
Mendengar perkataan dari Zhang Chen membuat Selin dan Rin terkejut.
"Apakah Andika benar-benar pemilik dari Restoran Region Campania ini? Jadi... Apakah perkataan nya tadi itu tidaklah candaan belaka? Lalu... Perkataan nya yang mengatakan jika diri nya pula merupakan pemilik Owner Perusahaan GoldenOne itu benar?" pikir mereka berdua dengan serentak dengan perasaan yang tidak percaya.
"Ya, itu aku." ucap Andika menjawab pertanyaan dari Zhang Chen.
Lalu Andika melanjutkan lagi perkataan nya sambil menatap sekilas Zhang Chen. "Siapa yang mengizinkan mu untuk masuk kedalam ruangan ini? Seperti nya Zhang Lin tidak pernah mengajar kan anak nya sopan santun."
Mendengar perkataan Andika membuat Zhang Chen marah.
Dia berfikir. "Huh! Dia fikir, dia itu siapa? Berani berani nya dia bersikap sok berkuasa di hadapan ku?"
Lalu tiba tiba salah satu antek Zhang Chen maju kedepan sambil berteriak. "Kurang ajar! Apa kau tau, kau sedang berurusan dengan siapa, hah!?"
"Tak di sangka pemilik Restoran kecil ini memiliki sikap yang seperti ini! Apa kau tau, jika kami bisa saja menghancurkan Restoran ini dengan sekali panggilan!"
Zhang Chen menatap Andika dengan tatapan remeh nya, "Aku akan memberi mu watu satu menit untuk memikirkan semua nya dengan matang dan minta maaf lah pada ku dengan benar. Jika tidak, maka aku akan tidak akan menghancurkan restoran ini dengan sekali panggilan!"
__ADS_1
Mendengar tantangan tersebut membuat Andika tak suka, lalu ia menatap tajam Zhang Chen dan berkata, "Apakah begini ayah mu mengajar kan mu?"
"Dasar brengsek! Apa kau ingin membuat ku semakin murka?" ucap Zhang Chen yang lama kelamaan menjadi marah.
"Owh, baiklah. Aku akan bertanya tentang ini pada ayah mu langsung."
Kemudian Andika mengambil handphone nya lalu mengetik nomor telepon Zhang Lin Dan mulai menunggu untuk merespon.
"Huh? Apa apaan dia ini?"
Melihat itu Zhang Chen seketika bingung dengan perilaku Andika.
Walaupun begitu, dia menjadi gugup sekaligus ragu jika Andika benar-benar mengenal ayah nya.
Sebab setahu nya, semua clien kerja ayah nya rata-rata berusia diatas umur 30-40 tahun. Di tambah lagi, beberapa dari mereka memiliki kekayaan bersih senilai puluhan miliar rupiah. Hingga tak mungkin ayahnya memiliki clien kerja yang semuda Andika.
"Heh, seperti nya dia hanya membual saja!" batin Zhang Chen di dalam hati.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian, Zhang Lin pun mengangkat telfon dari Andika.
Namun ketika kata-kata pertama yang di dengar membuat Zhang Chen langsung ketar ketir.
"Hallo? Ada yang bisa saya bantu, Tuan Pratama?" jawab Zhang Lin ketika sambungan telepon terhubung.
Deg!
Benar saja, itu benar-benar suara dari ayah nya, Zhang Lin.
"Tuan Zhang, anak Anda sombong sekali pada diri ku. Sampai-sampai Restoran saya ingin di hancur kan hanya karena saya tidak memperbolehkan dia untuk ke Restoran ini lagi."
Mendengar keluhan Andika membuat Zhang Lin seketika berkeringat dingin. Lalu dia berkata dengan nada khawatirnya, "Tuan Pratama, apakah anak kurang ajar saya itu telah melakukan sesuatu yang serius pada Anda, kan?"
"Tidak"
"Ah, fuhh syukur lah kalau begitu. Lalu bisakah Anda menyerah kan handphone Anda ke anak kurang ajar saya itu?"
__ADS_1
Lalu Andika menyerah kan handphone nya pada Zhang Chen yang wajah nya telah memucat.