Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
27. Juara umum kelas 11


__ADS_3

Setelah pelaksanaan UAS dan di susul kegiatan PORBAS, akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh semua murid sekarang tiba juga. Sekarang adalah hari pembagian raport kenaikan kelas, sekaligus pembagian hadiah lomba PORBAS.


Semua murid kelas 10 & 11 beserta staf guru berbaris di lapangan, seperti upacara bendera yang sering di lakukan setiap hari Senin. Tidak ada kelas 12, karena mereka sudah dinyatakan lulus 100 %. Acara perpisahannya pun sudah di laksanakan tepat dua hari yang lalu, jadi tidak ada lagi kelas 12 yang hadir hari ini.


Sekarang, semuanya tengah mendengar sambutan dari kepala sekolah. Banyak yang di bicarakan kepala sekolah di depan sana, namun tak ada satupun yang bisa Gista simak dan ambil kesimpulannya. Karena, sedari tadi Gista sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedari tadi juga, Gista tidak melihat ke arah depan lapang. Tetapi, melihat ke arah Bara yang berdiri tepat di sampingnya.


Sedari tadi mereka berdiri bersebelahan, tetapi tak ada kata sapa atau senyuman yang biasa mereka ucapkan dan perlihatkan. Seolah, tidak menyadari Gista baris di sebelahnya. Dari tadi Bara hanya menatap lurus ke depan, entah ia benar-benar memperhatikan kepala sekolah yang sedang memberi sambutan atau pura-pura memperlihatkan saja.


"Bara ..." Lirih Gista pelan nyaris tidak terdengar, karena suaranya sangat pelan.


Gista menghela nafasnya berat, sikap Bara ketika bertemu dengannya seolah seperti orang yang tidak mengenalnya. Dan, itu membuat dada Gista sesak.


"Sebelum menyebutkan siapa saja juara lomba PORBAS, Bapak akan menyebutkan terlebih dahulu juara umum sekolah kita." Ucap Pak Supri selaku guru BK yang sudah menggantikan kepala sekolah untuk memberikan sambutan dan juga pengumuman.


"Bapak bangga sekali kepada kalian semua, karena tahun ini nilai-nilai kalian tidak ada yang anjlok. Hampir semuanya ada peningkatan, untuk itu Bapak meminta kalian untuk terus belajar jangan malas-malasan." Lanjutnya, membuat semua murid bertepuk tangan karena nilainya tidak anjlok dan ada peningkatan.


"Baiklah ... Sekarang, Bapak akan umumkan juara umum kelas 10 dan kelas 11. Bagi nanti nama yang di panggil, mohon untuk maju ke depan ..." semua murid tampak tegang plus penasaran, siapa yang akan menjadi juara umum tahun ini? Yang pastinya juara umum itu adalah, siswa terbaik di sekolah.


"... Juara umum kelas 10 di raih oleh ... Sandrina Dian Maharani, dari kelas 10 IPA-1 dengan rata-rata nilai 9,3." Ujar Pak Supri menyebut salah satu murid yang menjadi juara umum kelas 10.


Prok ... Prok ... Prok ...


Semua murid bertepuk tangan dengan heboh, apalagi saat seorang siswi yang bernama Sandrina maju ke depan lapangan sebagai juara umum kelas 10.


"Udah cantik, pinter lagi."


"Calon pacar gue itu."


"Emang pantes sih dia jadi juara umum, kutu buku banget."


"Tar gue gercep ah buat deketin dia."


"Ngaca dulu sono Lo, mau deketin dia tapi Lo incaran BK. Sebelum kenal Lo, gue yakin dia pasti kabur duluan."


"Yee ... Lagi musim kali bad boy & nerd girl."


Dan, masih banyak lagi obrolan-obrolan murid lain saat melihat siapa sosok juara umum kelas 10.


"Untuk juara umum kelas 11, sebenarnya Bapak antara percaya tidak percaya jika dia juara umumnya. Soalnya, dia sering banget bikin Bapak pusing. Dia suka bolos waktu kelas 10, tapi meski begitu ternyata dia murid yang sangat cerdas." Ucap Pak Supri yang membuat semua orang penasaran, siapa murid itu.


Apalagi, murid yang suka bolos pada kelas 10 lumayan banyak. Tapi, siapa salah satu murid diantara mereka yang bisa menjadi juara umum tahun ini?


"Baiklah, yang menjadi juara umum kelas 11 tahun ini diraih oleh ... Debara Raja Adiatama, dari kelas 11 IPA-3 dengan rata-rata nilai 9,8." Hampir semua kelas 11 IPA-3, langsung menatap ke arah Bara setelah mendengar siapa yang menjadi juara umumnya.


Mereka antara percaya tidak percaya, jika Bara yang menjadi juara umumnya. Secepat itu, Bara bisa mengalahkan peringkat 1 & 2 di kelasnya. Padahal, semester 1 Bara berada di peringkat 3. Tapi, lihatlah sekarang selain mengalahkan peringkat 1 & 2 di kelasnya. Bara juga mengalahkan peringkat 1 diantara semua kelas 11.

__ADS_1


"Debara Raja Adiatama, silahkan maju ke depan." Panggil Pak Supri saat Bara tak kunjung maju ke depan, karena teman-temannya menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Menghela nafasnya, Bara pun keluar dari barisan dan berjalan ke depan. Di saat itu juga, tepuk tangan kembali terdengar dengan riuh.


"Gila, ternyata gue punya sahabat yang tokcer banget otaknya." Ujar Jono masih tak percaya, teman sebangkunya plus sahabatnya itu bisa jadi juara umum.


"Perasaan tiap gue lihat, kerjaan dia cuma main game tembak-tembakan deh. Tapi, kenapa otaknya encer banget." Ujar Surya yang sama-sama tak percaya.


"Yaelah, si Bara. Nggak tanggung-tanggung mau ngalahin gue, ini mah udah fix gue nggak akan ada di posisi peringkat 1 lagi di kelas." Ucap Diandra, peringkat ke-1 di kelas IPA-3 dari kelas 10 yang harus tersingkir.


Mengabaikan ketidak percayaan teman-teman sekelasnya pada Bara, Gista malah orang yang paling senang saat melihat Bara yang menjadi juara umumnya. Bara memang pantas untuk mendapatkan itu, toh Bara memang murid yang berprestasi.


"Dan, ini maksud Bapak. Murid yang pernah bikin Bapak pusing, karena suka bolos waktu kelas 10. Tapi, sekarang Bapak bangga karena dia mau berubah, selain itu Debara juga pernah mengharumkan nama sekolah kita. Dia pernah menjuarai olimpiade matematika 8 bulan lalu." Ucap Pak Supri sambil merangkul Bara dengan bangga.


Prok ... Prok ... Prok ...


Lagi-lagi tepukan tangan itu, kembali riuh untuk Bara. Apalagi, murid perempuan yang heboh saat melihat Bara. Cowok yang biasanya terlihat biasa saja, entah kenapa sekarang jadi terlihat wow di mata mereka.


Saat itu juga, Pak Supri mempersilahkan Kepala sekolah untuk memberikan piala juara umum untuk Bara dan juga Sandrina. Setelah itu, mereka foto-foto sebentar.


Kemudian, acara di lanjutkan dengan pemberian hadiah pemenang lomba PORBAS.


---


Untuk itu, Bara memilih langsung pulang setelah mendapat raportnya. Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang masih kumpul di kelas untuk merencanakan liburan sekolah bersama. Bara tidak akan ikut liburan bersama mereka, bukannya tak mau. Tetapi, ia tidak bisa dan tidak ada waktu.


Apalagi, saat ini Bara masih mendiamkan semua teman-teman sekelasnya. Ia masih marah sama mereka dengan kejadian kejutan yang tak pernah di inginkannya itu, ia tak habis pikir teman-temannya itu mempunyai ide seperti itu untuk menjahilinya.


Untuk itu, sedari tadi Bara memang memisahkan diri dari teman-temannya. Alih-alih ada yang meminta maaf padanya, mereka malah ikut mendiamkannya juga. Tapi, Bara tidak memperdulikan itu.


"Bar, Bara!" Panggil seseorang dari belakang, yang membuat langkah Bara terhenti.


Seseorang yang barusan memanggilnya itu, adalah Jono. Teman sebangkunya yang juga sahabatnya.


"Bar, ada yang mau gue omongin." Ucap Jono, saat sudah berada di hadapan Bara.


"Tapi, gue mau pulang." Ujar Bara, dan Jono tahu itu hanya alasan karena Bara tidak mau berbicara dengannya ataupun yang lain.


"Cuma sebentar aja." Pinta Jono dengan wajah memelasnya.


Menghela nafasnya gusar, Bara pun mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun Jono adalah sahabatnya, yang dekat dengannya selama ia sekolah di sana.


Mereka pun berjalan menuju taman sekolah, agar lebih enak ngobrolnya. Karena, tidak mungkin juga mereka ngobrol sambil berdiri di tengah koridor.


"Lo mau ngomong apa?" Tanya Bara, saat mereka sudah berada di bangku taman.

__ADS_1


"Gue mau minta maaf, soal rencana kita yang udah ngerjain Lo dengan cara Gista pura-pura putusin Lo. Gue nggak bermaksud, buat ngerjain Lo kayak gitu." Ucap Jono, ia masih merasa bersalah dengan kejadian itu.


"Kenapa Lo yang minta maaf sama gue, Jon? Gue yakin bukan Lo yang punya ide rencana itu." Ujar Bara, dan ya ia yakin jika bukan Jono yang mempunyai ide seperti itu.


"Karena, gue ikut andil juga dalam rencana itu. Gue menyetujui rencana itu, meskipun sebenarnya gue ragu waktu itu. Tapi, gue tetap salah. Jadi, gue minta maaf." Bara menghela nafasnya, mendengar itu. Sebenarnya, Bara tidak masalah jika ia di jahili oleh teman-temannya. Yang jadi masalahnya di sini adalah, ia tak suka mereka memanfaatkan kepolosan Gista untuk menjahilinya.


"Bar, gue juga minta pikir-pikir lagi dengan keputusan Lo yang putusin, Gista. Dia nggak salah, Bar. Bahkan, waktu mereka paksa Gista buat setuju dengan rencana itu. Gista sempat nolak, karena dia takut Lo marah sama dia. Tapi, Lo tau sendiri, Bar. Teman-teman kita kayak gimana." Lanjut, Jono. Melihat Gista yang menangis saat itu, benar-benar membuatnya tidak tega. Karena, rencana keisengan mereka Gista jadi kena imbasnya.


Bara menghela nafasnya berat, tanpa Jono kasih tau jika Gista tidak salah. Bara juga sudah tahu, karena mana mungkin Gista bisa berpikiran untuk membuat rencana seperti itu.


"Gue cinta sama Gista, Jon. Gue cinta dia lebih dari apa yang kalian tau, bahkan sebelum Gista cinta sama gue. Gue udah lebih cinta dia duluan. Gue mengenal dia bukan hanya kemarin atau dua tahun yang lalu, Jon. Tapi, gue kenal dia jauh lebih lama dari itu. Gue tau seperti apa, Gista. Gue tau lebih banyak tentang dia, meski selama ini dia nggak pernah tau tentang gue." Ucap Bara, mengingat bagaimana ia pertama kali mengenal Gista membuat dadanya sesak sekarang. Bukan karena ia menyesal karena telah mengenal Gista, tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya sesak setiap kali mengingat Gista.


"Kalau Lo cinta dia, tau dia seperti apa. Trus, kenapa Lo malah putusin dia, Bar? Lo lihat sendiri kan, gimana sedihnya Gista waktu Lo putusin. Dia juga cinta Lo, Bar." Jono bisa melihat kesedihan juga di mata Bara, ia juga bingung kenapa Bara lebih memilih putus jika dia sangat mencintai Gista.


"Gue cinta sama dia, tapi gue nggak bisa jadi pacar dia. Gue nggak mau, dia tersakiti jika terus sama gue. Gue nggak mau, dia kehilangan semuanya kalau dia terus pacaran sama gue. Dia udah nggak punya siapa-siapa lagi, dan gue nggak mau dia sendirian." Ujar Bara yang membuat Jono kebingungan.


Bara tidak ingin Gista sendirian, tetapi Bara malah memutuskannya. Bukannya itu, malah membuat Gista kehilangan? Jono benar-benar bingung, apa sebenarnya yang terjadi pada Bara?


"Gue titip Gista sama Lo, Jon." Ucap Bara tiba-tiba membuat Jono menyerinyitkan dahinya makin bingung.


"Maksud Lo?" Tanya Jono.


"Tolong jagain, Gista. Gue cuma bisa percaya sama Lo saat di sekolah untuk jagain, Gista. Gue udah nggak bisa jagain dia lagi, Jon. Gue nggak mau Gista kenapa-kenapa, apalagi Gista terlalu polos. Dia gampang di manfaatin orang." Jawab Bara, yang malah membuat Jono berpikiran jika ada sesuatu yang tengah di sembunyikan Bara.


"Lo nggak mengidap penyakit yang mematikan kan, Bar?" Tanya Jono, entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai bertanya seperti itu pada Bara.


"Kenapa Lo tanya itu?"


"Jawaban Lo bikin gue takut, Bar. Lo bilang gitu seolah-olah Lo akan pergi jauh, sampai-sampai nitipin Gista segala." Ujar Jono, yang membuat Bara terdiam tidak menjawabnya.


"Bar ..."


"Suatu saat nanti Lo akan tau, Jon. Tapi, bukan sekarang."


"Lo malah bikin gue tambah takut, Bar."


Bara malah terkekeh mendengarnya, apa sebenarnya yang di takuti Jono? Ia tidak mengerti, "Udah ah, gue mau pulang. Selamat berlibur panjang, sorry gue nggak bisa ikut liburan bareng kalian." Ucapnya sambil menepuk pundak Jono.


"Gue pasti kangen sama Lo, Jon. Jangan lupain gue ya." Lanjutnya, membuat Jono makin kebingungan apa sebenarnya yang tengah di sembunyikan Bara.


"Lo kenapa ngomong gitu? Kita kan masih bisa ketemu, lagian liburnya cuma 2 Minggu doang." Ujar Jono yang malah di balas dengan senyuman, Bara.


"Gue pulang." Pamitnya, lalu pergi meninggalkan Jono yang masih kebingungan mengenai Bara.


---

__ADS_1


__ADS_2