
Jam menunjukkan pukul 15.15 wib, Gista masih berada di sekolahan. Padahal, lomba sudah berakhir satu jam lalu, bahkan sejak berakhirnya lomba semua murid bisa pulang. Tetapi, Gista belum ingin beranjak dari duduknya untuk pulang. Sejak tadi Gista duduk di bangku taman sekolah sendirian.
Hampir semua teman-teman sekelasnya membujuk Gista untuk mau pulang, tetapi Gista menolaknya. Bahkan, ajakan Lili yang notabenenya adalah sahabatnya juga ia tolak. Gista sama sekali tidak mau beranjak dari bangku itu, padahal yang di lakukan Gista hanya duduk dengan tatapan lurus ke depan.
Dulu, Gista pernah melihat Nadin -teman sekelasnya- yang nangis sendirian di pojok kelas, karena sakit hati pacarnya selingkuh. Saat itu, Gista bingung apa sakit hati sesakit itu sampai-sampai Nadin bisa menangis sesegukan dan tidak ada obatnya sama sekali.
Dan, sekarang Gista bisa merasakan apa yang pernah Nadin rasakan sakit itu. Rasa sakit hati, yang memang kenyataannya memang sakit. Meski hatinya tidak mengeluarkan setetes darah pun, nyatanya lebih menyakitkan dari pada luka yang mengeluarkan darah. Meskipun sakit hatinya bukan karena di selingkuhi, Bara. Tetapi, rasa sakitnya ini lebih sakit dari pada orang yang di selingkuhi.
"Gista ..." Panggilan itu, membuat Gista mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Gista berdiri dari posisi duduknya, lalu memeluk orang yang barusan memanggilnya. Dan, detik itu juga tangisnya kembali pecah.
"Sakit, By. Rasanya sakit, Gigi nggak pernah merasakan ini sebelumnya. Dan, di saat Gigi merasakannya. Kenapa harus sesakit ini?" Tanya Gista, membuat Debby sedih saat melihat Gista yang menangis seperti ini.
Dan, ya. Orang yang baru saja memanggil Gista adalah, Debby. Gista tak tahu kenapa Debby bisa datang ke sekolahnya, tapi Debby datang di waktu yang tepat. Di saat ia membutuhkan pelukan untuk menguatkannya.
"Jangan nangis, Gi. Gue nggak bisa lihat Lo nangis kayak gini, Lo sahabat terbaik gue. Dan, gue nggak mau lihat sahabat terbaik gue menangis seperti ini." Ujar Debby, ia bisa lihat bagaimana rapuhnya Gista kali ini.
"Semuanya salah, Gigi. Kalau aja Gigi nggak ikut-ikutan mereka buat jahilin, Bara. Mungkin sekarang Bara nggak akan marah sama, Gigi. Gigi cuma bercanda, By. Gigi cuma bercanda putusin, Bara. Tapi, Bara bener-bener putusin, Gigi." Debby meneteskan air matanya begitu saja, melihat Gista yang menangis seperti itu membuatnya tak tega. Apalagi, ia belum pernah melihat Gista menangis hanya karena satu cowok.
Sekarang, Debby bingung harus apa? Ingin mengatakan sesuatu pada, Gista. Tetapi, Bara sempat melarangnya. Ia jadi serba salah sekarang, di sisi lain Bara adalah kembarannya dan di sisi lain juga Gista adalah sahabatnya. Bagaimanapun, Debby sangat berharap jika keduanya akan terus bersama-sama.
"Gigi tau Gigi salah, tapi apa harus Bara beneran putusin Gigi? Apalagi, Bara bilang kalau dia berharap nggak akan pernah ketemu Gigi lagi." Ucap Gista dengan Isak tangisnya yang sudah sesegukan.
Debby melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata yang sudah membasahi wajah Gista. "Jangan nangis lagi, Lo nggak boleh kayak gini. Jangan jadi cewek lemah cuma gara-gara, Bara. Apapun yang terjadi Lo harus ikhlas, jangan salahin diri Lo juga." Ucapnya.
"Nanti gue akan bicara sama, Bara. Dia nggak mungkin ngelepasin Lo gitu aja, Gi. Karena, dia itu cinta banget sama Lo. Mungkin, sekarang dia masih belum percaya aja kalau Lo cuma putusin dia hanya pura-pura. Karena, beberapa hari ini dia masih kepikiran kenapa waktu itu Lo tiba-tiba putusin dia. Sekarang Lo tenang, jangan nangis lagi. Kalau nanti Abang Lo tau Lo abis nangis, nanti dia bisa khawatir." Bujuk Debby, ia tahu kenapa Gista bisa menangis seperti ini. Gista pernah merasakan kehilangan, dan tentunya Gista tak ingin lagi merasakan kehilangan orang yang di cintainya.
"Sekarang kita pulang ya, udah sore." Ajak Debby yang langsung di angguki Gista. "Sini mana kunci motor Lo, biar gue yang bawa motornya. Lo gue bonceng."
Gista memberikan kunci motornya pada, Debby. Setelah itu, keduanya pergi dari taman itu menuju parkiran. Di sekolah itu, sudah sangat sepi. Tetapi, entah kenapa sedari tadi Gista betah duduk sendirian. Jika Debby tidak ke sana, apa Gista akan terus duduk di sana dan tidak pulang?
---
Dorr ... Dorr ... Dorr ...
"Bara!"
"Buka pintunya, Bara!"
Bara yang tengah berbaring sambil menatap lurus langit-langit kamarnya, menghela nafas gusar saat mendengar gedoran pintu dan teriakan Debby di depan kamarnya.
"Ish, buka nggak Lo! Kalau Lo nggak buka, gue bakalan bilang semuanya sama, Gista." Ancam Debby, yang membuat Bara berdecak kesal.
Bara pun bangkit dari kasurnya, lalu berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka kuncinya.
Cklk
"Jangan masuk!" Larang Bara pada Debby saat gadis itu hendak nerobos masuk setelah membuka pintunya.
"Awas, gue mau masuk!"
"Di luar aja, Deb. Jangan masuk kamar gue, gue nggak suka ada orang yang masuk kamar gue. Termasuk Lo!" Ujar Bara, namun Debby terus mendorong pintu kamar Bara dari luar. Ia ingin masuk pokoknya, lagian Debby sudah penasaran. Apa sebenarnya yang berada di kamar Bara, sampai-sampai dia tak mau kamarnya di masuki oleh siapapun.
__ADS_1
"Minggir, atau gue ke rumah Gista sekarang juga dan bilang kalau Lo itu putusin dia ka--" Debby tak melanjutkan ucapannya, saat Bara mengalah dengan membukakan pintu kamarnya dan membiarkan Debby masuk ke dalam.
Tubuh Debby mematung saat langkahnya berhenti di tengah-tengah kamar, Bara. Selama 2 tahun kepindahan mereka ke rumah itu, baru kali ini Debby masuk ke kamar Bara. Dan, sekarang rasanya ia ingin menangis ketika melihat apa yang terpampang dengan nyata di kamar Bara.
"Bara." Lirih Debby, sekarang ia tahu bagaimana perasaan Bara saat ini. Pasti sangat hancur.
"Lo udah nganterin dia pulang kan?" Tanya Bara.
"Bar,"
"Dia baik-baik aja kan?"
Debby rasanya benar-benar ingin menangis sekarang, rasanya apa yang terjadi begitu tidak adil untuk Bara dan Gista. Mereka saling mencintai, tapi karena sesuatu membuat mereka harus saling tersakiti.
"Bara, kenapa Lo nggak bilang jujur aja sama, Gista?" Tanya Debby, air matanya menetes begitu saja.
"Gue nggak bisa, Deb. Gue nggak mau nyakitin hati dia lebih dari ini, apalagi kalau dia tau soal ini." Jawab Bara, yang malah membuat Debby menangis.
"Tapi, Lo cinta sama dia, Bar ..." ucap Debby.
Bara terdiam, ia bingung harus melakukan apa. Nyatanya, ia memutuskan Gista memang bukan karena kesalahan Gista yang sudah pura-pura memutuskannya beberapa hari lalu. Tetapi, karena ada hal lain yang membuat Bara terpaksa harus mengakhiri hubungannya dengan Gista.
"... Gista juga cinta banget sama Lo, Bar." Lanjut Debby, yang membuat dada Bara sesak kembali rasanya.
"Gue lakuin ini karena gue cinta sama Gista, Deb. Gue nggak mau dia terluka jika dia tau apa yang sebenarnya, dia nggak punya siapa-siapa lagi." Ujar Bara, membuat tangis Debby semakin pecah.
Debby sudah tahu semuanya, sesuatu yang membuat hubungan Bara dan Gista begitu rumit. Dan, ia tak pernah percaya dengan apa yang dialami Bara. Ia harus mengorbankan perasaannya sedalam-dalamnya.
Bara berjalan mendekati Debby, lalu menarik kembarannya itu ke dalam pelukannya. Ia jarang sekali bisa akur dengan Debby, kadang sikap mereka terlihat seperti bukan saudara. Tetapi, meskipun begitu yang sebenarnya ikatan batin mereka sangat kuat. Selama ini juga, Bara ataupun Debby tidak pernah menyembunyikan sesuatu atau saling rahasia-rahasiaan. Mereka selalu terbuka, apalagi masalah hati.
"Gue udah nggak bisa jagain dia setiap saat seperti dulu lagi, Deb. Gue khawatir sama dia, hampir setiap saat gue khawatir sama dia. Gue mau Lo jagain dia, Deb. Meski di jarak yang jauh, tapi tolong pastikan dia tetap baik-baik aja. Gue sayang dia, Deb." Ucap Bara, demi apapun ia ingin sekali selalu ada di dekat Gista. Tapi, keadaan tidak bisa membuatnya untuk tetap bertahan di dekat Gista.
"Bar ..."
Bara melepaskan pelukannya, lalu menghapus jejak air mata yang membasahi wajah Debby. "Jangan nangis lagi, Deb. Lo harus kuat, Lo satu-satunya orang yang gue harapkan untuk bisa menjaga, Gista. Karena, Lo sahabat terbaiknya, Gista." Ucapnya, ia tak ingin masalahnya membebani Debby terlalu dalam.
"Janji sama gue, untuk tetap jadi sahabat Gista dan jagain dia." Debby menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang di inginkan Bara. Ia akan berusaha melakukan itu untuk, Bara.
---
Gista baru saja duduk di bangkunya, tetapi saat itu juga teman-teman sekelasnya kompak mendatanginya berbondong-bondong membuat Gista kebingungan melihatnya.
"Awasi terus di sana ya, Jon. Kalau ada si Bara langsung bilang ke kita." Ujar Dino, yang langsung di angguki Jono yang berada di dekat pintu kelas untuk memastikan jika semuanya aman.
"Ini ada apa sih? Kenapa kalian nyamperin Gigi semua?" Tanya Gista bingung, tidak biasanya semua teman sekelasnya menghampirinya secara bersamaan.
"Gi, Lo tau kan kalau 2 Minggu lagi Bara ulang tahun?" Tanya Dino, yang langsung diangguki Gista.
"Kita punya rencana kasih kejutan ulang tahun buat, Bara." Ujar Panji yang di angguki teman-temannya yang lain.
"Trus?" Tanya Gista.
__ADS_1
"Sebelum kasih kejutan buat, Bara. Kita ada ide buat jahilin dia dulu, seperti jahilin Lo. Waktu itu, kita culik motor Lo beberapa hari. Nah, sekarang giliran Bara buat kita kerjain dulu sebelum ulang tahun." Jawab Dino, membuat Gista menautkan sebelah alisnya.
"Maksudnya, kalian mau culik motor Bara juga?" Tanya lagi Gista.
"Nggak, Gi. Kita kerjain Bara dengan cara yang lain, pakai ide yang lain." Kali ini Lili yang menjawabnya. Membuat Gista tambah bingung.
"Ide apa?"
"Gini, Gi. Lo harus pura-pura putusin, Bara. Kita mau tau reaksi apa yang akan di tunjukkan Bara ketika Lo putusin dia." Ujar Panji, membuat Gista berpikir sejenak.
"Kok harus pura-pura putusin Bara, sih? Kalau nanti Bara marah sama Gigi gimana?" Tanya lagi Gista, ia kadang bingung. Sebenarnya, apa faedahnya mereka menjahili orang yang akan ulang tahun?
Rasanya tidak enak ketika di jahili, apalagi ketika dirinya yang kena. Saat motornya tiba-tiba hilang begitu saja beberapa hari, dan ternyata motornya di sembunyikan oleh teman-temannya.
"Nggak bakalan, Gi. Si Bara mana bisa marah sama Lo, sekalian Lo buktiin seberapa cinta Bara sama Lo. Kalau Bara nggak mau putus dari Lo, itu artinya dia emang cinta sama Lo. Dan, kalau sebaliknya jika Bara biasa aja waktu Lo putusin itu artinya dia nggak benar-benar cinta sama Lo." Ujar Dino yang kembali membuat Gista berpikir.
Haruskah ia melakukan itu? Tapi, ia takut Bara marah nanti kalau tahu yang sebenarnya. Jadi, apa yang harus ia lakukan?
"Gi, Lo mau ya. Demi kesuksesan rencana kita buat kasih kejutan untuk, Bara." Bujuk Lili.
"Iya, Gi. Ayolah mau aja, pasti bakalan seru." Ujar Surya.
"Iya, Gi. Kita kepo banget ini tentang perasaan si Bara sama Lo." Ucap Dimas, yang disetujui oleh yang lainnya.
"Lo mau kan, Gi?"
"Tapi, Gigi harus apa? Nggak mungkin kan tiba-tiba Gigi putusin Bara gitu aja, tapi Bara nggak punya salah apa-apa sama, Gigi." Ujar Gista, aneh-aneh saja memang rencana teman-temannya itu. Tapi, ia juga penasaran dengan perasaan Bara yang sebenarnya kepadanya.
"Gini aja, kalau ada sikap yang bikin Lo kesel banget. Lo pura-pura marah sama dia, diemin dia kek, apa kek. Yang jelas bikin dia bingung dengan sikap Lo, baru setelah beberapa hari. Lo pura-pura putusin dia. Kita akan bantuin Lo kok, Lo tenang aja." Jelas Dino.
"Tapi, Lo harus berakting senatural mungkin ya. Jangan gugup, apalagi sampai rencana ini bocor duluan ke si Bara. Biar nggak gugup, Lo jangan tatap mata si Bara. Kalau lagi pura-pura marah." Ujar Surya memberi saran.
Gista menghela nafasnya panjang, kenapa rasanya sulit sekali untuk menjalankan rencana itu. Ia takut, apa yang di pikirkannya itu menjadi kenyataan.
"Gimana, Gi? Lo setuju kan? Lo nggak usah khawatir, kita bakalan bantuin Lo." Ucap Panji.
"Iya, Gi. Lo tenang aja." Tambah Lili.
Dengan ragu Gista pun menganggukkan kepalanya, menyetujui rencana mereka. Yang membuat mereka bersorak senang.
Sebelum rencana di mulai saja perasaan Gista sudah tidak enak, apalagi kalau rencana itu di mulai? Gista tak tahu apa yang akan terjadi. Ia jadi merasa takut, apakah ia telah melakukan yang benar?
"Si Bara mau ke kelas woy, dia udah deket." Ucap Jono yang membuat mereka semua kembali ke mejanya masing-masing, meninggalkan Gista di bangkunya sendiri dengan memikirkan apa yang baru saja di setujui nya itu.
---
Air mata Gista kembali menetes saat mengingat kejadian hari itu, di mana teman-temannya membuat rencana untuk menjahili Bara sebelum hari ulang tahun Bara tiba. Dan, mereka meminta Gista untuk melaksanakan ide itu.
Sekarang, apa yang di takuti Gista saat itu benar-benar terjadi. Bara marah padanya, karena bercandaannya yang sudah kelewatan. Seharusnya, saat itu Gista tidak menyetujui rencana mereka. Biarkan saja Gista di anggap tidak setia kawan, asalkan Bara tetap bersamanya.
Tidak seperti sekarang, Gista harus putus dari Bara karena kebodohannya.
__ADS_1
"Maafin Gigi, Bar. Maaf ..." Batin Gista, perih di hatinya masih di rasakannya. Tangisnya juga sedari tadi tidak berhenti, ia akan menangis jika mengingat kejadian itu.
---