Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
23. [Bukan] Pertama kali mengenalnya


__ADS_3

Bara berjalan menuju gerbang sekolah barunya, di mana ia melihat seorang gadis berkuncir dua yang sama-sama memakai seragam putih-biru sepertinya tengah berdiri sendiri sambil memegang pagar besi. Di saat peserta didik baru lain berlarian memasuki sekolah, gadis itu malah diam saja di gerbang sekolah.


"Hey, Lo ngapain diem aja di sini? Kegiatan MOS nya mau di mulai tau." Ucap Bara, bukannya menjawab gadis itu malah menundukkan kepalanya takut.


"Lo kenapa sih?" Tanya Bara, tetapi masih tak mendapatkan jawaban.


"Eh, nggak usah takut sama gue. Gue bukan setan, gue juga sama kok kayak Lo. Peserta didik baru, liat tuh gue aja masih pakek seragam SMP." Ujar Bara saat melihat gadis itu ketakutan saat di hampiri olehnya.


Gadis itu mendongkakkan kepalanya menatap Bara, yang membuat Bara terdiam saat itu juga. Gadis itu ... Ia cukup tau siapa gadis itu. Yang sekarang di pikirannya adalah, kenapa gadis itu bisa daftar ke sekolah yang sama seperti Bara? Dari sekian banyak sekolah yang ada di Jakarta, kenapa mereka bisa satu sekolah lagi? Padahal, sebelumnya sekolah mereka berada di Bandung. Tetapi, saat pindah ke Jakarta mereka sama-sama masuk ke sekolah yang sama.


"Lo kenapa masih ada di sini?" Tanya lagi Bara.


"Gigi nggak tau harus kemana? Gigi nggak punya temen di sini, Gigi juga baru di sini." Jawabnya, kedua matanya sudah berkaca-kaca karena sedari tadi ia tidak tahu harus apa. Saat hendak bertanya pun, orang-orang tampak seperti tidak peduli padanya.


"Lo masuk kelas pahlawan apa selama MOS?"


"Raden Ajeng Kartini."


"Gue juga masuk kelas pahlawan itu, ayo ikutin gue." Ujar Bara, yang langsung diangguki oleh gadis itu.


Bara pun berjalan lebih dulu, yang langsung di ikuti oleh gadis itu. Gadis itu, berdecak kagum saat melihat lingkungan sekolahnya yang baru. Dari depan saja terlihat bagus tadi, dan ketika masuk ke dalam bagusnya berkali-kali lipat.


"Lain kali kalau nggak tau, harus berani tanya. Jangan diem aja kayak tadi." Ucap Bara membuka pembicaraan.


"Tadi Gigi mau tanya, tapi lihat muka orang yang jutek-jutek jadi nggak berani. Takutnya, nanti Gigi malah di kerjain." Ujar gadis itu, untungnya saja ada Bara yang menghampirinya dan mau mengajaknya masuk bersama.


"Tapi Lo juga nggak boleh diem aja di sana, nanti kalau ada panitia MOS lihat. Nanti, di sangka nya Lo telat. Bisa-bisa Lo di hukum." Balas Bara.


"Iya, besok-besok nggak lagi deh." Ucapnya yang langsung diangguki Bara.


Lima menit kemudian, mereka sampai di ruang kelas yang di depan pintunya terdapat nama pahlawan R.A Kartini. Itu, artinya ruang kelas mereka saat mengikuti MOS ada di sana.


Mereka pun masuk ke dalam ruang kelas itu, dan ternyata sudah banyak murid-murid baru dari berbagai SMP yang sudah duduk di bangku masing-masing.


"Bangkunya udah pada penuh." Ucap gadis itu.


"Ada satu bangku lagi tuh di belakang, Lo nggak apa-apa sebangku sama gue?" Tanya Bara, karena biasanya murid perempuan paling tidak mau satu bangku dengan murid laki-laki. Tidak tahu alasannya apa, padahal murid laki-laki mau satu bangku sama siapa aja tak masalah.


"Nggak apa-apa deh, lagian nggak ada bangku lagi." Jawabnya, yang langsung diangguki Bara.


Mereka pun berjalan menuju bangku yang ada di belakang, hampir semua mata menatap kearah mereka. Gadis itu, merasa risih saat melihat tatapan-tatapan itu. Namun, Bara memilih bodo amat.


Keduanya pun duduk di bangku itu, gadis itu bernafas lega saat tak ada lagi sepasang mata yang menatapnya. Ia paling tidak suka jadi pusat perhatian.


"Makasih ya, udah bantuin Gigi. Gigi nggak tau mau sampai kapan berdiri di gerbang, kalau kamu nggak ajakin Gigi masuk." Ucap gadis itu, sambil tersenyum.


"Iya, sama-sama."


"Kenalin nama aku, Gista." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Gue tau, tanpa Lo kasih tau. Gue udah tau." Batin Bara.


Bara membalas jabatan tangan gadis yang bernama Gista itu untuk berkenalan, "Bara."


Gista menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum. Membuat Bara terdiam mematung, apa yang selalu ia lihat dari jauh. Sekarang, ia melihatnya secara dekat. Dan, itu hanya sebuah senyuman.


---


"Lo nggak ke kantin?" Tanya Bara saat melihat Gista masih duduk di bangkunya, sedangkan yang lainnya sudah berhamburan keluar kelas untuk beristirahat.

__ADS_1


"Gigi bekal dari rumah, jadi nggak ke kantin." Jawabnya, sambil membawa kotak nasi di dalam tasnya dan menyimpannya di meja. "Bara nggak ke kantin?"


"Males, pasti penuh."


Gista mengangguk mengerti, lalu membuka tutup kotak nasinya. Hingga terlihatlah menu makanan yang di bekal Gista saat ini, nasi putih, satu potong ayam goreng, capcay, oseng kacang panjang dan juga ada satu buah jeruk.


Bara yang melihat menu makanan yang di bekal Gista, hanya menelan ludahnya susah payah. Dari semua menu makanannya, hanya ayam goreng saja yang Bara suka. Selebihnya, ia tak suka sayuran.


"Bara mau?" Tawar Gista.


"Gue nggak suka sayuran." Ucapnya jujur.


"Itu, ada ayam goreng. Gigi nggak suka ayam bagian paha, Gigi sukanya bagian Dada sama sayap." Ucap Gista, dan kebetulan ayam goreng yang ada di bekalnya itu ayam bagian paha. Jelas tak akan ia makan.


"Trus, Lo mau makan sama sayurannya aja gitu?" Tanya Bara yang langsung diangguki Gista.


"Gigi lebih suka sayuran, dari kecil udah di biasain makan sehat. Apalagi Abang Gigi itu Dokter, katanya harus sering makan sayur." Jawabnya.


"Kalau ayamnya buat gue, nggak apa-apa emang?"


"Ya nggak apa-apa, ayamnya juga nggak akan Gigi makan kok. Jadi, Bara aja yang makan." Ucap Gista yang langsung diangguki Bara.


Bara pun mengambil ayam goreng yang di bungkus plastik bening, lalu memakan ayam goreng itu. Lumayan, ia bisa mengganjal perutnya dengan sepotong ayam gratis.


"Mau pakek nasi?" Tawar Gista, namun langsung di balas dengan gelengan kepala Bara. Nasi yang di bawa Gista hanya sedikit, mungkin memang hanya untuk porsi Gista saja. Jika, ia memakan nasinya juga takutnya Gista malah tidak kenyang nanti.


"Lo habisin aja, gue makan ayam goreng aja."


Menurut, Gista pun memakan nasinya sendiri dengan lauk pauk capcay dan oseng kacang panjang.


---


Entah kenapa, barusan ia teringat saat dirinya bertemu dengan Gista ketika awal masuk SMA. Lebih tepatnya saat pelaksanaan MOS, awalnya Bara tak pernah menyangka bisa satu sekolah dengan Gista. Bahkan, saat bertemu dengan Gista di gerbang sekolah saat itu ia sangat kaget. Dari sekian banyaknya sekolah di Jakarta, tetapi kenapa bisa Gista daftar di sekolah yang sama dengannya? Itu yang sampai saat ini menjadi pertanyaan Bara sejak dulu.


Bukannya ia tidak senang Gista sekolah di satu SMA yang sama, Bara hanya penasaran dengan takdir yang mempertemukan mereka yang entah di sengaja atau hanya kebetulan.


Selama ini, Bara mengenal Gista lebih dari yang Gista tahu. Gadis itu, berpikir jika Bara mengenalnya ketika hari pertama MOS. Padahal, sebelum itu Bara sudah jauh mengenal siapa itu Gista.


Hanya saja Gista tak pernah tahu, atau Gista tak pernah ingat. Jika sebelumnya, mereka pernah berkenalan.


"Go IPA-3, Go!" Seru murid 11 IPA-3 yang menjadi suporter kelasnya yang kini sedang tanding Volly putri.


Jadwal hari pertama PORBAS adalah Volly Putra-putri, melukis, cipta cerpen dan pencak silat. Jika melukis, cipta cerpen dan pencak silat di adakan di dalam ruangan. Beda hal dengan tanding Volly yang di laksanakan di lapangan. Setiap kelas sudah mendapatkan jadwal tandingnya masing-masing, dan sekarang bagian kelas Bara lah bertanding melawan kelas 11 IPS-1.


Dan, salah satu peserta lomba volly putri yang di daftarkan adalah Gista. Gadis itu, sekarang berada di lapangan bersama yang lainnya.


"Lili ... Lili ... Lili ..."


"Citra ... Citra ... Citra ..."


"Gigi ... Gigi ... Gigi ..."


"IPA-3 Auooo IPA-3 Auooo ..."


"Di kira Tarzan kali ah, Auooo."


"Yee ... Serah gue dong, sirik aja Lo."


Di saat yang lainnya heboh berteriak menyemangati timnya, Bara hanya diam saja sambil memperhatikan Gista yang bermain volly di lapangan. Gadis itu, tampak terlihat serius. Wajah polosnya itu, tak terlihat sama sekali ketika Gista sedang bermain volly.

__ADS_1


"Gue lebih suka Lo yang polos, Gi. Nggak apa-apa Lo nyebelin karena banyak tanya, tapi gue suka itu dari pada liat Lo yang serius. Bukannya gue nggak suka liat Lo serius, tapi rasanya berbeda saat liat Lo seserius itu." Batin Bara.


"Sama seperti waktu kita di pantai, gue suka Lo yang saat itu. Lo jujur ke gue tentang jantung Lo yang selalu berdetak kencang kalau lagi sama gue. Gue suka denger semua kejujuran Lo yang itu, bukan yang tiga hariĀ  lalu saat Lo bilang minta putus."


Bara melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 14.22 perutnya sudah terasa lapar. Wajar saja, karena ia belum makan siang.


Ia pun beranjak dari tempatnya, untuk pergi ke kantin. Ia bisa makan di sana sebentar, sebelum menyaksikan pertandingan volly lagi nanti.


Baru saja Bara berjalan beberapa langkah menjauh dari pinggir lapangan, langkahnya itu harus terhenti saat ia mendengar teriakan kencang di belakangnya.


"GISTA!!!"


Bukan hanya seorang saja yang meneriaki nama itu, tapi hampir yang mengenal gadis itu. Meneriakkan namanya, entah apa yang terjadi pada Gista sehingga orang-orang kompak berteriak memanggil Gista.


"Main yang bener dong, woy!"


"Bisa main kagak sih?"


"Main secara sehat dong, Lo!"


"Lo punya dendam atau gimana? Main seenaknya aja Lo!"


"Temen gue jadi pingsan, nih!"


"Itu si Gista pingsan kepalanya kena bola."


"Parah tuh anak IPS-1, mainnya nggak sehat tuh. Kayak sengaja ngarahin bola ke arah lawan, yang kena jadi si Gista tuh."


Mendengar semua itu, membuat Bara berbalik dan lari menuju tengah lapangan. Di sana Bara melihat Gista yang tergeletak pingsan dan di kerubungi teman-temannya.


Bara membelah kerubunan itu, lalu tanpa kata ia menggendong Gista ala bridal style dan langsung membawanya pergi dari lapangan untuk ke UKS.


Semua pasang mata menatap ke arahnya, yang menggendong Gista dengan raut wajah cemas.


"Sekali lagi, Lo udah berhasil membuat gue kesal, Gista. Gue kesal karena Lo selalu aja bikin gue khawatir." Batin Bara.


---


Memandangi wajah polos Gista ketika kedua matanya terpejam adalah sesuatu yang tidak aneh lagi bagi Bara, karena ia sudah pernah melihatnya sebelumnya. Sudah beberapa kali ia melihatnya ketika Gista pingsan yang berakhir di UKS dan hanya dirinya saja yang menemaninya.


Dan, ia tidak pernah bosan untuk memandangi wajah Gista. Entah itu, sedang memejamkan matanya atau tidak.


Sakit dan cinta. Itu, yang di rasakan Bara ketika melihat Gista sekarang. Hatinya sakit, ketika ia mengingat kejadian tiga hari yang lalu ketika Gista meminta putus tanpa alasan. Dan, sisi lain hatinya juga masih merasakan cinta. Cinta untuk Gista, hanya Gista.


"Gimana bisa ... Gimana bisa gue melepaskan Lo, kalau Lo aja selalu berhasil bikin gue khawatir kayak gini, Gi." Ucap Bara, berharap Gista mendengarnya meski dalam keadaan pingsan.


"Kenapa Lo minta putus? Salah gue apa coba? Apa karena saat itu, gue nggak sempat nolongin Lo waktu Lo jatuh saat latihan sepatu roda? Tapi, kan gue udah minta maaf berkali-kali sama Lo, Gi. Tapi, Lo nggak mau maafin gue juga." Lanjut Bara, apa segitu marahnya Gista padanya saat kejadian itu. Sampai akhirnya Gista minta putus darinya?


"Apa Lo nggak inget gue, Gi? Atau, gue emang nggak pernah ada di daftar ingatan Lo? Sampai-sampai Lo lupa gue, tanpa mengenali gue sama sekali." Batinnya.


Bara menghela nafasnya berat, lalu pergi keluar dari UKS itu. Dadanya, terasa sesak setiap kali mengingat itu.


Tanpa Bara sadari, jika sedari tadi sebenarnya Gista sudah sadar. Hanya saja, Gista pura-pura masih pingsan saat mendengar suara Bara. Sehingga apa yang di katakan Bara, Gista mendengarnya.


Ada rasa sesak di dada Gista saat mendengar ucapan, Bara. Bahkan air matanya menetes begitu saja saat ia membuka matanya setelah yakin jika Bara sudah tak ada lagi di UKS.


"Tunggu sebentar lagi, hanya sebentar lagi, Bara." Batin Gista, dan ia tidak tahan untuk menunggu hari itu tiba.


---

__ADS_1


__ADS_2