi.


"Udah Gigi makan kok."


"Tapi, kok masih utuh sotonya?"


"Gigi cuma makan satu suap aja."


"Kenapa cuma satu suap?"


Gista menghela nafasnya, lalu menyodorkan semangkuk soto itu ke hadapan Bara. "Gigi nggak nafsu makan, Bara aja yang makan. Dari pada nggak ada yang makan, mubazir." ucapnya.


"Kenapa juga pakek nggak nafsu segala?" tanya lagi Bara sambil memakan soto itu, kebetulan ia lapar.


"Tau ah, Gigi nggak mau bahas." jawab Gista.

__ADS_1


Bara mengangkat kedua bahunya acuh, ia tak akan memaksa Gista untuk bercerita padanya.


---


__ADS_2