
"Gista!" teriak Debby saat melihat siapa tamu yang barusan mengetuk pintu rumahnya.
"Gue kangen," ucapnya sambil memeluk Gista dengan erat.
Meskipun rumah mereka tidak jauh, tetapi mereka jarang sekali bertemu. Apalagi, semenjak libur sekolah. Mereka belum sempat bertemu lagi, jadi sekarang Debby senang saat Gista datang ke rumahnya. Setelah 1 Minggu tak bertemu.
Gista tersenyum dan berkata, "Gigi juga kangen banget sama, Debby."
"Lo baik-baik aja kan, Gi?" Tanya Debby, ia selalu khawatir dengan keadaan Gista. Apalagi, setelah putus dengan Bara.
Gista melepaskan pelukannya, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanda ia baik-baik saja.
"Oh ya, sebenarnya Gigi datang ke sini mau nganterin ini," ucap Gista sambil memberikan sebuah undangan.
Debby mengambil undangan itu, lalu membaca nama pasangan yang tertera di depan undangan itu.
"Abang Lo mau nikah, Gi?" Tanya Debby, yang di balas dengan anggukan.
"Datang ya, Bi."
"Iya, nanti gue datang. Masuk dulu yuk," ajak Debby.
"Gigi mau langsung pulang aja, Deb." ucap Gista, ia belum siap jika harus bertemu dengan Bara.
"Masa langsung pulang sih, lo nggak bete apa di rumah terus? Main dulu aja di sini, lagian gue di rumah sendirian. Yang lain pada pergi," ujar Debby.
"Tapi, Deb--"
"Ayolah, Gi. Gue dari tadi sendirian tau," potong Debby, "gue juga lagi belajar masak. Lo ikutan belajar masak yuk," ajaknya lagi.
Gista berpikir sejenak, ia memang sedang bosan di rumah. Tidak ada salahnya juga kan ia main di rumah, Debby. Toh, Bara juga tidak ada di rumah.
"Yaudah deh,"
Debby tersenyum mendengarnya, lalu menarik tangan Gista untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan, langsung mengajaknya ke dapur.
---
Saat sampai dapur rumahnya Debby, ternyata gadis itu tengah belajar membuat kue. Terlihat banyak bahan-bahan membuat kue di meja, ada juga kue yang sudah jadi tetapi terlihat gosong. Sepertinya, kue yang di buat Debby gagal.
"Gue kalau mau belajar masak, lebih enak waktu nggak ada emak gue, Gi." ucap Debby, membuat Gista menautkan sebelah alisnya.
"Kenapa? Bukannya lebih enak kalau ada mama kamu ya, Deb? Kan bisa belajar langsung,"
"Tapi, gue pengecualian, Gi. Kalau emak gue tau gue belajar masak, dia bisa ngomel-ngomel karena gue suka ngabisin stok bahan masakan. Iya kalau masakan gue enak, lah ini tiap masak gagal mulu. Kalau udah gitu, pasti uang jajan gue di potong." cerita Debby, menjelaskan apa yang membuatnya lebih suka belajar masak saat tidak ada mamanya.
"Trus, kalau sekarang tiba-tiba ketahuan sama mama kamu gimana?" Tanya Gista.
"Nggak bakalan, Gi. Emak gue kalau di ajak shopping suka nggak inget pulang, pasti lebih betah nge-mall. Apalagi, kalau yang bayarin belanjaan Babeh gue. Pasti nggak mau pulang." Jawab Debby yang membuat Gista terkekeh, terdengar sangat lucu ketika Debby yang cerita padanya.
Debby tersenyum saat melihat Gista yang tertawa, rasanya senang melihatnya. Hanya itu, yang bisa Debby lakukan untuk menghilangkan rasa sedih Gista.
"Ayo, Gi. Kita mulai bikin gue, gue mau bikin kue tart." Gista mengangguk sebagai jawaban, lalu membantu Debby untuk membuat kue.
Mereka tampak anteng, dengan kegiatannya. Di bantu dengan resep dari google yang Sebaya cari sebelumnya. Mereka melakukannya dengan senang hati, apalagi di selingi dengan candaan. Membuat Gista tak bisa tertawa kali ini.
__ADS_1
Dengan usil Debby mengusapkan terigu pada pipi Gista, membuat Gista terpekik kaget. Tapi, setelah itu ia juga membalas perbuatan Debby. Sehingga terjadilah aksi saling melemparkan tepung terigu.
Alih-alih melanjutkan membuat kue, mereka malah menghabiskan terigu dengan saling membalas melemparkan tepung ke tubuh. Dan, rasanya senang sekali. Sampai-sampai keduanya tertawa bersama, menikmati permainan yang sederhana itu.
"Hahahaha ... Muka Debby, putih semua." Gista tak bisa menahan tawanya, benar-benar lucu melihat wajah Debby.
"Muka Lo juga putih itu," ucap Debby yang ikut tertawa juga.
"Kita kan mau belajar bikin gue, Deb. Kenapa jadi malah tempur lempar tepung kayak gini?" Tanya Gista, tak hanya wajahnya saja yang putih. Tapi, bajunya juga putih-putih karena lemparan tepung.
"Iya ya, tapi lebih asik lempar tepung, Gi. Nggak perlu liat google kalau lempar tepung." Jawab Debby, apalagi liat Lo bisa ketawa lagi, Gi. Gue seneng liatnya, lanjutnya dalam hati.
"Tapi, tepungnya udah habis. Dapur Debby jadi kotor, karena lemparan tepung kita."
Debby menganggukkan kepalanya, tapi itu tidak masalah. Ia bisa membersihkan dapurnya, tetapi melihat tawa Gista seperti saat ini ia belum tentu bisa melakukannya lagi.
"Nggak apa-apa, biar gue beresin. Lo ganti baju gih di kamar gue, pakek baju gue dulu aja. Kamar gue ada di lantai 2," Ujar Debby.
"Gigi bantuin Debby dulu bersihin dapurnya," ucap Gista, namun langsung dibalas dengan gelengan Debby.
"Nggak usah, biar gue aja. Lagian, cuma sedikit kok. Lo ganti baju aja, ya. Bersihin juga muka Lo, nanti gue nyusul ke atas kalau udah bersihin dapur. Jadi, Lo duluan aja. Kamar gue nggak di kunci kok," kata Debby.
"Tapi, Deb ---"
"Udah, Lo ganti baju aja sana. Gue nggak apa-apa kok," potong Debby.
"Yaudah deh, Debby ikut ganti baju sama pinjem baju nya ya." Debby mengangguk mengiyakan, saat itu juga Gista pergi dari dapur untuk ke kamar Debby yang ada di lantai 2.
---
Gista bingung, saat melihat ada dua kamar di lantai 2. Sekarang, ia harus masuk ke kamar yang mana? Dan, mana sebenarnya kamar Debby? Sebelah kanan atau kiri?
Gista berjalan menuju pintu kamar sebelah kanan, untuk mencoba membuka pintu itu apakah terkunci atau tidak.
Cklk
Suara itu terdengar, ketika Gista mencoba membuka pintu dan membuat pintu itu terbuka. Ternyata pintunya tidak di kunci, itu artinya kamar itu milik Debby.
Gista pun langsung masuk ke dalam kamar itu, tak lupa menutup kembali pintunya dan masuk lebih dalam ke kamar itu.
Hingga langkahnya terhenti, saat ia berada di tengah-tengah kamar itu. Tubuhnya mematung saat melihat foto-foto yang tertempel di dinding kamar itu, membuatnya bingung sekaligus tidak percaya. Jika foto-foto yang tertempel di dinding kamar itu, adalah foto-foto dirinya yang di susun secara rapih berbentuk satu kata Rajani.
Gista berjalan lebih dekat menuju dinding yang banyak foto-foto dirinya, kenapa bisa ada foto-foto dirinya di kamar itu? Untuk apa foto-fotonya di pajang di sana? Apalagi, foto-foto itu diambil secara diam-diam. Terlihat dari banyak pose foto Gista yang kebanyakan candid.
Yang membuat Gista tak habis pikir adalah ketika melihat foto-foto dirinya saat masih TK, SD bahkan sampai SMP juga ada di sana. Bukan hanya foto-foto dirinya salam SMA.
"Rajani," gumam Gista kembali membaca satu kata yang di rangkai oleh foto-foto dirinya.
Bukankah Rajani itu nama tengahnya.
"Kenapa foto-foto Gigi bisa di tempel di sini?" Tanyanya pada diri sendiri, bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Sebenarnya ini kamar siapa?" Gista mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu, hingga ia kembali melihat foto-foto dirinya yang di tempel di sebuah papan yang dinamakan mading dekat meja belajar.
Saat itu juga, Gista melangkahkan kakinya menuju meja belajar itu. Di mading itu tak hanya ada foto-foto nya saja, tetapi banyak tulisan juga yang di tempel. Dan, tubuh Gista kembali membatu saat melihat salah satu tulisan yang di tempel di mading itu. Ia mengambil kertas itu, lalu membacanya.
__ADS_1
Air mata Gista menetes begitu saja setelah membaca kalimat yang tertulis di kertas itu, Bara menyukainya sejak dulu. Tapi, Gista tidak pernah tahu. Bahkan, ia tidak pernah tahu jika selama ini Bara diam-diam mengambil fotonya.
Dan, kamar yang ia masuki ternyata bukan kamar Debby. Tapi ...
Cklk
Gista berbalik badan untuk melihat siapa yang barusan membuka pintu, kali ini tubuh Gista benar-benar mematung saat melihat pemilik kamarlah yang baru saja masuk.
"Ba-Bara," gumam Gista pelan.
Bara tampak terkejut saat melihat Gista berada di kamarnya, bingung kenapa gadis itu bisa berada di kamarnya. Dan, apa yang tengah di lakukan gadis itu?
Bara berjalan mendekati Gista, membuat Gista menelan ludahnya dengan susah payah.
Tepat saat berada di hadapan Gista, ia melihat air mata yang masih basah di kedua pipinya. Apa yang membuat Gista menangis? Apa Gista menangis karena melihat foto-fotonya di kamar, Bara?
"Maaf, tadi Gigi salah masuk. Kirain ini kamarnya Debby, ternyata bukan." Ucap Gista sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau gitu Gigi pergi dulu," lanjutnya, lalu berjalan menjauhi Bara.
Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan ada yang menahan pergelangan tangannya. Dan, itu adalah tangan Bara.
"Kenapa Lo nangis?" Tanya Bara, yang malah membuat Gista ingin menangis sekarang. Setelah beberapa hari tidak mendengar suaranya, sekarang ia bisa mendengarnya lagi. Ia merindukannya.
Gista menggelengkan kepalanya, tanda tidak kenapa-kenapa. "Gigi nggak nangis, cuma kelilipan aja barusan. Mungkin karena muka Gigi ada terigunya," ucapnya berbohong.
Tangan Bara terangkat untuk membersihkan terigu yang ada pada wajah, Gista. Membuat Gista meremas kertas yang ia pegang, untuk menahan diri agar tidak menangis karena perlakuan Bara saat ini.
"Lo nggak bisa bohong sama gue, Gi." Gagal, air mata Gista kembali menetes setelah mendengar itu.
"Jangan nangis lagi, Gista."
"Nggak bisa, rasanya sakit."
"Hidup Lo bukan cuma tentang gue, Gi. Jangan menangis karena gue, gue bukan orang yang patut Lo tangisi. Gue nggak suka liat Lo nangis, berhenti menangis karena gue, Gi." ujar Bara, bukan hanya Gista saja yang merasakan sakit. Tetapi, Bara juga sama.
"Nggak bisa," ucap Gista dengan nada suaranya yang serak.
Bara memegang kedua bahu Gista, untuk meyakinkan. "Lo pasti bisa, Lo nggak perlu ingat gue lagi. Kalau bisa lupain gue, Gi." Balasnya, meski sebenarnya ia tak mau jika Gista sampai melupakannya.
"Kenapa Bara nyuruh Gigi lupain, Bara? Gigi nggak bisa dan Gigi nggak mau," Tolak Gista.
"Tapi, ini semua demi kebahagiaan ---"
"Demi apa?" Potong Gista, sedikit meninggikan nada suaranya.
Gista menghapus air matanya kasar dan berkata, "Jangan paksa Gigi buat lupain, Bara. Bara sendiri yang pernah bilang, kalau Gigi harus melakukan apapun sesuai dengan apa kata hati. Jangan mau di paksa, tapi kenapa sekarang Bara paksa, Gigi?"
"Ini yang terbaik, Gi." Lirih Bara.
"Tapi, Gigi nggak mau. Gigi nggak mau, Bara."
"Gi ..."
"Jangan bicara lagi sama, Gigi. Kalau Bara cuma mau bilang agar Gigi lupain, Bara. Karena, sampai kapanpun Gigi nggak akan lupain, Bara." Setelah mengatakan itu, Gista melengos begitu saja meninggalkan Bara.
__ADS_1
Gista memilih untuk mengakhirinya dan pulang, daripada terus mendengarkan alasan Bara yang memintanya untuk melupakannya. Jelas-jelas itu adalah satu hal terberat bagi Gista, setelah jatuh cinta pada Bara.
---