Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
13. Pacaran Beneran


__ADS_3

Motor yang di kendarai Bara akhirnya sampai dengan selamat di depan pintu pagar rumah Gista, sekarang jam sudah menunjukkan 23.20 malam. Karena, jarak yang di tempuhnya memang cukup jauh jadi cukup memakan waktu.


Gista turun dari motor, Bara. Yang di ikuti Bara juga turun dari motornya.


"Jangan cemberut gitu dong, kan masih ada waktu lain, Gi." ucap Bara, Gista tidak menjawabnya dan malah menundukkan kepalanya.


"Lo beneran marah ya sama gue, gue minta maaf ya, Gi. Gue bukannya ng---" Bara tidak melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba Gista memeluknya begitu saja.


Sontak saja membuat Bara terdiam mematung, dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang. Ini adalah pelukan pertama mereka, dan Bara tidak pernah menduga jika Gista akan memeluknya.


"Makasih ..." ucap Gista membuka suara, namun Bara masih terdiam mematung.


"Makasih udah bikin Gigi senang, bikin Gigi bahagia hari ini. Gigi belum pernah merasa se-senang dan se-bahagia seperti hari ini." lanjutnya.


Tangan Bara bergerak untuk membalas pelukan Gista, ada yang aneh padanya sekarang. Kenapa, ia merasa tidak ingin jauh dari Gista.


"Gue akan melakukan apapun buat kebahagiaan lo, gue seneng kalau liat lo seneng." balas Bara. "Lo nggak marah kan, kalau sisa waktunya untuk lain waktu?" tanya Bara.


Gista melepaskan pelukannya dari, Bara. "15 jam sudah cukup membuat Gigi bahagia, Bara. Gigi nggak marah sama, Bara. Yang ada Gigi berterima kasih sama, Bara. Karena, Bara udah membuat Gigi senang." jawabnya dengan senyuman, yang kini membuat Bara candu melihatnya.


"Gue senang melakukannya, jadi nggak usah bilang Makasih." balas Bara yang di angguki Gista.


"Emmm ... Besok kita mulai jadi temen lagi ya, Bara?" tanya Gista, yang seharusnya sudah tahu jika untuk besok Bara sudah kadaluwarsa menjadi pacar 1 X 24 jam.


"Iya, tapi kok rasanya gue nggak mau lagi jadi temen lo, Gi." ucap Bara yang membuat raut wajah Gista berubah.


"Kenapa gitu? Gigi nyusahin Bara ya? Jadinya, Bara nggak mau temenan lagi sama Gigi?" tanya Gista.


"Gue nggak merasa di susahin sama lo kok." jawab Bara.


"Trus, kenapa Bara nggak mau temenan lagi sama Gigi?"


"Gue nggak mau jadi temen lo lagi, tapi gue mau jadi pacar lo aja." ucap Bara yang membuat Gista kaget mendengarnya.


"Kan, jadi pacar Gigi nya udahan, Bara." balas Gista.


"Tapi, gue nggak mau jadi pacar lo cuma 1 X 24 jam."


"Trus, maunya berapa lama?" tanya lagu Gista.


"Gue mau lo jadi pacar gue di mulai dari saat ini, besok, lusa, besoknya lagi, besoknya lagi, dan besok yang seterusnya." jawab Bara yang membuat Gista menyerinyitkan dahinya.


"Gigi nggak ngerti maksud Bara itu apa? Bisa di jelasin lagi?"


Bara menghela nafasnya, apakah kepolosan Gista sudah kembali lagi saat menjelang jam 12 malam? Oh ayolah, Gista bukan cinderella yang akan berubah menjadi upik abu lagi saat jam 12 malam.


"Gini aja, Gi. Simple nya gini, lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Bara membuat Gista menatap Bara lekat.


"Bara nembak, Gigi?"


"Bisa di bilang gitu."


"Kenapa Gigi?"


"Memangnya kenapa kalau gue maunya lo?"


"Ih, Gigi tanya malah balik tanya."


"Dari pada lo, banyak pertanyaan."


Gista mengerucutkan bibirnya, kesal karena Bara malah meledeknya. Padahal, ia bertanya dengan serius. "Udah malam, Bara pulang sana." ucapnya, kelewat kesal.


"Dih, ngusir. Jawab dulu." ucap Bara.


"Jawab apa?"


"Lo mau nggak jadi pacar gue?"


"Terserah Bara aja." ucap Gista membuat alis Bara terangkat sebelah.

__ADS_1


"Kok terserah gue?" tanya Bara bingung.


"Abis Gigi nggak tau." ujar Gista.


"Apanya yang nggak tau?" tanya lagi Bara.


"Gigi nggak pernah di tembak, jadi nggak tau harus jawab apa. Menurut Bara, Gigi harus jawab apa?" Bara menghela nafasnya gusar, lalu naik ke motornya lagi. Kenapa sinyal Gista selalu 2G? Kapan, sinyal otak Gista 4G?


"Bara mau pulang sekarang?" tanya Gista, saat Bara tak menjawab pertanyaannya barusan.


"Iya,"


"Bara marah sama, Gigi?"


"Nggak."


"Oh yaudah, Gigi kira Bara marah sama Gigi. Hati-hati di jalan, Bara." Bara berdehem, lalu memakai helm full face nya.


"Gue pulang." ucapannya, lalu menancapkan gas motornya meninggalkan Gista.


Setelah motor Bara sudah tak terlihat lagi, Gista pun memilih untuk masuk ke dalam rumahnya.


Bara hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai ke rumahnya, ia langsung memasukkan motornya ke dalam garasi. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumahnya tak lupa untuk mengunci pintu utama rumahnya. Di rumahnya sudah sepi, keluarganya pasti sudah pasti tidur.


Bara merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya saat tiba di kamarnya, ia tidak langsung tidur. Hanya saja, Bara menatap langit-langit kamarnya.


Drtt ... Drtt ...


Suara getar ponselnya itu, membuat lamunan Bara buyar. Ia pun mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya, lalu memeriksa notif yang baru saja masuk.


1 message Si Cewek Polos


Penasaran dengan apa isi pesan dari Gista, Bara pun membuka pesan itu dan membacanya di dalam hati.


From : Si Cewek Polos


Iya, Gigi mau jadi pacarnya Bara. Jangan, ngambek! Mukanya jelek!!


To : Si Cewek Polos


Nyebelin dasar.


Tak beberapa lama, Bara kembali mendapatkan balasan dari Gista.


From : Si Cewek Polos


Bara lebih nyebelin.


Bara kembali tersenyum setelah membaca pesan dari Gista, jika di ingat kembali. Ini adalah kali pertamanya Bara dan Gista saling berkirim pesan singkat. Sebelumnya, mereka tak pernah menghubungi satu sama lain lewat ponsel.


To : Si Cewek Polos


Tidur sana, udah malam juga. Jangan di balas lagi, setelah baca ini langsung tidur.


Send.


Saat Bara hendak menyimpan ponselnya, saat itu juga ponselnya kembali bergetar. Ada satu pesan lagi dari Gista.


"Di suruh jangan di bales juga, masih aja di bales." ucap Bara, tetapi tetap membaca pesan dari Gista.


From : Si Cewek Polos


Iya ...


To : Si Cewek Polos


Bandel. Di suruh jangan di bales, masih aja di bales.


From : Si Cewek Polos

__ADS_1


Sengaja. Hehe ...


To : Si Cewek Polos


Tidur, Gi. Udah malam, nggak capek apa?


From : Si Cewek Polos


Iya-iya, Gigi tidur.


To : Si Cewek Polos


Yaudah, tidur. Jangan di bales lagi sms dari gue.


1 menit ...


3 menit ...


5 menit ...


7 menit ...


Tak ada balasan lagi dari Gista, itu artinya Gadis itu benar-benar mengikuti perintahnya. Bara pun menyimpan ponselnya, lalu ia juga tertidur karena rasa kantuknya sudah mulai menyerangnya.


---


Tepat pada pukul 06.35 motor Bara sampai di parkiran sekolahnya, Gista yang pagi itu berangkat bersama Bara turun lebih dulu dan berjalan menuju motornya yang selama beberapa hari di culik teman sekelas nya.


"Gaga ... Gigi kangen sama, Gaga." ucapnya sambil memeluk motor matic kesayangannya itu.


"Ternyata Gaga di culik sama teman-teman, Gigi. Maafin mereka ya, Gaga. Mereka emang gitu suka jahil, Gigi aja sering di jahilin mereka." ucap lagi Gista seolah motornya itu bisa menyahutinya.


Bara yang sudah selesai memarkirkan motornya, berjalan menghampiri Gista yang berbicara dengan motornya.


"Kunci motornya lo bawa, Gi?" tanya Bara.


"Iya, di bawa kok. Jadi, nanti pulangnya Gigi naik motor Gigi lagi." jawabnya yang begitu senang kelihatannya.


"Tapi, pulang nya bareng ya." Gista mengangguk sebagai jawaban. "Yaudah, ayo ke kelas." ajak Bara.


"Ayo."


Keduanya pun berjalan meninggalkan parkiran, untuk ke kelasnya.


"Kenapa lo suka banget pakek helm dari parkiran ke kelas, Gi?" tanya Bara penasaran.


"Gigi trauma helm Gigi ilang kalau di simpan di motor, jadinya Gigi pakek aja helm sampai ke kelas. Sekalian nyimpennya di kelas, lebih aman." Jawab Gista menjelaskan.


"Kok bisa ilang helm nya?" tanya lagi Bara.


"Ada yang jahil, kayak Bara."


"Kok kayak gue sih?"


"Bara kan jahil juga." ucap Gista yang membuat Bara tersenyum, ya ia akui ia memang jahil.


Tanpa terasa keduanya sudah sampai di kelasnya, mereka pun berjalan menuju mejanya masing-masing. Meja mereka berjarak cukup jauh.


"Tumben datengnya barengan? Ada apa nih?" tanya Dino saat Bara duduk di kursinya.


"Lo udah jadian sama Gista, Bar?" tanya Jono ikut penasaran.


"Beneran lo sukanya cewek polos, Bar?" tanya juga Panji.


"Kepo deh lo bertiga." ucapnya yang tak ingin menjawab pertanyaan ketiga temannya itu.


"Dih, gue tanya serius juga." ujar Jono dan Bara hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


Ketiga temannya itu kompak mendengus, saat tak mendapatkan jawaban dari Bara.

__ADS_1


---


__ADS_2