Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
20. Bara si cowok ngeselin


__ADS_3

Gista merasa kepalanya ingin pecah sekarang, otaknya sudah lelah berpikir. Tetapi, masih banyak soal-soal ujian yang belum ia isi. Rasanya Gista ingin menangis sekarang, kenapa otaknya tidak bisa mencerna apa yang ia pelajari selama ia belajar. Bahkan, materi yang semalaman ia hapalkan tidak menempel satu pun, tidak ada yang ia ingat.


Belajar tiap malam pun, tidak menjamin dirinya bisa menjawab soal-soal ujian. Bagaimana, jika Gista tidak belajar? Ancur sudah semua nilai-nilainya.


"Bara ..." Panggil Gista dengan berbisik, pada Bara yang duduk di bangku paling depan. Lebih tepatnya, di depan Gista. "Bara!"


Bara yang mendengar panggilan itu, menoleh sedikit pada Gista. "Apa?" Tanyanya ikut berbisik juga.


"Bantuin, Gigi. Gigi pusing." Rengek Gista sambil menunjukkan ekspresi memelasnya.


"Maksudnya?"


"Nyontek!" Bisik Gista.


"Bentar." Ucap Bara yang membuat senyum Gista mengembang, akhirnya ada juga yang mau memberikannya contekan.


Saat itu juga, Bara mengambil kertas kosong yang ada di kolong meja. Lalu, menuliskan sesuatu di kertas itu. Setelah selesai, Bara melipat kertas itu hingga sekecil mungkin. Kemudian, memberikannya pada Gista yang duduk di belakangnya.


Dengan cepat, Gista mengambil kertas yang diberikan Bara padanya. Agar tidak ketahuan pengawas yang sekarang tengah duduk manis di meja guru.


"Makasih, Bara." Bisik Gista.


Bara tersenyum lebar, lalu menganggukkan kepalanya tanpa menoleh lagi pada Gista. Takutnya ia ketahuan dan di curigai menyontek kebelakang.


Gista pun membuka lipatan kertas itu di kolong meja, berjaga-jaga jika ada yang melihatnya. Ia tidak akan meragukan jawaban yang di kasih Bara, karena ia tahu bara itu pintar dan cerdas. Bara juga peringkat ketiga di kelasnya, meski tidak peringkat satu. Tetapi, sudah masuk tiga besar saja itu sudah membuktikan jika otak Bara bekerja dengan baik dan cepat. Tidak seperti Gista, yang banyak loading nya.


Setelah kertas itu, terbuka lebar detik itu juga senyum Gista luntur. Ternyata di kertas itu, bukan jawaban soal-soal yang di tulis Bara untuknya. Tetapi, ...


Kerjain aja sendiri :-P


Berusaha dong, ini baru ujian akhir semester lho, Gi. Bukan ujian nasional ataupun ujian hidup yang beratnya Masya Allah ...


Jangan nyerah, Gi. Ayo berusaha!


SEMANGAT GISTANYA BARA :-*


Gista meremas kertas itu, setelah ia selesai membaca tulisan Bara. Ia kesal sekarang, Bara telah menipunya. Ia kira Bara akan memberikan jawaban soal-soal ujiannya, tapi isinya tak ada satupun jawaban dari soal-soal itu.


Pasrah, karena tidak mendapat contekan. Gista pun mengisi soal-soal ujiannya semampu yang ia bisa, tak lupa di bantu dengan cara menghitung kancing seragamnya. Siapa tahu, dengan cara menghitung kancing jawabannya bisa benar.


"Bara ngeselin!" Bisik Gista kesal, tapi berhasil membuat Bara terkekeh kecil.


"Semangat, Gista!"


"Bodo amat!"


"Iya, i love you too."


"Nggak nyambung!"


"Sambungin dong pakek hati kita."


Gista memutar bola matanya malas, dan ia lebih memilih untuk mengerjakan kembali soal-soal yang masih banyak belum terjawab olehnya. Dari pada meladeni, Bara yang semakin membuatnya kesal.


---


"Cieee yang lagi kesel." Goda Bara pada Gista yang kini mendiamkannya setelah kejadian tadi di kelas.


Dan, sekarang keduanya tengah berada di perpustakaan sekolah. Hanya berdua, karena Lili pergi ke kantin bersama Dino. Gista tidak mau pergi ke kantin saat Bara mengajaknya, karena ia sedang kesal pada Bara. Untuk itu, Gista memilih untuk pergi ke perpustakaan untuk belajar sebelum UAS pelajaran ketiga di mulai nanti.


Tanpa di duga, Bara malah mengikutinya ke perpustakaan. Dan, Bara lebih asik menggoda  Gista yang sedang kesal sekarang. Bara juga terus saja mengganggu Gista yang sedang berusaha fokus membaca buku paket.


"Oh jadi muka Lo kalau lagi kesel itu gini ya, Gi. Kayak ada manis-manisnya." Ujar Bara sambil menusuk-nusuk pipi Gista dengan telunjuknya.


"Emangnya muka Gigi le minerale, ada manis-manisnya." Gerutu Gista kesal, tapi malah membuat Bara terkekeh. Apalagi, melihat wajah polos Gista yang kini masih kesal padanya.


"Lo kalau lagi kesel lucu ya, Gi. Muka Lo nggak serem-serem amat kalau lagi marah, keliatan banget kalau Lo nggak bisa marah." Ujar Bara yang membuat Gista berdecak kesal, padahal sedari tadi Gista sudah berusaha menunjukkan mimik wajah marahnya pada Bara. Tetapi, kenapa masih terlihat biasa saja? Sampai-sampai Bara bisa menebak jika dirinya memang tak bisa marah.

__ADS_1


"Bara diem deh, jangan berisik. Gigi tuh lagi belajar, dari tadi Bara gangguin Gigi terus. Gigi jadi nggak fokus nih." Omel Gista.


"Lo nggak fokus karena gue berisik, atau Lo nggak fokus karena salting dari tadi gue liatin Lo?" Tanya Bara sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Siapa yang salting? Gigi biasa aja tuh."


"Bohong banget Lo, gue yakin dari tadi Lo cuma liatin buku doang."


"Bara udah dong, jangan gangguin Gigi terus. Gigi tuh lagi belajar, biar nanti kalau ngisi soal Gigi nggak pusing-pusing banget jawabnya." Ucap Gista, sambil menutup wajahnya dengan buku paket.


Sebenarnya Gista memang salting saat dari tadi Bara terus memperhatikannya terus, bahkan memang Gista tidak fokus  membaca buku karena jantungnya terus berdebar kencang.


"Kok muka Lo malah di tutupin buku sih?" Tanya Bara sambil mencoba menjauhkan buku dari wajah Gista, tetapi Gista menahannya. Karena saat ini Gista tengah menutupi kedua pipinya yang memerah.


"Gi ..."


"Bara diem ih."


"Nggak sopan banget ngobrol tapi muka Lo malah di tutupin kayak gitu." Ujar Bara.


"Abisnya Bara gangguin Gigi terus." Balas Gista masih dengan menutup wajahnya dengan buku paket.


"Yaudah, deh. Gue nggak akan gangguin Lo lagi, gue mau ke kantin aja lah." Ucap Bara sambil bangkit dari duduknya dan menjauh dari meja yang di tempati Gista.


"Yaudah, sana."


Gista mengintip sedikit di balik buku paketnya, untuk memastikan keberadaan Bara. Tetapi, ia tidak menemukan Bara. Mungkin, Bara memang sudah pergi ke kantin.


Ia pun menyimpan buku paketnya di meja sambil menghela nafasnya lega, Bara tidak tahu saja jika sedari tadi jantung Gista berdetak lebih kencang saat Bara terus memperhatikannya.


"Untung aja Bara nggak denger kalau dari tadi jantung Gigi berdisko waktu di liatin terus." Gumamnya, bahkan sampai sekarang jantungnya masih berdebar kencang.


"Bikin Gigi salting aja. Dari tadi Gigi kan emang nggak fokus baca buku." Lanjutnya.


"Tuh kan, gue bilang apa. Lo dari tadi salting." Saat itu juga, Gista terlonjak kaget saat mendengar suara Bara.


Demi apapun ia malu sekarang, bahkan kedua pipinya sudah memanas karena malu. Bara pasti mendengar apa yang di ucapkan ya barusan.


"Ish, Bara nyebelin. Bohongin Gigi, katanya ke kantin. Tapi, malah ngumpet di belakang Gigi." Gerutu Gista kesal plus malu, tapi Bara malah terkekeh dengan tampang wajah tanpa dosanya.


Bara kembali duduk di sambung Gista masih dengan kekehannya, membuat Gista semakin kesal di buatnya. "Udahlah, Gi. Lo tuh nggak bisa bohong sama gue, kebaca banget tau nggak dari wajah polos Lo itu." Ucapnya.


"Tau ah, kesel Gigi sama Bara." Ucapnya, lalu bangkit dari duduknya. Lalu, pergi meninggalkan Bara sendirian.


Bara tersenyum sambil memperlihatkan punggung Gista yang semakin menjauh, yang seperti ini yang akan selalu di rindukan Bara nanti.


---


Sebagai permohonan maaf Bara pada Gista yang sudah dibuat kesal olehnya tadi saat di perpustakaan sekolah, Bara menawarkan Gista untuk belajar memakai sepatu roda seperti apa yang di inginkan Gista saat itu. Tak hanya itu, Bara juga mengajak Gista untuk belajar bersama nanti setelah belajar main sepatu roda.


Sekarang, keduanya berada di lapangan basket yang ada di komplek perumahan mereka. Hari ini lapangan itu, tidak ada yang memakainya. Untuk itu, Bara mengajak Gista untuk latihan main sepatu roda di lapangan basket itu.


"Bara jangan lepasin tangan, Gigi." Ucap Gista ketika Bara mulai melepaskan kedua tangannya perlahan-lahan.


"Kalau nggak di lepas, trus gimana Lo bisa main sepatu roda sendiri dong?" Tanya Bara.


"Gigi nggak mau di lepas, takut jatuh." Ucapnya sambil memegang tangan Bara yang hendak melepaskannya.


"Kan ada gue, Lo tenang aja. Sebelum Lo jatuh, gue bakalan langsung tangkap lo." Balas Bara.


Gista menghela nafasnya, lalu mulai melepaskan tangannya yang memegang Bara. Kemudian, ia menyeimbangkan tubuhnya untuk berdiri memakai sepatu rodanya.


"Siap?" Tanya Bara, yang di balas dengan anggukan Gista. "Lo maju duluan, dan gue jagain Lo di belakang." Lanjutnya.


"Tapi, Bara beneran jagain Gigi ya."


"Heem."

__ADS_1


"Jangan sampai Gigi jatuh."


"Iya."


"Kalau Gigi hampir jatuh, Bara langsung tolongin Gigi ya."


"Iya, sayang. Iya!"


Gista tersenyum malu saat mendengar jawaban Bara, jantungnya kembali berdebar kencang. Padahal, Bara tidak berniat menggodanya. Tetapi, kenapa panggilan sayang dari Bara malah berefek jantungnya berdebar kencang dan kedua pipinya yang memanas.


"Pipi Lo merah, blushing ya." Goda Bara, sambil tersenyum. Sekarang, Gista terlihat sangat menggemaskan dengan rona merah di pipinya.


"Apa sih, Bara. Pipi Gigi merah karena kepanasan." Elak Gista.


"Perasaan cuaca nggak panas-panas amat, Lo juga nggak keringetan. Tapi, pipi Lo bisa merah merona gitu." Ujar Bara.


"Udah ah, Gigi mau latihan ini. Jagain Gigi!" Bara pun mengangguk mengiyakan.


Dengan perlahan Gista membawa sepatu rodanya untuk maju, ia merentangkan kedua tangannya untuk menyeimbangkan tubuhnya. Cukup sulit juga, tetapi ia tetap berusaha untuk bisa bermain sepatu roda sampai bisa seperti Bara.


Bara yang menjaga Gista dari belakang, merasa gemas sekali melihat Gista yang maju hanya perlahan-lahan saja. Bahkan, terlihat seperti tidak maju sama sekali.


"Keong aja pasti menang, Gi. Kalau di ajak lomba bareng Lo." Cibir Bara sambil terkekeh, Gista berjalan memakai sepatu roda sangat lambat.


"Gigi kan lagi usaha, Bara." Ucap Gista.


"Ya, tapi nggak lambat juga kali, Gi."


"Gigi kan baru pemula, Bara."


"Iya deh, iya."


Gista sedikit mempercepat laju sepatu rodanya, masih dengan kedua tangannya yang di rentangkan. Sedikit demi sedikit ia bisa menggunakannya sekarang. Semakin ia bisa mengendalikannya, Gista semakin menambah kecepatannya.


"Wuaaahhh ... Bara, Gigi bisa Bara." Seru Gista senang, membuat Bara tersenyum saat mendengarnya.


Gista belum sadar, jika sebenarnya Bara berada di jarak yang cukup jauh darinya. Bara memang sengaja tidak mengikuti Gista dari belakang, tetapi Bara hanya mengawasinya saja dari belakang.


"Bara kalau mau belok gimana ya?" Tanya Gista, ia masih merasa kaku saat menggerakkan kedua sepatu rodanya. Ia hanya bisa menggerakkannya jika jalanan lurus saja, tapi ketika hendak berbelok ia belum mencobanya.


"Bara." Panggilnya, saat tak mendengar jawaban dari Bara. Namun, ia tak mendapat sahutan lagi.


Gista pun menoleh ke belakang untuk melihat Bara, tanpa menghentikan laju sepatu rodanya. Detik itu juga, Gista membulatkan kedua matanya saat melihat Bara yang berada jauh darinya. Sekarang, ia baru sadar jika sedari tadi ia hanya belajar sendirian tidak ada Bara yang mengikutinya dari belakang.


"Bara kenapa nggak ikutin, Gigi?" Teriak Gista.


"Jangan nengok ke belakang, lihat ke depan sana. Tar Lo jatuh!" Sahut Bara ikut teriak juga.


"Bara ngeselin, katanya jagain Gigi dari belakang. Tapi, malah diem aja di situ." Balas Gista kesal, masih dengan menoleh kebelakang. Sedangkan sepatu roda yang di gunakannya terus maju ke depan.


"Gi, lihat ke depan."


"Ih, Bara ngeselin!"


Gista pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan, detik itu juga ia kaget saat tepat beberapa meter di hadapannya ada tiang ring basket. Gista bergerak gelisah, saat ia tak mengetahui cara berhenti menggunakan sepatu rodanya. Alih-alih sepatu rodanya berhenti, yang ada sepatu rodanya itu malah semakin lincah melaju. Karena, Gista tidak bisa diam sangking tak tahu apa yang harus di lakukannya.


"BARA CARA BERHENTI NYA GIMANA?" teriak Gista kencang.


"Jangan gerak, Gi." Sahut, Bara sambil melajukan sepatu rodanya untuk menyusul Gista.


"BARA INI GIMA---Aaaa ..."


Duk


Gubrak


"Gista!"

__ADS_1


---


__ADS_2