
"Okey, tapi ... Bolehkah aku memeluk mu sebelum tidur?" tanya Selin sambil merentangkan tangan nya.
Melihat itu Andika dengan terpaksa selain bangun dari sofa lalu memeluk Selin.
Ketika berpelukan, Andika dapat merasakan kedua bola itu bersentuhan dengan dada bidang nya dan ia juga mencium aroma yang khas dari tubuh Selin. Setelah itu, jantung nya berdebar kencang dan seketika ia menjadi menyesal karena telah menolak tawaran dari Selin.
"Terimakasih atas semuanya." lirih Selin.
Lalu dengan sedikit melonggarkan pelukan nya Selin dengan tiba tiba mencium Andika.
Setelah melakukan itu Selin dengan cepat melepaskan pelukan nya lalu masuk kedalam kamar dengan perasaan malu.
"Apakah dia baru saja telah mengambil kesempatan dalam kesempitan pada diriku?" masih dengan tubuh yang tertegun, Andika bertanya dalam fikiran nya.
Lalu Andika kembali merebahkan badan nya di atas sofa.
Dan ia pun tertidur lelap dengan perasaan yang membuncah.
. . .
Keesokan paginya...
Andika bangun pagi pagi untuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian...
Selin bangun dan setelah beberes di kamar, ia langsung keluar kamarnya.
Melihat Selin telah keluar kamar, Andika lalu menyapa Selin. "Hai, Bagaimana dengan tidur mu? Apakah kau semalam mimpi indah?"
"Baik, aku tidur dengan nyenyak dan aku juga semalam bermimpi yang indah." jawab Selin dengan wajah yang bersih dan berseri akibat habis mencuci mukanya di kamar mandi.
"Huft, aku senang mendengar nya. Aku takut kau tidak nyaman tidur di dalam kamar ku karena tidak terbiasa." sahut Andika sambil menghela nafas lega karena Selin nyaman dengan apartemen nya yang lusuh ini.
Mendengar perkataan Andika membuat Selin tersipu malu.
Saat Selin tidur di kasur Andika, ia dapat mencium aroma khas dari tubuh Andika.
.Ā .Ā .
Setelah sarapan, mereka berdua Andika dan Selin memutuskan untuk pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Andika, kau tunggu di sini sebentar. Aku mau kesana dulu, bye!" pamit Selin lalu pergi ke sebuah cafe di dekat situ.
Sedangkan Andika tidak mengikuti Selin dan memilih untuk pergi ke sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Selin, ayo sini!"
__ADS_1
Baru saja ia masuk kedalam cafe, kedua gadis memanggilnya dari tempat duduk mereka yang dekat dengan jendela cafe.
Lalu Selin berjalan menuju meja mereka dan ia menyapa kedua gadis itu dengan antusias.
"Rin! Ana!"
Rinata Saviors dan Anara Klavior adalah nama kedua gadis yang merupakan sahabat dari Selin.
Anara Klavior yang memakai make up tebal bertanya pada Selin. "Selin, apakah kau yakin tidak akan kembali lagi pada keluarga Charlotte?"
"Hm, aku tidak akan kembali lagi pada keluarga Charlotte." jawab Selin dengan nada serius.
"Benar, ada baik nya kau tidak kembali ke keluarga Charlotte. Karena nanti jika kau kembali lagi kesana, kau akan di jual lagi oleh ayahmu." ujar Rin menimpali perkataan Selin.
Rin memiliki rambut hitam pendek yang memukau.
"Dan menurutku keputusan mu sudah benar. Ayah mu juga tidak akan bisa menjual mu pada pria mana pun jika kau tidak kembali ke keluarga Charlotte." ucap Rin melanjutkan perkataan nya.
"Selin, aku telah meminta pada ayah ku untuk meminjamkan uang nya pada mu. Terimalah kartu ini. Di dalam kartu ini berisi 2 miliar rupiah. Dan pasword nya adalah hari ulang tahun mu." kata Rin pada Selin sembari tangan nya menyodorkan sebuah kartu debit.
Karena merasa tersentuh dengan perbuatan Rin, Selin menerima kartu tersebut lalu berkata lirih. "Terimakasih banyak"
Lalu Rin menatap Ana dan bertanya padanya, "Ana, berapa uang yang akan kau pinjamkan pada Selin?"
__ADS_1