Sinyal 2G Gista

Sinyal 2G Gista
24. Judul lagunya kesayanganku


__ADS_3

Hari ketiga pelaksanaan PORBAS, di isi dengan lomba Badminton Putra-putri, Futsal Putra-putri, baca puisi dan menyanyi. Untuk yang baca puisi dan menyanyi akan tampil di atas panggung. Setelah selama 3 jam, di isi dengan lomba baca puisi. Sekarang, panggung itu di pakai untuk yang lomba menyanyi.


Setiap peserta sudah duduk di kursi paling depan, di belakang meja juri-juri yang akan menilai penampilan mereka saat menyanyi nanti.


Suara tepuk tangan riuh menggema di ruangan yang di jadikan tempat pelaksanaan lomba.


Bara yang menjadi penonton hanya diam saja, toh ia hanya nonton. Ia sudah bosan jadi penonton, yang sedari tadi kesana-kemari cuma untuk melihat setiap perlombaan. Tahun ini ia benar-benar tidak mendaftarkan diri untuk ikut lomba, ia hanya akan menjadi penonton saja. Tidak seperti tahun kemarin, ia sibuk ikut perlombaan ini-itu sampai menguras tenaganya.


"Bar, Bara." Panggil seseorang yang membuat Bara mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Bara menautkan sebelah alisnya saat melihat Surya yang menghampirinya dengan raut wajah bingung. Entah apa yang membuat temannya itu bingung?


"Ya ampun, Bara. Gue cari Lo kemana-mana ternyata Lo nyempil di sini jadi penonton." Ujar Surya yang membuat Bara heran, untuk apa Surya mencarinya?


"Ngapain nyari gue?" Tanya Bara.


"Bantuin kelas kita." Jawabnya.


"Maksudnya?"


"Nomor urut lomba nyanyi perwakilan kelas kita no 7, Bar. Yang harusnya nyanyi itu si Arin sama si Lingga, tapi si Lingga nggak bisa ikut lomba nyanyi sekarang karena bentrok dengan tanding futsal. Lo tolong gantiin Lingga ya buat lomba nyanyi." Jelas Surya menceritakan apa tujuannya saat mencari Bara.


"Kenapa harus gue? Yang lain kan bisa, jadi yang lain aja. Lo suruh si Jono aja tuh yang biasanya nyanyi di kelas." Ujar Bara.


"Yaelah, Bar. Si Jono kagak ada di sekolah, dia latihan basket di luar sama tim kita buat 2 hari lagi lomba. Ayolah, Bar. Kali ini aja, cuma nyanyi aja kok. Lagian Lo juga nggak sendiri kok di atas panggung, tapi Lo berdua." Bujuk Surya, ia tak akan berhenti membujuk Bara sampai dia mau. Karena, waktunya sangat mepet untuk mencari teman sekelasnya yang bisa menggantikan Lingga untuk nyanyi. Sekarang sudah masuk peserta 6, sedangkan perwakilan kelasnya nomor 7. Hanya sebentar lagi, dan Surya sangat tahu jika suara Bara sangat bagus.


Meskipun Bara jarang menyanyi, tapi ia pernah mendengar Bara satu kali nyanyi saat mereka main ToD dan Bara di tantang untuk menyanyi.


"Ayolah, Bar. Ini demi harga diri kelas kita, kalau kelas kita nggak ada yang maju bisa di diskualifikasi. Sayang juga uang pendaftarannya, masa kita bayar uang pendaftaran tapi waktu tampil nggak ada yang maju. Ayolah, Bar. Lo mau ya, bantu kelas kita. Cuma Lo harapan gue satu-satunya sekarang buat maju ke atas panggung, please ..." Desak Surya yang kini menunjukkan wajah memelasnya.


"Gue nggak bisa, Surya."


"Peserta selanjutnya nomor urut 7, perwakilan dari kelas 11 IPA-3 silahkan naik ke atas panggung." Suara MC di atas panggung membuat Surya kalang kabut, apalagi Bara belum bisa ia bujuk.


"Bar cepetan Bar, kali ini aja. Itu perwakilan kelas kita udah di sebut, belum ada yang naik juga." Ujar Surya, semakin gelisah. Tadi ia sudah susah-susah membujuk satu orang teman perempuannya agar mau menggantikan Arin yang tidak bisa menyanyi karena sakit dan tidak masuk sekolah. Ya, Arin juga tidak bisa nyanyi karena sakit. Untuk itu, tadi Surya berputar-putar mengelilingi sekolahnya mencari keberadaan teman-temannya yang berpencar.


Setelah berhasil membujuk satu teman untuk menggantikan Arin, sekarang Surya datang pada Bara agar mau menggantikan Lingga. Dan, berharap Bara bisa di bujuk juga. Sekarang, waktunya sudah mepet sekali. Perwakilan kelas mereka sudah di panggil.


"Ayo, perwakilan kelas 11 IPA-3 silahkan naik ke atas panggung." Ucap lagi MC di atas panggung sana karena tidak ada yang naik ke atas panggung.


"Ayolah, Bar. Itu kelas kita udah di panggil lagi." Bujuk lagi Surya semakin gelisah karena ternyata Bara paling susah untuk di bujuk.


Seorang gadis perwakilan dari kelas 11 IPA-3 sudah naik ke atas panggung sendirian, karena kelasnya sudah di panggil 2 kali. Karena, ia yang menggantikan temannya yang sakit jadi ia naik ke panggung lebih dulu. Dan, berharap teman duetnya akan segera menyusul.


"Oke, ini perwakilan dari kelas 11 IPA-3. Perkenalkan nama kamu siapa?" Tanya MC itu.


"Gi ... Gista Rajani Alveera." Jawab gadis itu, yang berhasil membuat Bara mengalihkan pandangannya ke arah panggung.


"Kenapa Gista yang naik ke atas panggung? Bukannya si Arin yang ikutan lomba nyanyi?" Tanya Bara heran.


"Si Arin sakit, nggak masuk sekolah. Jadi, gue maksa si Gista buat gantiin si Arin. Abisnya gue bingung nyari orang buat gantiin si Arin, semuanya berpencar. Trus gue liat si Gista, yaudah gue paksa dia aja." Jawab Surya yang membuat Bara menatapnya tajam.


"Oke, Gista. Kenapa kamu sendiri? Di mana teman duet kamu?" Tanya MC itu, saat melihat Gista hanya naik ke panggung sendirian.


"Di-dia ... Dia ..." Gista terlihat seperti orang bingung saat di tanya itu, karena tidak tahu teman duetnya siapa yang menggantikan Lingga.


"Untuk teman duet Gista perwakilan dari kelas 11 IPA-3, harap segera naik ke atas panggung. Kita hitung sampai 3 kalau tidak naik ke panggung juga, dengan terpaksa akan kita diskualifikasi." Ucap MC itu, membuat Gista yang berdiri di atas panggung itu semakin gelisah.


"Bar, ayo dong Bar. Itu si Gista udah nungguin di atas panggung, kasian dia. Syarat lomba nyanyi nya itu berdua, nggak bisa satu orang. Sekarang, percuma kalau ada yang maju tapi cuma satu orang. Si Gista bakalan tetap di diskualifikasi karena nggak ada temen duet." Ucap Surya, namun Bara hanya diam saja tak bicara apapun.


"Satu ..." MC itu mulai menghitung.


"Bar, Lo nggak akan tega kan biarin Gista malu di atas panggung sana karena di diskualifikasi."


Bara menghela nafasnya kasar sambil menatap tajam Surya, "Gue benci Lo, Surya." Ujarnya, lalu pergi meninggalkan Surya.


---


"Peserta selanjutnya nomor urut 7, perwakilan dari kelas 11 IPA-3 silahkan naik ke atas panggung." Suara MC di atas panggung membuat Gista mematung di tempat saat mendengarnya.

__ADS_1


Kelasnya sudah di panggil, dan sekarang ia bingung harus apa. Ia di suruh menggantikan Arin nyanyi, tetapi sampai sekarang teman duetnya belum juga ada.


"Surya mana sih lama banget, gimana ini? Gigi harus apa?" Gumam Gista gelisah.


Gista menggigit bibir bawahnya, karena bingung harus apa. Ia harus naik ke panggung sekarang, tapi ia tidak berani jika harus sendirian.


"Ayo, perwakilan kelas 11 IPA-3 silahkan naik ke atas panggung." Ucap lagi MC di atas panggung sana karena tidak ada yang naik ke atas panggung.


Menghela nafas berat, Gista pun naik ke atas panggung setelah mendengar panggilan ke dua dari MC. Rasanya kaki Gista gemetaran saat berada di atas panggung, ia paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Dan, sekarang ia berdiri di hadapan banyak orang yang memperhatikannya.


"Oke, ini perwakilan dari kelas 11 IPA-3. Perkenalkan nama kamu siapa?" Tanya MC itu.


"Gi ... Gista Rajani Alveera." Jawab Gista gugup, ini pertama kalinya ia naik ke atas panggung dan di saksikan banyak orang.


"Oke, Gista. Kenapa kamu sendiri? Di mana teman duet kamu?" Tanya MC itu, saat melihatnya hanya naik sendiri.


"Di-dia ... Dia ..." Gista menggantungkan ucapannya, saat tak tahu ada di mana teman duetnya itu. Bahkan, ia tak tahu siapa yang akan menjadi teman duetnya.


"Untuk teman duet Gista perwakilan dari kelas 11 IPA-3, harap segera naik ke atas panggung. Kita hitung sampai 3 kalau tidak naik ke panggung juga, dengan terpaksa akan kita diskualifikasi." Ucap MC itu, membuat Gista semakin gelisah dan memilih untuk menundukkan kepalanya.


"Satu ..." MC itu mulai menghitung.


Gista memejamkan kedua matanya, saat tak ada tanda-tanda teman sekelasnya yang naik ke atas panggung untuk menyusulnya.


"Dua ..."


"Ti--- Nah, ini dia akhirnya teman duet Gista dari kelas 11 IPA-3 datang juga." Ucap MC itu, yang membuat Gista membuka kedua matanya dan bernafas lega mendengarnya.


Saat ia menoleh kebelakang untuk melihat siapa teman duetnya, detik itu juga tubuh Gista mematung saat melihat Bara lah yang ternyata menyusulnya naik ke atas panggung.


"Oke, perkenalkan nama kamu siapa?" Tanya MC itu, saat Bara sudah berdiri di samping Gista.


"Debara Raja Adiatama."


"Oke, jadi perwakilan dari kelas 11 IPA-3 adalah Debara dan Gista. Tepuk tangan dulu untuk mereka." Ucap MC itu, detik tuh juga suara tepuk tangan terdengar riuh.


Karena melihat Gista yang hanya diam saja sambil menatapnya, untuk itu yang mengambil gulungan kertasnya adalah Bara. Bara mengambil satu gulungan kertas itu, lalu membuka gulungan.


"Kesayanganku." Ucap Bara sambil menatap Gista, membuat jantung Gista berdebar kencang saat mendengarnya dan melihat tatapan Bara yang tertuju padanya. "Judul lagunya kesayanganku." Ucap lagi Bara memberi tahu MC itu, sambil memberikan gulungan kertas tadi yang terdapat tulisan 'kesayanganku'.


"Lagu yang akan di bawakan oleh Debara dan Gista adalah berjudul kesayanganku dari Al-Ghazali feat Chelsea Shania." Ucap MC itu. "Kalian sudah siap?" Tanyanya, yang di balas dengan anggukan kepala Bara begitu juga dengan Gista.


"Oke, semuanya. Inilah penampilan dari Debara dan Gista." Ucap MC itu, lalu pergi meninggalkan mereka di atas panggung berdua.


Instrumen lagu mulai di mainkan, membuat Gista semakin gugup begitu juga dengan debaran jantungnya yang masih kencang. Hingga saat ada sebuah tangan yang menggenggamnya, rasa gugup Gista mulai berkurang. Anehnya, jantungnya yang malah semakin berdisko.


Dengarlah cinta hatiku remuk redam


Jika tak ada kamu menemani aku


Bara memulai menyanyikan bait pertama lagunya, tatapannya masih tertuju pada Gista.


Dengarlah cinta ku memanggil namamu


Di setiap malamku ku memikirkan kamu - Gista


Aku sepi sepi sepi sepi


Jika tak ada kamu - Bara


Aku mati mati mati mati


Jika engkau pergi - Gista


Dengarlah kesayanganku


Jangan tinggalkan aku


Tak mampu jika ku tanpamu - Bara

__ADS_1


Dengarlah kesayanganku


Hidup matiku untukmu


Ku mohon pertahankan aku - Gista


Bara semakin mengeratkan genggaman pada Gista, seolah ia tak akan melepaskan Gista darinya. Ia memang tak pernah mau melepaskan Gista, hanya saja entah kenapa Gista memutuskannya begitu saja.


Dengarlah cinta hatiku remuk redam


Jika tak ada kamu menemani aku - Bara


Dengarlah cinta ku memanggil namamu


Di setiap malamku ku memikirkan kamu - Gista


Lagu itu, seperti mewakili perasaan Bara pada Gista. Bara merasa sepi beberapa hari ini, tanpa komunikasi dengan Gista. Dan, Gista memang sudah menjadi kesayangannya selama ini. Tanpa Gista ketahui, jika sebelum Gista mencintainya. Bara sudah lebih dulu mencintai selama ini.


Bara tak mampu tanpa Gista? Ya, ia mengakui itu karena bagaimanapun dari dulu ia tak pernah merasa jauh dari Gista. Faktanya selama ini, Bara diam-diam mengikuti Gista tanpa di ketahui Gista.


Aku sepi sepi sepi sepi


Jika tak ada kamu - Bara


Aku mati mati mati mati


Jika engkau pergi - Gista


Dengarlah kesayanganku


Jangan tinggalkan aku


Tak mampu jika ku tanpamu


Dengarlah kesayanganku


Hidup matiku untukmu


Ku mohon pertahankan aku - Bara 2x


Dengarlah kesayanganku


Hidup matiku untukmu - Gista


Prok ... Prok ... Prok ...


Suara tepukan tangan itu terdengar setelah Bara dan Gista mengakhiri bait lagu terakhirnya, mereka semua merasa terhipnotis dengan penampilan keduanya. Mereka membawa lagu dengan penuh penghayatan, chemistry nya dapat. membuat para penonton baper di buatnya.


"Tepuk tangan yang kencang lagi semuanya." Ucap MC itu, sambil berjalan menghampiri Gista dan Bara.


Prok ... Prok ... Prok ...


Suara tepuk tangan itu semakin riuh terdengarnya, hampir semua orang yang jadi penonton bertepuk tangan semua.


"Penampilan luar biasa dari pasangan Debara dan Gista, kalian benar-benar membuat semua orang terpukau."


"Terima kasih," ucap Bara.


"Baiklah, kalian boleh turun dari panggung sekarang. Dan, kita akan kembali melanjutkan ke peserta nomor 8." Ujar MC itu.


Bara pun melangkah pergi untuk turun dari panggung, tanpa sadar jika tangannya masih menggenggam erat tangan Gista. Sehingga, Gista hanya mengikutinya saja.


Hingga saat di belakang panggung, Gista melepaskan tangannya dari Bara. Membuat Bara tersadar saat itu juga, di tangannya seperti ada magnet yang ingin terus menempel dengan tangan Gista.


"Emm ... Gigi pergi duluan, Bara." Ucap Gista setelah tangannya berhasil terlepas dari genggaman Bara, lalu ia pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Bara.


Gista berlari dengan sangat cepat, meninggalkan ruangan itu dengan jantungnya yang masih terus berdetak lebih kencang. Selalu saja begitu, di setiap kali ia dekat dengan Bara.


---

__ADS_1


__ADS_2